
"Tentukan jawaban kamu dek, laki-laki itu butuh kepastian, kalaupun menolak tolaklah dengan cara yang halus"
"Nazwa belum menerima juga belum menolak kak, Nazwa pengen urusan pendidikan Nazwa selesai dulu baru mikiran jodoh"
"Kan kalau udah nikah bisa tetap kuliah dek, apa lagi sekarang kan kamu udah selesai tinggal koas aja"
"Menurut sebagian orang itu mudah, namun menurut Nazwa sulit bukan sedikit temen Nazwa di universitas yang pendidikannya terganggu saat menikah, memang ada yang bisa membagi waktu antara pendidikan dan keluarganya, tapi Nazwa rasa Nazwa nggak bisa" ucap Nazwa menjelaskan panjang lebar kepada Satria yang masih duduk di sampingnya
"hahhhh" Satria menghela nafas panjang mendengar jawaban adiknya dan kembali berkata
"Jika memang Nazwa belum sanggup berumah tangga, tolaklah dengan cara yang baik, jangan gantung laki-laki seperti itu dek, mereka juga butuh kepastian"
"hmmm, Nazwa akan coba ngomong, tapi kalau dia masih menunggu gimana kak?"
"kalau dia menunggumu tandanya ia memang mencintaimu"
"tapi Nazwa kan juga belum tentu milih dia kalau Nazwa lulus"
"itulah cinta Nazwa berbekal hati dan keyakinan, dengan jawaban yang belum pasti namun untaian do'a selalu terucap dari bibir, ia percaya, ia percaya kalau Allah tau yang terbaik untuk mereka, kalau misalkan mereka menyerah artinya Allah telah datangkan jodoh mereka, namun kalau mereka masih menunggu dengan hati yakin, terimalah ia yang terbaik untukmu" ucap Satria tersenyum
"tapi kak, saat dirumah ayah sebenarnya yang khitbah Nazwa siapa sih? Gus Fatih atau Gus Rayhan?"
"Mereka berdua" jawaban tiba-tiba dari belakang membuat Nazwa dan Satria menoleh melihat ayah mereka bersedekap dengan bersandar di pintu
"Mereka berdua? maksud ayah gimana?" tanya Nazwa bingung
"Yang datang mengkhitbah sebenarnya Gus Rayhan, ia meminta tolong pak kyai untuk menyampaikan maksud baiknya, tapi sebelumnya Gus Fatih juga berkata pada ayah tidak ada yang tau apa yang akan terjadi suatu hari nanti"
"Pak Wiraguna, saya ingin mengkhitbah Nazwa" Pak Wiraguna terkejut mendengar pernyataan tiba-tiba Gus Fatih pada dirinya
"Apakah nak Fatih sudah tau arti semua kata itu"
"Saya yakin pak, tapi saya tau ini tak mudah karena Abi juga datang kesini mengkhitbahkan Nazwa untuk abang saya, Rayhan"
"lalu kenapa nak Fatih masih memikirkan hal itu?"
"Takdir ditangan Allah pak, bahkan jodoh telah ditentukan sebelum manusia lahir kedunia, jadi saya tak ingin kalah sebelum berperang, manusia hanya bisa merencanakan namun Allah yang akan memutuskan akhir seperti apa yang dia inginkan"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"Jadi Nazwa harus gimana yah? masa dua orang sekaligus datang lamar Nazwa?" tanya Nazwa kebingungan
Satria menggeleng
__ADS_1
"bukan cuma dua orang dek tapi kalau dihitung bahkan udah sampai belasan orang"
"APA!!!, belasan orang?"
"iya, tapi ayah tolak"
"kenapa?"
