Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Khitbah


__ADS_3

Pintu berwarna coklat tersebut di buka Nazwa, ia melihat calon kakak iparnya yang sedang duduk di depan cermin, sedangkan para tukang rias sudah merapikan kembali alat rias mereka


"udah selesai kak?" tanya Nazwa masuk dan duduk di salah satu kursi di kamar tersebut


"udah"


"kakak kenapa sih mau nikah sama Bang Satria, dia itu jahil banget, perasaan Bang Satria juga nggak tampan-tampan amat deh" ucap Nazwa mulai menjelek-jelekkan kakaknya saat tukang rias sudah keluar dari kamar


"hahaha, kamu ada-ada aja Nazwa cinta itu buta tak bisa melihat kepada siapa akan diberikan, lagian menurut kakak Bang Satria tampan kok"


"haduh, emang ya kalau orang jatuh cinta tuh..."


drrttt drrt drttt


belum sempat Nazwa menyelesaikan ucapannya ponsel yang di pegangnya bergetar


"Assalamu'alaikum, halo bu" ucapnya saat panggilan tersambung


"Nazwa cepet turun kebawah sama Andin, acara udah dimulai" ucap ibunya dengan cepat tanpa menjawab salam terlebih dahulu


"hah? Nazwa harus ngapain bu?" tanya Nazwa bingung sendiri


"Bantuin kakak ipar kamu turun ke bawah"


"Nazwa sendirian bu?"


"memangnya disitu ada siapa lagi? nggak mungkin kan kamu ajak catty" ucap ibunya terdengar ngegas saat menyebut kucing peliharaannya


"oowh oke, oke"


"Assalamu'alaikum"


tuuttt tuuttt tuttt


"ibu kebiasaan deh, nggak pernah jawab salam" gerutu Nazwa kesal


"apa kata ibu Nazwa?"


"aku disuruh temenin kakak Andin keluar, katanya acara udah mulai"


"oowh ya sudah ayo kita turun kalau begitu"


Nazwa menggandeng tangan kakak iparnya menuruni anak tangga, sesaat perhatian para tamu undangan tertuju pada mereka berdua


"Nazwa, kakak gugup" ucap Andin mengeratkan pegangan tangannya pada Nazwa


"jangan gugup kak, rileks, anggap aja kakak jadi artis satu menit" bisik Nazwa membuat Andin hanya tersenyum mendengar ucapan calon adik iparnya


"karena mempelai perempuan sudah datang mari kita segera mulai acaranya"


Andin duduk di sebelah Satria, dan Nazwa memilih duduk tepat di samping Andin sekaligus di depan penghulu, membuat penghulu mengernyit kebingungan


"maaf nak, apakah tidak ada kerabat laki-laki dari keluarga perempuan?" tanya penghulu setengah berbisik


"maksudnya apa pak?" tanya Pak Wiraguna yang mendengar hal tersebut


"apakah ini wali dari pihak perempuan?" tanya penghulu tersebut menunjuk kearah Nazwa

__ADS_1


Sontak saja semua keluarga yang mendengar hal tersebut melihat ke arah Nazwa yang tak tahu apa-apa


"Nazwa ngapain kamu duduk disitu?" tanya ayahnya pelan walaupun dalam hati ingin sekali mengeraskan suaranya melihat kelakuan putrinya


"kenapa yah?"


"ini tempat wali kakak Nazwa, kalau kamu duduk disini penghulu mengira kalau kamu yang jadi wali nikah kakak" ucap Andin berbisik di sebelah Nazwa terlihat sekali wajahnya yang menahan tawa


"oowh gitu ya kak hehehe, Nazwa nggak tau" ucapnya cengir walaupun dalam hati sudah ingin berteriak saking malunya


Ia melihat ke belakang, ada Bapak dari Andin yang tersenyum menatapnya, dengan canggung Nazwa pura-pura merapikan tempat yang tadi diduduki seolah membersihkannya setelah itu menundukkan kepalanya tanda menyuruh wali dari Andin untuk maju kedepan


Nazwa bersyukur tidak ada tamu undangan yang terlihat curiga atau tertawa melihat hal tersebut, namun ada dua orang yang turut hadir disana tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku dirinya


"ngapain tadi kamu duduk disana?" tanya ibunya sesaat setelah ijab qabul selesai kini tinggal hadirin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dengan bersalam-salaman


"Nazwa mana tau kalau disana tempat duduk wali perempuan, lagian Nazwa juga nggak sadar duduk disana"


"untung aja, orang nggak sadar kamu bikin ibu malu aja, makanya dulu kalau disuruh ikut acara orang nikahan ikut biar nggak gini"


"iya bu iya" ucap Nazwa pasrah saat ibunya mulai mengungkit hal yang sudah lewat beberapa tahun


"ayo, sekarang saatnya kita foto bersama" Nazwa hanya pasrah melihat ibunya yang menarik lengannya menuju panggung yang sudah dihias sedemikian rupa


"lo malu-maluin tadi tau nggak" ucap Satria saat Nazwa berdiri di depannya


"bisa nggak sih jangan bahas hal itu sekarang, gue lagi nggak mood" jawab Nazwa ketus


"tapi lo juga..."


