
"Bajuku kenapa bisa ini, di mana bajuku." teriak Nisa ketika melihat baju yang ia pakai, bukannya pakaian kantornya yang ia kenakan melainkan kemeja milik Austin.
"Bajumu basah sayang jadi aku buang, memang aku tega membiarkan kamu semalaman basah kuyup." tutur Austin
"Itu baju mahal Austin, kenapa kamu buang ?" teriak Nisa lagi.
"Astaga, ini masih pagi sayang. Kamu bisa tidak kalau tidak berteriak, ternyata waktu lima tahun tidak membuatmu berubah masih saja bar-bar seperti dulu." ujar Austin gemas
Nisa hanya mencebik kesal. "Iya nanti aku ganti baju mahal kamu itu, kalau bisa sama tokonya aku beli, bahkan mallnya aku beli sekalian." sahut Austin lagi.
"Kamu juga tidak pernah berubah, masih saja sombong dan songong." ledek Nisa.
"Ngomong-Ngomong siapa yang mengganti bajuku ? teriak Nisa lagi.
"Tentu saja aku, memang ada orang lain di sini." tutur Austin dengan senyum lebar.
"Apaaaaaa." Nisa berteriak kencang lalu menutup seluruh tubuh hingga kepalanya menggunakan selimut, wajahnya terlihat merah merona karena malu.
"Hei kenapa malu, sebelumnya aku juga sudah pernah melihat semuanya kan." ujar Austin, ia berusaha membuka selimut dari badan Nisa.
"Sayang, lihat aku !!" ujar Austin lagi, ketika ia sudah menyingkirkan selimutnya.
Nisa yang tadinya menunduk karena terlalu malu, kini ia menatap mata Austin.
DEG
Jantungnya berdebar dengan kencang seperti mau melompat keluar, hatinya terasa bergetar seperti dulu.
"Aku minta maaf." ucap Austin, ia tampak menyesal matanya masih menatap Nisa dengan intens.
"Untuk apa semua sudah terjadi." Nisa memalingkan wajahnya ke sembarangan arah.
Austin memegang dagu Nisa agar Nisa menatapnya lagi. "Sampai saat ini cintaku tidak pernah berkurang, aku masih sangat mencintaimu seperti dulu."
Nisa menatap mata Austin mencari kebohongan disana, tapi hanya ketulusan yang dia lihat.
"Kamu tahu, waktu itu aku menunggumu sampai malam. Aku percaya kamu pasti akan datang, hingga tengah malam aku masih menunggu sendirian di rumah sakit itu, tapi kamu tidak pernah datang." Ucap Nisa dengan isak tangisnya.
Austin merengkuh tubuh wanitanya itu dan memeluknya dengan erat. "Maaf, maafkan aku. Mulai sekarang kamu tidak akan pernah menunggu lagi, kita akan selalu bersama-sama."
"tapi kamu sudah menikah." ucap Nisa getir.
__ADS_1
Austin melepaskan pelukannya, ia agak menjauhkan tubuh Nisa agar bisa menatap wajahnya. "Aku akan menceraikan Felicya." ucap Austin dengan tegas.
"Apa aku akan menjadi the next pelakor, dan emak-emak se indonesia raya akan membully ku. Karena telah merebutmu dari Felicya seorang model terkenal dengan berjuta follower." cebik Nisa, lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan dia dihujat oleh para netizen.
"Astaga sayang, ini akibatnya kamu terlalu kepo dengan Lambe Turah." Austin menyentil pelan dahi Nisa.
"Kamu tidak pernah merebut ku dari siapa pun, dari dulu aku adalah milikmu." ujarnya lagi.
"Lalu orang tua mu ?" Nisa tampak murung ketika menyebut orang tua Austin.
Dari dulu, Nisa selalu menasehati Austin agar tidak pernah membantah orang tuanya. Karena dari kecil ia sudah ditinggal oleh orang tuanya, maka dia tidak ingin melihat orang lain merasakan apa yang dia rasakan.
"Aku tidak peduli, aku sudah berkorban selama lima tahun. Sekarang aku mau mengejar kebahagiaanku sendiri." ujar Austin, nampak ada kilatan marah di matanya.
"Kalau mereka mengusirmu ?" Nisa tampak cemas.