"kebanyakan berasal dari teman bisnis ayah, banyak diantara mereka yang mengenalkan anaknya namun ayah tau dibalik itu semua ada niat masing-masing"
"ayah su'udzon" ucap Nazwa
"bukan su'udzon Nazwa, tapi memang begitulah dunia bisnis, bahkan ada yang sampai melakukan pernikahan bisnis, untuk memajukan perusahaan mereka masing-masing"
"Jadi syukur aja dek, kamu nggak perlu ngejalanin pernikahan bisnis" ucap Satria menggoda Nazwa membuat ayahnya hanya menggeleng
"apa mungkin mereka nggak mikir ya? gimana nasib anak mereka nantinya, kalaupun mereka mengatakan 'orang tua tau jodoh terbaik untuk anaknya' tapi mereka terkadang melakukannya hanya karena menginginkan harta tanpa melihat kehidupan pasangan anak mereka, mereka hanya melihat sisi luarnya saja tapi tidak tau bagaimana pergaulannya di luar sana" jelas ayahnya membuat Nazwa mengangguk-anggukan kepala
######
Banyak orang berlalu lalang menggunakan mantel hangat mereka, menyeret koper di tangan kiri dan tangan kanan yang tak lepas dari gawai, namun harus tetap memperhatikan langkah mereka agar tak terpeleset oleh jalanan yang licin akibat salju
"Kalian yakin pulang hari ini?" Nazwa bertanya sekali lagi kepada keluarganya yang sudah diantarnya ke Bandara Heathrow London, setelah beberapa hari mereka menikmati liburan musim dingin disana
"iya Nazwa, kalau kamu mau ikut makanya ayo pulang, jangan diem di negara orang mulu" jawab Satria sinis
"Kapan Nazwa pulang?" tanya ibunya mengelus kepala Nazwa lembut
"hahhhh, gimana ya bu, sebenarnya Nazwa pengen banget pulang sekarang, tapi ibu tau kan bentar lagi Nazwa juga udah mulai koas di rumah sakit disini, jadi mungkin tinggal satu setengah tahun lagi deh" jawab Nazwa menghela nafas, jujur dalam hatinya ia begitu merindukan tanah kelahirannya, namun pendidikannya juga tak bisa ia lupakan begitu saja
"besok kalau udah selesai koas, terus kamu mau lanjut s2 ibu nggak biarin kamu ke luar negri lagi" ucap ibunya galak, namun tentu saja dalam hatinya ia begitu merindukan putri kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa
"iya, ibu tenang aja, Nazwa juga nggak ada niatan pergi ke luar negri lagi setelah ini"
"baguslah, kalau begitu"
"Kamu yakin dengan keputusan kamu tentang hal itu?" tanya ayahnya tiba-tiba, hanya ada ibu dan ayahnya duduk di kursi tunggu, sedangkan Satria dan keluarga kecilnya pergi membeli beberapa makanan ringan dan oleh-oleh lainnya sembari menunggu pesawat yang akan berangkat dua puluh menit lagi
Nazwa tentu tau apa maksud ayahnya mengatakan hal itu, apalagi kalau bukan soal lamaran
"haahhh, tinggal sebentar saja ayah, karena Nazwa juga berjanji memberikan jawaban setelah wisuda kepada pak kyai, maka Nazwa tidak mungkin lagi menggantungkan mereka seperti kata Bang Satria"
"Jadi kamu yakin nolak lamaran mereka?"
