CEO Kejam Penoreh Dan Penyembuh Luka

CEO Kejam Penoreh Dan Penyembuh Luka
101. Adik Sepupu & Kebucinan Daniel


__ADS_3

“Masuk.”


“Ga, ada wanita yang mengaku teman dekatmu ingin bertemu denganmu.” Ucap Chinthya dengan ketus,


Celia tetiba datang ke Perusahaan membawa makan siang Dirga yang tertinggal. Karena Celia bingung harus menjawab pertanyaan Chinthya siapa dirinya untuk itu Celia hanya menjawab teman dekat yang bisa ia ucapkan spontan


“Siapa namanya?” Dirga mengernyitkan dahinya


“Celia.”


“Mulai berani dia datang ke sini tanpa izinku.” Marah Dirga dalam hati


“Oh Celia haha dia bukan teman dekatku Cin. Dia adik sepupuku. Dia memang suka iseng, biarkan dia masuk.” Bohong Dirga.


Dirga belum siap pernikahannya terbongkar apalagi pada Cinthya yang akan melapor kepada Daniel sang tuan


“Oh adik sepupumu, pantasan setahuku kamu tak dekat dengan siapa-siapa. Dia juga terlihat seperti anak remaja yang usianya cukup jauh darimu.”


“Iya Cin dia memang suka iseng.” Ucap Dirga dengan terkekeh. "Kalau kamu tahu di istriku, habislah aku dihujat menikahi seorang bocah, mungkin kamu pikir aku pedofil." Batin Dirga


Celia yang berada tak jauh dari belakang Cinthya yang berada di pintu ruang Dirga mendengar jelas percakapan mereka. Hatinya cukup teriris Dirga tak mengakui dirinya siapa bahkan berbohong nengatakan dirinya adik sepupu.


“Dek ayo masuk, Dirga menyuruhmu masuk.” Cinthya yang tadi ketus berubah ramah. Ia merasa lega karena wanita muda cantik mungil yang datang bukan siapa-siapa Dirga.


“Terimakasih mbak.” Celia pun masuk ke ruangan Dirga. Mata Dirga sudah siap menatap tajam sang istri mungilnya, namun Dirga malah terpana dengan pakian yang dibelikannya.


Celia menggunakan mini dress selutut tanpa lengan dengan rambut terikat memperlihatkan leher jenjang yang mampu menggugah hasrat Dirga


“Maaf mas saya lancang datang ke sini. Saya hanya ingin mengantarkan makan siang yang tertinggal.” Celia mengatakan dengan ekpresi tak terbaca oleh Dirga, meletakkan kotak makan di dalam tas kecil di meja Dirga dan berbalik untuk keluar ruangan


“Tunggu,” Dirga menghentikkan langkah Celia. Suara sepatu Dirga mendekat Celia, menarik lengan Celia untuk menghadapnya


“Jangan mengikat rambutmu saat keluar rumahku.” Tangan kanan Dirga menarik lembut ikatan di rambut Celia melepaskannya membuat rambut Celia terurai.


“Dan satu lagi, mini dress selutut tak berlenganmu ini hanya boleh kamu gunakan saat di apartemenku. Setiap keluar kamu pakai mini dress berlengan pendek. Bukankah aku sudah membelikannya banyak haah?” Suara Dirga mulai meninggi merasa kesal karena terlihat jelas leher jenjang, mulusnya bahu dan lengan Celia yang terekpos


“Apa pedulimu tuan? Mengapa kamu peduli haah? Aku adik sepupumu tuan ingat adik sepupu untuk apa mengatur rambut dan pakaianku hah? Apa urusannya?” Bentakan itu hanya bisa terucap di hati Celia


“Baik tuan, saya permisi.”


Dirga heran tak biasanya Celia patuh begitu saja tanpa mendebatnya dahulu. Ekpresinya pun tak teebaca. Hal itu malah membuat Dirga gusar.


