
πΎπΎπΎπΎπΎ
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu dan tak terasa sudah dua minggu Nazwa berada di ponpes, ia sudah mulai terbiasa dengan berbagai macam peraturan ponpes dan bahasa keseharian yang di gunakan.
Udara dingin terasa menusuk kulit, angin berhembus cukup kencang menjatuhkan dedaunan kering, tetesan embun dari dedaunan membasahi tanah, suara jangkrik dan hewan malam lainnya menghiasi gelapnya malam yang hanya disinari cahaya bulan. Jam menunjukkan pukul setengah tiga, suasana terasa sunyi, tenang, damai di waktu seperti ini, tak sedikit hamba yang menyempatkan dirinya untuk bermunajat kepada Allah, berdo'a di waktu yang begitu mustajab yakni disepertiga malam, mengadu kepada sang khaliq tentang masalah hidupnya untuk diberikan jalan keluar. Namun, tak sedikit pula yang memilih untuk tetap tidur karena beratnya rintangan di waktu seperti ini.
"udah jam berapa sih nih? " ucap Nazwa memperhatikan teman-temannya yang masih terlelap tidur dan belum terdengar suara dari masjid hanya suara nyanyian jangkrik yang terdengar
"kayaknya belum waktunya bangun deh, aku bangun duluan aja biar nggak ngantri sekalian sholat tahajud" gumam Nazwa dan bangun dari tidurnya meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku
Nazwa mengambil peralatan mandi dan sholat, kemudian melangkah pelan-pelan membuka pintu kamarnya agar tak membangunkan temannya yang lain.
Nazwa memperhatikan sekitar, keadaan masih gelap hanya beberapa lampu tertentu yang dinyalakan seperti lampu kamar mandi, lampu halaman masjid, dan beberapa lampu di tempat gelap yang biasa di lalui para santri.
"aduh aku berani nggak ya ke kamar mandi sendirian? entar kalau ada yang tiba-tiba nongol di belakang gimana? kayak di film-film horor gitu" ucap Nazwa membayangkan hal-hal ghaib
"tenang Nazwa kamu berani nggak boleh takut sama yang begituan, takutnya harus sama Allah saja, nggak boleh takut sama yang lain" ucapnya kembali meyakinkan dirinya
Akhirnya, Nazwa memberanikan dirinya ke kamar mandi sendirian. Ia langsung mempercepat mandinya karena tidak tahan dengan air ponpes yang begitu dingin dan juga takut dengan pikiran-pikiran negatif dalam kepalanya yang terus membayangkan hal-hal ghaib.
TAAKKK
Atap kamar mandi yang terbuat dari spandek membuat benda yang jatuh diatasnya akan terdengar jelas walaupun kecil. Nazwa yang hendak mengambil wudhu langsung terkejut mendengar suara tersebut, ia langsung memakai jilbabnya dengan buru-buru dan berlari pergi meninggalkan kamar mandi.
"Ayolah Nazwa itu pasti hanya mangga yang jatuh dari atas pohon nggak perlu takut seperti ini" ucap Nazwa meyakinkan dirinya sambil terus mempercepat langkahnya tidak berani menoleh ke belakang.
"Aku lansung ke masjid aja deh wudhu sekalian sholat tahajud" ucap Nazwa dan terus berjalan lurus menuju masjid tidak berani menoleh ke kiri atau ke kanan apalagi ke belakang karena kepalanya yang di penuhi pikiran-pikiran mistis.
Nazwa sampai di tempat wudhu yang biasa digunakan oleh para santriwati untuk mencuci kaki atau wudhu sebelum naik ke masjid, ia melihat sesosok berpakaian putih di sana yang membelakanginya membuat kakinya gemetar. Pencahayaan yang redup membuat Nazwa hanya melihat warna pakaiannya saja. Kemudian, sosok itu pun berbalik dan
"AAAAAAA" teriak Nazwa keras sambil menutup matanya. Sosok tersebut juga terkejut melihat Nazwa disana dan hampir tergelincir karena tempat wudhu itu yang lumayan licin
"Astagfirullohaladzim ngapain teriak-teriak ukhti" ucapnya yang tak lain adalah Gus Fatih
Nazwa yang seperti tak asing dengan suara di depannya langsung membuka matanya
"Gus Gus Gus Fatih???" ucap Nazwa linglung
"iya, anti kenapa?"
"anta beneran Gus Fatih?" pertanyaan bodoh dari Nazwa membuat Gus Fatih gemas
"emang anti pikir siapa?"