"Sebenarnya bukan maksud Nazwa menolak ayah, hanya saja ini soal waktu, Nazwa nggak mungkin terus-terusan menyuruh mereka menunggu Nazwa yang belum pasti ini, Nazwa yakin kok kalau mereka pasti sudah menerima banyak lamaran lain dari teman pak kyai, jadi Nazwa membiarkan mereka memilih agar tak merasa terbebani dengan jawaban Nazwa" ucapan Nazwa keluar begitu ringan namun dalam hatinya terasa begitu berat
__ADS_1
"Ayah akan coba ngomong sama pak kyai besok, insya allah beliau ngerti"
"kamu nggak bakal nyeselkan?" tanya ibu disamping membuat Nazwa menoleh dan menggelengkan kepalanya tersenyum
"nggak usah bohong Nazwa, ibu tau sifat kamu, ibu yang ngelahirin kamu, mulut kamu bisa berkata tidak nak, tapi mata kamu memberikan jawaban lain" ucap ibunya mengelus kepala putrinya
"Nazwa tetap harus milih kan bu, toh kalau dia jodoh Nazwa juga nggak mungkin kemana" jawab Nazwa dengan yakin
"Kamu lebih memilih mendengarkan ego mu nak, dari pada mendengarkan kata hati kecilmu"
"Nazwa harus sedikit mendengarkan ego dari pada hati bu, tinggal satu langkah saja maka cita-cita Nazwa dari kecil terwujud" ibunya tersenyum mendengar jawaban Nazwa, ia tentu tau dari kecil Nazwa sudah memiliki keinginan yang besar untuk menjadi seorang dokter yang hebat dan menolong banyak orang
"itu juga sudah ada dalam daftar tujuan Nazwa bu, jadi orang yang sukses dulu, meraih mimpi dan yang terpenting mampu membahagiakan orang tua baru setelah itu tentang bekerja dan menikah" lanjut Nazwa
"tapi Nazwa sudah bisa bahagiain kalian belum ya?" tanya Nazwa pada ayah dan ibunya
"Kebahagiaan orang tua adalah saat mereka melihat anaknya bahagia, mereka merasa menjadi orang tua yang paling beruntung saat didikan mereka berhasil, merasa bangga saat melihat senyuman anaknya di kala mereka berhasil mencapai apa yang mereka inginkan selama itu dalam kebaikan, dan yang paling penting orang tua akan sangat bahagia kalau anaknya seorang penghafal qur'an, mereka merasa menjadi segelintir orang yang beruntung di pasangkan mahkota dari cahaya kelak di surga"
"kalau gitu, jadi Nazwa udah berhasil buat kalian bahagia" ucap Nazwa semangat
"ingat juga nak jangan jadi orang yang sombong seberapapun tingginya derajat kita di dunia ini itu hanya bersifat sementara dan juga dengarkan kata hatimu, setiap orang di dunia ini diciptakan dalam keadaan yang berpasang-pasangan"
"tapi kata ustadzah di ponpes, kalau nggak ketemu pasangan di dunia artinya di surga" jawaban Nazwa membuat ayah dan ibunya menoleh kearahnya dengan cepat
"kenapa ngomong gitu?" tanya ibunya
"emang ucapan Nazwa salah?"
"nggak salah, tapi jangan suka ngomong sembarangan kayak tadi"
"tapi benar kan bu, toh kita juga tak tau kapan ajal datang menjemput, ajal kan tidak mengenal umur, siapa tau besok, atau mungkin satu tahun lagi Nazwa meninggal kan nggak ada yang tahu"
"udah jangan pada ngomongin mati sekarang, lagi liburan malah bahas hal kayak gitu" ucap ayahnya dengan tegas
"hehehe ampun yah" jawab Nazwa cengir
Nazwa memandangi pesawat di depannya yang bersiap lepas landas, ia melambaikan tangannya ke pesawat yang mulai mengudara, entah orang dalam pesawat melihat dirinya atau tidak, seiring dengan itu setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya
"Ini bukan soal hati, tapi tentang waktu, biarkan aku menjadi orang yang egois dengan mementingkan pendidikanku saat ini, sesungguhnya ibu juga adalah madrasah pertama bagi anak mereka, perempuan sekarang dianggap bagai orang lemah yang bisa disiksa dan di perlakukan semau mereka yang berpikiran sempit, benar kata Bang Satria ini bukanlah sebuah penolakan namun kebebasan memilih, jika Allah telah datangkan jodohnya maka itu yang terbaik baginya, namun jika ia menunggu artinya dia orang yang terbaik yang harus dipilih"
"Ya Allah, jika suatu saat nanti aku kembali ke negaraku, berikanlah jodoh yang terbaik bagiku, jika dia memang bukan jodohku berikan jodoh yang terbaik untuknya dan ikhlaskan hati ini untuknya"
.
Banyak Typo...🙏🙏🙏
__ADS_1
maaf lama up