Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Rumah Sakit?


__ADS_3

Apalah arti kata menyesal jika semua sudah terlanjur terjadi, waktu takkan bisa diputar lagi. Jodoh setiap manusia sudah ditentukan Allah, sekuat apapun ia berusaha jika Allah sudah tentukan jodohnya apa yang bisa dilakukan?, manusia hanya bisa merencanakan sedangkan hasil ditentukan oleh Allah.


Belajar mencintai dan melepaskan itulah yang harus dilakukan Gus Rayhan sekarang, ia harus melepas gadis yang pernah mengisi hatinya karena sekarang sudah ada istrinya yang akan menempati posisi itu, namun nyatanya itu tak semudah yang dibayangkan, disaat ia sudah belajar ikhlas melepas Nazwa selama dua tahun kejadian itu, tiba-tiba gadis itu muncul kembali di hadapannya sebagai pengiring pengantin untuk dirinya, perasaannya berkecamuk ia tak boleh egois memaksakan takdir karena jodoh sudah ditentukan di tangan sang pencipta, namun hatinya tak bisa berbohong kalau rasa itu masih ada.


🌷🌷🌷🌷🌷


Pagi yang sedikit mendung, awan kelabu menghiasi langit pagi, rintik hujan mulai turun tipis-tipis membasahi bumi


Pagi itu kediaman keluarga dinata sedang disibukkan dengan persiapan acara lamaran putri bungsu mereka, pagi yang mendung bukanlah halangan untuk menyambut hari yang bahagia ini. Berbagai macam makanan sudah siap untuk dihidangkan, namun dibalik acara persiapan itu tidak ada yang tau kalau sang tokoh utama yang akan dilamar entah pergi kemana


"Ibu, Nazwa akan pergi lagi ya? padahal baru seminggu Satria ketemu" Satria merasa tak rela melepas adik kesayangannya setelah kejadian itu, saat kedua orang tuanya pulang dari pesantren membawa Nazwa pulang ia malah memukul dirinya sendiri karena menganggap itu hanyalah sebuah halusinasi belaka


"Seperti itulah kodrat wanita, ia tinggal dirumah orang tuanya sampai ada laki-laki yang datang meminang dirinya menjalin sebuah hubungan halal dalam ikatan pernikahan, setelah seorang wanita menikah surga ada ditelapak kaki suaminya, sedangkan bagi seorang laki-laki sampai kapanpun surga tetaplah ditelapak kaki ibunya"


"Namun walaupun begitu, bukan berarti ia tidak lagi hormat kepada orang tuanya hanya saja hak seorang suami lebih besar daripada hak orang tuanya"


"Tenang saja, besok kalau ada waktu adikmu pasti kesini"


"Apa keputusan ini sudah benar bu?, Nazwa saja masih kehilangan ingatan bagaimana..."


"ssttt, jodoh itu ditangan tuhan, tak peduli bagaimanapun kondisinya saat ini, jika Allah mengatakan kalau mereka jodoh kita bisa apa?, yang penting niatnya bagus dan harus yakin dari dalam hati kalau inilah yang terbaik"


"Bu, Nazwa udah siap belum? kata pak kyai mereka nyampai tinggal lima menit lagi"


"Bentar ibu cek dulu" Ibu Ida naik keatas memeriksa keadaan putri bungsunya


tok tok tok


"Nazwa udah siap?" tak ada sahutan dari dalam


"Nazwa?" karena tak mendengar adanya sahutan dari dalam Bu Ida membuka pintu yang kebetulan tak dikunci tersebut


"Nazwa" kamar itu kosong, tak ada siapapun disana


"NAZWA" Bu Ida berteriak dengan panik hingga mengundang perhatian keluarga yang lain kesana


"Kenapa bu?"


"Satria adik kamu hilang, cepat cari"

__ADS_1


"Hilang? tadi pagi ada kok"


"Ibu udah cek, nggak ada di kamarnya"


"Bentar, untung kemarin Satria sempet pasang GPS di handphone Nazwa, takut dia tak tau arah pulang saat keluar"


"Kemana perginya anak itu?" Pak Wiraguna tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya


"Rumah sakit"


"RUMAH SAKIT?" kedua orang tua paruh baya itu berteriak tak percaya, apa sebenarnya yang telah terjadi pada putri mereka?


