
NAZWA POV
Nazwa bangun di sepertiga malamnya menunaikan sholat tahajud lalu memilih duduk di jendela dekat balkon kamarnya tak lupa mengenakan mantel hangat karena udara yang begitu dingin di perkirakan akhir tahun ini akan turun salju di daerah tersebut, ia mengedarkan pandangannya melihat lampu-lampu disana yang berjejer rapi, sangat terang bahkan masih ada beberapa orang yang lewat padahal masih jam tiga pagi
Ayahnya menyuruh Nazwa tinggal di apartemen yang tak jauh dari kampus, padahal Nazwa sudah mengatakan akan tinggal di asrama kampus saja selain dekat ia juga punya lebih banyak teman baru dan yang terpenting harganya lebih murah, namun ayahnya mengatakan takut Nazwa terpengaruh pergaulan teman-temannya yang tidak baik, Nazwa tak bisa membantah walaupun ia mengatakan bisa menjaga diri, keputusan sang ayah tetap tak bisa dibantah, Nazwa juga berpikir tinggal di apartemen sendiri memang lebih baik, karena semua fasilitas sudah tersedia tanpa harus mengantri atau menunggu seperti di asrama, namun tentu saja harganya lebih mahal
Ia meraih benda pipih yang terletak diatas mejanya dan membuka sebuah aplikasi berlogo kamera, instagram
Banyak sekali chat yang masuk namun tak pernah ia buka kecuali dari teman-teman yang memang sudah akrab dengannya, hingga tangannya terulur untuk membuka chat paling atas dua menit yang lalu
"Hana???" pikirnya si pengirim menyebut namanya dan alangkah bahagianya saat mengetahui kalau itu adalah teman ponpesnya, Nazwa memberikan nomornya yang sudah berganti kode negara menggunakan +44 kode negara Inggris
tak berselang lama setelahnya terdengar panggilan video masuk dari whatsapp dengan nomor tak dikenal, Nazwa langsung menekan icon hijau untuk mengangkat panggilan tersebut dan terpampanglah wajah sahabat ponpes yang begitu dirindukannya
"NAZWA" teriak mereka bertiga serentak saat melihat wajah Nazwa terpampang di benda pipih tersebut
"Assalamu'alaikum dulu" jawab Nazwa dari seberang membuat mereka langsung cengir
"Wa'alaikumussalam hehehe"
"apa kabar kalian disana? kok kayaknya lebih kurus dari dua hari yang lalu"
"udah nggak ada yang traktir" canda Nadifa
"ha? nggak nyambung kali Nad, emang jajan dua ribu Bu Sulis bikin gemuk nggak kan?"
"aduh, iya deh calon bu dokter emang tahu semuanya"
"Alhamdulillah kita baik Naz, anti disana gimana?"
"Alhamdulillah baik"
"Naz, coba kamera belakang dong, tunjukin kita suasana kota london"
Nazwa menuruti kemauan teman-temannya dan mengarahkan kamera hp nya kearah jalanan kota
"ini kota oxford ya teman-teman, bukan London, kota London jaraknya sekitar sembilan puluh kilo meter dari sini" ucap Nazwa menjelaskan
"wah jauh banget ternyata Naz, kirain deket hehehe"
"disitu jam berapa Naz, kok kayak gelap banget"
"iya disini masih jam tiga pagi, orang-orang masih tidur"
__ADS_1
"berarti kita ganggu ya Naz?" ucap temannya merasa tak enak
"enggak kok, kebetulan juga lagi nggak bisa tidur, kalau aku tebak disana pasti jam sepuluh pagi"
"anti bener banget Naz"
"eh kalian dimana kok kayak rame banget?" tanya Nazwa yang tak mengingat apapun
"anti masa nggak inget hari ini hari apa Naz?"
"Astagfirulloh, hari ini hari kelulusan kan?" tanya Nazwa dengan wajah yang berubah sendu
"iya, tapi sayangnya anti nggak ada Naz, kita kesepian"
"maaf ya, aku jadi enggak enak pergi gitu aja"
"apaansih Naz, kita itu cuma bercanda kok anti serius banget"
"tapi aku serius rindu, coba kamera belakang Han, aku mau liat acara perpisahannya kayak gimana?"
