
tokk
tokk
Terdengar pintu di ketuk dari luar, sedangkan sang pemilik kamar masih terlelap tidur. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
tokk
tokk
Pintu di ketuk kembali, kali ini dengan sedikit keras agar penghuni kamar tersebut segera membukanya.
Austin tampak mengerjapkan matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih melanda, sedangkan istrinya itu masih terlelap tidur disampingnya.
Kemudian ia beranjak dari tidurnya dan segera melihat siapa yang berani menggedor - gedor pintu kamarnya.
"Maaf tuan mengganggu, satu jam lagi anda ada meeting dengan tuan Antony lagi untuk pembahasan proyek di Singapore." Ujar Wira ia menatap bossnya itu hanya memakai celana boxer dan rambut masih berantakan.
"Baiklah, kamu tunggu di bawah !"
"Baik tuan." sahut Wira lalu ia pergi dari sana.
Kemudian Austin masuk kedalam kamarnya lagi dan merebahkan badannya disamping istrinya. Ia tampak tersenyum kecil ketika mengingat kejadian dini hari tadi, ia mengerjai istrinya habis - habisan hingga jam tujuh pagi mereka baru terlelap.
"Sayang." Austin mengguncang pelan tubuh istrinya.
Bukannya bangun, Nisa justru mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya itu lalu ia terlelap lagi.
Karena tidak ada respon dari istrinya, lalu ia beranjak ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian ia sudah siap dengan pakaian kerjanya. "Sayang kamu tidak bangun ?" Austin mengguncang tubuh istrinya lagi.
"Masih pagi Austin, aku ngantuk." Nisa masih menutup matanya.
"Ini sudah mau jam sebelas sayang."
"Apa, kenapa kamu tidak membangunkanku dari tadi. Aku mau menjemput Nindy di bandara." Nisa langsung beranjak dari tidurnya dengan selimut yang masih melilit di badannya.
"Biar Wira yang jemput sayang, nanti sekalian dia yang mengantar ke Apartemennya." ujar Austin melihat istrinya itu kemudian ia berbalik lagi menatap kaca untuk merapikan rambutnya.
"Baiklah kalau begitu." Nisa kembali lagi tidur di kasur empuknya.
"Loh kok tidur lagi sayang." Austin melihat istrinya itu dari pantulan kaca.
__ADS_1
"Aku capek Austin, kamu semalam menguras habis tenagaku." Ujar Nisa masih dengan mata terpejam.
"Baiklah aku pergi ke kantor dulu ya, nanti biar bibik yang membawa makanan mu kesini." Austin mengecup bibir istrinya, kemudian ia berlalu pergi.
Jam satu siang Nisa baru keluar dari kamarnya, lalu ia ikut bergabung dengan ibu mertuanya yang sudah berada di meja makan.
"Kamu sakit Nak ?" Nyonya Celine menatap Nisa yang baru duduk di kursi.
"Enggak Ma, semalam tidak bisa tidur."
Ibu mertuanya itu tersenyum kecil melihat Nisa, ia bisa menebak apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya itu semalam.
"Sayang, anak Mami sudah makan belum ?" Nisa mengambil Aline dari pengasuhnya dan menciumnya dengan gemas.
Bocah yang hampir berumur satu tahun itu terlihat sangat menggemaskan, bagaimana tidak pipinya begitu tembem seperti bakpau.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Nisa mengajak anaknya itu untuk bermain di kamarnya. Selagi tuan Michael bermain golf dengan teman temannya, karena biasanya ayah mertuanya itu yang selalu mendominasi Aline.
Ketika sedang asyik bermain dengan anaknya, Nisa di kagetkan oleh suaminya yang tiba - tiba memeluknya dari belakang. "Austin kok sudah pulang ?"
"Kamu tidak suka suamimu pulang cepat. Hmmm ?" ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Tadi habis meeting langsung pulang." Austin membalikkan badan istrinya itu agar bisa menatapnya.
"Kamu sakit ?" Nisa memegang dahi suaminya, khawatir kalau laki - laki di depannya itu sedang sakit karena semalam tidak tidur.
