Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Ungkapan cinta Austin


__ADS_3

"Siapa Nduk pulang-pulang kok bawa tamu ?" tanya nenek.


"Saya pac......." Austin belum selesai bicara tapi mulutnya sudah di bekap oleh Nisa.


"Awas jangan macam-macam !!" bisik Nisa pada Austin.


"Dia teman kerjaku Nek namanya Austin, dia di suruh pak Fajar untuk menjemputku kembali ke kota besok." ujar Nisa beralasan.


"Baik ya Nduk boss kamu itu, sampai nyuruh orang buat jemput kamu, jangan-jangan boss kamu itu suka sama kamu ya. Bukannya beliau duda ya Nduk ?"


Mendengar perkataan nenek, Austin langsung menatap tajam Nisa. Nisa yang menyadari hal itu langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


"Nek, Austin bolehkan nginap disini ?" tanya Nisa.


"Boleh, bawa saja dia istirahat di kamarnya adi."


Beberapa saat kemudian terlihat langit sudah mulai gelap, setelah menyelesaikan makan malamnya. Austin pergi tidur di kamarnya Adi sedangkan Nisa tidur bersama neneknya, karena memang rumah mereka cuma ada dua kamar.


Keesokan harinya


Mentari sudah mulai beranjak menampakkan sinarnya, seperti biasa Nisa memulai paginya di dapur membantu neneknya memasak, sedangkan Adi hari minggu ini mengikuti ekstrakulikuler karate di sekolahnya.


tokk


tokk


Nisa mengetuk pintu kamar Adi untuk membangunkan Austin, tapi sama sekali tak ada sahutan dari dalam kamar tersebut. Lalu ia memberanikan diri untuk memasuki kamar adiknya itu.


Di lihatnya Austin masih tidur lelap dengan selimut yang menutupi seluruh badannya, Nisa memandang setiap detil wajah Austin yang terlihat tampan meski dalam keadaan tidur.


"Dia sangat tampan." batin Nisa.


"Sudah puas memandangi kekasihmu yang tampan ini." ujar Austin yang nampak masih memejamkan matanya.


"Apa dia mengigau ?" batin Nisa lagi.


Nisa semakin mendekatkan badannya untuk memastikannya apa benar laki-laki itu sedang mengigau, tapi tak lama kemudian tangannya di tarik oleh Austin dan badannya seketika jatuh kepelukannya.


"Kamu mau menggodaku ya sayang ?" ujar Austin yang masih memeluk Nisa dengan erat.


"Kamu yang pura-pura tidur, ayo lepaskan Austin. Memang kamu tidak mau mandi dan sarapan ?" tanya Nisa sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu.


cup


cup


Austin mengecup bibir Nisa berulang kali, tanpa dia sadari ada sesuatu yang menegang dibawah sana.


"Shit." batin Austin, ia langsung melepaskan Nisa dari pelukannya.


Nisa yang merasa terbebas langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.


"Cepat mandi kita sarapan bersama !!" ujar Nisa sebelum menutup pintu.


Hari sudah mulai sore, Nisa sudah selesai bersiap-siap untuk kembali ke kota bersama Austin, setelah mereka berpamitan pada Nenek dan Adi.

__ADS_1


Austin segera melajukan mobilnya menuju kota, meninggalkan sebuah desa dengan pemandangan yang indah. Suatu saat nanti mungkin dia akan merindukan tempat ini, tempat di mana pujaan hatinya mau menerima cintanya.


☆☆


Setelah sebulan berlalu hubungan Nisa dan Austin semakin hangat, Austin masih berpura-pura menjadi karyawan biasa. Kalau tidak ada kesibukan di kantornya, ia selalu menyempatkan datang ke Cafe dimana Nisa bekerja atau menjemput dia pulang kerja.


Melihat kedekatan Nisa dan Austin yang tidak wajar, Fajar mulai curiga bahwa diantara mereka pasti ada suatu hubungan yang wanita itu tutupi darinya, tetapi setiap Fajar bertanya Nisa selalu mengelak bahwa hubungannya dengan Austin hanya sebatas teman biasa.


Siang ini Fajar mengajak Nisa berbelanja keperluan Cafe di supermarket biasa mereka datangi.



Setelah selesai berbelanja, Fajar langsung melajukan mobilnya menuju Cafe. Ditengah perjalanan ia nampak berdehem memecahkan keheningan, karena sedari tadi di lihatnya Nisa diam membisu.


"Mas Fajar batuk ?" tanya Nisa khawatir.


"Dari tadi saya perhatikan kamu melamun Nis."


"Nggak mas, cuma capek saja."


"Nis ada yang mau Mas omongin." ujar Fajar sambil menepikan mobilnya.