mendengar permintaan Nazwa, Hana mengarahkan kamera ponselnya ke arah panggung acara tersebut, terlihat berbagai macam pertunjukkan yang ditampilkan oleh para santri disana, termasuk pengumuman juara kelas, dan beberapa sambutan atau sepatah dua patah kata yang disampaikan oleh beberapa kyai teman Abi Rahman yang juga diundang di acara tersebut
Namun, pandangan mata Nazwa jatuh saat melihat seseorang yang sepertinya ia lihat dua hari yang lalu di bandara, Gus Fatih
Gus Fatih terlihat sedang sibuk membantu para santri membagikan camilan ringan kepada para wali santri disana, dan tanpa mereka sadari Gus Fatih mendekat ke arah mereka karena melihat mereka bertiga yang lebih memilih duduk disana dari pada kursi yang telah disediakan, apa lagi mereka lah pemilik acara perpisahan tersebut
Nazwa yang melihat hal tersebut, jantungnya seperti bergemuruh padahal jarak diantara mereka sangat jauh, sedangkan Salwa, Hana dan Nadifa kurang memperhatikan karena terdengar mereka membahas hal yang cukup menyenangkan sampai tangan Hana yang memegang ponsel bergerak tak karuan karena tawa mereka
"ehem, kalian ngapain disini? kok nggak gabung sama santriwati yang lain?" tanya Gus Fatih saat di dekat mereka
Mereka bertiga langsung kelabakan dan mencari alasan yang tepat, bahkan Hana langsung menyembunyikan ponselnya di balik jilbabnya dan Nazwa diseberang sana hanya melihat kegelapan dan suara yang mulai tak jelas
"anu disana panas Gus, kita udah duduk tiga jam loh disana dari jam tujuh pagi jadi kita milih duduk disini sementara" ucap Nadifa
"sejak kapan kalian disini?"
"baru aja Gus, sekitar lima belas menit"
"jangan lama-lama, enggak enak sama wali santri atau santri yang lain, entar dikira kalian nggak punya aturan"
"na'am Gus, afwan"
"ya udah sana, kenapa masih disini?"
__ADS_1
"eh i iya Gus" ucap mereka dan segera bangkit dari duduk mereka yang sudah terasa sangat nyaman
"eits serahin ponselnya"
"ha? tapikan ini acara perpisahan Gus, bukannya kita boleh pegang ponsel ya?"
"bentar lagi giliran Abi yang ceramah, dengerin baik-baik, jangan ada yang boleh pegang ponsel"
"tapi Gus..."
"entar pas acara selesai ana kembalikan"
Akhirnya dengan berat hati Hana menyerahkan ponsel tersebut, bahkan lupa dengan panggilan videonya yang masih tersambung dengan Nazwa di seberang sana. Sedangkan Nazwa, lagi-lagi hanya melihat kegelapan karena kamera ponsel tersebut yang tertutup tangan Gus Fatih
"ck Hana sebenarnya kenapa sih? kok yang muncul gambar item mulu, habis kuota kali ya?" ucap Nazwa di seberang sana
Gus Fatih yang memegang ponsel tersebut, seperti mendengar suara dari benda pipih berbentuk persegi panjang tersebut
"ck... pasti tadi lagi dengerin musik, dan lupa dimatiin" ucapnya kemudian mengarahkan ponsel tersebut ke arah wajahnya dan sedetik kemudian ia tertegun melihat sambungan video masih menyala kepada orang yang membuat hatinya gundah
"Naz Nazwa" gumamnya pelan tak terdengar dengan perasaan yang tak tergambarkan
Nazwa di seberang sana yang sudah bisa melihat kondisi sekitar dari kamera ponsel langsung menyerbu Hana dengan berbagai pertanyaan
"Hana disana lagi ada masalah ya? kok dari tadi yang keluar gambar item mulu, ana kira anti habis kuota" oceh Nazwa dari seberang sana tanpa mengetahui ponsel tersebut sudah berpindah tangan, ia tak bisa melihat siapa yang memegang ponsel tersebut karena kamer ponsel masih mengarah ke belakang
"Hana? Nadifa? Salwa?" terdengar suara bingung Nazwa dari seberang sana sambil mengabsen nama temannya satu per satu
"mereka kemana sih?" gumamnya lagi
Gus Fatih yang melihat kebingungan di wajah cantik itu hanya mampu tersenyum, sesaat kemudia ia langsung beristigfar karena tanpa sengaja memandang wanita yang bukan makhromnya
"Astagfirullohaladzim, maafkan hamba ya allah" ucapnya dan segera mematikan panggilan video tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata apapun
sedangkan Nazwa di seberang sana hanya bingung sendiri
"lah kok mati? kuota Hana habis ya?" gumamnya yang berfikir sahabatnya itu kehabisan kuota
"Astagfirullohaladzim, apa yang terjadi dengan hamba Ya Allah" Gus Fatih tak henti-hentinya beristigfar sambil memegang dadanya, setelah merasa tenang ia membuka ponsel tersebut yang untungnya tak dikunci dan langsung melihat riwayat panggilan, ia mengeluarkan ponselnya dari saku baju koko yang dikenakan dan dengan cepat menulis nomor Nazwa disana
"siapa tau besok berguna" gumamnya dan segera mematikan kedua ponsel tersebut tak lupa juga mematikan data seluler Hana yang masih menyala
...........
__ADS_1