
Naynia terbangun karena merasa tubuhnya remuk, rasa sakit di seluruh tubuhnya mengingatkan ia akan apa yang terjadi semalam. Naynia mengerjapkan mata , tubuhnya dipeluk erat seseorang, pandangan pertama dada bidang putih bidang. Ia dongakkan wajahnya ternyata sang tuan, calon suaminya. Naynia terpaku sejenak, ia ingat sesuatu. “Bukankah ini masa suburku.” Batinnya. Tiba-tiba air mata mentes di pipinya
Naynia melepas dekapan Daniel dan duduk bersandar di kepala ranjang menutup tubuh polosnya dengan selimut menangkup wajah menggunakan kedua tangannya. Tangisnya mulai terisak. Daniel merasa terganggu dengan suara isakan seseorang.
“Sayang kenapa?” Daniel ikut menyandarkan tubuh di samping Naynia memegang kedua bahu Naynia
“Aku takut mas.” Lirih Naynia dengan terisak
“Apa yang kamu takutkan? Kehamilan?” Tanya Daniel memastikkan ketakutan Naynia
Naynia mengangguk. “Saat ini masa suburku bagaimana jika aku hamil?”
“Tak ada yang perlu kamu takuti sayang. Jika calon malaikat kecil kita tumbuh bukankah aku calon suamimu akan segera menikahimu? Sayang kamu tak perlu takut karena aku akan bertanggung jawab. Ada ataupun tiada dia di rahimmu. Kita akan tetap menikah. Itu janjiku. Segera akan aku urus persiapan dokumen dan pesta mewah untukmu.
__ADS_1
“Aku tak ingin ada pesta mas.” Isakan Naynia mulai mereda ia mulai berani menatap mata Daniel
“Kenapa tak ingin ada pesta?”
“Aku tak mau kamu menjadi cibiran orang karena menikahi seorang pelayan sepertiku."
“Tidak sayang, kamu bukan seorang pelayan kamu wanitaku, calon ibu El dan calon ibu dari anak-anakku. Tak akan ada yang berani membicarakan kamu. Akan ku tutup mulut mereka, jika masih berani membicarakanmu matilah mereka. Aku ingin membuat pesta meriah agar seluruh dunia tahu. Dan tak ada yang berani mengusik kita."
“Tidak mas, biarkan dunia tahu perlahan. Aku tak ingin berlebihan.”
Daniel keluar dari selimut yang menutupi keduanya memakai boxer lalu menggendong Naynia yang berbalut selimut menuju kamar mandi.
“Mas turunkan aku bisa sendiri.”
__ADS_1
“Kamu yakin? Pasti masih sakit.” Dan itu membuat Naynia malu pipinya sudah memerah akan ucapan Daniel mengalungkan kedua tangan di leher Daniel
Daniel mendudukan Naynia di kloset tertutup mengisi bathub untuk mandi bersama.
“Ayo,” Daniel mengulurkan tangan
Naynia menggeleng. “Mas duluan saja."
“Tak perlu malu sayang aku sudah melihatnya semua bahkan menyentuhnya.” Daniel membuka selimut membelit tubuh Naynia. Walau sudah melakukannya Naynia tetap malu dilihat tanpa sehelai benagpun
Mereka pun masuk ke bathub bersama dengan posisi Daniel di belakang dan Naynia di depan. Awalnya Daniel hanya menggosok punggung halus Naynia. Lama kelamaan tangannya tak tinggal diam. Pergulatan malampun terjadi kembali kedua kalinya di bathub selama satu jam lamanya.
Jelas hal itu membuat Naynia kelelahan. Bahkan Daniel memakaikan pakaian Naynia yang lemas karena ulahnya. Naynia yang kelelahan memilih tertidur kembali. Sedangkan Daniel berpamitan ingin membuat sarapan yang kesiangan sendiri di dapur hotel tersebut.
__ADS_1
“Mas tinggal sebentar ya.” Mata Naynia yang sudah setengah watt hanya mengangguk. Daniel mencium kening Naynia sebelum keluar dari kamar suitenya membuat sarapan yang kesiangan. Ia ingin memasak makanan sehat oleh tangannya sendiri untuk dirinya, Naynia dan calon bayinya. Entah keyakinan darimana tapi Daniel merasa yakin akan ada malaikat kecil tumbuh di rahim Naynia.