
Ruangan bernuansa putih tersebut terasa sunyi, hanya tercium berbagai macam obat-obatan, Nazwa masih terbaring lemah di ranjang UKS, dehidrasi dan asam lambung yang tinggi membuatnya pingsan
"hnngg" lenguhnya sambil menyesuaikan cahaya yang masuk dalam retina matanya
"Naz"
"a air"
"ini anti minum dulu" Nazwa meminum air putih yang diberikan oleh Hana
"ana dimana Han?" tanya Nazwa memegang kepalanya yang terasa pusing
"anti di UKS pesantren Naz" jawab Hana yang duduk di sebelah Nazw
"Nadifa mana?" tanya Nazwa memperhatikan sekeliling hanya mereka berdua dalam ruangan itu
"owwh Nadifa tadi di suruh masuk ke kelas, kata ustadzah cukup satu orang aja yang jaga jangan banyak-banyak biar nggak ribut gitu"
"ana pingsan berapa lama Han?" tanya Nazwa
"sekitar tiga puluh menitan anti nggak sadar Naz, bahkan ustadzah tadi sempat nelpon nenek anti"
"APA???"
"ish kenapa teriak-teriak sih, nih anti makan bubur dulu masih anget kata bi ijah tadi anti belum sarapan" ucap Hana memberikan mangkok bubur kepada Nazwa
"tunggu dulu Han, tadi anti bilang apa Han? ustadzah nelpon nenek ana?" tanya Nazwa sekali lagi dan Hana hanya mengangguk
"Astagfirullohaladzim mati aku Han" ucap Nazwa menepuk jidat nya
"loh kan anti masih hidup" jawab Hana dengan polosnya
"aduh anti nggak ngerti Han" ucap Nazwa gelisah sendiri dan Hana hanya bingung melihat tigkah temannya itu
"ayo cepet makan bubur anti entar keburu dingin jadi nggak enak"
"tapi ana nggak lapar Han"
"enggak lapar apanya tadi anti sampai pingsan"
"tapi ana nggak *****" ucap Nazwa menutup mulutnya
ceklek
pintu kamar terbuka, masuklah wanita paruh baya ke dalam ruangan tersebut diikuti Gus Fatih dibelakangnya
"makasih ya gus udah nganterin"
"sama-sama nek" jawab Gus Fatih sopan namun tak keluar dari ruangan tersebut tapi menuju lemari obat-obatan seolah sibuk mencari obat
"Nenek"
"kamu ngapain di UKS?"
"eh nggak kok nek, Nazwa tadi cuma tidur-tidur aja, ya kan Han?" ucao Nazwa mengedipkan satu matanya ke arah Hana
"tapi..."
"ngapain di UKS? bukannya lagi belajar malah tidur"
"iya anu tadi itu jam kosong nek jadi Nazwa tidur dulu gitu semalam nggak soalnya nggak bisa tidur"
"kamu sakit kan?" tanya neneknya
"eh enggak kok nek, liat nih Nazwa sehat-sehat aja kok" ucap Nazwa memperlihatkan lengannya yang tak berotot
"udah nggak usah bohong nenek tau kamu sakit, tadi ustadzah nelpon nenek katanya kamu pingsan"
"lah terus kalau udah tau ngapain nenek nanya lagi?" kesal Nazwa
"ya nenek cuma ngetes kejujuran kamu aja, ternyata kamu dari dulu nggak berubah ya masih suka bohong" ucap neneknya menjewer telingan Nazwa, tentunya itu tak lepas dari pandangan Hana dan Gus Fatih yang masih berada dalam ruangan tersebut, mereka berdua hanya bisa tertawa dalam diam melihat interaksi dua wanita terpaut usia yang jauh berbeda
"ya habis nya kalau nenek tau, pasti di suruh minum obat kayak jamu-jamu gitu, Nazwa nggak suka pait"
"itu juga demi kebaikan kamu supaya cepet sembuh"
"tapi nek Nazwa nggak suka"
__ADS_1
"jangan ngeyel kalau dibilangin, kamu udah sarapan belum?"
"belum nek, Nazwa tadi nggak mau disuruh makan" bukan Nazwa yang menjawab melainkan Hana yang berada disebelah nya
"apa? dasar anak nakal, cepet makan jangan nyusahin orang mulu" ucap neneknya menjewer kembali cucu kesayangan nya itu
"ish iya nek, Nazwa makan jangan jewer lagi bisa-bisa jadi panjang telingan Nazwa kalah nenek jewer terus kayak gini" ucap cemberut sambil mengusap telinganya yang tertutup jilbab
"nenek nggak bakal kayak gini, kalau kamu nurut, patuh kalau disuruh"
"iya nek" ucap Nazwa pasrah sambil meraih sendok bubur tersebut untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, ia langsung menelan makanan tersebut tanpa mengunyah terlebih dahulu
"kalau makan tuh pelan-pelan dikunyah dulu jangan langsung telen aja"
"ya tapi kan bubur nek, cara ngunyahnya gimana?"
