
πππππ
Daun-daun mapel berguguran tertiup angin musim gugur bulan januari, jalanan mulai nampak sepi karena orang lebih memilih dalam rumah mereka dari pada menghadapi hawa dingin yang kian terasa menusuk kulit seiring dengan tenggelamnya sang surya di ufuk barat
Seorang gadis menikmati pemandangan matahari terbenam yang terlihat begitu indah di musim gugur, secangkir coklat panas di meja mampu mengurangi hawa dingin yang terasa kian menusuk
Nazwa memandang jalanan Oxford yang sepi dengan pikiran yang berkelana jauh
Cklek
Seorang wanita dengan perut buncit masuk, membuat Nazwa mengalihkan pandangannya ke orang tersebut
"Kali ini kamu tidak bisa lari lagi" ucap wanita tersebut yang duduk di dekat Nazwa
"Hm, aku sudah menyerahkan semua keputusanku pada ayah, aku yakin orang tua tau yang terbaik untuk anaknya"
"Apa kau yakin? Apapun itu?" Tanya wanita tersebut
"Aku sudah yakin Bianca, jangan menggoyahkan keputusanku lagi, aku takut, aku takut jika aku yang memilih akan ada salah satu yang tersakiti"
Wanita tersebut adalah Bianca, ia sudah menikah dengan orang Maroko yang berprofesi sebagai pengajar di salah satu sekolah yang kebetulan berdekatan dengan rumah sakit tempat Nazwa dan Bianca koas, awal pertemuan mereka saat Bianca satu bus dengan Ahmad dalam perjalanan yang kebetulan searah, memang cinta tak memilih kepada hati siapa ia akan terpaut bahkan di tempat tak terduga sekalipun
"Lalu dengan menyuruh ayahmu apa kau yakin mereka tidak akan sakit hati?"
"Rasa sakit itu pasti ada Bianca namun setidaknya kalau ayahku yang berbicara mereka insya allah bisa memahaminya" Nazwa menarik nafas panjang dan kembali berbicara
"biarlah mereka menganggapku penakut Bianca, aku tahu aku memang gadis penakut yang tak berani mengambil keputusan sendiri"
"Itu adalah hal yang biasa terjadi dalam cinta Nazwa, jika mencintai maka harus siap tersakiti, itulah kurangnya dirimu kau terlalu mementingkan perasaan orang lain, sampai kau sendiri tak mendengar kata hatimu" ucap Bianca menasihati sahabatnya itu dengan suara yang sedikit meninggi
"Aku tau Bianca, jika mencintai harus siap tersakiti, makanya aku tak sepenuhnya mencintai seseorang sebelum ia benar-benar sah menjadi imamku"
"Hati tak bisa memilih kepada siapa ia akan takluk, jika aku mengatakan mencintainya tapi jodohku bukan dirinya bukankah itu hal yang menyakitkan?" lanjut Nazwa
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, jika aku sudah menikah dengan seseorang bukankah artinya aku harus menerima dirinya dan mencintainya? Karena ialah imamku yang akan membimbingku" ucap Nazwa dengan menarik nafas panjang
"Belajar mencintai seseorang bagiku lebih mudah dari pada melupakan orang yang pernah kita cintai sepenuh hati namun tak berjodoh" entah kenapa saat mengatakan hal itu terbesit rasa sakit yang tak dapat diungkapkan dalam hatinya
__ADS_1
"Hahhhh, hidupmu sungguh rumit Nazwa, bahkan lebih rumit dari pada pasien yang keras kepala" ucap Bianca membuat Nazwa menggeleng
"Seseorang punya jalan hidupnya masing-masing, inilah hidupku maka ini yang akan kujalani"
"Apa kau dan Ahmad akan pulang ke Maroko ?" Tanya Nazwa mengalihkan pembicaraan
"Aku akan ikut dan menjadi dokter umum disana, kemanapun ia pergi aku akan ikut dengannya"
"Aku penasaran padahal jarak Maroko dan Inggris jauh bahkan beda benua, mengapa ia bisa sampai kesini? Dan aku merasa aneh dengan suamimu dia tinggal di Maroko tapi memilih sekolah di Al-Azhar dan sekarang malah mengajar disini, aku rasa suamimu seorang penjelajah" ucap Nazwa membuat Bianca mendelik kearahnya
"Begitulah perjalanan hidup Nazwa, mengikuti kata hati kemana kaki akan melangkah dengan berbekal keyakinan hingga sampai ke tempat tujuan, mungkin inilah takdir hingga kami bisa dipertemukan. Sejauh apapun itu jika memang berjodoh Allah punya banyak macam cara untuk mempertemukannya"
