
🌷🌷🌷🌷🌷
Pagi yang cerah tak secerah hati seorang gadis yang kini duduk termenung memandang ke arah telaga pesantren dengan air yang nampak tenang
"Naz, mau berapa lama anti kayak gitu?" teriak Hana dari samping sedang menjemur pakaian melihat temannya yang sedari pagi tak memiliki semangat hidup
"Anti jangan ngelamun terus Naz, apalagi katanya telaga itu ada penunggunya loh" ucapan Nadifa membuat Nazwa merinding dan segera menyingkir dari sana
"Nahkan takut juga anti sama hal gituan, kirain nggak takut" ledek Salwa
"apaansih ana nggak takut ya, ingat ya takutnya itu cuma sama Allah" ucap Nazwa mengelak
"masa sih?"
"Nazwa dibelakang anti..." belum sempat Salwa menyelesaikan ucapannya Nazwa dengan cepat langsung melompat ke arah Nadifa disebelahnya membuat mereka berdua terjatuh
"Ya Alloh Ya Robbi, ini nih yang dinamakan sok berani" omel Hana sambil membantu kedua sahabatnya berdiri
"nggak kok nggak takut, itu namanya cuma terkejut" ucap Nazwa menyangkal
"hadeh Naz, lain kali kalau mau loncat bilang-bilang dulu, ana perlu waktu untuk mempersiapkan fisik dan mental secara matang untuk menangkap anti" kesal Nadifa
"hadeh, urat nadi anti kira Nazwa itu apaan?" tanya Hana
"emang..."
"udah-udah kalian itu sukanya berantem mulu, nggak tenang apa hidup kalian kalau nggak berantem?" Salwa memotong perkataan Nadifa membuat mereka langsung diam
"kayaknya si Salwa lagi PMS deh, dari tadi marah-marah mulu" bisik Nadifa
"ngomongin orang di belakang itu dosa loh"
"loh kita ngomongnya di depan kok, nggak di belakang" ucap polos Nadifa
"hadeh, udah deh urat nadi lebih baik anti diam aja"
"stop stop stop"
"Naz, tuh anti dicariin Aziz dibelakang anti" ucapan Salwa sontak membuat Nazwa menoleh ke belakang
"ada apa Aziz?"
"Kak Nazwa Aziz mau ngucapin makasih sama kak Nazwa karena ngerawat Aziz pas sakit kemarin, Alhamdulillah sekarang Aziz sudah sembuh"
"dan ini..." Aziz menyerahkan dua amplop putih yang tertutup rapi kepada Nazwa
"dari siapa?"
"katanya Aziz nggak boleh kasih tau kak Nazwa ini dari siapa"Aziz menyerahkan amplop tersebut dan langsung berlari meninggalkan Nazwa yang kebingungan
"dari siapa nih? apa isinya? uang kah?" ucap Nazwa bertanya-tanya
"wooow amplop apaan tuh?" goda Hana
"nggak tau, nggak ada nama pengirimnya" ucap Nazwa membolak-balik amplop tersebut
"kalau nggak ada biasanya surat cinta nih" ucap Nadifa
"tumben pinter" ucap Hana merangkul bahu Nadifa
"masa sih? tapi dari siapa?"
"dari pada penasaran mending langsung buka aja" ucap Hana yang sudah kepo
Nazwa membuka surat tersebut dan mengeluarkan isinya membuat teman-temannya langsung merapat melihat isinya
"Ha???"
"apaan nih?"
"coba buka yang satunya lagi"
"Ha???"
__ADS_1
.
disuatu tempat
Seseorang sedang tersenyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu sampai membuat orang disebelahnya merinding
"Rayhan coba kamu rukyah Fatih deh" ucap Ustadzah Fathia merinding melihat Fatih, namun saat menoleh ke arah Rayhan hal yang sama juga terjadi
"ummi kayaknya rumah ini ada jin nya deh, liat deh anak ummi dua-duanya senyum sendiri"
"itu bukan karena jin, itu namanya virus cinta" ucap ummi Fatimah tersenyum
"makanya nikah biar nggak jomblo"
"ummi apaansih, Rayhan cuma mikirin sesuatu aja"
"cinta kan?"