"jawab terus kalau dibilangin"
"emang orang tua selalu benar" batin Nazwa melihat ke arah neneknya
"Naz ana duluan ke kelas ya, nanti pas pelajaran selesai ana kesini lagi sama Nadifa" ucap Hana meminta izin karen bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi dibalas anggukan olwh Nazwa
"udah nek, Nazwa udah kenyang"
"kenyang? baru aja masuk tiga sendok udah kenyang?"
"udah nggak bisa nek, kalah dipaksa yang ada ntar Nazwa muntah"
"ya udah nih minum obat" neneknya menyodorkan obat seperti jamu yang diambil dari tas keranjang yang dibawanya
"tuh kan, ini yang Nazwa nggak suka" ucap Nazwa menutup mulut dan hidungnya
"udah cepet minum"
"pait nek"
"nggak pait kok nenek udah kasih gula"
"beneran?"
gluukk byuurrr
"uhuk uhuk uhuk rasanya kayak sambel" Nazwa menyemburkan jamu tersebut ke arah samping yang tepat mengenai baju Gus Fatih yang berada disana
"oppps sorry hehehe" dengan reflek Nazwa mengambil tisu yang berada di atas meja dan berjalan ke arah Gus Fatih sambil membersihkan bekas minuman yang disemburkannya
deg deg deg
"Astaga Nazwa kamu ngapain?"
"bersihin bajunya nek" jawab Nazwa dengan polosnya
"astaga Nazwa bajunya nggak bakal bersih kalau kaya gitu caranya"
"terus gimana nek?"
"cuci bajunya"
"tapi nek, Nazwa kan lagi sakit"
"tapi kan itu juga salah kamu nyemburin jamu ke arah Gus Fatih"
"tapi nek, Nazwa nggak tau kalau dia disana"
"jawab terus kalau orang tua lagi ngomong"
"keluar deh jurusnya" gumam Nazwa
"Fatih nggak papa kok nek, cuma kotor biasa aja, nanti Fatih cuci sendiri"
"tuhkan nek dia katanya bisa cuci sendiri"
"diam kamu jangan jawab terus kalau orang tua lagi ngomong"
"lah emang dia orang tua?" pandangan mata Nazwa mengarah ke arah Gus Fatih yang berada di sebelahnya
plukkk
__ADS_1
"nenek kenapa sih kok main pukul aja?" ucap Nazwa memegang kepalanya
"kamu jangan bercanda mulu"
"nggak ada orang yang lagi bercanda ya nek dari tadi Nazwa diam aja"
"jawab terus kalau orang tua lagi ngomong"
"jurus andalan" batin Nazwa
"oh ya jadi nak Fatih, nanti kasih aja Nazwa bajunya ya biar dia yang nyuciin biar bisa bertanggung jawab"
"tanggung jawab apa sih nek, Nazwa cuma nggak sengaja doang"
"bertanggung jawab sama suami biar saat kamu nikah nanti kalau ada baju suami kotor..."
"stop ya nek, jangan bahas nikah-nikah mulu Nazwa masih kecil" Nazwa dengan cepat memotong perkataan neneknya yang semakin tidak karuan
"ya siapa tau kan"
"Nenek, Nazwa nggak suka nenek bahas gituan"
"itu kan cuma contoh, biar nanti kalau kamu nikah..."
"Nenek udah deh stop, nggak usah jadiin Nazwa contoh-contoh kayak gini"
"hehehe iya nenek cuma becanda, ya udah kalau gitu nenek pulang dulu, kamu jangan lupa cuciin bajunya nak Fatih biar bisa tanggung jawab jadi istri yang baik"
"Nenek" teriak Nazwa kesal melihat punggung neneknya yang sudah menghilang di balik pintu
"anti udah nggak papa kan?" tanya Gus Fatih mendekat ke arah Nazwa
"eh eh eh anta mau ngapain?"
"apaan sih, ana cuma menjalankan amanah dari nenek aja"
"amanah apa?"
"nih" tanpa ragu Gus Fatih membuka kancing baju putihnya di depan Nazwa membuat Nazwa berteriak sambil menutup mata nya
"anta apaan sih, nggak tau malu banget, masa buka bajunya di depan santriwati"
"emang napa sih, ana juga pakai kaos nih liat" ucapnya menunjuk kaos putih polos yang di pakenya
"ya tapi nggak gini juga kali, kita bukan makhrom entar kalau ada yang salah paham gimana?"
"gampang lah kalau gitu tinggal nikah aja" gumam Gus Fatih pelan
"apa?"
"nggak ada, tuh baju ana jangan lupa di cuci ya"
"tapi kan aku masih sakit, aduh perut ku pusing, kepala ku kayaknya maag deh"
"hahaha kebalik, usah nggak usah acting lagi, anti nggak cocok jadi pemain sinetron"
"ishhh"
"ingat ya belajar jadi istri yang baik"
blushh
"ish apaan sih bisa nggak berhenti bahas hal yang kayak gitu"
"hahaha becanda, tuh ana udah siapun teh anget diatas meja" ucap Gus Fatih menuju ke arah pintu
"semua penyakit, obatnya pasti teh anget" kesal Nazwa meminum teh tersebut dan menarik selimut untuk lebih memilih tidur
.
.
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
Maaf kalau alurnya nggak nyambung...
__ADS_1