
"Aziz tadi kamu udah ngasih surat yang paman Rayhan kasih sama kak Nazwa?" Tanya Rayhan yang lebih dulu menemukan Aziz yang sedang bermain bersama temannya
"Terus kak Nazwa bilang apa?"
"Dia nanya dari siapa? Terus Aziz jawab nggak boleh kasih tau udah gitu aja"
"Dia udah buka suratnya?"
"Nggak tahu setelah itu Aziz langsung pergi" jawabanny membuat Gus Rayhan mendesah frustasi
"Aziz kali ini paman percaya sama kamu, serahkan ini pada kak Nazwa sekali lagi" ucap Gus Rayhan menyerahkan sebuah amplop putih tertutup rapi
"Bayarannya?"
"Udah nanti paman kasih pas udah sampai"
"No no no dimana-mana itu bayar dulu baru paket bisa sampai tujuan"
"Hish yaudah nih" ucap nya menyerahkan selembar uang lima ribuan
"Nah ginikan aman"
"Udah sana pergi"
"Eh tunggu sebentar" Gus Rayhan menarik kerah belakang baju Aziz untuk memastikan suratnya sekali lagi
"Paman periksa bentar" Gus Rayhan kembali membuka amplop surat tersebut agar tak mengulang kesalahan yang sama sungguh memalukan
"Ini udah jangan lupa kasih langsung sama kak Nazwa, jangan dititipin sama yang lain" peringatnya sekali lagi
"Iya paman Rayhan cerewet banget" ucap Aziz dan berlalu pergi
"Tunggu dulu"
"Apa lagi?"
"Tadi kamu juga dipanggil sama paman Fatih, sekalian cari dia"
"Oke"
"Tunggu dulu"
"Apa lagi paman, Aziz lelah dipanggil terus" keluh Aziz
"Udah jangan ngeluh, kamu paman bayarkan itu resiko kamu, kalau ada yang nanya siapapun itu jangan kasih tau"
"Oke, hanya itu?"
"Udah hanya itu, sana cepetan pergi"
Aziz berjalan sambil memasukkan surat titipan Gus Rayhan di kantung baju koko nya
"Kira-kira ada apa ya? Kok Paman Rayhan sama Paman Fatih nitipin Aziz surat, apa hari ini hari surat menyurat tapi kok cuma kak Nazwa yang dikasih?" Ucap Aziz bingung sendiri
"Aziz cari kak Nazwa atau Paman Fatih dulu?" Ucapnya bergumam sendiri
"Paman Fatih aja deh, dia pasti juga mau nitipin surat nanti dua-duanya sekalian kasih kak Nazwa"
Ucapnya menuju asrama putra namun baru beberapa langkahnya ia mendengar suara yang tak asing memanggil namanya
"Aziz"
"Aziz"
Dua orang yang ia cari memanggil namanya bersamaan, Nazwa dari arah kanan berjalan menghampiri dirinya begitupun dengan Fatih yang tak kalah tergesa-gesa sambil mengangkat sarungnya
"Kak Nazwa?"
"Paman Fatih?"
"Aziz kak Nazwa mau ngomong sama anta" ucap Nazwa memegang pundak Aziz yang lebih dulu menghampiri Aziz
"Ngomong apa kak Nazwa?"
"Surat tadi..."
"Aziz" tanpa basa-basi Fatih langsung mengangkat tubuh Aziz seperti karung beras
"Hey ana belum selesai ngomong" teriak Nazwa namun ucapannya tak diperdulikan oleh Gus Fatih
"Aneh" ucap Nazwa dan berlalu pergi bersama teman-temannya
__ADS_1
.
"Aziz paman mau nanya"
"Kalau nanya ya nanya aja, nggak usah angkat-angkat Aziz kayak tadi, kepala Aziz pusing" ucap Aziz memegang kepalanya
"Ini penting"
"Apa?"
"Surat yang paman Fatih titip kamu udah kasih kak Nazwa?"
"Udah"
"Dia bilang apa?"
"Pertanyaan paman Fatih sama kayak pertanyaan p..." Aziz langsung menutup mulutnya saat menyadari dirinya hampir keceplosan
"Pertanyaan siapa?" Tanya Fatih mulai curiga
"Pertanyaan pemain sinetron yang sering di tonton ibu"
"Beneran ni?"
"Iya bener, kak Nazwa nggak bilang apa-apa kok dia cuma nanya dari siapa, terus Aziz lari nggak ngejawab pertanyaan nya"
"Kalau orang nanya itu dijawab buka lari"
"Tapi kan paman Fatih bilang nggak boleh ngasih tau siapa-siapa makanya Aziz lari dari pada bohongkan"
"Emmm udah lah, sekarang paman minta bantuan kamu sekali lagi, kasih ini sama kak Nazwa jangan kasih tau siapa-siapa"
"Bayarannya?"
