CEO Kejam Penoreh Dan Penyembuh Luka

CEO Kejam Penoreh Dan Penyembuh Luka
59. Tangis Kebahagiaan


__ADS_3

Naynia keluar rumah lewat pintu belakang yang bisa menembus sebuah gang kecil yang menghubungkan ke jalan besar. Naynia memesan ojeg online menuju klinik kandungan yang ia tahu tak jauh dari kediamannya.


Setelah mendaftar, Naynia menunggu di kursi depan ruangan poly kandungan. Di sana berjejer ibu-ibu yang sedang mengandung ditemani para suaminya.


“Jika daddy kalian tahu ada kamu di perut mommy, pemeriksaan selanjutnya kita ditemani daddymu ya nak untuk melihat keadaan kamu sayang seperti para ibu lainnya di sini.” Ucap Naynia menitikkan air mata haru mengelus perut dengan melihat sekelilingnya


Tak lama Naynia dipanggil


“Nyonya Naynia Bernandez. Silahkan masuk nyonya.” Sapa perawat yang memanggil Naynia


“Selamat pagi nyonya Naynia,” sapa dokter Desi


“Pagi dok,”


“Silahkan duduk dahulu nyonya. Suaminya kemana nyonya? Tak ikut mengantar?”


“Suami saya sedang di luar kota dok. Saya ke sini untuk memastikkan dan ingin memberinya kejutan jika hasil testpeck memang akurat.” Bohong Naynia karena dirinya dan Daniel belum menyandang status pasutri


“Insya Allah akurat nyonya. Kapan terakhir menstruasi terakhir?” Tanya dokter Desi dengan ramahnya


“Seingat saya satu hari sebelum suami saya dinas luar. Dua minggu lalu, itupun hanya sebuah flek dan hanya satu hari dok.”


Dokter hanya mengangguk tersenyum.


“Baik silahkan naik ke ranjang dahulu nyonya, kita periksakan.”

__ADS_1


Naynia naik ke ranjang dibantu perawat, midi dress disingkapkan bagian bawah ditutup selimut. Perut Naynia diberi gel oleh perawat. Dokter mendekat dan menempelkan alat USG ke perut Naynia yang sudah dioles gel.


“Lihatlah nyonya memang telah tumbuh janin di rahim nyonya. Mereka kembar, usianya masih lima minggu.”


“Kembar dok?” Air mata haru keluar begitu saja dari mata Naynia


“Iya nyonya, bayinya kembar.”


Naynia menangis haru “Mas feelingmu benar, mereka ada dua. Mimpimu memang kenyataan mas. Telah tumbuh dua malaikat kecil hasil buah cinta kita. Kamu pasti bahagia mendengarnya. Maafkan aku yang menganggapmu halusinasi” Batin Naynia


Setelah Naynia turun dari ranjang duduk kembali di kursi di hadapan dokter Desi.


“Apa keluhan nyonya yang dirasakan belakangan ini nyonya?”


“Kapan nyonya merasa perutnya terasa sangat mengencang dan ngilu?”


“Saat saya menangis memikirkan sesuatu.”


“Itu hal wajar, ibu hamil tidak boleh stress apalagi bersedih. Salah satu efeknya ya terasa ngilu, sang anak merasakan yang ibunya rasakan. Dan usia kandungan nyonya baru masuk trisemester pertama oleh sebab itu harus lebih berhati-hati jangan terlalu kelelahan atau stress bisa membahayakan janinnya. Saya akan resepkan vitamin ibu hamil dan penguat janin.”


“Baik dok. Maaf dok kalau untuk berhubungan intim apakah masih boleh?” Ucap Naynia memberanikan diri untuk menanyakan hal itu walau merasa malu. Untuk antisipasi saat Daniel kembali dan meminta jatahnya


“Boleh saja nyonya asal tidak rutin dalam seminggu hanya boleh dua dan itupun dengan tempo perlahandan lembut karena usia kandungan yang masih rentang.”


“Baik dok.”

__ADS_1


Naynia pun keluar dari ruangan dokter menebus vitaminnya dan segera memesan ojeg online untuk kembali ke kediaman ibunya.


“Sudah pulangs sayang?”


“Sudah hu, bu Nay langsung pamit ya takut kelamaan El cari Nay.”


“Iya sayang. Hati-hati di jalan ya. Adikmu benar sayang kamu semakin berisi, sebuah tanda bahwa kamu benar – benar bahagia hidup bersama nak Daniel.”


“Maafkan Nay bu Nay belum bisa mengatakan bahwa ibu akan memiliki cucu. Jika mas Daniel sudah menikahi Nay, Nay akan mengatakannya bersama mas Daniel.” Batin Naynia yang merasa bersalah terhadap ibunya


“Nay..” panggil ibu Naynia membuyarkan lamunan


“Eh iya bu, Nay memang bahagia bisa dicintai mas Daniel dan memiliki baby El bu.”


“Syukurlah ya sudah sana nanti El mencari mu.


.”


“Ibu mengusirku.” Naynia cemberut pura-pura marah


“Haha kamu nih bukan anak remaja lagi, sana anakmu menunggumu.”


“Hehe iya bu Nay pulang ya. Salam buat ayah dan adek-adek.”


“Iya nak.” Ibu mengantarkan Naynia hingga masuk ke mobil

__ADS_1


__ADS_2