Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren
Obrolan malam


__ADS_3

Rembulan tertutup awan mendung, angin semilir terasa menusuk sampai tulang, daun kering berguguran terkena tiupan angin


"Kayaknya bentar lagi hujan nih" ucap Hana membuka jendela kamar mereka membuat Nadifa langsung melempar bantal ke arah nya


"Jendelanya di tutup jangan di buka, dingin banget"


"Anti kedinginan atau takut?" Goda Hana


"Dua-duanya cepetan tutup diluar keliatan serem banget"


"Udah jangan berantem mulu, nggak enak di denger sama penghuni kamar sebelah" ucap Salwa yang selalu menjadi pemisah diantara mereka


"Iya, ini ana tutup"


"Nazwa kok anti diam aja?" Hana heran melihat tingkah temannya itu, namun Nazwa tak meresponnya


"NAZWA"


"eh, apa?"


"Anti kenapa diam bengong kek gitu, buat kita takut aja kirain anti kerasukan"


"Kita udah siap-siap loh tadi mau baca yasin"


"Ish apaan sih nggak ada kok, ana cuma mikirin sesuatu aja"


"Mikirin apa ayo?"


"Ada deh, pokoknya"


"Kita ini sahabat Naz, nggak papa anti cerita aja"


"Hehehe nggak kok cuma kangen orang rumah aja, nggak nyangka banget udah tiga bulan ana di pesantren ini" jawab Nazwa


"Oh ya anti masuk kan pas semester dua ya Naz?" Pertanyaan Hana membuat Nazwa hanya mengangguk


"Anti sabar aja Naz, tinggal tiga bulan lagi kenaikan kelas dan libur panjang anti bisa pulang buat ketemu mereka"


"Iya atau anti juga bisa pinjem hp, buat nelpon atau suruh orang tua anti kesini"


"Hehehe iya"


"Eh kalian tau nggak?" ucap Nadifa yang langsung membuat temannya memandang ke arahnya


"Apaan?" Tanya Hana yang mulai kepo


"Ana baru denger dari kakak senior katanya Gus Fatih mau melanjutkan kuliah di kairo loh"


"Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir"


"Woow universitas impian" ucap mereka serentak


"Berarti Gus Fatih mengikuti jejak Gus Rayhan dong"


"Iya, terus Gus Rayhan gimana?"


"Kayaknya bakal ngajar disini deh, kan s2 nya udah selesai di kairo"


"Hebat banget ya, masih muda udah berhasil lulus s2"


"Padahal umurnya masih 21 tahun"


"Setidaknya kalau Gus Fatih pergi masih ada Gus Rayhan yang jadi penyemangat" ucapan Nadifa membuat Hana menoyor kepalanya


"Penyemangat apaan? Palingan juga bentar lagi Gus Rayhan nikah"


"Ya kan belum pasti Han, boleh lah berharap dikit"

__ADS_1


"Ali bin abi thalib pernah berkata siapa yang berharap pada dunia maka dunia akan menghianatinya" ucap Nazwa mengeluarkan kata bijaknya


"Tuh dengerin"


"Udahlah jangan ngurusin Gus Rayhan mulu, sekarang kita tidur terus mimpi indah, besok jangan lupa bangun pagi-pagi buat menghirup segarnya udara subuh"


Ucap Salwa mengambil selimutnya


"Kok udara subuh seger banget ya?" Tanya Nadifa membuat temannya langsung menoleh ke arahnya


"Karena belum tercampur nafas orang munafik yang masih tidur" jawab Nazwa asal tapi berhasil membuat seorang Nadifa percaya


🌷🌷🌷🌷🌷


Suara rintik hujan terdengar dari atap genting, membasahi bumi, membawa udara dingin, hingga penduduk bumi semakin mempererat selimut mereka dan enggan bangun dari tidurnya untuk melaksanakan sholat malam apalagi di waktu sepertiga malam


Tidur Nazwa terusik ia membuka matanya, pikirannya kembali melayang pada surat yang ia terima beberapa hari yang lalu, sejak menerima surat itu ia selalu mengamati setiap tanda tangan yang tertera nama orang yang di curigainya, Gus Fatih dan Gus Rayhan. Sama persis degan surat yang diterimanya membuatnya semakin yakin kalau dua orang itulah yang mengirimkan surat kepadanya, namun ia masih enggan memberitahu teman-temannya dan bertanya langsung kepada dua orang yang dicurigai nya


"apakah ini perasaan jatuh cinta?"


"kenapa rumit sekali?"


