
🍀🍀🍀
Langit pagi tak secerah biasanya, hembusan angin sepoi terasa menusuk kulit, tetesan air dari dedaunan membasahi tanah, hujan kemarin cukup deras hingga membuat genangan air dimana-mana.
"huhhh, jadi nanti malam gimana?" tanya Nadifa menarik nafas panjang karena malam ini adalah malam mereka tampil
"ana juga bingung, kan nggak mungkin kita tampil tanpa Salwa, kelompoknya minimal empat orang, terus kalau cari pengganti nggak mungkin, waktunya ntar malam" jawab Hana menaruh kepalanya diatas meja
"hem aku ada ide sih tapi setuju atau nggak itu terserah kalian" ucapan Nazwa sontak membuat Hana dan Nadifa langsung menoleh ke arahnya
"rencana apa Naz?" ucap mereka berdua kompak
"heemmm gini kan kata Bi Ijah rumah Salwa nggak terlalu jauh sekitar dua puluh menitan dari ponpes gimana kalau nanti pas selesai sholat isya kita langsung ke rumah Salwa?" usul Nazwa
"anti nggak bercanda kan Naz, udah malam loh kalau ada apa-apa gimana apalagi kita perempuan, belum tentu juga kita diizinin sama ustadzah" jawab Hana sedikit tak terima
"masalah kita diizinan atau ndak udah pasti kita nggak diizinan keluar malam sama ustadzah, tapi kalau soal keselamatan kita serahkan sama Allah, kita ikhtiar semoga di jaga dalam perjalanan" jawab Nazwa cepat
"anti mau dihukum Naz?" tanya Nadifa membuat Nazwa memijit pelipis kepalanya yang tiba-tiba pusing
"masalahnya nggak ada cara lain Nad, coba anti pikir kalau kita cari pengganti Salwa nggak mungkin bisa soalnya acaranya nanti malam, kalau kita jemput Salwa ke rumahnya artinya kita sama aja nolong Salwa, kalau kita menang otomatis Salwa kan dapat uang buat bantu dia"
"hemm ada benarnya juga " Nadifa mengganggukan kepalanya
"tapi kalau ustadzah tau gimana Naz?" tanya Hana
"hhuff itu resiko Han, kalau kita ketahuan yaudah dihukum kalau kita kerja sama ustadzah juga nggak tau" jawab Nazwa menarik nafas panjang
"lagian sekali ini aja langgar aturan demi sahabat, biar hidup nggak lurus-lurus amat" lanjut Nazwa
"jadi gimana kalian setuju nggak nih?"
"kalau ana sih setuju aja, kalau kita nggak jadi tampil berarti latiha kita selama ini sia-sia aja" ucap Nadifa mengangguk-anggukan kepalanya
"terus anti gimana Hana?"
"ana ngikut kalian aja, kalaupun di hukum kita di hukum bersama nanti kalau kita menang hadiahnya juga bisa bantu Salwa"
"nah gitu dong, berarti nanti setelah sholat isya kita langsung"
"he'em"
⚘⚘⚘⚘⚘
"inget pokoknya Han nanti pas ana sama Salwa naik lewat tembok anti awasi kalau ada ustadz atau santri yang lewat jangan sampai ketahuan" ucap Nazwa menyusun rencana setelah mereka selesai sholat isya
"ana juga pengen ikut Naz" rengek Hana memegang lengan Nazwa
__ADS_1
"kalau anti ikut anti mau duduk dimana Han? motornya nggak mungkin muat buat empat orang? anti mau di kenalpot?"
