
Awan mendung menghiasi langit pagi menjelang siang, semilir angin berhembus menerbangkan dedaunan mengikuti arah angin, burung-burung mulai pulang ke rumah mereka, agar sayapnya tak basah terkena air hujan yang sebentar lagi membasahi bumi
Di koridor pesantren, terlihat seorang wanita dengan pakaian dokternya berlari, dari wajahnya terlihat ia terburu-buru mencari sesuatu
"Assalamu'alaikum Gus" Nazwa berhenti tepat di ujung koridor ketika melihat seseorang baru saja keluar dari ruang kelas
"Wa'alaikumussalam Naz"
"Gus liat Haafiz nggak?"
"Haafiz? bukannya udah pulang dari jam sebelas?"
"Tapi nggak ada dirumah"
"Tapi tadi ana lihat langsung pulang"
"Terima kasih kalau begitu Gus, ana cari lagi soalnya bentar lagi hujan" Nazwa menunduk dan mengucapkan salam setelah itu langsung bergegas mencari anak sulungnya itu
"Kemana lagi si Haafiz?, padahal udah diberitau kalau mau pergi pamit dulu sama orang rumah, bukannya hilang kayak gini, dimana lagi nyarinya ya allah" Nazwa menatap kiri kanan tempat yang dilaluinya berharap melihat orang yang lelah dicarinya
"Ning Nazwa nyari Haafiz ya?" seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun menghampiri Nazwa yang terlihat bingung
"Na'am, anta liat?"
"Tadi setelah pulang sekolah ana liat dia pergi ke belakang, arah sawah pesantren kalau nggak salah sama Haikal"
"Kalau gitu makasih ya, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Tak ada siapapun yang terlihat di belakang pesantren, hanya terlihat jejeran padi yang masih hijau, Nazwa menajamkan penglihatannya saat melihat sesuatu di gerbang belakang pesantren, ia mendekat dan dugaannya benar itu adalah peci Hafidz yang dipesankan khusus oleh Nazwa saat anaknya itu hafal lima juz
Nazwa kembali melihat luar gerbang tersebut, banyak sawah berjejer serta rumah penduduk yang tak jauh dari sana
"pasti kabur" gumamnya pelan keyakinannya semakin kuat saat melihat lubang cukup besar di tembok yang mulai rapuh termakan usia, lubang itu sengaja di tutupi dedaunan agar tak ada yang menyadarinya
"Haafiz kenapa kamu malah ngikut sifat bunda, kenapa nggak sikap ayahmu yang penuh sopan santun itu yang kamu ikuti" ucapnya bergumam seraya berjongkok menyingkirkan dedaunan itu dan masuk melalui celah itu tanpa memperdulikan pakaian putih dokternya yang ditempeli dedaunan
Rintik hujan mulai turun, bertepatan dengan itu Nazwa mendengar suara samar-samar dari arah sungai dibalik kebun pisang salah satu warga disana setelah berjalan cukup jauh dari ponpes
Nazwa berdecak saat melihat pemandangan di depan matanya, Haafiz sedang menangkap ikan di sungai itu dengan teman sekelasnya yang diketahui bernama Haikal
Haafiz masih tak menyadari kedatangan bundanya yang siap mengamuk, ia asyik menggapai bawah bebatuan dengan salah satu tangan memegang bakul yang terlihat mulai rusak entah didapat dari mana
"Fiz, balik yok udah mulai hujan" Haikal menengadahkan kepalanya kelangit saat merasa rintik hujan mulai turun
"Sebentar dulu, ana liat tadi ada ikan besar disini" ucap Haafiz masih dengan kegiatannya
__ADS_1
"Anta nggak takut dicari sama orang rumah?"
"Di rumah nggak ada orang, Nafisa pasti di rumah kakek nenek" ucapnya menyebut saudara yang berusia satu tahun dibawahnya
"Ayah pergi ngisi pengajian di kampung sebelah, kalau ibu palingan masih di rumah sakit" ucapnya santai
"Ekhem, disini banyak ikan ya?"
"Iya disini ikan banyak banget" Haafiz menjawab tanpa menyadari kalau orang yang berbicara adalah bundanya, sedangkan Haikal terkejut dan langsung tersenyum kikuk melihat Nazwa
"Kalian anak ponpes ya?" Nazwa masih bertanya seolah ia adalah orang asing yang kebetulan lewat
"Iya, ponpes Nurul Hikmah"
"Kenapa disini? kalian nggak takut saya aduin ke para pengajar ponpes?"
