
Dengan satu tarikan napas Daniel mengucapkan ikrar suci, ijab qabul dengan menjabat tangan Ayah Naynia. Mahar yang Daniel berikan berupa satu paket berlian, mansion di salah satu kawasan elit Jakarta dan satu buah resort di Bali.
Dana Resort yang dikorupsi sebelumnya memang akan dijadikan tempat honeymoon dan dipersembahkan untuk Naynia. Mahar untuk wanitanya. Karena dana telah kembali resort sedang proses dibangun.
Jangankan seluruh orang yang hadir dalam akad tersebut, Naynia sang wanita yang telah halal menjadi istrinya dan kedua belah pihak keluarga terkejut dengan mahar yang diberikan Daniel. Daniel memang tak bertanya atau pun mendiskusikannya, Daniel ingin memberi kejutan untuk istri sekaligus calon ibu dari anak-anak yang sedang di kandungnya.
Jika ditanya perasaan Naynia. Naynia sungguh terharu bahkan Naynia sungguh terharu saat pertama Daniel menjabat tangan sang ayah, air mata sudah meluruh begitu saja. Ditambah ijab qabul yang satu tarikan napas. Kata bahagia tak mampu Naynia gambarkan dengan kata selain ucapan rasa syukur kepada sang Pencipta yang telah mempertemukan dirinya dengan Daniel.
“Silahkan nyonya Naynia mencium punggung tangan tuan Daniel dan tuan Daniel mencium kening nyonya Naynia.” Arahan sang MC setelah penyematan kedua cincin dan penyerahan simbolis mahar seperangkat berlian, kunci mansion dan sebuat figura desain resort yang masih dalam proses pembangunan.
Saat pemotretan Daniel dan Naynia memperlihatkan buku pernikahan ke media. Daniel melihat kehadiran wanita yang dengan keras kepala tak ingin merestui pernikahannya. Siapalagi jika bukan Mariana yang duduk di sebelah Bernandez sang papah.
“Ternyata mau tak mau mamah hadir.” Senyum tipis terbit dari bibir tipis merah Daniel.
Mariana menggunakan seragaman yang sama dengan yang digunakan Bernandez dan ornag tua Naynia. Bukan tanpa alasan Mariana mau mendampingi pernikahan anaknya. Dua hari sebelum pernikahan Mariana mendatangi butik Adelia. Namun ia meminta Adelia tak memberitahu Daniel, dengan dalil untuk memberi kejutan sang anak. Walau sebenarnya memiliki niat lain.
Flashback On
__ADS_1
Nama Fely terpampang di layar ponsel Mariana.
"Hallo tan."
"Hallo Fely."
"Apa acara nikah Niel dua hari lagi benar tan."
"Entahlah tante nggak peduli, tante tak akan hadir di pernikahan mereka."
"Tan kenapa tak hadir?"
"Tante dengarkan aku. Tante harus datang ke pernikahan Daniel sebagai restu tante. Berpura-puralah merestui mereka, agar saat kejadian terjadi Daniel tak lansung curiga kepada tante ataupun aku."
"Baiklah aku akan berpura-pura." Setelah sambungan terputus, Mariana menghampiri butik Adelia.
“Del..,”panggil Mariana kepada Adelia yang sedang mendesain gaun di mejanya
__ADS_1
Adelia mendongakkan wajah. “Mbak tumben ke sini, mbak mau membutuhkan gaun?”
“Iya, aku butuh gaun untuk mendampingi Daniel menikah.”
“Bukankah Niel bilang..,”
“Aku ingin memberinya kejutan Del.”
“Syukurlah kirain Adel, mbak tak merestui mereka. Naynia wamita baik mbak. Adel yakin dia bisa menjadi ibu yang baik untuk El dan anak-anak yang dikandungnya.”
“Jika bukan karena saran Fely aku tak ingin menghadiri pernikahan ini, wanita baik mana yang mau disetubuhi sebelum menikah, dasar j*l*ng.” Umpat Mariana dalam hati. “Iya semoga saja Del.” Jawaban Mariana atas respon Adelia demgan senyum palsunya
“Ok pakaian untukku sudah jadi, karena mbak yang mau datang jadi mbak yang pakainya ya. Ukuran kita kan sama.”
“Jangan Del buatkan lagi, biar Niel tak curiga. Mbak datang sebelum akad jadi Niel tak akan lihat mbak dahulu.
“Ok baiklah mbak jika begitu.”
__ADS_1
Flashback Off