
Acara yang dinanti telah tiba, Daniel sudah berada di depan stage menunggu sang istri yang didandani terakhir agar Daniel tak melihat perubahan yang akan terjadi ketika resepsi. Kecantikan alami Naynia memang tak bisa dibandingkan dengan wanita biasa. Wajah khas Indonesia Naynia dengan mata sipit entah darimana membuat dirinya memang terlihat seperti wanita berdarah biru. Tak heran saat ini para penata make up terpukau sendiri dengan kecantikan Naynia
“Wah nyonya muda anda sangat cantik sekali. Terlihat seperti seorang putri dalam kerajaan.”
“Huss nyonya kan memang permaisuri tuan Daniel.”
“Iya sih memang, desain gaunnya juga sangat bagus tak memperlihatkan baby bumb nyonya.” Ucap dalah satu penata riasana yang menyindir halus, Naynia yang wajah berbinar berubah sendu dengan sindiran halus tersebut.
“Jaga ucapanmu Fit, jika karirmu masih mau aman.” Tegur asisten penata rias senior
“Maaf nyonya.”
“Tak apa terimakasih membuat saya menjadi cantik.” Ucap Naynia dengan ramah walau hatinya terluka
“Bukan kami yang membuat cantik tapi nyonya muda memang sudah cantik.” Puji penata busana
“Sayang ayo, Niel sudah menunggu di stage.” Ajak Adelia kepada Naynia, sedangkan kedua orang tua belah pihak sudah berada di atas panggung resepsi
Naynia memasuki ballroom ditemani Adelia dan adik perempuannya diiringi musik seksofon yang indah. Daniel dan seluruh undangan menatap terpana ke arah pengantin wanita. Mereka terpana dengan kecantikan yang terpancar di wajah Naynia. Tak akan ada yang mengira bahwa Naynia adalah gadis dari keluarga biasa saja. Wajah ayu dengan tubuh mungil berisi dengan tinggi yang cukup untuk seukuran tubuhnya membuat orang yang mrlihatnya tak menyangka ia seorang gadis biasa.
“Dia dari keluarha mana? Siapa orang tuanya? Cantik sekali? Apa dia keturunan bangsawan?”
“Mungkin dia terlihat dangat mungil.”
__ADS_1
“Anak pemilik perusahaan manakah dia? Aku baru melihatnya?
“Iya, ikut sosialita manakah dia. Pasti sering perawatan mahal.”
“Daniel memang tak main-main memilih ibu sambung El.”
“Iya benar, tak mungkinlah seorang Daniel mencari sembarang wanita untuk dijadikan istri dan ibu sambung El.”
“Lihatlah tubuh montoknya sangat pas dengan ukuran tinggi yang terbilang mungil.”
“Iya benar, kita bisa ajak dia gabung sosialita kita. Lumayankan numpang na terkenal Daniel
“
Daniel mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari sang istri. Sebelum digenggan Daniel sedikit menurunkan kakinya sebagai tanda menghargai sang wanita dan mengecup punggung tangan Naynia.”
“Tak apa mas ini sudah terlanjur, mungkin waktunya terlalu singkat jika harus dirubah lagi. Apa aku terlihat jelek mas?”
“Bukan itu maksudku . Kamu sangat cantik hanya saja lihatlah nelahan dadamu terkihat jelas. Aku tak rela keindahan tubuhnu dinikmati para tamu undangan.”
Daniel dan Naynia saling berbisik saat berjalan menuju pangging resepsi
“Lalu aku harus apa mas.”
__ADS_1
“Sudah terlanjur, jika kamu kelelahan katakan padaku. Jangan memaksanya.”
“Iya mas.”
Acara respsipun di mulai oara tamu undangan mulai mengantri untuk bersalaman dengan kedua oengantin baru tersebut. Ucapan selamat, do’a dan pujian untuk kecantikan sang istri banyak dilontarkan oleh kolega bisnis Daniel dan Bernandez.
Telinga Mriana terasa panas dari tempatnya berdiri setiap pujian yang terlontar dari kolega bisnis Daniel maupun Bernandez tak luput dari pendengarannya. Mariana hanya bisa tersenyum palsu saat ada yang memuji Naynia langsung kepadanya. Tak sedikit dari mereka yang mengatakan betapa beruntungnya Daniel memiliki istri yang cantik. Namun tak direspon sama sekali oleh Mariana hanya senyuman palsu dan umoatan-umpatan yang di oendam dalam hatinya.
“Astaga kapan ini berakhir. Sungguh telingaku rasanya terbakar mendengar pujian-pujian tentang wanita sialan ini. Mereka tak tahu saja dibalik gaun mahal dan riasan MUA hebat dia adalah seorang mantan pelayan Daniel dan El.” Suara hati Matiana
Selama acara berlangsung, Daniel sebentar-sebentar menggenggam satu tangan Naynia dan mengecup punggung tangannya. Tamu undangan yang melihat apa yang dilakukan Daniel sungguh merasa iri apalagi gadis-gadis anak dari kolega bisnis Daniel. Pancaran cinta dan kasih sayang Daniel kepada Naynia sungguh terlihat jelas.
“Apa kamu sudah lelah sayang?”
“Tidak mas, hanya kakiku saja yang mulai pegal.”
“Kita beristirahat sejenak, ayo ikut aku.” Daniel mengajak Naynia ke kamar yang tak jauh dari ballroom untuk temoat istirahat sejenak dirinya dan Naynia.
“Mas tapi tak enak meninggalkan tamu undangan di tengah-tengah acara.”
“Tak apa sayang, sudah masuk acara hiburan. Mereka juga akan mengerti dan menikmati hiburan yang disuguhkan. Rebahkan tubuhmu di sana.” Tunjuk Daniel ke ranjang kings mereka
“Baiklah aku akan beristirahat lima belas menit saja. Nanti kita kembali lagi ya mas?”
__ADS_1
“Iya sayang.” Daniel naik ke ranjang yang sama namun ia mengarahkan kedua tangannya memijit kaki Naynia
“Mas jangan lakukan itu.” Naynia menghentikkan gerakan tangan Daniel di kakinya