Mendengar itu sontak Haafiz berbalik
"BUNDA" Pekiknya terkejut saat melihat Nazwa berdiri disalah satu batu dipinggir sungai
"Cepat pulang, jangan diam kayak patung gitu" Haafiz tersadar dan segera menuju pinggir sungai
Nazwa berkacak pinggang melihat penampilan mereka, celana yang dinaikkan sebatas lutut tapi masih tetap basah, baju putih yang kotor akibat lumpur dan tangan yang memegang ikan-ikan kecil berbungkus kresek hasil tangkapan mereka
"ck ck ck, kalau bunda nggak dateng mau sampai kapan kalian disana? Hah?!"
"Sampai kalian hanyut terbawa arus?"
"Bunda nggak ngomong itu kalau kalian nurut, liat hujan mulai turun, kita nggak tau kan kalau tiba-tiba dari depan ada banjir besar?"
"Afwan" ucap mereka berdua menunduk
"Kalau minta maaf itu janji jangan pernah diulangi lagi, bukan minta maaf hari ini tapi masih diulangi besok" ucap Nazwa memijit pelipisnya pusing melihat kelakuan dua anak itu
"Kita janji nggak bakal ngulangin lagi" ucap mereka menunduk
"Kenapa kalian bisa main sejauh itu?" Nazwa bertanya serius, pasalnya mereka berdua tak pernah kesana apalagi Haikal yang tinggal dikota
"Kita penasaran bunda, kata Alif nangkap ikan disungai itu seru banget" Nazwa menghela nafasnya kasar, rasa penasaran yang tinggi terkadang membawa dampak buruk
Jderrr
Suara petir menggelegar, membuat dua anak itu terkejut dan memeluk kaki Nazwa erat, bertepatan dengan itu hujan semakin deras dan angin mulai bertiup kencang
Nazwa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih jam sebelas belum masuk waktu dzuhur
"Takut"
__ADS_1
Nazwa berjongkok menyamakan tinggi mereka dan mengelus kepala mereka yang sudah basah
"Takutnya cuma sama Allah, kalau hujan atau petir itu jangan lupa do'a, karena segala sesuatu yang terjadi itu karena kehendak Allah" Suara Nazwa terbawa oleh derasnya air hujan, membuat mereka berdua mengangguk tak terlalu mendengarkan
🌷🌷🌷🌷🌷
Gus Fatih mondar mandir di ruang tamu, ia memilih pulang ke rumah abi nya saat tak melihat siapapun di dalam rumah, padahal biasanya ada dua anaknya yang sedang bermain disana atau Nazwa kalau sedang cuti
"Nafisa, Kak Haafiz mana?" Gus Fatih bertanya pada gadis cantik berusia lima tahun yang fokus dengan buku gambar dan pensil warnanya
"Belum pulang lagi dicariin bunda"
"Bunda udah pulang?" Pertanyaan ayahnya dibalas anggukan oleh Nafisa
"Katanya tadi pergi cari Kak Haafiz"
"Ya Allah, anak itu" Gus Fatih mengusap wajahnya kasar entah ulah apalagi yang dibuat anak sulungnya itu
⚘⚘⚘⚘⚘
Dalam perjalanan kembali ke ponpes, Nazwa tak henti-hentinya memperingati kedua bocah itu, agar tak lagi keluar seperti itu, ia bahkan mengungkit-ngungkit kejadian beberapa hari bahkan tahun lalu
Nazwa hanya bisa kesal sendiri apalagi melihat penampilannya sekarang, tak ada lagi wajah dokter yang berwibawa, sekarang jas dokter itu bahkan dipenuhi lumpur akibat terjatuh di jalan yang licin sedangkan dua anak itu hanya tertawa saja menikmati air hujan
"Astahfirullohaladzim Nazwa" sebuah suara membuat Nazwa mengangkat kepalanya melihat ke depan
"Nadifa?" Nazwa melihat temannya itu berdiri di depan gerbang ponpes seperti menunggu seseorang
"Anti ngapain masih main kayak gini? ning ponpes masih main hujan-hujan? apa kata dunia?" ucap Nadifa dengan gerakan dramatis
"Heh, yang mau main siapa? ana nyari dua anak nakal ini, untung nggak hanyut disungai"
"ohh kirain anti yang main" Nadifa menutup mulutnya seolah menahan tawa membuat Nazwa mendengus kesal
"Jadi gimana?"
"Apanya yang gimana?" Nazwa bingung melihat sahabatnya yang tiba-tiba bertanya seperti itu
"Anti jadi ngundurin diri?"
"Iya, ana mau ke fokus ke keluarga dulu, anak-anak juga masih kecil butuh pengawasan, ana ada rencana juga mau bikin klinik sendiri"
"Ana rasa lebih baik juga seperti itu, kalau di rumah sakit jarang ada libur" ucapan Nadifa membuat Nazwa mengangguk mengiyakan
.
Maaf ya author lama up 🙏🙏🙂
__ADS_1
Oh ya, minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
Maaf terlambat banget ngucapinnya...