"huh, ana pikir setan" ucap Nazwa langsung terduduk dengan kaki lemas dan memegangi dadanya karena jantungnya yang berdegup kencang akibat terkejut.
"apa ada setan setampan ana?" ucap Gus Fatih dengan pede nya
"ya mana ana tahu ana nggak pernah liat setan" ucap Nazwa ketus
"lagian ngapain sih disini? inikan tempat wudhu santriwati"
"tempat wudhu santriwan lampunya lagi rusak jadi gelap" jawab Gus Fatih sambil memasang peci hitamnya
"bilang aja takut ada setan" jawab Nazwa
"emang ana kayak anti?, lagian kan biasanya belum ada yang bangun jam segini jadi ya aman -aman aja nggak ada yang liat" jawab Gus Fatih santai
"ya udah sono pergi ngapain masih disini? ana mau wudhu" ucap Nazwa melihat Gus Fatih yang masih diam saja
"emang anti berani disini sendirian? aku dengar disini dulu..."
"udah nggak usah nakut-nakutin ana nggak bakalan takut" ucap Nazwa memotong perkataan Gus Fatih
"yakin?"
"yakin, udah sana ana mau wudhu" ucap Nazwa hendak membuka keran air
Brakkk
terdengar suara keras, seperti benda jatuh tak jauh dari tempat wudhu, Nazwa yang terkejut langsung berbalik dan hendak berlari, namun karena lantai yang licin membuatnya tergelincir jatuh ke belakang, namun sebelum terjatuh Gus Fatih terlebih dahulu menarik tangannya kedepan hingga tubuhnya hampir menabrak dada Gus Fatih
deg
__ADS_1
deg
deg
"eh afwan gus ana tak sengaja" ucap Nazwa salting
"katanya nggak takut, kok dengar buah kelapa jatuh aja takut" ejek Gus Fatih
"gus itu namanya bukan takut tapi terkejut, tolong dibedakan antara takut dengan terkejut"jawab Nazwa tak mau kalah
"sama aja"
"beda, kalimatnya beda maknanya beda"
"na'am itu terkejut bukan takut" ucap Gus Fatih mengalah
"ya sudah anti minggir ana mau ulang wudhu" ucap Gus Fatih menarik pelan jilbab Nazwa
"ya udah kalau wudhu wudhu aja kali nggak usah tarik-tarik" jawab Nazwa sewot
"anti mau ditungguin nggak? ntar lari-lari lagi" ucap Gus Fatih saat selesai wudhu
"nggak usah, terima kasih ana nggak penakut"
"ohh yaudah kalau gitu" jawab Gus Fatih sambil berlalu
Nazwa mulai berwudhu namun saat membasuh kakinya lampu disana langsung tiba-tiba padam, Nazwa langsung menyelesaikan wudhunya dan berdo'a setelah itu memasang mukena. Namun tiba-tiba lampu tersebut menjadi berkedip-kedip nyala mati, Nazwa heran sepertinya ada yang sengaja menyala matikan lampu apalagi terdengar suara saklar yang di pencet. Nazwa berjalan perlahan menuju tempat saklar lampu dan mengintip dari balik dinding, terlihat Gus Fatih sedang menyala matikan lampu sambil cekikikan.
"oh nantangin rupanya" ucap Nazwa tersenyum smirk
Nazwa langsung tersenyum saat melihat meteran listrik berada tepat di atas kepalanya
"rasain" ucapnya menekan tombol off pada meteran listrik namun ia tak tahu kalau seluruh pesantren menjadi gelap karena ulahnya
"lho kok gelap?" ucap Gus Fatih bingung sendiri
"hi hi hi hi hi" Nazwa menirukan suara mbak kunti ditambah dengan angin yang cukup kencang membuat suasana semakin horor
"siapa disana?"
ucap Gus Fatih sok berani sambil berjalan mendekat kearah Nazwa
"hi hi hi hi hi" angin yang kencang membuat mukena yang dikenakan oleh Nazwa seperti beterbangan. Gus Fatih yang melihat itu sontak langsung membaca ayat kursi
"Allahullaillaha illa huwalhayyul qoyyum..."
Nazwa yang melihatnya semakin cekikikan sambil memegang perutnya agar sampai tawanya tak terbahak-bahak sampai tak sadar kalau Gus Fatih mendengar suara tawanya
Nazwa yang mendengar tidak ada lagi suara Gus Fatih mengintip dari balik tembok
"AAAAAAA" teriaknya keras karena Gus Fatih sudah berdiri di depannya dengan mata yang melotot dan cahaya rembulan yang tepat menyinarinya wajahnya membuat Nazwa semakin takut karena persis seperti film horor yang sering di tonton
"oh anti yang sengaja matiin meteran pesantren?"
