
Hal pertama kali yang dilihat Nazwa saat sampai didepan gerbang rumahnya adalah tiga mobil hitam yang berjejer rapi, dipastikan kalau mereka sudah datang
Tiba-tiba perasaan gugup menghampiri dirinya, berulang kali ia mencoba mengatur nafas agar tenang kembali
"Kita lewat pintu belakang aja ya, nggak nyaman soalnya kalau lewat depan, kayak nggak sopan"
Keempat temannya hanya mengangguk mengiyakan, tanpa berbicara sepatah katapun mereka masuk lewat pintu belakang yang langsung menuju dapur
"Ibu" Nazwa melihat ibu dan kakak iparnya sedang membuatkan teh untuk tamunya
"Astagfirullohaladzim, untung ibu nggak punya riwayat penyakit jantung, bikin orang kaget aja"
"kenapa lewat pintu belakang Naz?" tanya Andin
"nggak sopan lewat pintu depan kak, banyak tamu"
"Didepan banyak orang ya tan?, kok banyak banget minumannya?" tanya Caca melihat deretan gelas dan makanan ringan yang siap disajikan
"Banyak, ibu juga nggak nyangka bahkan sahabat ponpes Nazwa juga dateng"
"Hana, Nadifa sama Salwa dateng bu?" tanya Nazwa membuat ibunya mengangguk sesaat kemudian menjatuhkan sendok yang dipegangnya
"Ka kamu inget mereka?" tanya ibunya terkejut membuat Nazwa mengangguk
"Keajaiban tadi terjadi di rumah sakit, dari hal yang nggak diduga sama sekali akhirnya Nazwa bisa inget semuanya"
"Kenapa nggak bilang pergi kerumah sakit Naz, semua orang khawatir loh" ucap Andin
"Nazwa tau pasti kalian bakal larang Nazwa pergi, makanya Nazwa nekat pergi dan untung ketemu sama mereka"
"Lain kali jangan gitu"
"Ya udah, sekarang ayo keluar semua sudah menunggu di ruang tamu"
"Bentar dulu bu" Nazwa mengatur nafasnya dan meneliti penampilannya dengan seksama, gamis putih dengan model simple ditambah hiasan warna biru batik di beberapa bagian
"Kamu udah cantik kok, ibu hampir aja nggak ngenal kamu tadi, sayangnya baju yang ibu beli nggak kamu pake" terdengar suara ibunya sedikit kecewa
"maaf ya bu, bukannya Nazwa nolak tapi karena terburu-buru Nazwa lupa bawa" Nazwa merasa tak enak
"nggak papa, yang penting sekarang kamu udah kembali dengan selamat"
"Ayo, nggak baik buat tamu nunggu"
Pemandangan pertama yang Nazwa lihat saat diruang tamu adalah Gus Fatih yang memakai sarung hitam, kemeja putih, jas hitam, dan peci hitam serta sorban yang terlampir di pundak kirinya
Dengan segera ia menundukkan pandangannya karena memandang lawan jenis yang bukan makhram adalah zina mata. Hal yang sama dilakukan Gus Fatih, ia segera menunduk
"Astagfirullohaladzim"
"Nazwa sini duduk dekat ayah" Pak Wiraguna menggeser tempat duduknya, jadilah Nazwa duduk diantara Satria dan ayahnya
"Bang lo jangan sedih, nanti gue nolak karena nggak tega" bisik Nazwa melihat Satria bergetar seperti menahan sesuatu
__ADS_1
"lo jangan injek kaki gue, hak sepatu itu tajem tau nggak lo?" bisik Satria meringis membuat Nazwa melihat kebawah dan tersenyum canggung, dengan segera ia mengangkat sepatu yang dipinjamnya dari Yolan tersebut
"hehehe maaf bang"
"Jadi langsung saja Pak Wiraguna, Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh, kedatangan kami kesini untuk menyampaikan niat baik putra kami Muhammad Fatih al hasani yang ingin mengkhitbah putri bapak, bagaimana nak Nazwa, apa bersedia menerima pinangan putra kami?"
"Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarrokatuh, kami sebagai keluarga menerima dengan bahagia akan hal ini, tapi keputusan saya serahkan kepada putri kami Nazwa, silahkan nak apa jawabanmu?"
"Kok Nazwa yang jawab? harusnya ayah" bisik Nazwa kepada Satria
"Yang nikah itu lo bukan ayah, jadi jangan ngadi-ngadi, cepet jawab!"
