Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Extra Chapter 1


__ADS_3

Hai Author back...🖐


Author minta maaf karena ending yang kemarin kecepetan dan mendadak banget...😐🙏


Author takut nggak bisa lanjut up karena kemarin ada beberapa masalah, sebagai gantinya mungkin ada yang mau baca author kasih Extra Chapter...😀


Happy Reading...


.


*Flashback lahirnya Ha**afiz*


Mentari yang cerah datang menyapa bumi menggantikan cahaya sang rembulan, embun berjatuhan dari dedaunan setelah mengalami proses kondensasi akibat dinginnya udara malam


Nazwa sedari tadi berdecak melihat tingkah Gus Fatih yang terus mengekorinya


"Hubby kenapa sih?" Ibu hamil itu sudah tak tahan dengan tingkah suaminya


"Hubby pamit" Nazwa memutar bola matanya, suaminya telah mengatakan itu dari dua puluh menit yang lalu tapi tak kunjung berangkat padahal ia sudah mencium tangan suaminya berkali-kali


Nazwa mengulurkan tangannya mengambil tangan Gus Fatih dan menciumnya


"Assalamu'alaikum Hubby, yang semangat ya pengajiannya" Nazwa tersenyum manis walau dalam hati sedikit jengkel dengan sikap suaminya hari ini


"Hubby nggak jadi pergi deh" Gus Fatih memegang kopiah yang sudah terpasang rapi di kepalanya, berniat membukanya tapi langsung di tahan oleh Nazwa


"Kok gitu?" Pasalnya hari ini suaminya mendapat undangan mengisi acara kajian di kampung sebelah dan sudah disetujui sejak malam, kenapa tiba-tiba sekarang berubah?


Gus Fatih menyamakan tingginya dengan perut Nazwa dan mencium perut istrinya penuh kasih sayang


"Hubby takut nanti kalau lahiran gimana?"


"perkiraan dokter masih sepuluh hari lagi hubby"


"tapi nanti disana hubby rindu, nggak bisa peluk kayak gini" ucapnya sambil memeluk istrinya erat


"Astagfirulloh" Nazwa beristigfar dalam hati, semenjak kabar kehamilannya, menurut Nazwa Gus Fatih bertindak semakin lebay dan posesif seperti ini, tidak boleh ini dan itu, dimana Gus Fatih yang dulu di kenalnya masa ponpes?


Bukan risih, tapi terkadang suaminya ini tak ingat waktu saat ada acara tertentu


"Udah ya hubby, nggak enak sama mereka, mereka udah dateng pengen denger ilmu, masa hubby nggak dateng?" Nazwa merapikan sorban berwarna hitam yang terlampir di pundak suaminya


"Tapi perasaan hubby nggak enak ninggalin bunda sendiri disini" semenjak kabar kehamilannya, Gus Fatih lebih sering memanggil Nazwa dengan panggilan 'Bunda' dan menyuruh Nazwa memanggilnya 'Ayah' tapi Nazwa masih memilih menggunakan kata 'Hubby' sampai sekarang


"Nggak papa, udah ya berangkat sekarang" Nazwa mendorong punggung suaminya pelan, menuntunnya ke arah pintu


"Hati-hati di rumah kalau ada apa-apa langsung telpon Hubby atau..."

__ADS_1


"iya-iya, udah berangkat sekarang"


"Berani ngusir hubby?" Nazwa mengelus dada pelan, kenapa suaminya sekarang jadi cerewet gini


"Hubby, janji itu adalah hutang loh, hubby udah janji sama mereka, nanti kalau di akhirat di tagih gimana? orang yang semasa hidupnya mempunyai hutang, itu bisa memberatkannya kelak di akhirat"


Gus Fatih menghela nafas dan mencium puncuk kepala istrinya


"kalau ada apa-apa langsung telfon" ucapnya penuh peringatan membuat Nazwa mengangguk patuh


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


⚘⚘⚘⚘⚘


Nazwa berjalan-jalan di sekitar pesantren, para santri yang melihatnya menunduk dan mengucap salam sebagai bentuk hormat, awal-awal Nazwa tidak biasa di perlakukan seperti ini karena merasa dirinya tak pantas di hormati seperti itu, tapi para santri tetap melakukannya sebagai adab seorang penuntut ilmu


"Nazwa temenin ana yuk" Aisyah tiba-tiba muncul dari balik pohon mangga tepi lapangan, membuat Nazwa berjengkit kaget


"Kak Aisyah ngagetin" ucapnya mengelus dada, apalagi Aisyah memakai pakaian serba putih untung bukan malam hari, bisa dipastikan dirinya akan lari dan berteriak kencang kalau itu terjadi


"hehehe, Afwan tadi ana liat anti sendiri disini, makanya nyamperin"


"tapi nggak muncul tiba-tiba dari balik pohon mangga gini juga kak, untung Nazwa nggak punya riwayat penyakit jantung"


"Sekali lagi afwan"


"Kak Aisyah mau ditemenin kemana?"