“Aku akan mengantarmu untuk mengganti pakaian ke apartemen sebelum kamu beraktifitas.” Dirga yang heran dengan sikap Celia dan sebutan untuk dirinya seperti semula menyambar kunci dan menggenggam satu tangan Celia membawanya ke parkiran mobil. Celia yang cukup kecewa dan tak ingin bicara apapun menurut saja


“Cin aku antar dulu Celia ya,”


“Ok Ga hati hati ya.” Cinthya tersenyum ramah walau dirinya merasa heran Dirga menggenggam tangan Celia tak seperti layaknya kakak sepupu kepada adik sepupu


“Tadi saja ki depanku ketus, di depan tuan Dirga manis sekali senyumnya, dasar ganjen.” Batin Celia


Di kota Zurich Swiss, Daniel yang baru menikmati kebersamaan hampir satu minggu di buat heran oleh sang istri. Baru saja dirinya secara tak langsung membuat Dirga harus menanggung pekerjaannya. Kini bagai diberi karma sang istri tak ingin dekat dengan dirinya.


“Lepas mas jauh-jauh sana aku nggak suka bau tubuhmu.” Naynia mendorong tubuh besar Daniel kuat

__ADS_1


“Sayang, mas sudah mandi.”


“Tetap saja bau mas. Jaga jarak dua meter denganku. Rasanya aku ingin muntah.”


“Ya Tuhan apalagi ini? Kenapa dia makin aneh? Apa perlu aku bawa dia ke psikiater?” Batin Daniel yang tersiksa ingin memeluk istrinya, bermanja kepada sang istri


“Apa yang membuatmu ingin muntah? Apa aroma parfumku? Jika ia aku ganti dahulu.”


“Percuma kamu menggantinya mas bau nya akan melekat. Sana mandi lagi.”


“Apa??” Daniel tak sengaja membentak Naynia


“Kamu marah mas.” Mata Naynia berkaca-kaca


“Bukan begitu sayang, hmm.” Daniel menyentuh kedua pipi Naynia


“Bau sana jauh dariku mas.”


“Astaga mau nangis masih aja inget.” Jerit batin Daniel yang memundurkan tubuhnya


“Iya mas mandi lagi.” Daniel pun mandi kedua kalinya, memakai parfum lain


Melihat sang istri di depan jendela memperhatikkan luar Daniel langsung memeluk tubuh istrinya yang dirindukan padahal hanya beberapa puluh menit tak memeluknya.


“Aku kangen sayang.”


“Baru saja sebentar tak memelukku.”


“Tidak, kamu wangi mas.” Naynia berbalik menyentuh rahang tegas Daniel menatap manik matanya. “Aku suka aroma tubuhmu ini.”


“Ya Lord baru tadi marah marah minta menjauh bau. Sekarang sudah lunak seperti macan betina. Untung cinta.” Batin Daniel


Naynia mengusel-ngusel wajahnya di dada bidang Daniel, pagi yang dingin karena ulah sang istri dirinya harus mandi dua kali membuat sang perkasa on dengan apa yang dilakukan sang istrinya.


“Sayang kamu membangunkan perkasaku.” Bisik Daniel di telinga Naynia


“Aku juga menginginkanmu mas.” Ucap lirih Naynia masih menyembunyikan wajahnya di dada Daniel. Naynia cukup malu mengatakannya


Daniel mengulum senyum dengan ucapan Naynia, tanpa merespon Daniel memundurkan tubuh Naynia memegang kedua bahunya.


“Katakan sekali lagi sayang, hmm?” Pinta Daniel satu tangan memegang dagu Naynia menganngkatnya agar menatap dirinya


“Mas aku malu,” ucap Naynia dengan tersipu pipi merahnya sangat jelas ini pertama kali Naynia yang meminta


Cup Daniel menyambar bibir se k si Naynia.


Me ngu lum, me lu mat, meng hi sap dan memasukinya. Mem be lit lidah sang istri. Naynia yang mulai terbiasa bisa membalas pangutan rakus Daniel. Suara cecapan mengisi pagi yang dingin di Kota Zurich.


Sudah bukan hal aneh dalam sekejap tangan Daniel melepas pakaian yang membungkus tubuh se k si sang istri. Daniel juga melepas pakaiannya. Mereka sama sama polos dalam keadaan berdiri. Mendorong perlahan tubuh Naynia ke dinding kamar. Menggerayangi seluruh inci tubuh Naynia dengan kedua tangannya secara sensual.