"lagian anta juga jahil matiin ana lampu pas wudhu, anta pikir ana tak tahu" tantang Nazwa
"tapi seluruh pesantren..."
"eh kok tiba-tiba mati lampu perasaan baru kemarin pulsa listrik diisi" ucap seseorang tiba-tiba datang dari arah depan sambil membawa senter menuju kearah mereka
Gus Fatih langsung menarik mukena Nazwa dan masuk lewat jendela masjid disamping mereka yang sedikit terbuka
"kenapa sembunyi?" bisik Nazwa
"anti nggak liat ada mang ujang, kalau anti sampai ketahuan akan dihukum berat karena ulah anti yang matiin seluruh lampu pesantren" jawab Gus Fatih sambil ikut berbisik
"what??? seluruh pesantren ana kira cuma masjid" ucap Nazwa menutup mulutnya tak percaya
"makanya anti sembunyi disini biar nggak ketahuan"
"tapi anta harus janji nggak boleh kasih tau siapa-siapa tentang hal ini, ini rahasia kita berdua" ucap Nazwa menatap Gus Fatih
deg
__ADS_1
deg
deg
Wajah Nazwa yang terlihat serius ditambah dengan cahaya rembulan yang bersinar temaram menembus kaca jendela membuat Gus Fatih terpesona
"astagfirullohaladzim" ucap Gus Fatih menundukkan pandangannya
"kenapa?" tanya Nazwa bingung
"nggak papa"
"janji ini cuma rahasia kita berdua" ucap Nazwa mengulangi perkataannya
"iya janji"
jreng π‘π‘π‘π‘π‘
lampu kembali menyala, namun lampu yang ada di dalam masjid belum dinyalakan
"siapa lah yang sengaja matiin meteran" ucap mang ujang sambil menguap
"lah sandal siapa disini?" ucap mang ujang bingung melihat sandal Nazwa dan Gus Fatih yang berada dibawah jendela
Nazwa dan Gus Fatih yang mendengarnya langsung saling pandang dan menutup mulut masing-masing bisa-bisanya mereka lupa
"jangan-jangan maling lagi, eh kayaknya nggak mungkin maling deh lagian mau nyuri apa coba di pesantren? lah terus sandal ini punya siapa, kayak sandal santriwan" ucap mang ujang berbicara sendiri
"uhh untung aku pakai sandal eiger, biasanya orang pikir sandal eiger kan untuk laki-laki" batin Nazwa tenang
"sudahlah mungkin sandal santriwan yang nggak sengaja ketinggalan" ucap mang ujang menguap sambil berlalu tanpa melihat jendela yang sedikit terbuka
"huhh aman cepat keluar, sebelum ada santri yang datang" ucap Gus Fatih saat melihat mang ujang telah pergi
πΏπΏπΏπΏπΏ
"Tumben anti pertama bangun Naz?" tanya Nadifa saat dikamar sepulang mereka dari masjid
"aku nggak bisa tidur, jadi aku pergi ke masjid duluan" jawab Nazwa sambil melipat selimutnya
"eh ya aku dengar cerita katanya ada yang matiin meteran listrik di masjid tadi sebelum kita bangun tahajud" ucap Hana pada teman-temannya
"eh iya aku juga dengar siapa ya yang berani matiin meteran, kalau sampai pak kyai tahu bisa dihukum mereka" timpal Nadifa
"kalian dengar dari siapa?" tanya Salwa ikut penasaran
"katanya dari mang ujang dia liat kayak sandal santriwan gitu, tapi tadi subuh pas dia liat sandalnya udah nggak ada, ih serrrem" ucap Hana merinding
"kali aja mang ujang salah liat kan katanya mati lampu, terus mang ujang juga mungkin baru bangun jadi masih ngigau" jawab Nazwa
"iya mungkin juga sih" ucap Salwa manggut-manggut
"eh tapi Naz, kan anti bangunnya duluan
tadi mati lampu nggak pas anti bangun?" tanya Hana masih penasaran
"nggak sih lampunya udah nyala, mungkin sebelum ana bangun" jawab Nazwa berusaha tenang
"ah udah lah nggak usah dipikirin ayo siap-siap berangkat sekolah" ucap Salwa diangguki temannya yang lain
πππππ
.
.
.
.
.
Banyak typo πππ
__ADS_1
Maaf kalau alurnya nggak nyambung πππ