"Beli rujak depan pesantren, kadang ada ibu-ibu yang biasa lewat jualan rujak"


"Ayo!" Nazwa menjawab dengan semangat, kebetulan juga dirinya ingin makan-makanan pedas dan asam itu, tapi sesaar kemudian ia menoleh dengan cepat ke arah Aisyah dengan pandangan intimidasi


"Kak Aisyah hamil?" tanya Nazwa dengan semangat membuat Aisyah menunduk dan mengangguk malu


"Selamat ya kak" Nazwa memeluk Aisyah erat, tak ia sangka hubungan mereka sedekat ini sekarang, padahal dulu saat Aisyah tau Gus Rayhan pernah menyukainya ia terlihat menghindar tapi seiring berjalannya waktu akhirnya semua baik-baik saja


..............


"Dagang rujaknya mana sih?" Aisyah mondar mandir di depan gerbang ponpes, setelah mereka meminta izin kepada mang ujang karena biasanya gerbang itu tertutup takut ada santri yang kabur


"Duduk kak Aisyah, Nazwa pusing liat kakak mondar-mandir kayak gitu" Nazwa memilih duduk di kursi yang ia pinjam dari pos mang ujang


"Rujak"


"Rujak"

__ADS_1


Nazwa dan Aisyah menoleh melihat pedagang rujak mendorong gerobak rujaknya


"Rujak pak" Aisyah mengangkat tangannya memanggil dengan semangat


"Tunggu aja Kak Aisyah, pedagang nya juga emang mau kesini"


"mau beli rujak bu ustadzah?" ibu dagang rujak itu berhenti di depan mereka


"pesen dua porsi buk" ibu itu mengangguk dan segera menyiapkan pesanan mereka dalam plastik mika


"Ambil aja kembaliannya buk" Nazwa menyerahkan uang lebih karena Aisyah yang mengajak katanya malah lupa membawa uang


Nazwa merutuki sifat lupa kakak iparnya itu, untungnya ia selalu menyiapkan uang dalam saku gamisnya untuk berjaga-jaga


"Terima kasih Bu ustadzah, semoga lahirannya lancar" Nazwa mengamini do'a ibu tersebut


"Terima kasih do'a nya buk"


Baru saja berbalik hendak kembali menuju ponpes menyusul Aisyah, tiba-tiba terdengar suara motor melaju kencang ke arah mereka, orang itu mengincar tas ibu pedagang tersebut


Beruntung ibu pedagang itu menyadarinya dan menggenggam tas nya erat, aksi tarik menarik tas yang tak dapat terelakan


Nazwa membantu ibu itu mempertahankan tasnya, tenaga pencuri itu bisa dibilang kuat, Nazwa dan ibu pedagang itu sampai kewalahan


"KANG UJANG TOLONG!" Nazwa harap penjaga ponpes itu mendengarnya karena cengkramannya kian melemah, tak ada yang bisa diminta tolong disini karena tak ada warga yang lewat atau sekadar mengurus sawah mereka benar-benar sepi


Menyadari targetnya meminta tolong, pencuri itu menendang perut Nazwa, sontak Nazwa langsung melepas cengkramannya pada tas itu dan memegang perutnya yang berdenyut sakit


"Astagfirullohaladzim" Mang ujang berteriak keras melihat adegan itu, apalagi melihat Nazwa merintih kesakitan memegang perutnya, kalau Gus Fatih tau entah apa yang akan terjadi


Bugh bugh bugh


Kang ujang memukul dua pencuri itu dengan membabi buta, sempat terjadi perlawanan sebentar tapi pencuri itu berhasil ditangkap setelah beberapa santri yang kebetulan mendengar itu juga ikut membantu


"Ya allah nak, maafin ibu ya" ibu pedagang itu membantu Nazwa yang terus memegang perutnya


"Ini bukan salah ibu" Nazwa masih berusaha menenangkan ibu pedagang itu yang panik karena merasa bersalah


"NAZWA" Aisyah langsung berlari dan ikut membantu


"Maafin ana Naz"


"Bukan salah siapa-siapa"


"Astagfirullohaladzim" Aisyah berteriak melihat sesuatu mengalir dari kaki Nazwa, sepertinya air ketubannya pecah


"Kang Ujang cepet ambil mobil kita ke rumah sakit sekarang" teriak Aisyah saat melihat beberapa warga berdatangan membantu meringkus pencuri itu untuk di bawa ke pihak berwajib

__ADS_1


"Tolong selamatkan anakku Ya Allah" do'a Nazwa yang tak bisa menahan rasa sakitnya


__ADS_2