
Berbagai macam suara terdengar di pendengaran Nazwa, ia membuka perlahan matanya dan melihat ke arah luar jendela, orang-orang yang berlalu lalang mengais rezki, asap kendaraan yang mengepul dan berbagai macam suara berisik klakson dan orang-orang yang berlalu lalang sangat identik dengan suasana perkotaan yang tak pernah sepi
"kita hampir sampai yah?" tanya Nazwa mengucek matanya untuk menjernihkan penglihatannya
"masih dua puluh menit lagi"
"owwh"
"kelamaan di ponpes kamu jadi lupa jalan ya?, padahal dulu kamu sering kebut-kebutan bolos sekolah lewat sini sama temenmu"
"ya itukan dulu yah, sekarang banyak banget perubahannya Nazwa jadi lupa"
"ck... apalagi kalau kamu udah lama di London, bisa-bisa jalan ke rumah kamu nggak inget" ucap ibunya ikut menimpali ucapan mereka
"jangan kan jalan ke rumah, bentuk rumah aja dia nggak inget" sambung ayahnya meledek putrinya
"ish kalau itu Nazwa nggak mungkin lupa, gimana pun bentuk renovasinya Nazwa bakal tetep inget kok suasananya"
"kok ayah ragu ya?"
"ish AYAH"
Dan begitulah suasana dalam mobil di penuhi dengan canda tawa yang sebentar lagi akan menjadi air mata perpisahan
...........
Cuaca sore itu nampak mendung dengan awan hitam yang menutupi langit, pertanda mungkin sebentar lagi rintikan air hujan akan turun membasahi bumi
tak tak tak
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, membuat orang yang berada di bawah sontak mendongak ke atas
"Nazwa mau kemana?" tanya ibunya yang sedang duduk menonton televisi di ruang tamu bersama ayahnya
"Nazwa mau ketemu sama temen bentar buk, udah lama nggak ketemu sekalian mau perpisahan"
"ini kayaknya mau ujan loh, diluar udah gelap banget" ucap ibunya terdengar khawatir
"sebentar aja" ucap Nazwa memohon
"jam enam sore harus udah pulang" jawab ayahnya tegas laksana titah raja yang harus dipatuhi
"siap ayah"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
__ADS_1
"ayah" tegur ibunya
"biarin aja, dia menikmati sisa waktunya yang tinggal sebentar"
..................
Nazwa pergi ke tempat yang telah disepakati bersama temannya diantar oleh sopir pribadi mereka, karena tidak mungkin ia menggunakan motor kalau memakai rok lebar, ini adalah pertemuan mereka setelah Nazwa pulang dari ponpes sekaligus perpisahan untuk yang kedua kalinya karena harus mengejar impiannya
Nazwa memandang kearah luar jendela, kendaraan begitu padat apalagi sekarang adalah waktu pulang kerja bagi para pegawai kantor hingga membuat jalanan sore itu sedikit macet, kepulan asap kendaraan menjadi polusi udara, dan para pedagang keliling juga sudah nampak menjajakan makanan mereka di pinggir jalan
Begitulah kehidupan kota yang menjadi rutinitas sehari-hari, berbeda sekali dengan di desa yang udaranya terasa sejuk, Nazwa kembali membayangkan kegiatannya di ponpes hari ini pasti sedang menyapu halaman belakang atau menyiram tanaman, mengingat ponpes kembali membuat hatinya dilanda kebingungan dan berbagai macam pertanyaan, siapa dan apa, siapa yang harus ia pilih dan apa yang harus ia lakukan setelah itu karena pastinya ada hati yang akan tersakiti
"semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untukku"
Lamunannya buyar saat mendengar Pak Romli memanggil dirinya
"udah sampai neng Nazwa" ucap pak Romli supir pribadi keluarga mereka
"oowh kalau gitu makasih pak"
"neng Nazwa pulangnya jam berapa nanti bapak jemput"
"nggak usah pak, nanti kayaknya Nazwa pesen taksi online atau pulang bareng temen"