"enggak ih, udah ah ana mau masuk kamar dulu"
"Fatih juga" ucap Gus Fatih ikut-ikutan masuk
"tanda orang jatuh cinta itu gini nih, sukanya dalam kamar aja"
"UMMI" teriak keduanya tak terima
"ummi senang melihat mereka mencintai seseorang, asalkan benar-benar serius dan tidak mendekati Zina" ucap ummi Fatimah memandang pintu kamar dua putranya yang tertutup rapat
"maksud ummi ta'aruf langsung nikah?" tanya ustadzah Fathia yang berada di sebelahnya dan hanya di jawab anggukan oleh ummi Fatimah
"Fathia juga setuju, tapi yang Fathia takutkan adalah mereka menyukai satu orang yang sama" ucap Ustadzah Fathia menarik nafas pelan saat mengingat beberapa kejadian yang sering terjadi kepada kedua adiknya
"ummi juga berpikir begitu"
Kamar
"Aziz udah ngasih suratnya nggak sih, kok lama banget" ucap Gus Fatih mondar mandir di kamarnya hingga pandangan matanya tertuju pada sebuah kertas diatas meja
"kertas apaan nih"
"ASTAGFIRULLOHALADZIM"
"Kira-kira gimana ya reaksinya saat membacanya" ucap Gus Rayhan sambil membuka-buka kitab yang dipegangnya tanpa berniat membacanya
srrrttt
Secarik kertas terjatuh tepat dibawah kakinya, ia mengambilnya dan
"ASTAGFIRULLOHALADZIM"
Ruang Tamu
Ustadzah Fathia dan Ummi Fatimah sedang sibuk melihat resep makanan yang ditayangkan di televisi
"ASTAGFIRULLIHALADZIM" terdengar ucapan istigfar dari kedua kamar putranya
"apaan tuh, ngucap istigfar nya bareng-bareng" ucap Ustadzah Fathia kepo dan hanya dibalas gelengan kepala oleh ummi fatimah
Brakk
Tak Tak Tak
Terdengar pintu kamar yang terbuka keras dan suara langkah kaki yang tergesa-gesa menuruni anak tangga
"Astagfirullohaladzim kalau turun tuh pelan-pelan, kayak orang lagi dikejar hantu aja berasa rumah mau roboh" omel ummi Fatimah menasihati kedua putranya
"ingat seberapa penting pun urusan kita, jangan tergesa-gesa, itu adalah sebagian sifat dari setan"
"na'am ummi, ana paham"
"Kak, Aziz udah balik belum?" mereka berdua bertanya bersamaan, membuat ustadzah Fathia curiga
"ada apa kalian nanyain Aziz?"
__ADS_1
Gus Fatih dan Gus Rayhan saling pandang
"ana ada kepentingan sebentar"
"ana juga"
"Kepentingan apa anta cari Aziz?" tanya Gus Rayhan kepada adiknya
"Pengen tau aja"
"nggak usah berantem, Aziz tadi keluar ummi liat nggak tau kemana" jawab ummi Fatimah
"Rayhan cari Aziz dulu"
"Fatih juga"
"ngapain anta ikut?"
"ana ada urusan sama Aziz"
"awas kalau kalian berdua apa-apain Aziz" ancam ustadzah Fathia
"nggak akan tenang aja"
"Fatih anta nyari kesana, entar ana nyari kesana biar cepat ketemu" ucap Gus Rayhan menunjuk arah, untuk berpencar mencari putra kakaknya itu
"hemmm, kalau sudah ketemu bawa pulang"
"hmmm"
Kembali ke Nazwa dkk
"Ha???"
"hahaha lucu banget"
"Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh, kepada ustadz atau ustadzah ponpes Nurul Hikmah, ananda khabarkan bahwa hari ini tidak dapat mengikuti kegiatan belajar seperti biasa karena ananda dalam keadaan alpa"
Nazwa membaca surat tersebut berulang-ulang hingga membuat ketiga temannya tertawa sambil memegang perut yang terasa keram karena kebanyakan tertawa beruntung kondisi disana sepi jadi tidak ada yang melihat kelakuan mereka
"HAHAHAHA"
"Aduh, aduh perut ana sakit Hahaha"
"mau alpa kok buat surat, dititipinnya ke Nazwa lagi Hahaha"
"Hahaha, siapa sih nih? yang ngirim nggak ada namanya" ucap Nazwa tertawa sambil terus melihat surat tersebut
"kayaknya dua-duanya salah kirim deh Naz, yang paling aneh bisa-bisanya anti dapat undangan ngisi pengajian di kampung sebelah hahaha"
"iya bener, tau tempatnya aja nggak Hahaha"
"dari mana mereka kenal anti coba"
"tertulis kami harap pak ustadz dapat hadir dan mengisi acara kami Hahaha anti jadi ustadz Naz" uap Hana yang tak henti-henti tertawa
"ustadz Nazwa Hahahah" tawa mereka semakin pecah saat membaca surat tersebut
"Ha ha ha ana harus cari Aziz ini, siapa yang ngirim?"
"yaudah ayo kita ikut"
.
"Aduh Fatih kok bisa-bisanya sih salah kirim, itukan surat Ahmil kemarin nggak masuk kelas, si Ahmil juga bisa-bisanya nulis surat kek gitu, mana nggak ada namanya lagi untung kemarin nggak di kasih ustadzah" ucap Fatih berjalan sambil terus menggerutu meyalahkan teman sekamarnya
.
"aduh kalau surat itu disini, jadi yang ada dalam amplop itu apa? jangan-jangan surat pengajian kemarin lagi, astagfirullohaladzim Rayhan kok bisa seperti ini" Gus Rayhan terus menggerutu menyadari kecerobohannya sambil berjalan mencari keponakannya
.
Maaf lama up 🙏🙏🙏
__ADS_1
Banyak Typo...🙏🙏🙏