Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Cahaya Cinta Pesantren


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah senyuman para santri yang telah menyelesaikan ujian mereka dengan hasil yang memuaskan, mereka dapat melihat bahwa perjuangan mereka selama ini tak sia-sia, mereka sudah dibekali dengan ilmu pengetahuan masing-masing, tinggal saatnya menentukan akan kemana langkah mereka pergi setelah ini, apakah memperdalam ilmunya dengan meneguk sumber ilmu pengetahuan di bangku kuliah, bekerja untuk membantu orang tua dengan ilmu yang didapatkan di ponpes atau justru menikah yang merupakan ibadah terpanjang dalam hidup sekaligus memikul tanggung jawab yang begitu berat


Semua menangis di penuhi air mata bahagia yang bercampur dengan air mata kesedihan, behagia tentu saja karena hasil nilai mereka yang memuaskan dan terbayar sudah perjuangan mereka selama ini, air mata kesedihan karena mereka akan berpisah dengan teman-teman mereka dan yang pasti mereka akan rindu dengan suasana di ponpes


Mereka tak lagi mendengar suara omelan ustadzah Zulaikha, suara lembut namun tegas ustadzah Fathia yang memberi mereka hukuman, nasihat-nasihat penuh makna dari Abi Rahman, tak ada lagi ngantri di kamar mandi, dan rindu dengan suasana kamar beralaskan tikar biasa yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka menuntut ilmu di ponpes ini


"hiks hiks hiks" terdapat empat orang gadis yang saling berpelukan di dekat telaga ponpes, menumpahkan air mata kesedihan karena sebentar lagi akan terpisah dengan sahabat mereka


"hiks hiks hiks anti nggak bisa pulang setelah perpisahan Naz? kok anti cepet banget pulangnya?" tanya Hana dengan mata sembab karena terus menangis


"nggak bisa, kalau bisa nggak mungkin ana pulang sekarang Nad, ana harus pulang sekarang soalnya tiga hari lagi ana harus berangkat, ada hal yang harus ana persiapkan dulu sebelum berangkat"


"hiks hiks hiks kita bakalan rindu sama anti Naz"


"ana juga pasti merindukan kalian disana, tapi mau gimana lagi ana harus mengejar impian dan cita-cita ana disana"


"anti jangan lupain kita Naz"


"nggak mungkin ana lupain kalian, tunggu saatnya mungkin tiga tahun, empat tahun, lima tahun atau bisa kurang maupun lebih, kita pasti bisa bertemu kembali disini di ponpes ini, tempat awal kita di pertemukan"


"hiks hiks hiks"


Angin bertiup semilir menggoyangkan dedaunan, air kolam yang tenang dan pohon dengan daun rindang menjadi saksi perpisahan empat sahabat yang dibanjiri dengan air mata


⚘⚘⚘⚘⚘


Nazwa keluar dari kamarnya dengan menggeret kopernya yang terasa berat, bukan karena isinya tapi karena hatinya yang terasa begitu berat meninggalkan kamarnya, setelah cukup lama memandang ruangan tersebut akhirnya ia dengan berat hati meninggalkan nya dengan rasa yang campur aduk antara sedih atau bahagia karena ia akan melanjutkan ke universitas impiannya


"Nazwa, ihh padahal katanya Gus Fatih mau pulang loh diacara perpisahan kita, tapi anti malah pergi" Nadifa masih sempat-sempatnya menggoda Nazwa di akhir perpisahan mereka yang tinggal beberapa menit lagi


"betul itu, anti nggak takut apa nanti dia kepincut dengan sanntriwati disini" ucap Hana ikut bercanda untuk sedikit merilekskan suasana haru di antara mereka


"betul itu Naz" ucap Salwa yang juga ikut-ikutan


"kalian kenapa sih? jodoh itu..."


"sudah diatur oleh Allah" ucap ketiga temannya kompak


"nah tuh udah tau"

__ADS_1


"Nazwa ayo" ucap ibunya datang menghampiri Nazwa dan membantu membawa koper di tangan putrinya


"selamat tinggal teman-teman, aku yakin kita akan dipertemukan kembali" ucap Nazwa memeluk sahabatnya untuk terakhir kali sebelum keberangkatan dirinya ke London


"hiks hiks hiks anti jaga diri baik-baik disana Naz, jaga kesehatan, dan semoga cita-cita anti tercapai jadi dokter hebat yang mampu menyelamatkan banyak orang"


"Aamiin"


"makasih hiks teman-teman, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" temannya hanya memandang punggung Nazwa yang semakin menjauh dengan perasaan kehilangan


"semoga anti selalu dalam lindungan Allah Naz"


.