"Aku juga tidak peduli sayang, aku sekarang bisa berdiri sendiri tanpa mereka. Kamu tahu selama lima tahun di Jerman aku membangun perusahaan ku sendiri, jadi bagaimana kalau kita bertiga pindah ke sana."
"Kita bertiga ?" tanya Nisa tidak mengerti
"Tentu saja bertiga dengan anak kita."
"Kamu sudah mengetahuinya ?"
"Kamu pernah bertemu dengannya ?" Nisa tampak kaget.
"Pernah sekali, penghianat itu yang membawanya. Kamu tahu pertemuan pertama kami. Bocah itu terlihat tengil dan sombong sekali." Austin tersenyum mengingat pertemuannya dengan King beberapa bulan yang lalu.
"Hey dia itu anakmu, sifatnya menurun dari kamu tahu." cebik Nisa
"Tidak hanya sifatnya, ketampanannya juga menurun dariku." ucap Austin dengan sombong.
"Kepedean." sahut Nisa lalu ia turun dari ranjang.
"Mau kemana sayang ?" Austin menarik tangan Nisa dan menjatuhkannya lagi ke atas ranjang.
"Astaga, aku mau mandi memang kamu tidak ke kantor. Bukannya pagi ini ada meeting."
"Aku tidak mau ke kantor, sudah ada Wira di sana."
"tapi aku mau bangun Austin."
__ADS_1
Austin menahan badan Nisa yang beranjak bangun, dia langsung mencium bibir mungil itu dengan ciuman lembut.
Dengan ragu-ragu Nisa memegang tengkuk Austin dengan kedua tangannya dan membalas ciuman itu. Lidah mereka saling bertautan menyusuri rongga mulut untuk mencari kenikmatan di sana.
Tak terasa pakaian yang mereka pakai sudah berserakan di lantai, hingga kini mereka tampak polos dan penyatuan pun kembali terjadi, tapi kali ini tanpa ada paksaan seperti lima tahun yang lalu atau seperti di kantor waktu itu. Kini mereka melakukannya dengan sadar dan perasaan cinta yang menggebu.
Mendengar desahan yang lolos dari bibir Nisa, Austin merasa gila ia ingin segera menuntaskannya.
"Terima kasih sayang." ucapnya ketika ia usai dengan pelepasannya dan memeluk gadisnya itu dengan erat.
Lama mereka berpelukan meluapkan hasrat dan rindu selama bertahun-tahun lamanya.
"Apa kamu sering melakukan dengan istrimu ?" tanya Nisa ketika Austin melepaskan pelukannya dan menarik kepala Nisa ke dada bidangnya.
Bibir Nisa terasa keluh ketika mengatakannya, ia benar-benar merasa seperti pelakor yang habis bercinta dengan suami orang.
"Aku tidak pernah menyentuhnya sayang."
"Bohong." cebik Nisa.
"Astaga, aku tidak berbohong. Felicya sudah seperti adik kandung ku sendiri, dari orok kita tumbuh bersama. Mana mungkin aku bercinta dengan adik sendiri, lagian milikku ini tidak akan bereaksi dengannya."
"tapi tadi kenapa bisa berdiri tegak." sahut Nisa ngasal.
"Karena ketemu soulmate nya makanya bereaksi, atau mau mencoba lagi ?" goda Austin.
"No, aku tidak akan melakukannya lagi sebelum kita menikah." teriak Nisa lalu, ia berlari ke kamar mandi.
Austin tertawa gemas melihat gadisnya itu, semangat hidupnya kembali lagi, nampak kebahagiaan menyelimuti wajahnya.
"Austin mana bajuku ?" tanya Nisa ketika ia baru keluar dari kamar mandi.
Austin tampak menelan salivanya ketika melihat pemandangan di depannya itu.
"Pakai ini saja sayang." Austin menyerahkan sebuah kemeja dan boxer pendek miliknya, setelah itu ia pergi mandi.
Setelah berganti pakaian Nisa duduk di sofa yang berada di ruang tamu. "Aku bisa sendiri Austin." tolak Nisa ketika Austin menyuapinya makan.
"Biarkan aku yang melakukannya sayang."
Beberapa saat kemudian terdengar seseorang memencet kode pin apartemen dan tak menunggu lama pintu Apartemen itu terbuka.
__ADS_1
"Sayang Nama datang." ujar nyonya Celine yang di ikuti oleh tuan Michael dan Felicya di belakangnya.