"Suamimu ini sangat sehat sayang, bahkan memakanmu sekarang saja masih mampu." Austin semakin mendekatkan wajahnya.
"Jangan disini." Nisa menjauhkan wajah suaminya itu dengan tangannya dan memberi isyarat kalau pengasuh anaknya itu juga sedang berada di ruangan tersebut.
Setelah bermain sebentar dengan anaknya, kemudian Austin mengajak istrinya keluar dari kamar tersebut.
"Apa kamu mau ku temani jalan - jalan ?" tanya Austin sambil berjalan meninggalkan kamar tersebut.
"Kemana ?" seketika Nisa berhenti karena tidak biasanya suaminya mengajaknya pergi jalan apa lagi di siang hari.
"Terserah, ke Mall misalnya."
"Apa aku boleh main ke Apartemennya Nindy ?" Nisa tampak memohon, ia menatap manik suaminya itu.
"Sayang asistenmu itu baru datang, dia pasti capek. Besokkan weekend kalian bisa ngobrol sepuasnya."
__ADS_1
"Baiklah." Nisa tampak sedih.
"Bagaimana kalau kita ke Mall, kamu bisa shopping disana ?"
"Aku mau tapi ada syaratnya." Nisa tampak tersenyum pada suaminya.
"Ck, mau jalan sama suami sendiri saja pakai syarat." Austin berdecak kesal.
"Aku mau kesana, tapi jangan kamu tutup tempatnya. Setiap kali kita kesana, selalu saja kamu tutup tempat itu untuk pengunjung lain."
"Tapi aku menginginkan sebuah privasi sayang, lagi pula itu Mall punyaku jadi suka - suka aku donk."
"Austin, melihat lalu lalang orang di dalam Mall itu sangat menyenangkan." ujar Nisa tampak senang.
"Tapi aku tidak suka keramaian sayang." Austin mencoba membujuk istrinya agar membatalkan idenya.
"Kamu tahu, dulu bisa pergi ke Mall bagi orang miskin sepertiku itu suatu hal yang mewah. Meski kita tidak membeli apa - apa, hanya bisa melihat barang - barang yang tidak mungkin bisa kita beli itu sudah sangat menyenangkan. Biasanya kita menyebutnya itu sebagai cuci mata, karena selain itu kita juga bisa melihat cowok - cowok cakep disana." Nisa menceritakan kebiasaannya dulu.
"Jadi kamu ke tempat itu hanya ingin melihat laki - laki lain ?" Austin mendengus kesal pada istrinya.
"Ya ampun sensitif betul nih laki." gumam Nisa.
"Astaga Austin, itu dulu sebelum bertemu denganmu. Kalau sekarang sudah ada yang lebih cakep didepan mata kenapa harus melihat yang lain." Nisa mencoba merayu dengan menangkup kedua pipi suaminya.
"Kamu mau menggodaku. Hmmm ?" Austin menatap tajam istrinya itu.
"Tidak, ayo sudah katanya mau jalan." Nisa segera menarik tangan suaminya untuk bersiap - siap kalau tidak sesuatu hal yang ia khawatirkan akan terjadi.
"Iya sayang iya, tapi awas saja melirik pria lain." ujar Austin penuh ancaman.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam mobilnya. Kali ini Austin mengendarai mobilnya sendiri bersama Nisa yang sudah duduk disampingnya dengan memangku si kecil Aline.
Sore itu Mall tampak di penuhi oleh pengunjung, ini kali pertama Austin mengunjungi tempat itu sebagai orang biasa bukan sebagai pemilik Mall tersebut. Biasanya sebelum ke tempat itu ia selalu menutup akses tempat itu untuk pengunjung lain, tapi kali ini demi istrinya ia rela berbaur dengan pengunjung di Mall tersebut.
Tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah toko pakaian anak. Ketika mereka melangkahkan kakinya menuju toko tersebut, Nisa tampak kaget dengan apa yang dia lihat.
"Austin apa benar itu mereka ?" Nisa terlihat mengucek matanya untuk meyakinkan penglihatannya.
"Apa sih sayang."
"Itu !" Nisa menunjuk ke arah baby shop dimana ada Wira dan Nindy yang tampak mesra dengan bergandengan tangan.
__ADS_1