Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Nazwa Azzahra Dinata


__ADS_3

"Nazwa" air mata sudah tak terbendung lagi di wajah dua orang paruh baya tersebut


Mereka memeluk erat putri kesayangan mereka, tak ada keraguan lagi, wajahnya, suaranya tidak ada yang berubah bagi mereka, sedangkan Zahra yang dipeluk tiba-tiba hanya terdiam dengan perasaan aneh yang menjalar dalam hatinya


"hiks hiks kau kembali nak"


"ibu rindu Nazwa"


Sedangkan Zikri dan Syifa yang melihat tiga orang di depannya hanya diam saja memperhatikan mereka, beruntung parkiran sedang sepi karena acara akan dimulai sebentar lagi


"Maaf buk, pak, tapi saya tidak mengenal kalian, mungkin kalian salah orang" ucap Zahra melepaskan pelukan mereka


Sedangkan, ayah dan ibu Nazwa yang mendengar hal itu semakin menangis, tanpa ditanyakan pun mereka tau, kalau putri mereka kehilangan ingatan atas kejadian itu


"Kami nggak salah orang nak, kamu Nazwa anak kami yang sudah hilang dua tahun yang lalu" ucap ibu sambil menghapus sisa air matanya


"Ayah bisa bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga, kalau masih nggak percaya" ucap ayah tegas namun suaranya terdengar bergetar


"Apa ada bukti seperti foto?" tanya Zahra pelan


"ini adalah foto kita saat pernikahan abangmu, dan ini adalah foto saat wisudamu" ibu menyerahkan handphone kepada Nazwa yang masih belum percaya


"Wisuda? saya sudah selesai kuliah?"


"kamu bahkan lulusan universitas oxford dan sudah berhasil meraih gelar kedokteran"


"a apa?" Zahra syok mendengar hal itu, ia pikir dulu ia hanya anak desa yang tenggelam di laut kemudian akhirnya terdampar dan berada di desa tempat tinggalnya selama ini. Namun ternyata ia adalah anak pengusaha yang hilang setelah dua tahun, maka tak heran ia pandai dalam pengobatan, karena salah satu lulusan universitas terbaik di dunia


"Nama saya siapa?"


"Nazwa Azzahra Dinata"


Nazwa semakin syok mendengar hal itu, ternyata benar mereka adalah orang tuanya, arti huruf 'D' di belakang namanya yang sering dipertanyakan ternyata adalah marga keluarganya


"Nazwa rindu kalian" ucapnya terdengar sangat lirih, walaupun keluarga angkatnya memperlakukan dirinya dengan sangat baik, namun terkadang ada rasa rindu yang tak dapat dijelaskan di dalam hatinya yang membuatnya terkadang berfikir untuk mencari keluarga kandungnya, bukan karena tak suka tinggal disana, tapi ia merasa kalau ada tanggung jawab yang harus dipenuhinya.


"Kami lebih merindukanmu nak, sudah dua tahun kamu menghilang, kami selalu berharap kamu masih hidup walaupun itu terasa mustahil, setelah dua minggu pencarian korban pesawat itu, dan kamu dinyatakan hilang, kami merasa gagal menjadi orang tua yang baik untukmu"


"Korban pesawat?" tanya Zahra semakin bingung


"Saat pulang dari Oxford pesawat yang kamu tumpangi jatuh nak, dan kamu tak berhasil ditemukan oleh petugas, saat itu dimana hari pertama pencarian dan abang kamu pulang membawa jas putih dan tas hitam milikmu, kami sudah bahagia karena mengira dirimu selamat, namun nyatanya itu hanya barang mu saja, sedangkan raga mu tidak ada"


"terus sekarang abang kemana?"


"ada acara di sekolah Ardi jadi nggak bisa ikut"


"Ardi?"


"keponakan kamu"

__ADS_1


"sssshhhtt" Nazwa memegang kepalanya yang terasa berputar, terlalu banyak fakta yang terungkap hari ini, membuat kepalanya pusing karena adegan demi adegan buram terus berputar dalam kepalanya


"Jangan paksakan dirimu untuk mengingat semuanya pelan-pelan saja"


🌿🌿🌿🌿🌿


Suara hadroh terdengar merdu menyambut para tamu undangan yang hadir di acara pernikahan tersebut


Seketika sebuah ingatan masuk berputar di kepala Nazwa layaknya sebuah film, namun masih terlihat sangat buram


"Shhh" ia hampir saja terjatuh jika ibunya tak segera menangkap tubuhnya


"kau kenapa nak? kalau tidak sehat lebih baik kita pulang saja"


"kepalaku pusing sekali, seperti ada memori yang terlupakan, namun masih terlihat hitam putih, apa aku pernah kesini sebelumnya?"