"haaah itulah sebabnya ana enggan sekali mengenal yang namanya cinta, orang akan terlihat seperti orang gila, sebentar senyum dan sebentar lagi nangis" batinnya sambil memandang langit-langit kamar asramanya yang terkena cahaya kilat yang masuk dari celah jendela


"kalau ana jatuh cinta, siapa yang akan ana pilih? ana tak mungkin membuat mereka bertengkar hanya karena satu orang?" tanyanya pada dirinya sendiri


"haah lebih baik sholat dulu" ucapnya bangkit dari tidurnya


Wussshhh


Angin kencang langsung mengenai Nazwa saat ia baru membuka pintu kamar, membuatnya mengigil kedinginan


"dingin banget, bener kata orang cobaan sholat sepertiga malam itu berat banget, udara dingin, masih gelap, sepi" ucapnya membuka payungnya namun ia dikejutkan dengan sesosok berpakaian putih yang sedang berada di tangga santriwati dengan pakaian yang basah


"Astagfirullohaladzim" ucapnya mengelus dada


"Gus ngapain duduk disini?" tanyanya saat melihat orang tersebut yang menoleh ke arah nya, Gus Rayhan


"ha? banjir?"


"hemmm, Fatih lama banget sih, cuma ngambil paku doang kok"


"oh ya Naz, ana mau ngasih ini untuk anti" ucap Gus Rayhan mengeluarkan Al-qur'an kecil yang selalu dibawanya dari kantung baju kokonya


"Buat ana?"


"hmmm ambillah"


"kenapa Gus?"


"ambil aja"


"oh ya Gus, ana mau nanya apa anta pernah ngirim surat ke ana?" tanya Nazwa pelan


"apa???" tanya Gus Rayhan sekali lagi karena suara hujan yang begitu deras membuat pendengarannya tak begitu jelas


hosh hosh hosh


Gus Fatih datang dengan nafas yang tersendat-sendat dan bajunya yang sudah basah kuyup dan kotor terkena lumpur


"lama banget sih cuma ngambil paku doang"


"apa?" tanya Gus Fatih sekali lagi karena tak mendengar begitu jelas


"nggak ada" ucap Gus Rayhan berlalu pergi untuk kembali memperbaiki pipa yang tersumbat


"ish"

__ADS_1


sedangkan Nazwa hanya menjadi penonton dua orang yang sedang berbicara di depannya


"khemmm, permisi Gus ana mau lewat" ucapan Nazwa membuat Gus Fatih memandang ke arah dirinya terkejut karena tak menyadari keberadaannya


"anti mau kemana?"


"kamar mandi"


"hati-hati licin"


Baru saja Gus Fatih mengatakan hal itu Nazwa terpleset saat turun dari tangga karena tangga yang licin dan dengan reflek membuang payung nya ke sembarang arah


Nazwa sudah memejamkan mata menahan sakit, namun


deg deg deg


ia membuka matanya dan terkejut saat melihat wajah Gus Fatih dengan air hujan yang menetes dari kepalanya membuatnya segera berdiri


"afwan Gus" Nazwa gugup dengan keadaan yang sudah basah kuyup karena payungnya sudah hilang entah kemana


"emmm nggak papa lain kali hati-hati"


"Gus"


"Nazwa"


mereka berucap bersamaan


"anta duluan"


"anti duluan"


Mereka berucap bersamaan lagi


"anta saja dulu Gus" ucap Nazwa


"hemm apa anti pernah nerima surat dari Aziz?" tanyanya menatap ke arah Nazwa yang menundukkan kepalanya sambil mengangguk


"jadi anta yang ngirim surat itu?" tanya Nazwa karena benar kecurigaannya selama ini


"hemm, ana mungkin akan melanjutkan pendidikan di kairo, dan kita tak bisa bertemu lagi, tapi ana yakin seperti yang tertulis di surat itu, sejauh apapun jarak memisahkan kita jika tuhan menakdirkan kita untuk berjodoh ia punya seribu macam cara untuk mempertemukan kita kembali" jawab Gus Rayhan yang terdengar jelas di telinga Nazwa karena hujan sudah mulai reda


"tapi kenapa harus ana?" tanya Nazwa menatap ke arah rintikan air hujan


"hahhh, Naz seseorang tidak punya alasan kenapa ia harus jatuh cinta, agama juga tak melarang jatuh cinta asal jangan berlebihan, jika ana mengatakan alasan jatuh cinta karena suatu hal artinya jika hal itu sudah hilang dalam diri anti, artinya cinta itu hanya sampai sana" ucap Gus Fatih tersenyum memandang Nazwa


"tapi ana tak tau apakah ini cinta, ana belum pernah mengenal yang namanya cinta, cinta itu ribet" ucapan Nazwa membuat Gus Fatih tersenyum


"suatu saat anti akan tau apa makna dari kata itu"


"oh ya tadi anti mau nanya apa?"


"ana juga mau nanyain tentang surat itu, tapi anta sudah jawab duluan" jawab Nazwa tersenyum


"jangan mudah tersenyum ke arah orang lain seperti itu"


"kenapa?"


"FATIH COBA NYALAIN AIR UNTUK KAMAR MANDI SANTRIWAN"


teriakan Gus Rayhan membuat Fatih bergegas dari sana


"ana pergi dulu, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"hah sekarang harus gimana? ya Alloh ku serahkan hatiku kepadamu berikan lah ia kepada orang yang tepat" Nazwa memandang langit yang masih terlihat mendung

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2