
Daniel, dan Naynia sudah berada di mobil untuk pulang ke mansion. Daniel sejak tadi tak tahan ingin memeluk wanitanya namun dirinya masih memiliki malu untuk meminta Naynia memeluknya.
“Sayang ingin dipeluk.” Ucap Daniel dengan manja tanpa rasa malu di hadapan Naynia dan Dirga yang dibalik kemudi.
Dirga menahan tawa dengan sifat lain sang tuan yang tak pernah sekalipun ia lihat. Ini kali pertama seorang Daniel yang tegas, keras dan kejam berkata manja kepada seorang wanita.
“Ko mas tumben.” Walau protes Naynia memeluk Daniel dari samping, lebih tepatnya tubuh besar Daniel yang mendekap tubuh Naynia.
“Entahlah ingin dipelukmu sayang. Aroma tubuhmu menenangkanku sayang.” Daniel menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Naynia
Dirga hanya bisa menggeleng dan menahan tawa melihat kelakuan aneh bin ajaib tuannya
“Jangan tertawa Ga, gajimu korbannya.”
“Tidak tuan, saya tidak tertawa.” Dirga menetralkan ekpresinya kembali menjadi dingin, datar dan tak berekpresi
“Mas Dirga juga manusia mana mungkin tak boleh ketawa.”
“Siapa yang menyuruh dia tak boleh ketawa, aku hanya melarangnya menertawakanku.”
“Sama saja Alponso,” suara hati Dirga
“Mas.., mau itu..,” Naynia melepaskan pelukannya menunjuk pedagang kaki lima yang telah dilewatinya berbalik ke arah belakang
“Penjual apa itu?”
“Rujak tumbuk mas, aku ingin rujak itu rasanya pasti segar.” Naynia dengan ekpresi tergiur membayangkan rasa rujak segar di mulutnya
“Tidak..,tidak..,jajanan pinggir jalan sangat kotor sayang.”
“Mas tapi anak kita mau itu.”
“Aku akan menyuruh maid membuatkannya.”
“Tapi aku ingin sekarang mas.” Naynia kembali meneteskan air mata seperti di restoran
__ADS_1
“Astaga nangis lagi.” Batin Daniel. “Dirga putar arah, kembali ke pedagang kaki lima tadi.”
“Baik tuan.” Dirga memutar balik kemudi menghampiri pedagang kaki lima rujak tumbuk
“Belikan untuk istriku.”Daniel mengulurkan dua lembar uang ratusan
“Tidak mau mas.”
“Haah tadi katanya mau ko sekarang tidak mau.”
“Maksudku tak mau Dirga yang membelikannya, anak kita ingin kamu yang membelikannya.”
“Sayang kamu bercanda kan?Aku yang harus membelinya?” Tanya Daniel dengan tertawa sinis
“Aku tak bercanda mas, anak kita ingin daddy nya yang membelikan.”
“Sayang jangan menjadikan mereka alasan untuk membuatku turun membeli jajanan di pinggir jalan seperti ini. Apa jadinya jika ada yang melihat.”
“Jadi kamu nggak mau mas. Kamu tak mau membelikkannya karena malu. Malu memiliki aku dan kedua janin yang ada dalam kandunganku yang ingin memakan makanan pinggir jalan? Maafkan kita mas, kita memang tak pantas berada di hidupmu yang selalu memakan makanan restoran..” Naynia malah menundukkan wajahnya. Wanita hamil yang sensitif diberi respon yang cukup menyinggung hatinya, jelas Naynia merasa rendah diri.
“Terimakasih mas mau menuruti keinginan anak-anakmu.”
Daniel mengecup bibir Naynia sekilas dan keluar dari mobil. Dengan gagahnya Daniel berjalan ke tempat pedagang kaki lima rujak tumbuk berada.
“Dua bungkus ya pa.”
“Pedas atau tidak gan?” Gan yang dimaksud pedagang rujak tumbuk tersebut pelanggan, mengambil kata akhirnya gan
“Pedas jangan ya. Kalau pedas nanti anakku kepedasan lagi, kalau enggak nanti Naynia tak ingin memakannya lagi.” Batin Daniel bimbang
“Satu pedas satu tidak saja pa.”
“Baik gan.”
“Ini sayang.” Daniel memberikan dua bungkusan rujak yang di packing di box plastik bulat setelah selesai membelinya
__ADS_1
“Kenapa dua mas? Apa kamu mau?”
“Tidak semuanya untukmu, jika kamu tak cukup satu bisa dimakan yang satunya lagi.”
“Bedanya apa mas dua bungkusan ini?”
“Yang dirobek pedas yang satunya tidak.”
“Ini untukmu mas, aku lagi tak ingin memakan yang oedas.”
“Ya sudah simpan saja, atau berikan pada Dirga saja. Mas tak suka makanan di ja.., maksudnya tak suka rujak macam itu.” Daniel hampir saja keceplosan tak menyukai jajanan jalanan
“Tapi mas anakmu ingin kamu memakannya juga.”
“Tapi sayang ini pedas aku tak bisa makan pedas.”
“Ya sudah jika kamu tega aku yang memakan yang pedas dan kamu tidak.”
“Hentikan sayang," Daniel menahan tangan Naynia yang akan menyuap rujak pedas ke mulut Naynia. Daniel melahap satu sendok rujak pedas yang ada d tangan Naynia ke mulutnya
Naynia pun memakan rujak yang tak pedas dan Daniel terpaksa melahap rujak pedas dengan cepat agar tak begitu terasa pedasnya. Keringat bercucuran di dahi Daniel dengan menahan rasa pedas yang seakan membakar mulutnya.
Jangankan pedas, hanya sedikit saja Daniel tak tahan apalagi ini beberapa cabai rawit ditambahkan ke rujak yang ditumbuk.
Naynia hanya tersenyum senang melihat sang calon daddy anak-anaknya memakan lahap rujaknya. Naynia tak sadar jika keinginannya secara tak langsung bentuk pembalasan kedua bayi dalam kandungannya yang senang melihat sang calon daddy kesulitan dan menderita. Kedua janin yang masih sebiji kacang itu membalas perbuatan calon daddynya yang pernah menyakiti sang mommynya sebelum Daniel jatuh cinta pada Naynia.
Wekdor, puas Niel, ditunggu permintaan anehnya anak-anakmu Niel 🤣
Maaf miss up satu episode dulu ya
Mau ga kalau besok miss crazy Up???
Mumpung libur kerja yeuh 🤭😀
Kencengin LIKE, VOTE, BUNGA nya dulu atuh 🤗
__ADS_1
Jangan lupa follow instagram miss di @missnayla93