Setelah berhasil meyakinkan semua orang dirumah kalau dia baik-baik saja, Nazwa memutuskan izin keluar ke taman yang tak jauh dari rumahnya, namun tak disangka disana ia bertemu dengan empat sahabatnya Yolan, Caca, Reyno dan Bastian


Mereka menangis karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sahabat yang mereka pikir telah pergi untuk selama-lamanya kini muncul dihadapan mereka


Setelah berbincang cukup lama, Nazwa akhirnya meminta bantuan mereka untuk mengantar dirinya ke rumah sakit untuk mengembalikan ingatannya


Nazwa tau betul kalau keluarganya mengetahui ini, mereka sudah pasti tak mengizinkan dirinya bukan karena tak ingin ingatan Nazwa kembali, namun mereka tak akan sanggup melihat kesakitan yang dirasakan Nazwa, jadi mereka selalu mengatakan 'pelan-pelan saja jangan terlalu dipaksakan, jangan menyiksa dirimu mengingat semuanya yang penting kamu kembali itu sudah membuat kami bahagia'


Namun saat mengatakan itu Nazwa melihat ketulusan dan rasa sedih di hati mereka yang tak ingin mereka ungkapkan, akhirnya ia bertekad mengembalikan ingatannya


Dan disinilah ia sekarang, sudah seminggu ia berada disini dengan ditemani empat sahabatnya, tadi pagi-pagi sekali ia keluar dengan mengendap-endap sehingga tak ada satupun yang melihat kepergiannya


"aku pasti kembali kerumah sebelum mereka sampai"


"cieee yang lamaran, baru juga ketemu langsung diajakin nikah aja lo" senggol Yolan di pundak Nazwa


"makanya, aku ingin mengembalikan ingatanku untuk mengetahui seberapa dekat hubunganku dengannya dulu, dan apa yang telah terjadi sampai mengatakan pernah menyerah dan berjuang" ucap Nazwa


"emang belum ada yang lo inget?"


"belum semuanya, bayangan tentang kalian udah mulai jelas, tapi tentang ponpes itu abu-abu"


"Sudah siap?" dokter masuk kedalam menghentikan pembicaraan mereka


"siap dok"


"Kita keluar dulu Naz" ucap mereka berempat dan dibalas anggukan oleh Nazwa, bukannya mereka tak ingin menemani Nazwa tapi saat hari pertama melihat Nazwa kesakitan bahkan sampai pingsan membuat air mata mereka turun tanpa bisa dicegah

__ADS_1


Dan sama seperti hari berikutnya, kepingan ingatan mulai masuk kedalam otaknya membuat Nazwa merasakan pusing yang sangat menyiksa dirinya


"Gus"


"Jika kita memang berjodoh sejauh apapun jarak kita Allah punya seribu macam cara untuk mempertemukan kita"


"jika anti merindukan ana, lihat tasbih ini dan taruh di dada anti dan sebut asma Allah, tasbih ini adalah hadiah dari ummi saat ana menyelesaikan hafalan qur'an 30 juz"


Ucapan demi ucapan terus terngiang di telinga Nazwa, ingatan itu terus berputar dalam kepalanya bagai kepingan film buram yang perlahan nampak jelas, keringat sudah membanjiri keningnya namun Nazwa belum juga menyerah, hingga pertahanannya tumbang, ia pingsan saat wajah tersebut mulai jelas


"hnnggg"


"Nazwa?" keempat sahabatnya langsung mendekat kearah Nazwa


Nazwa memijit pelipisnya kemudian teringat sesuatu


"Jam berapa sekarang?"


"masih jam setengah sembilan"


"Syukurlah, masih ada tiga puluh menit lagi sebelum acara dimulai"


"Yaudah sekarang ayo cepat pulang, gue udah nggak tega liat lo pingsan lagi" ucap Yolan sendu dipelukan Bastian dan Nazwa hanya mengangguk


Satu hal yang baru Nazwa ketahui kalau ternyata mereka sudah menikah satu tahun yang lalu, sungguh tak disangka mereka yang dulunya sering bertengkar hanya karena hal sepele kini menjadi pasangan, memang cinta yang tak terduga


"Eh liat deh, tuh ada dagang bakso langganan kita pas masih SMA, bakso kang mamat" tunjuk Yolan heboh


"Tapi kita harus segera nganterin Nazwa, kasian ntar kalau calonnya lama nunggu"


"udah, ikutin aja kemauannya mungkin Yolan lagi ngidam tuh" ucap Nazwa tak tega melihat sahabatnya yang satu itu


"lagian masih tiga puluh menit kok, sesuai adat orang Indonesia tiga puluh menit sama dengan satu jam, bisa jadi nanti acaranya mulai jam setengah sepuluh" sambung Nazwa, ia tak belajar dari kesalahannya sewaktu datang kepesantren mengantar Zikri, ia tak tau saja bagaimana disiplinnya keluarga pesantren


"Ya udah tapi sebentar ya" ucap Bastian merasa tak enak


"Nggak ikut Ca?"


"Nggak aku udah kenyang"

__ADS_1


"Aku pengen jalan-jalan sebentar sementara nungguin mereka nggak jauh kok, cuma ditaman rumah sakit"


"Hati-hati Naz" ucap Caca dan hanya dibalas acungan jempol oleh Nazwa


__ADS_2