Nazwa berdehem sebentar untuk menetralkan rasa gugupnya
"Bismillahirrohmanirrohim, insya allah Nazwa terima pinangan Gus Fatih sebagai pasangan hidup dan imam Nazwa yang akan membimbing Nazwa menuju surga-Nya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri Nazwa, Nazwa mohon bimbingannya untuk membimbing Nazwa ke jalan yang lebih baik" ucap Nazwa tenang, membuat senyum terbit diwajah mereka
"Alhamdulillahirrobil alamiin"
"Jodoh tak akan pernah tertukar"
Setelah acara yang cukup menguras tenaga bagi Nazwa, kini saatnya acara makan bersama di ruang makan, Nazwa melirik kearah Hana dan Salwa yang turut hadir dalam acara tersebut namun tak bergeming dari tempat duduk mereka, raut wajah mereka tampak menahan rindu
Akhirnya Nazwa melangkahkan kaki dan duduk di depan mereka
"Kok nggak makan?" tanya Nazwa membuat mereka tertawa canggung
"Kita udah kenyang kok" ucap mereka
"mereka pasti malu, hihihi mereka pasti mengira aku hilang ingatan"
"Nadifa baru aja melahirkan, belum pulih total" jawab Salwa sesaat kemudian ia mendongak dan menatap Nazwa tak percaya
"kok tau?"
"kok tau apa? kan aku cuma nanya"
"dari mana anti tau nama Nadifa?" tanya Hana
"Hana, Nadifa itu sahabat kita mana mungkin ana lupa"
"Na Nazwa, anti udah sembuh?" tanya Salwa dan dibalas anggukan oleh Nazwa
"hiks hiks hiks, Naz ana rindu banget sama anti" mereka berdua memeluk Nazwa erat seolah takut Nazwa pergi
"Udahlah, yang penting sekarang kita udah ketemu"
"Sekarang ayo makan, masa kesini cuma duduk doang? ana tau kalian pasti lapar kok, setidaknya makanlah sedikit agar makanannya tak mubazir" ucap Nazwa membuat mereka berdua cengir dan mengangguk bersama menuju meja makan melupakan Hana yang sedari tadi menunggu panggilan video dari mereka
"Bang Nazwa pengen nanya" Nazwa mendekat kearah Satria yang sedari tadi memilih duduk sendiri di taman belakang seperti banyak pikiran
"Ada apa Naz?"
"Nenek sama kakek mana ya? kok semenjak Nazwa kembali Nazwa nggak pernah liat mereka lagi?" tanya Nazwa membuat Satria memeluk adiknya itu erat, karena ia tau suatu saat Nazwa pasti akan bertanya hal ini hanya saja ia tak menyangka secepat ini
__ADS_1
"kamu udah inget semuanya dek?" Nazwa mengangguk
"Sebuah keajaiban terjadi di rumah sakit"
"Mereka telah pergi"
"Pergi kemana?"
"Mereka lebih dulu dipanggil Allah, dan bagaikan cinta sejati waktu kematian mereka hanya berselang beberapa menit saja"
"hiks padahal Nazwa kangen banget"
"Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, lepaslah dengan hati yang ikhlas"
"adek abang sekarang udah besar, bentar lagi nikah, jalani hidupmu dengan baik, abang yakin dia laki-laki yang tepat untukmu, padahal baru kemarin kita bertemu sekarang harus berpisah lagi"
Kakak beradik itu saling memeluk erat, menyalurkan rasa rindu mereka, karena sebentar lagi mereka akan berpisah lagi
"Sekarang ayo masuk"
"Abang duluan aja, Nazwa masih pengen disini"
"Jangan lama-lama"
"hmmm"
"Nazwa"
"Gus?"
"Silahkan duduk" Nazwa berpindah duduk di kursi taman yang lain, menjaga jarak karena bagaimanapun mereka belum memiliki hubungan yang halal
"Anti udah inget rupanya"
"Rencana Allah begitu indah, bahkan lewat perkara yang tak disangkapun ada hikmah besar dibaliknya"
"Semuanya dengan rencana Allah, dari awal kita bertemu itu juga rencana Allah, jodoh tak akan tertukar, anti pasti inget ana pernah bilang..."
"sejauh apapun jarak diantara kita jika Allah mentakdirkan kita berjodoh, maka Allah punya seribu macam cara mempertemukan kita" Nazwa meniru kalimat yang sering diucapkan Gus Fatih
Gus Fatih tersenyum
"Rencana Allah memang indah" gumamnya
"Jika kemarin ana meminta anti menunggu seminggu untuk khitbah, maka sekarang ana meminta waktu dua minggu untuk menghalalkan anti, semakin cepat akan semakin baik"
Nazwa tersenyum
"Cinta memang aneh"
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1
Author minta maaf udah lama nggak up, minggu kemarin author ujan praktik dan les sore, dan untuk besok author ada USBK, tapi author bakal usahain up kalo ada waktu
Jadi, author minta maaf banget kalau banyak typo atau alurnya nggak nyambung...🙏🙏🙏