
"Assalamu'alaikum.." Azawi kembali memasuki ruang pendaftaran.
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.." jawab para staf pondok.
"Gimana Azawi, kamu sudah lihat keseluruhan pondok pesantren ini?" tanya ayahnya.
"Sudah kok Ayah.."
"Gimana kamu suka kan? pasti kamu betah tinggal di sini."
Azawi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Ayahnya dan langsung duduk di dekat Mama nya.
"Azawi pasti kamu capek ya jalan sendirian melihat - lihat lingkungan pondok yang begitu luas, ini minuman segar buat kamu, di minum dulu!" ujar Mama nya sembari memberikan sebotol minuman segar yang dia beli di kantin pondok.
"Iya makasih Ma.." ucap Azawi. lalu segera meneguk minuman yang di berikan oleh Mama nya, karena dia sangat haus, apalagi tadi sempat harus berurusan dengan para santri yang bagi Azawi sok tau, sok kenal dan sok dekat.
"Azawi kamu bisa langsung tinggal disini, besok kamu akan melalukan serangkaian pendaftaran di sekolah barumu nanti, karena orang tua kamu telah memilihkan salah satu sekolah terbaik di sini barusan, saat kamu pergi keluar. ini formulir pendaftaran nanti tolong di isi, besok saya yang akan mengantarkan kamu ke sekolahan." ujar Kang Rifa'i mendekati Azawi sembari menyodorkan kertas formulir pendaftaran sekolah.
__ADS_1
Azawi menerima formulir itu, tanpa mengucapkan satu patah kata pun, dalam hatinya sangat kesal karena lagi - lagi Ayahnya memutuskan sendiri tanpa sepengetahuan Azawi. "Harusnya aku kan memilih sekolahan sendiri." batinnya.
"Azawi ini anak yang cerdas ya Pak, saya lihat di buku raport nya selalu mendapatkan nilai terbaik." ujar Kang Rifai memuji kecerdasan Azawi.
"Iya betul Pak Ustadz, putera kami ini memang cerdas, tapi kalau untuk pelajaran agama dia masih kalah dengan lainnya Pak, karena baru pertama kali ini dia saya masukkan ke pondok pesantren untuk belajar agama, mohon bimbingannya ya Pak." jawab Ayah Azawi.
"Iya itu pasti Pak, semua ustadz beserta guru di sini akan berusaha semaximal mungkin, asalkan Azawi tidak melanggar aturan di pondok pesantren ini ya." ujar Kang Rifa'i sembari tersenyum ke arah Azawi yang sedari tadi menunduk.
"Tuh dengerin Azawi kamu harus jadi anak yang sholeh, nurut sama Ustadz di sini, jangan bikin masalah apalagi melanggar aturan." ujar ayah Azawi menasehati Azawi.
"Iya iya Yah, tenang aja, Azawi pasti kasih yang terbaik kok buat Ayah, tapi setelah ini Azawi nggak mau mondok lagi, cukup 3 tahun saja ya." ujar Azawi menimpali nasehat Ayahnya.
"Salah lagi, ya udah aku diam saja, nurut apa kata kalian semua." ujar Azawi dengan muka cueknya.
"Saya barusan sudah memanggil santri terbaik disini, mereka nanti yang akan menunjukkan serta mengantarkanmu masuk ke kamar Asrama, nanti kamu bisa belajar banyak dari mereka, sebentar lagi mereka akan kesini." ucap Kang Rifa'i
"Siapa lagi mereka, jangan - jangan .. ah nggak mungkin mereka." gumam Azawi di dalam hati.
__ADS_1
Tak berselang lama Azam dan Nidzar pun memasuki ruang pendaftaran, yang di maksud santri terbaik oleh Kang Rifai adalah Azam dan Nidzar mereka telah lama menjadi santri di pondok pesantren ihya ulumuddin, sedari MI (SD) mereka sudah mondok di pesantren ihya ulumuddin, dengan peringkat tertinggi, selalu mendapatkan nilai terbaik, apalagi Azam dia selalu mendapatkan juara Qori' se kabupaten, bahkan se provinsi. selalu membanggakan, Azam dan Nidzar juga selalu di utus untuk membantu membina/ membimbing adik - adik yang baru daftar di pondok pesantren.
"Assalamu'alaikum.. " ucapan salam serempak Azam dan Nidzar
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.."
"Perkenalkan ini Azam dan Nidzar santri yang saya sebut barusan."
"Azam Nidzar ini santri baru namanya Azawi, nanti kamu bantu dia ya, dia masih awam mengenai pondok pesantren, nanti bantu jelasin aturan - aturan pondok ya." ujar Pak Rifa'i yang selalu di patuhi oleh Azam dan Nidzar.
"Iya Kang Rifa'i." jawab Azam.
sedangkan Nidzar hanya mengernyitkan dahinya. harus membina/ membimbing anak baru yang tadi sok angkuh dengannya. Nidzar pun menepuk jidatnya. "Butuh banyak kesabaran untuk mengarahkan anak itu." batin Nidzar.
"Nidzar kok kamu diam saja?"
"Injih Kang Rifa'i siap saya laksanakan." jawab Nidzar dengan sigap membusungkan dadanya seperti polisi yang sigap dengan perintah komandan nya. orang tua Azam pun tertawa kecil melihat kekonyolan Nidzar.
__ADS_1
Azawi masih saja diam, hanya memandang ke arah Azam dan Nidzar dengan pandangan sini, sembari merutuki dirinya sendiri.
"Ternyata benar mereka yang membantuku disini, ahaa gue kerjain lo lo pada.." gumam Azawi dalam hati. ingin rasanya ia ngerjain Azam dan Nidzar karena mereka terlihat begitu polos dan lugu.