CEO Kejam Penoreh Dan Penyembuh Luka

CEO Kejam Penoreh Dan Penyembuh Luka
85. Daniel Tak Tahu Sandiwara Mariana


__ADS_3

Setelah sungkeman selesai Daniel membantu Naynia bangun dari sungkem terakhirnya kepada sang ayah. Merangkul bahu dan mengusapnya.


“Sudah sayang, tak baik untuk kedua anak kita di kandunganmu jika terus menangis.” Bisik Daniel di telinga Naynia yang masih terisak.


“Iya mas.” Naynia berusaha meredakan isakannya. Kini giliran mereka beristirahat sejenak untuk acara berikutnya yaitu resepsi mewah nanti malam pukul tujuh. Naynia dan Daniel melakukan sesi potret bersama keluarga dan sahabat terdekat mereka. Lalu makan di ruangan VVIP khusus untuk keluarga lalu beristirahat sejenak ke ruang pengantin untuk mengganti pakaian resepsi.


“Ga, masih ada waktu satu setengah jam lagi. Tolong buat mereka keluar dari kamar kami, saya ingin Naynia istirahat dahulu.” Pinta Daniel kepada Dirga


“Baik tuan.”


“Silahkan keluar, kembali lagi empat puluh lima menit lagi.”


“Baik tuan,” semua penata busana dan riasan menjawab kompak Dirga.


“Terimakasih, Ga.” Daniel menggenggam tangan Naynia memasuki kamarnya


Dirga masih melongo di tempatnya karena ucapan terimakasih yang dilontarkan sang tuan yang sangat sangat jarang terdengar.


“Mas tak apa kita beristirahat dahulu?”


“Tak apa sayang, mau membersihkan tubuh dahulu?”


“Iya mas.”


“Biarku siapkan airnya dahulu.”


“Jangan mas, nggak apa aku sendiri saja.”

__ADS_1


“Kita akan mandi bersama sayang.” Titah Daniel tanpa ingin ditolak


“Tapi mas..,”


“Hanya mandi saja sayang. Aku janji.” Daniel tahu maksud Naynia yang takut dirinya kelepasan menyetubuhinya


“Baiklah mas.” Naynia pun mengikuti keinginan Daniel. Mereka hanya mandi bersama saja. Daniel membantu Naynia menggosok punggungnya walau sesekali mengambil kesempatan menyentuh kedua bola sintal Naynia.


“Mas hentikkan.”


“Baiklah, “ terpaksa Daniel menghentikkan sentuhannya


Merekapun mengakhiri ritual mandinya. Keduanya menggunakan pakaian santai rebahan di atas ranjang kings mereka.


“Mas terimakasih banyak kamu menepati janjimu.”


“Iya sayang, kita pun mendapat restu mamah. Apa kamu bahagia?”


“Apakah mamah mengatakan hal berbeda padamu mas? Kamu tak mengetahui jika mamah tak merestui kita dan tak menginginkan kedua malaikat di rahimku.” Hanya bisa Naynia ucapkan dalam hati


“Kedua anak daddy juga pasti bahagiakan kini daddy dan mommy bisa memberikan status untuk kalian? Kalian akan menjadi anak-anak daddy dan mommy yang berlimpah kasih sayang.” Daniel yang merebahkan kepala di paha Naynia mengajak kedua bayinya berkomunikasi


“Iya daddy kami bahagia, terimakasih daddy. Kami sayang daddy.” Naynia merespon ucapan Daniel dengan suara yang menyamai anak kecil


“Aku harap mereka tumbuh dengan baik sayang. Apapun yang kamu inginkan katakan, aku tak ingin mereka tak mendapatkan apa yang diinginkan.”


“Iya mas aku akan mengatakannya. Mas ada yang ingin aku tanyakan.”

__ADS_1


“Tanyakanlah.”


“Apa mamah benar merestui kita?”


“Iya sayang, tak perlu kamu khawatirkan lagi mamah merestui pernikahan kita. Mamah juga pasti senang melihat kedua cucunya yang sedang kamu kandung.”


“Benar mamah mengatakan hal berbeda. Dia tak menginginkan kedua anak yang terlahir dari rahimku mas. Semoga tak ada hal yang menakutkan terjadi pada kami Tuhan. Lindungi kami.” Batin Naynia


“Sayang kenapa melamun?”


“Tidak mas, aku hanya sedikit lelah.”


“Baiklah kita istirahat.” Daniel beralih posisi mendekap Naynia mereka akan beristirahat sejenak sebelum di dandani


“Tapi aku tak bisa tidur mas.”


“Mengapa jantungmu berdetak sangat kencang sayang?” Tanya Daniel yang merasakan degup jantung Naynia yang berdegup kencang


“Aku takut mas.”


“Apa yang kamu takuti?”


“Aku masih takut kamu menjadi bahan pembicaraan orang saat di resepsi malam karena menikahi wanita biasa sepertiku.”


“Sudah ku katakan berulang, tak akan ada yang berani membicarakan kita sayang. Tenanglah tak perlu mengkhawatirkan hal yang tak penting.”


“Iya mas, jangan tinggalkan aku di acara nanti.”

__ADS_1


“Tidak sayang aku akan selalu di sisimu. Releks lah.” Daniel semakin mendekap erat tubuh mungil Naynia mengusap lembut punggung Naynia memberi ketenangan untuk kegelisahannya.


Daniel berpikir hal wajar Naynia gelisah akan kekhawatirannya karena ini pertama kali Daniel akan memperkenalkan Naynia kepada kolega dan media yang lebih banyak dibanding akad. Saat akad hanya ada keluarga dan sahabat saja. Sedangkan kolega bisnis diundang ketika malam resepsi.


__ADS_2