Le ng u han, de sa han keluar dari mulut mungil Naynia. Membuat sang lelaki semakin ter ang sang. Dalam keadaan beridiri bertumpu pada dinding Daniel melingkarkan kedua kaki mulus sang istri ke pinggangnya dengan perlahan memasuki perkasanya. Daniel mangajak Naynia merasakan sensasi bercinta dengan gaya berbeda.


Naynia meringis saat perkasa laras panjang memasuki sarang indahnya. “Aakh mas.”

__ADS_1


Daniel membungkam bibir sang istri dengan ciuman lembut, membuat miliknya terbenam sempurna dan mulai memaju mundurkan miliknya. Bibir Daniel mengabsen leher jenjang Naynia dengan satu tangan mengelus sensual rahang dan telinga Naynia. Turun ke tempat favorit Daniel dua bola sintal yang semakin berisi bahkan melebihi kepalan tangannya.


“Mahkotamu semakin membesar sayang, “ suara cecapan di pucuk bola sintal Naynia terdengar menggema indah. Naynia hanya bisa menggelinjang dan men de sah hebat. Menekan kepala Daniel untuk semakin menikmatinya dalam.


Niatan Daniel mengajak Naynia keluar pukul sembilan pagi kandas sudah. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas dan mereka baru selesai menikmati indahnya syurga dunia. Saling berpelukan menikmati aroma tubuh lawannya yang masih bercucuran keringat dan menormalkan pernapasan yang masih terengah.


“Mas mengapa kamu tak membuangnya di dalam?Aku merindukan hangatnya cairanmu.” Naynia bertanya dengan napas masih terengah.


“Aku tak ingin anak kita menanggung resikonya sayang. Aku sama sepertimu tersiksa, ingin menyemburkannya di dalam.


Menghangatkan dinding rahimmu. Tapi aku tak ingin cairanku bisa berakibat fatal pada pertumbuhan kedua malaikat kecil kita.


Ejakulasi di dalam vaginamu memang aman karena kedua bayi kita dilindungi selaput dan air ketuban. Tapi hasratku yang menggebu dan sering hilang kendali takut menyakiti mereka yang mengakibatkan kamu mengalami kontraksi sebelum waktunya dan lebih parahnya lagi pendarahan.


Walaupun aktivitas seksual saat kehamilan tergolong aman, tetap ada risiko yang dapat timbul, sayang. Kromosom yang tidak normal atau sejumlah kondisi lain dapat berpotensi menyebabkan keguguran.


Tapi ada beberapa kondisi dimana sebaiknya kita menghindarinya sayang, jika kamu mengalami pendarahan yang tidak terjelaskan, mengalami kebocoran air ketuban, leher rahim terbuka terlalu awal atau bisa saja mengalami placenta previa, saat plasenta melekat pada bagian bawah rahim sehingga menutupi bukaan leher rahim.


Mas tak ingin resiko itu terjadi padamu dan anak-anak kita.”


“Iya mas aku mengerti.”


“Sayang,” panggil Daniel


“Iya mas,”


“Kecup seluruh wajahku," ucap Daniel dengan manja. Hanya didepan Naynia lah wajah dingin, sangar kejam Daniel bisa berubah menjadi kucing manja


Naynia hanya tertawa kecil dengan wajah menggemaskan suami galaknya.


Cup


Cup


Cup


Nanyia mencium seluruh bagian wajah Daniel. Daniel memejamkan mata menikmati kecupan bibir sebk si istrinya.


“Ini dahi daddy kalian, kedua alisnya yang tebal dan tegas, hidung mancung berlebih, pipi tirus dengan rahang tegas dan bibir tipis merona yang sering membuat bibir mommy membengkak.” Naynia menyentuh setiap inci wajah Daniel dengan jari telunjuknya, merekam dalam ingatan dan memperkenalkan setiap inci wajah daddy anak-anaknya kepada janin yang dikandungnya


Daniel hanya melengkungkan bibirnya tersenyum bahagia dengan apa yang dilakukan sang istri masih dengan memejamkan nata.


“Ada yang kurang sayang.”


“Memang apa yang kurang mas?”


“Kamu tak memberi tahu mereka bahhwa wajah tampan daddynya yang selalu dirindukan mommy.”


“Kumat narsisnya.”


Daniel hanya tertawa renyah


“Aku sangat mencintaimu Nayniaku.” Daniel mendekap erat tubuh polos sang istri

__ADS_1


__ADS_2