"ish, Nadifa anti aja yang di ponpes ana yang ikut"
"lah enak aja, ana juga pengen ngerasain rasanya naik motor, lagian kan anti pernah pas pergi ke pasar berarti sekarang giliran ana"
jawab Nadifa tak terima
"kayak nggak pernah naik motor aja anti"
"udah lah Han, lagian kita balik cepet kok" ucap Nazwa menenangkan Hana yang ingin ikut layaknya anak ayam yang tak ingin pisah dari induknya
"huuff ya udah, eh pakaiannya nggak kalian pakai aja dari sini?" tanya Hana yang melihat Nazwa memakai celana training dan kaos biru polos yang dipadukan dengan jaket dan Nadifa memakai kaos panjang dan celana kulot
"entar pas di rumah Salwa, anti jangan lupa bawa properti yang udah kita siapin kemarin" peringat Nadifa sambil memasukkan baju yang akan mereka kenakan ke dalam tas
"iya, udah ayo kalian cepet berangkat sana, biar nggak telat"
"iya nih udah siap"
Para santri sudah berdatangan ke lokasi acara, para peserta lomba masih mempersiapkan alat musik yang akan mereka tampilkan di ruangan yang telah disediakan, disaat peserta lomba yang lain mempersiapkan diri lain halnya dengan kelompok Nazwa yang saat ini mengendap-endap pergi kebelakang pesantren
"awasi Han, jangan sampai ada yang liat" ucap Nadifa bersiap menaiki tembok yang cukup tinggi
"iya, tenang aja"
"cepetan Nad, naik sini taruh kaki anti di tangan ana terus loncat" Nazwa menurunkan tangannya sebagai pijakan oleh Nadifa
"iya ayo cepetan naik, keburu ada yang lewat"
"bismillahirrohmanirrohim, maaf ya Naz"
"udah belum Nad?" tanya Nazwa merasakan tangannya yang sedikit sakit
"udah Naz"
"ayo, sekarang anti loncat"
"bismillahirrohamanirrohim"
"udah Naz" teriak Nadifa dari seberang tembok
"oke sekarang giliran ana, kami pergi dulu ya Han, entar kalau ada yang nanya bilang aja kita lagi di asrama" ucap Nazwa menaikkan satu kakinya
"iya, tenang aja"
"bismillahirrohmanirrohim"
__ADS_1
"udah kan?" tanya Hana dari seberang tembok setelah melihat Nazwa meloncat
"udah"
"hufff" Hana mengelus dada dan bergegas kembali ke lokasi acara
Kini Nazwa dan Nadifa berada di jalan kecil samping ponpes di samping mereka terdapat padi yang sepertinya baru di tanam
"anti sudah minta izin sama bu sulis Naz?" tanya Nadifa karena mereka menggunakan motor anak bu sulis yang dipinjamkan kepada mereka
"iya lah Nad, nggak mungkin ana sembarangan ngambil motor orang, tenang aja kok anaknya bu sulis baik ana juga udah ngasih uang bensin"
"ooowh gitu"
Nazwa dan Nadifa melangkah pelan melewati jalan yang licin akibat hujan dan kini mereka sampai tepat di depan warung bu sulis, mereka mengamati sekitar memastikan kalau tidak ada santri yang melihat mereka
"pegang yang erat Nad, ana mau ngebut ni"
"iya Naz"
"Bismillahirrohmanirrohim"
Nazwa melajukan motor tersebut dengan kecepatan diatas rata-rata dengan petunjuk jalan yang sesuai dengan arahan bi ijah, motor matic itu melaju membelah jalan yang penuh dengan bebatuan kerikil, lampu motor yang masih menyala terang membuat Nazwa melihat kondisi jalan di depannya.
"Nad anti fokus jangan lihat kanan kiri, liat ke arah depan aja banyak-banyak doa" peringat Nazwa pada Nadifa karena di perempatan ini mereka akan melewati kuburan
"iya Naz"
Nazwa mempercepat laju motornya tanpa memerdulikan kondisi kanan kiri dan berbagai macam suara, ia terus membaca ayat-ayat suci al-qur'an dan sampailah kini di persimpangan terakhir.
"rumah Salwa yang mana ini Nad?"
"kata bi ijah deket kandang bebek pak mamat" ucap Nadifa turun dari motor sempoyongan karena Nazwa yang mengebut hingga waktu sampai yang dua puluh menit hanya menjadi dua belas menit
"hemm, itu bukan ya? kata bi ijah kan cat biru" tunjuk Nazwa pada rumah dengan halaman yang cukup luas
"iya bener Naz, kata bi ijah kan cat biru"
"assalamu'alaikum" Nazwa dan Nadifa memanggil dari pintu gerbang yang tertutup
"Salwa, Salwa, Salwa, Salwa, Salwa"
ceklek
"ya cari siapa dek?" terlihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun membuka pintu
"Salwa nya ada pak?" tanya Nazwa karena menurut cerita bi ijah Salwa hanya tinggal berdua dengan ibunya
__ADS_1
"oh ada, ngapain ya cari istri saya?" tanya laki-laki tersebut sambil membuka lebar pintu rumahnya
"ha? ISTRI???"