"Nanti ibu ceritakan setelah kita selesai dari sini, atau kita pulang sekarang saja nanti ayah ngomong sama pak kyai"


"Nazwa udah nggak papa kok" ucap Nazwa berusaha meyakinkan kedua orang tuanya


"Kamu mau kemana?" Pak Wiraguna heran melihat Nazwa yang malah menuju kursi para wali santri


"Nazwa kan kesini sebagai perwakilan Zikri yah, karena Bu Reni nggak bisa hadir"


"Tapi..." ucapan ibu menggantung kala ayah memberikan kode melalui lirikan matanya dan untungnya ibu cepat menangkap arti kode tersebut


"Ya udah, nanti pas acara udah selesai kita kumpul di tempat tadi" ucap ibunya dan dengan cepat dibalas anggukan oleh Nazwa


"Kalau semuanya datang, pesantren nggak muat, santrinya aja bisa sampai ribuan" jawab Zikri


"Terus kok kamu dapat?"


"Karena Zikri istimewa" ucapnya bangga membuat Nazwa mendengus melihatnya


"Kak Zahra" Nazwa yang sedang memperhatikan sekeliling menoleh ke arah Zikri yang memandangnya dengan tatapan sendu


"kenapa?"


"Tadi keluarga Kak Zahra? Kak Zahra bakal pergi ya?" tanyanya menunduk


Nazwa mengelus puncak kepala Zikri dan tersenyum, ia mengerti bagaimanapun dua tahun bukanlah waktu yang bisa dikatakan singkat untuk kebersamaannya


"Nanti Kak Zahra bakal sering mampir kok"


"Tapi nanti kalau Kak Zahra mampir dirumah terus Zikri di pondok gimana?"


"Nanti Kak Zahra kesini"


"Janji?"

__ADS_1


"Janji"


Suara riuh tepuk tangan heboh terdengar yang kebanyakan berasal dari para Santriwati yang Nazwa yakini tingkat aliyah, dapat dilihat dari warna sarung mereka yang sedikit berbeda


"Mereka kenapa?" tanya Nazwa bingung dan menoleh ke arah Zikri yang duduk di sebelahnya


"Kak Zahra liat disana" Zikri menunjuk kearah sebelah kanan panggung dan dapat Nazwa lihat terdapat dua orang berpakaian putih, berjas hitam dengan peci putih, dan sorban hitam yang disampirkan dipundak


"Mereka siapa?" tanya Nazwa karena jaraknya lumayan jauh dengan posisinya saat ini


"Mereka dua putra mahkota pesantren yang terkenal, yang pakai sarung batik dipinggang namanya Gus Rayhan, yang disebelahnya namanya Gus Fatih, tampan kan?"


Nazwa menggeleng tanda tak tau karena wajah mereka yang tak terlihat jelas, namun mendengar nama yang disebut Zikri membuatnya merasakan hal yang berbeda dalam dirinya


"Apa aku pernah bertemu atau mengenal mereka sebelumnya? kenapa rasanya tak asing?" batinnya terus bertanya


"Nah yang pakai sarung batik di pinggang yang akan nikah" Nazwa yang mendengar ucapan Zikri hanya menganggukan kepala karena ingatan demi ingatan terus berputar dalam kepalanya seperti film tak berwarna


"Zikri" seorang anak laki-laki datang tergesa-gesa ke arah mereka, untungnya mereka duduk di pinggir dibawah pohon mangga, jadi tidak menabrak tamu undangan yang lain


Nazwa mungkin tak ingat kalau ditempat yang sama dulu ia dan tiga temannya lebih memilih duduk disana saat ada acara ponpes


"kenapa Zahid?"


"Kak Aziz minta bantuan, katanya suruh datang ke rumah ummi sekalian bawa santriwati satu gitu katanya buat ngiring pengantin perempuan"


"loh bukannya Ustadzah Salwa?"


"Ustadzah Nadifa tadi tiba-tiba sakit perut kayak mau lahiran gitu, terus Ustadzah Salwa sama Ustadzah Hana ikutan panik, akhirnya ikut kerumah sakit"


"Terus ummi nyuruh nyari santriwati kelas berapa?" Zahid yang mendengar pertanyaan dari Zikri menggeleng karena ia pun buru-buru kesini bahkan belum sempat bertanya


"Soalnya ana kurang kenal sama kakak-kakak Santriwati" ucap Zahid dengan logat santrinya


"Kakak yang duduk disebelah anta siapa?" tunjuk Zahid pada Nazwa yang terlihat memperhatikan sekeliling


"Itu kakak perempuan yang sering ana ceritain itu loh"


"Gimana kalau dia aja"


"Tapi..."


"Ada apa Zikri?" Nazwa yang sedari tadi merasa dibicarakan


"emmm itu Kak Zahra-"


"Kita minta bantuan Kak Zahra ngiring pengantin perempuan ke pelaminan" ucap Zahid dalam satu tarikan nafas


.

__ADS_1


.


Banyak TypoπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2