"yaudah kalau gitu"
Nazwa memasuki cafe yang terlihat tak begitu ramai karena sebentar lagi akan turun hujan, saat membuka pintu teman-temannya langsung memanggil namanya membuat para pengunjung cafe menoleh ke arah mereka
"ya ampun Nazwa, kami kangen banget" ucap temannya serentak dan berdiri memeluk Nazwa namun saat Reyno dan Bastian merentangkan tangannya Nazwa langsung menghindar
"bukan makhram" ucap Nazwa menyilangkan tangannya
"eh lupa sekarang sudah jadi ustadzah nih?" goda Bastian
"sekarang mau dipanggil apa nih, Ustadzah Nazwa, Ukhti Nazwa, akhwat atau apa lagi?" Reyno ikut-ikutan menggoda Nazwa
"kalian jangan mulai lagi, panggil aja kayak biasa nggak usah pakai embel-embel apapun" omel Nazwa
"baik ustadzah" ucap Bastian yang suka menggoda Nazwa, momen-momen inilah yang mereka rindukan, canda dan tawa bersama seolah tanpa beban hidup
"eh btw si caca kemana nih?" ucap Nazwa memerhatikan kanan dan kiri
"tuh" tunjuk Yolan pada Caca yang melayani di meja kasir
"rajin banget ya dia"
"hmmm, bentar lagi temennya yang bantu jaga dateng, jadi bisa kumpul sama kita"
__ADS_1
"eh gimana hasil ujian kalian?" tanya Nazwa melihat ke arah temannya sambil menyeruput minuman di gelasnya
"ya gitu"
"ya gitu gimana?" tanya Nazwa semakin bingung mendengar jawaban Yolan
"nggak tinggi tapi nggak rendah juga, ya bisa dikatain standar walau kurang dikit, yang penting lulus, dapat ijazah" jawab Bastian terkikik dan Nazwa hanya menggeleng mendengar jawaban temannya ini, karena dari dulu prinsip mereka "yang penting lulus, dapat ijazah, masalah nilai belakangan"
"maaf ya lama" ucap Caca langsung duduk di kursi kosong dekat Nazwa
"santai aja kali Ca, kayak sama siapa aja lo"
"eh ada ustadzah nih"
"jangan mulai lagi Ca"
"hehehe"
"eh Nazwa, beneran nggak?" ucap Yolan tiba-tiba di sela mereka menikmati makanan yang dihidangkan
"beneran apaan? anti kalau ngomong yang jelas dong, orang mana ngerti" ucap Nazwa bingung
"cieee uatadzah" ucap mereka serentak
"aduhhh, mulut ini udah terbiasa ngomong gitu, kalau ngomong lo gue di ponpes pasti udah di nasihati panjang kali lebar, dan karena sudah terbiasa jadi masih kebawa-bawa" ucap Nazwa
"berarti lo pas pertama kali masuk ponpes manggilnya lo gue?" tanya Bastian kepo diangguki Nazwa
"hmmm, tapi lama-lama mulai terbiasa"
"ish Naz, lo belum jawab pertanyaan gue?" ucap Yolan terdengar kesal
"pertanyaan yang mana lagi Yolanda, makanya kalau ngomong yang jelas, nggak ada pembahasan sebelumnya malah tiba-tiba nanya beneran, beneran apaansih?" tanya Nazwa
"yang gue ucapin saat lo mau ke ponpes"
"udah deh Yolanda ngomong aja, otak gue masih ngelag nih mikirin beban hidup malah lo suruh nginget perkataan lo satu setengah tahun yang lalu, emangnya apasih?" tanya Nazwa penasaran begitu juga dengan temannya yang lain
"emmm gini Naz, jadi menurut novel yang aku baca, beneran nggak disana banyak pangeran tampan berpeci dan lo jadi rebutan" ucap Yolanda histeris membuat Nazwa memanatapnya dengan wajah datar
pukkk
"ish lo apa-apaansih Bas, gue nanya serius" Yolan Sewot saat kepalanya di pukul Bastian
"Nazwa kesana tuh nuntut ilmu, belajar ilmu agama biar jadi lebih baik, nggak kayak lo yang tiap hari kerjaannya halu mulu setinggi langit"
"kan cuma nanya doang gimana sih, jadi gimana Naz?"
__ADS_1
"emmm gimana ya, kayak nya iya tapi juga nggak deh"
"hah? gimana tuh" pertanyaan Yolanda membuat Nazwa hanya menggeleng tapi justru membuat rasa penasaran Yolanda semakin tinggi