Mendengar ucapan Bianca, Nazwa jadi teringat tentang Gus Fatih, yang sering mengucapkan kalimat itu padanya
"Oh ya, tadi malam Ahmad memberitahuku dia punya teman dari Indonesia, tapi beda jurusan hanya saja mereka tinggal berdekatan"
"Benarkah kalau begitu ajaklah ia ke Indonesia, agar kita juga bisa bertemu"
"Jangan lupa undangan pernikahanmu"
"Hmmm" jawab Nazwa dengan deheman karena kenapa hatinya merasakan hal lain saat Bianca mengatakan itu
Saat sampai di depan pintu pesawat ia malah berhenti membuat petugas keheranan. Nazwa memandang pesawat 278 xx yang akan mengantarnya kembali ke negaranya, namun entah kenapa perasaanya gelisah dan menjadi tak tenang, ia memegangi dadanya yang terasa semakin sesak dan menguatkan genggaman pada tasbih yang di genggamnya
"astagfirulloh, kenapa dengan diriku?" tanyanya kebingungan
"Are you okay?" tepukan di bahunya membuat Nazwa berjingkat kaget kemudian mengangguk dan tersenyum
"Yes" Jawab Nazwa sambil tersenyum kepada wanita paruh baya tersebut
Wanita itu mengangguk dan berjalan naik ke tangga pesawat, Nazwa yang melihatnya pun ikut naik karena sebentar lagi pesawat akan berangkat
"Astagfirullohaladzim, Nazwa hilangkan pikiran burukmu" ucapnya menggelengkan kepala pelan dan mulai menyeret koper masuk ke dalam pesawat yang siap mengudara
"Bismillahirrohmanirrohim, jika ini yang terbaik kuatkan hatiku Ya Allah"
Pesawat 278 Xxx mulai mengudara, Nazwa melihat kearah jendela pesawat dan tak lama lagi pesawat itu akan meninggalkan Inggris. Nazwa tarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Nazwa" sapa ayahnya diseberang sana
"Wa'alaikumussalam Ayah"
"Ayah sudah menentukan pilihan yang menurut ayah baik untukmu" ucapan ayahnya membuat Nazwa mematung, ia tak bisa menghindar lagi kini saatnya ia harus berani, ia yang menyuruh ayahnya memilih untuknya karena yakin pilihan orang tua selalu yang terbaik untuk putrinya jadi ia harus menerima apapun jawaban ayahnya
"Si siapa ayah?" tanya Nazwa dengan suara sedikit bergetar
"Gus Rayhan"
Tak terasa cairan bening menetes dari pelupuk matanya, bukannya tak ingin atau benci dengan keputusan ayahnya namun hatinya serasa menolak karena bertolak belakang dengan keinginan yang sebenarnya
"aku akan belajar melupakan dan belajar untuk mencintai" ucapnya pelan
@@@@@
Langit tampak gelap tertutup awan mendung, rintik hujan mulai turun membasahi bumi, langit seolah mendukung suasana hati laki-laki yang berdiri di depan jendela, ia hanya memperhatikan gerimis yang kian banyak hingga terjadilah hujan besar
"Apa ini memang yang terbaik Ya Allah?" tanyanya sambil memegang dadanya dan tak terasa buliran bening mulai jatuh diujung matanya
"Apakah memang aku tak ditakdirkan bersamanya?"
"Aku berdo'a dan mencintainya dengan tulus, apakah kami tak ditakdirkan bersama?" tanya nya pada diri sendiri sambil memegang gelang yang diberikan Nazwa padanya
"Apakah aku tak boleh egois untuk sekali ini saja?"
"Apakah mereka tak percaya padaku karena masih dianggap labil? belum dewasa?"
"Tidakkah mereka sadar kalau kedewasaan tak dilihat dari umur saja"
"Hiks...hiks... Nazwa" Air matanya keluar namun mulutnya terkunci rapat tak meraung mengeluarkan suara tangisan, ia hanya diam, menangis dalam diam tak sanggup melihat orang yang dicintainya bersama dengan saudaranya sendiri
Tak semua orang kuat, tak semua orang sanggup menghadapi hal seperti dirinya, ia tau ia sadar sejak awal kalau sudah berani mengenal cinta artinya harus sudah siap disakiti, namun ia tak menyangka rasanya sesakit ini
πΏπΏπΏπΏπΏ
Maaf teman-teman, author baru sempat up karena banyak kesibukan dan masalah kesehatan apalagi cuaca sekarang lagi tak menentu, semoga teman-teman sehat selalu ya dan selalu dalam lindungan Allah...
__ADS_1
Maaf kalau kalian ngerasa alurnya terlalu cepat atau nggak nyambung...ππππ
Terima kasih untuk teman-teman yang masih setia menunggu cerita author, author terharu banget...π€π