"kalian berdua nggak malu apa? dimana-mana kerjaannya berantem mulu" ucap ayahnya membuat mereka berdua bungkam


"makanya nikah sana biar punya pasangan"


"sombong amat lu, padahal baru juga sah"


"yang penting udah kan?"


"tapi..."


"Stop!!!"


"Nazwa ambil bagian mana saja yang penting masuk kamera udah kan? kamu nggak kasian apa liat kakek kamu berdiri terus, kalian kerjaannya berantem mulu" omel ibunya


Nazwa langsung saja duduk manis di depan pengantin baru yang berdiri di belakangnya


"nah sekarang sudah bagus" ucap potografernya yang dari tadi tak di dengarkan


cklek


cklek


cklek


Setelah beberapa kali jepretan kamera, mereka kembali ke posisi masing-masing, seperti ayahnya yang berbincang dengan rekan bisnisnya, ibunya pun melakukan hal yang sama kepada teman arisannya


"Bang fotoin gue sekali dong" Nazwa melempar sebuah ponsel berlogo apel gigit tersebut kepada Satria

__ADS_1


"kurang sopan lo, nyuruh pengantin jadi fotografer"


"udah cepat fotoin"


Pandangan Nazwa yang semula tertuju pada kamera kini tertuju pada belakang Satria, dimana ayahnya sedang mengobrol bersama Abi Rahman juga istrinya dan tentu saja dua putranya yang membuat ekspresi Nazwa langsung berubah apalagi sesaat pandangan Nazwa bertemu dengan salah satu dari mereka, Gus Fatih


"lo kenapa?"


"nggak ada bang, udah ya gue nggak enak badan mau tidur dulu" ucap Nazwa dengan tiba-tiba membuat Satria semakin bingung dengan tingkah adiknya


"Nazwa"


"Nazwa dipanggil sama ayah" Nazwa langsung membeku saat baru menginjak tangga pertama mendengar dirinya dipanggil


"iya kenapa bu?" tanya Nazwa pada ibunya


"ayah kamu manggil cepet samperin kayaknya ada hal penting"


"nggak bisa..."


"sekarang, nggak ada lain kali" ibunya langsung memotong ucapan Nazwa saat tau tabiat putrinya


"baik bu"


Dengan langkah gontai dan jantung yang berdetak seakan lebih cepat, Nazwa menghampiri ayahnya yang duduk di sofa yang terbilang sepi dari tamu undangan lainnya


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" Nazwa langsung bersalaman kepada ummi Fatimah dan mengatupkan tangan seraya menundukkan kepala saat berhadapan dengan Pak Kyai dan dua putranya


"gimana kabar nak Nazwa sekarang? kuliahnya lancar?" tanya ummi fatimah lembut


"Alhamdulillah, lancar ummi"


"langsung saja, Nazwa maksud kedatangan Pak Kyai kesini untuk mengkhitbah Nazwa pada salah satu putranya"


"kami tak memaksa Nazwa untuk menerima sekarang, tapi Pak Kyai berharap dapat segera memberikan jawabannya"


"maaf sebelumnya Pak Kyai bukan maksud Nazwa menolak hanya saja Nazwa masih kuliah dan belum terpikir ke arah sana"


"Kuliah kan bisa juga setelah menikah" sambung Ummi Fatimah


"Nazwa takut belum bisa membagi waktu, untuk suami dan kuliah Nazwa, takutnya Nazwa mengabaikan suami Nazwa karena fokus kuliah apalagi saat semakin banyaknya praktik atau sebaliknya kuliah Nazwa terbengkalai begitu saja karena mengurus rumah tangga" Jawab Nazwa berusaha tenang semaksimal mungkin


"kami mengerti, kapan nak Nazwa bisa memberikan jawaban?"


"Insya Allah, sesudah wisuda itupun kalau masih menunggu, namun jika sudah menemukan yang lain ana juga tak apa pak Kyai"


"apa masih mau menunggu?" tanya Pak Kyai dan kedua putrnya mengangguk membuat Nazwa semakin bingung sebenarnya siapa yang datang mengkhitbah dirinya, namun tak mungkin ia bertanya sekarang, jangan-jangan..., ia langsung menggelengkan kepala mengingat pemikiran negatifnya


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu pak Wiraguna, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam Pak Kyai terima kasih sudah berkenan hadir diacara kami"


Flashback Off


.

__ADS_1


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2