"udah selesai acara nangis-nangisnya?" tanya ayahnya sambil membuka bagasi mobil untuk memasukkan koper Nazwa


"ish ayah nggak ada sedih-sedihnya, namanya juga perpisahan ya pasti orang sedih lah, nggak mungkin orang bahagia kalau perpisahan itu namanya nggak punya hati" kesal Nazwa melihat ayahnya yang terus menggoda nya


"ayah dulu nggak nangis-nangis kayak gini"


"Kak Nazwa mau pergi ya?" Aziz datang menghampiri Nazwa, diikuti dengan Abi Rahman, Ummi Fatimah, Ustadzah Fathia dan Ustadz Akmal di belakangnya


Nazwa berjongkok di hadapan Aziz dan mengusap kepala Aziz lembut


"iya Kak Nazwa mau pergi sekarang"


"terus kapan Kak Nazwa balik lagi?"


"entah Kak Nazwa juga nggak tahu"


"Aziz pasti rindu sama Kak Nazwa"


"Kak Nazwa juga pasti rindu sama Aziz"


"Pak Kyai terima kasih banyak sudah menerima putri kami menuntut ilmu disini, sampai sekarang sudah banyak perubahan dalam dirinya" Ayah menjabat tangan Pak Kyai dengan senyuman di wajahnya


"Pak Wiraguna kenapa ngomong gitu?, ini memang sudah kewajiban kami sebagai pengajar disini dan tentunya mereka berubah karena kemauan mereka sendiri untuk membuat orang tua mereka bangga"

__ADS_1


"Abi, Ummi, Ustadz Akmal, Ustadzah Fathia, Nazwa pulang dulu ya"


"hati-hati nak Nazwa, semoga cita-cita anti tercapai"


"Aamiin"


"Aziz, Kak Nazwa pulang dulu ya, insya allah kita pasti bisa ketemu lagi"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Sedang disisi lain tak jauh dari sana, seseorang memegang sebuah buku fiqih melihat ke arah Nazwa dengan senyuman haru dan tak terasa air matanya juga ikut menetes


"sampai jumpa lagi Nazwa, ana tunggu anti pulang, anti benar jika Allah mentakdirkan kita berjodoh, kita pasti bersama, ana sengaja nggak datang secara langsung nemuin anti, karena semakin ana lebih dekat melihat anti hati ini akan terasa semakin berat melepas anti" ucapnya mengusap air mata di sudut matanya


Sebelum benar-benar masuk mobil, Nazwa memandang sekali lagi bangunan di depannya yang menjadi saksi bisu kisah dirinya mulai mengenal arti persahabatan islami sahabat dunia akhirat, mengenal arti cinta dalam do'a yang butuh perjuangan mencintai dalam diam, mengenal arti perjuangan dan kebersamaan


Membuatnya mampu merasakan getaran-getaran cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, cinta yang berbalut dengan bumbu islami, cinta yang begitu indah, cinta dengan senyuman dan air mata, sebuah cinta rumit dengan dua putra mahkota pesantren, membuat matanya terbuka lebar mampu melihat sebuah cahaya,


Cahaya Cinta Pesantren


"Siapapun yang akan bersama ana kelak, apakah salah satu diantara kalian atau Allah takdirkan dengan orang yang berbeda ana harap itu yang terbaik untuk ana"


🌿🌿🌿🌿🌿


Pepohonan berjejer sepanjang jalan, sawah hijau dengan berbagai jenis tumbuhan memanjakan mata, udara masih alami tanpa polusi membuat Nazwa menarik nafas dalam menikmati suasana yang pasti tak ia dapatkan di negara sepadat London


"mau mampir ke rumah kakek dulu nggak?"


"nggak usah yah, Nazwa juga udah pamit kemarin sama mereka, katanya besok mereka juga mau ikut nganterin Nazwa" jawaban Nazwa membuat ayahnya hanya mengangguk


"jalan ini, suasana ini, pepohonan ini yang dulu sering ku lewati bersama Hana, Nadifa dan Salwa juga yang lain, kini hanya tinggal kenangan indah semasa di pesantren yang tak akan pernah bisa terlupakan" batin Nazwa memandang pepohonan sepanjang jalan yang ia lewati dengan air mata yang lolos begitu saja


⚘⚘⚘⚘⚘


Banyak Typo...


Maaf ya author lama up, bentar lagi ujian... 🙏🙏😭

__ADS_1


__ADS_2