"Tadi pagi kan udah paman kasih"
"Beda waktu, itu tadi sekarang berbeda"
"Tapi kan..."
"Bayar atau nggak sama sekali"
"Biarin"
"Ya udah nih, dasar bocil mata duitan" ucap Fatih menyerahkan selembar uang lima ribuan
"Dari pada mata keranjang"
"Udah sana cepet pergi jangan banyak omong disini"
"Tadi aja..."
"Cepetan jangan bicara lagi" ucap Fatih tak sabar
"Iya iya"
.
.
.
Di suatu tempat
"Naz, anti udah nanya sama Aziz, siapa yang ngasih surat itu?"
"Belum tadi pas ketemu Aziz dia langsung kabur" jawab Nazwa sambil menyeruput kuah baksonya,
Saat ini mereka sedang berada di warung Bu Sulis di depan ponpes, karena hari ini hari jum'at alias hari libur para santri, santri diperbolehkan keluar tentunya tak boleh jauh dari area ponpes
"Ohhh ya Sal, ini hadiah kemarin untuk anti" ucap Nazwa menyerahkan sebuah amplop kepada Salwa
"Loh kok..."
"Udah terima aja Sal, ini cara kita buat nolong anti" Hana memotong ucapan salwa
"Tapi..."
"Jangan sungkan Sal, sebagai sahabat cuma ini yang bisa kita kasih buat anti" sambung Nadifa
"Do'a kalian udah cukup, nggak usah seperti ini"
__ADS_1
"Terima Sal, nggak baik nolak rezki" ucap Nazwa mengelus bahu Salwa yang duduk di dekatnya
"Terima kasih ya teman-teman" ucap Salwa terharu
"Ingat..."
"DALAM PERSAHABATAN TIDAK ADA UCAPAN TERIMA KASIH" ucap mereka bertiga kompak
"Udah nanti dilanjutin sedihnya, sekarang kita puas-puas makan mumpung dikasih keluar ponpes sekaligus ngerayain kemenangan kita, Nazwa yang bayar" ucap Nadifa semangat
"Giliran yang gratisan aja, semangat" ucap Hana menoyor kepala Nadifa
"Jelas, rezki jangan ditolak, anti juga jangan suka noyor-noyor Sal, nanti ana bisa insomnia"
"AMNESIA" ucap mereka bertiga kompak
"Hehehhe"
"Kak Nazwa?" Aziz tiba-tiba datang membuat mereka kembali terdiam
"Aziz"
"Ayo sini ikut makan Aziz, kak Nazwa yang traktir ini sebagai perayaan kita"
"Nggak perlu kak Nazwa, Aziz cuma..."
"Udah ayok duduk jangan sungkan sama kita Aziz, kayak sama siapa aja" ucap Hana menarik kursi di sebelahnya
Dan kini mereka berlima menikmati semangkok bakso, es teh, dan berbagai macam camilan yang tersedia diatas meja sebagai bentuk perayaan kemenangan mereka
"Alhamdulillah makasih ya kak Nazwa, kak Salwa, kak Hana, dan Kak Nadifa"
"Sama-sama"
"Lain kali traktir lagi ya" ucap Aziz cengir
"Tadi aja sok nolak sekarang ketagihan"
"Rezki jangan ditolak heheh"
"Ya udah kalau gitu, Aziz duluan pulang ya, takut dicariin ummi"
"Ya hati-hati, nanti kita nyusul mau bayar dulu"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"Aduh ana lupa nanya sama Aziz siapa yang nitipin surat tadi" ucap Nazwa menepuk jidatnya saat menyadari satu hal
"Oh iya juga ya"
.
Di tempat lain
Dua orang di tempat berbeda sedang menanti dengan cemas kabar dari surat mereka
"Aziz kira-kira udah ngasih nggak sih?"
Begitulah pertanyaan yang terus berputar dalam kepala mereka
"Assalamu'alaikum" terdengar ucapan salam membuat mereka berdua langsung bergegas menemui sang pemilik suara
"AZIZ" ucap mereka berdua kompak saat melihat orang yang mereka tunggu sedang duduk di sofa bersama ibunya
"Kakak heran sama kalian dari tadi pagi kompak mulu, ngucap istigfar bareng, ini bareng, itu bareng, nyari Aziz juga bareng, ada apa sih?" Tanya ustadzah Fathia bingung
"Nggak ada kak ini urusan laki-laki"
"Paman Fatih, Paman Rayhan ada apa nyari Aziz?"
"Yang tadi..." ucap mereka berdua kompak membuat Aziz langsung berlari terbirit-birit keluar sambil berteriak
"AZIZ LUPA"
"Astagfirullohaladzim" ucap mereka berdua menepuk jidatnya mendengar ucapan keponakan mereka satu-satu nya
"Ini hari apa sih?" Ustadzah Fathia bingung melihat kejadian di hadapannya
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1