"Kamu sebenarnya ada hubungan apa sama laki-laki itu Nis ?"


"Siapa Mas, Austin ? kami cuma teman biasa Mas." ujar Nisa beralasan.


"Apa Mas boleh, suka sama kamu ?" ujar Fajar to the point.


"Maksud Mas ?" tanya Nisa tidak mengerti.


"Sebenarnya Mas sudah lama suka sama kamu Nis, tapi Mas ragu mau mengungkapkannya. Lagipula Mas juga sadar diri, Mas ini pria dewasa yang mungkin lebih cocok menjadi ayah kamu."


"Jadi gimana dengan perasaanmu sendiri Nis ?"


"Maaf Mas sebelumnya, Nisa sayang sama Mas seperti Nisa menyayangi kakak Nisa sendiri." jawab Nisa jujur.


Mendengar jawaban Nisa, ada perasaan nyeri di hatinya meskipun sebelumnya ia sudah menyiapkan mentalnya. Kemudian Ia mulai melajukan kendaraannya lagi.


"Maafin Nisa ya Mas ?" pinta Nisa dengan perasaan menyesal.


"Nggak apa-apa Nis, jangan merasa tidak enak. Anggap saja saya sebagai kakak mu." ujar Fajar dengan perasaan getir.


"Kalau kamu butuh bantuan katakan saja jangan sungkan, anggap saja kita keluarga. Karena saya juga perantau sama seperti kamu." ucapnya lagi.


"Mas Fajar tidak punya saudara ?"


"Saya punya satu adik, dia tinggal di kampung halaman kami di Malaysia."


"Orang tua kami sudah meninggal beberapa tahun lalu, Mas di Indonesia karena Almarhum istrinya Mas asli orang sini." ujar Fajar menjelaskan kisah hidupnya pada Nisa.


Tak terasa setelah lama mengobrol, akhirnya mereka sampai di Cafe. Nisa langsung keluar dari mobil tersebut dan menenteng beberapa kantong belanjaan dan segera membawanya masuk ke dalam.


Hari sudah menjelang sore, Nisa bersiap siap untuk pulang, Austin juga sudah menunggunya di parkiran.


"Sayang." panggil Austin sambil bersandar di bahu mobilnya, dengan kaca mata rayban yang bertengger di hidung mancungnya membuat dia semakin tampan.

__ADS_1


"Maaf ya sudah membuatmu menunggu ?" Nisa menghampiri Austin.


"Nggak apa-apa sayang." ujar Austin, lalu ia membukakan pintu agar gadisnya itu masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam perjalanan Austin nampak diam membisu, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia sama sekali tak menghiraukan keberadaan Nisa di sampingnya.


"Austin kamu marah ?"


"Nggak."


"Kenapa diam saja dari tadi ?"


"Hari ini kemana aja ?" tanya Austin menyelidik.


"Pergi belanja dengan Mas Fajar."


"Itu aja ?"


"Apa tadi dia ngikutin aku." Batin Nisa.


"Hhm, ta-tadi Mas Fajar mengutarakan perasaannya padaku." sahut Nisa gugup.


"Terus ?"


"Aku tidak menerimanya, sekama ini aku sudah menganggapnya seperti kakak sendiri."


"Apa dia tahu hubungan kita ?"


"Tidak."


"Kenapa ?"


"Dia selalu menganggap kamu bukan orang baik."


"Apa kamu juga menganggap aku seperti itu ?"


"Se-sedikit ?" jawab Nisa gugup.


"Kenapa ?"


Nisa diam sebentar kemudian dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan kemudian ia melanjutkan lagi perkataannya. Sebenarnya Nisa selama ini menyimpan sedikit keraguan pada Austin, dan mungkin saat ini waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


"Kamu sedikit misterius buat aku."


"Kenapa ?" tanya Austin bingung.


"Kita sudah berapa bulan berhubungan, tapi sedikitpun aku tak tahu kamu. Siapa kamu, di mana rumah kamu bahkan kantor tempat kamu bekerja pun aku tidak tahu ?"


Austin tampak kaget dengan perkataan Nisa. Kemudian ia menarik tangan wanita di sampingnya itu, ia menggenggamnya dan menciumnya berulang kali.


"Austin lepaskan tanganku, aku belum mau mati." sergah Nisa karena melihat Austin hanya memegang kemudi dengan satu tangannya.


Austin terkekeh melihat Nisa yang menurut dia sangat menggemaskan, tak terasa Austin sudah melewati jauh gang rumah Nisa.


"Austin itu gang rumahku sudah lewat ?"

__ADS_1


"Katanya kamu mau tahu dimana aku tinggal ?" tanya balik Austin.


"Boleh ?"


__ADS_2