
Nisa yang sudah melangkahkan kakinya untuk pergi, seketika ia berhenti dan berbalik badan menatap Ronald.
" Aku sudah menikah Ron, tolong lupakan aku."
" Apa kamu yakin tuan Austin Gunawan seorang pria yang setia ?"
" Maksudnya ?" Nisa tampak tidak mengerti.
" Seorang pria kaya raya seperti dia, apa bisa bertahan dengan satu wanita."
" Aku lebih mengenal suamiku Ron. Kalau kamu tidak mau makan, pergilah dari sini !" ucap Nisa lagi kemudian berlalu meninggalkan Ronald yang masih berdiri mematung.
Ronald tampak sangat kecewa, dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Nisa berlalu pergi keruangannya di lantai dua, perkataan Ronald masih terngiang ngiang di kepalanya.
Tetapi ia segera membuang jauh - jauh pikiran itu, ia ingin sepenuhnya mempercayai laki - laki yang telah menjadi suaminya. Tidak mungkin Austin akan menghianatinya, setelah berbagai masalah yang telah mereka lalui.
ceklekk
Terdengar suara pintu dibuka. " Sayang." tampak Austin melangkahkan kakinya mendekati istrinya itu yang sedang menatap jalanan dari balik jendela.
" Kenapa disini, apa pria itu menyakitimu ?"
Nisa mengernyitkan dahinya apa suaminya tahu kalau Ronald tadi menemuinya, padahal tidak ada pengawal disana.
" Siapa ?" tanya Nisa.
" Pria itu, siapa lagi." sahut Austin kali ini suaranya agak meninggi.
" Darimana kamu tahu, kalau Ronald kesini ?"
" Aku tidak suka kamu menemuinya, dia bukan orang yang baik." sentak Austin dengan meninggikan suaranya.
" Aku tidak menemuinya Austin, dia yang tiba - tiba datang." elak Nisa ia sedikit emosi karena merasa dibentak.
" Lagipula darimana kamu tahu dia bukan orang baik." ujar Nisa lagi.
" Aku bilang dia tidak baik, ya tidak baik. Apa susahnya menuruti perkataanku." bentak Austin ia mulai tersulut amarahnya.
Nisa tampak tersentak. Sejak beberapa bulan menikah, ia baru melihat kemarahan suaminya itu tanpa alasan yang jelas.
" Sayang." Austin menarik tangan istrinya, kemudian ia membawa kepelukannya. " maaf." ucapnya.
" Aku tidak suka kamu membentakku." bulir air mata yang sedari tadi ia tahan kini jatuh membasahi pipinya, hatinya selalu lemah jika berhadapan dengan laki - laki itu.
" Maafkan aku. Aku hanya tidak mau, kamu dekat dengan pria lain." Austin melepaskan pelukannya, ia menjauhkan sedikit tubuh istrinya agar bisa melihat wajahnya.
Nisa hanya diam menatapnya. Banyak pertanyaan dalam benaknya, tapi ia tak berani tanyakan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Austin, tidak mungkin suaminya itu membentaknya hanya karena ia bertemu dengan Ronald.
☆☆
Keesokan harinya
" Sayang, kamu kenapa ?" tanya Nisa ketika melihat Austin keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.
__ADS_1
" Enggak tahu sayang, sepertinya aku masuk angin."
" Apa perlu aku panggil dokter ?"
Tampak Nisa memegang kening Austin. " Tidak demam, apa mau ku kerok ?"
" Kerok ?"
" Tentu saja, dulu setiap aku masuk angin nenek selalu mengerokku."
" Tidak perlu sayang, sepertinya aku hanya butuh istirahat."
" Baiklah, akan ku buatkan bubur untukmu." ujar Nisa, kemudian ia berlalu pergi ke dapur yang berada di lantai bawah.
" Sayang, Austin mana ?" tanya nyonya Celine ketika sedang duduk di meja makan.
" Sepertinya Austin sakit ma, mama sarapan saja duluan sama papa." ujar Nisa kemudian ia menghampiri anaknya yang juga duduk disana.
" Sayang berangkat sekolahnya diantar pak sopir saja ya."
" Ya mi." sahut King.
" Biar opa saja yang antar." ucap tuan Michael.
" Terima kasih pa." sahut Nisa kemudian ia berlalu ke dapur.
Beberapa saat kemudian, Nisa masuk kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan beberapa makanan.
Tampak Austin sedang duduk di sofa dengan wajah pucatnya, sepertinya ia baru saja keluar dari toilet karena muntah muntah lagi.
" Enggak usah sayang, aku bisa makan sendiri." sahut Austin ia mengambil semangkok bubur buatan istrinya itu.
Sedangkan Nisa nampak makan dengan lahap. Ia makan dua potong sandwich sekaligus, semangkok bubur dan segelas jus.
Austin yang melihat istrinya makan tampak bergidik. " Sayang, kamu kelaparan ?"
" Kenapa ?" tanya Nisa dengan mulut penuh dengan potongan sandwich.
" Tidak biasanya kamu makan banyak dipagi hari."
" Tadi ada sisa sarapan di bawah, sayang kalau tidak dihabiskan. Aku tadi juga buat bubur kebanyakan." ucap Nisa sambil nyengir.
" Astaga sayang, kalau kamu tidak kuat menghabiskan semua ya jangan dipaksa."
" Enggak apa, aku kuat." sahut Nisa, ia merasa beberapa hari ini memang sering sekali lapar.
tokk
tokk
Terdengar suara pintu di ketuk, Nisa segera beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.
" Selamat pagi nona." sapa Wira ketika melihat Nisa membuka pintu.
" Tuan Wira." entah kenapa ketika melihat Wira, Nisa langsung merasa senang.
__ADS_1
" Tuan ini berkas yang anda minta." Wira masuk kedalam dan menyerahkan setumpuk dokumen pada Austin.
" Sayang mumpung ada tuan Wira apa boleh aku minta tolong." rengek Nisa pada suaminya.
" Apa ?"
" Aku ingin kerupuk makaroni rasa balado."
" Astaga sayang itu makanan tidak sehat, lagipula sejak kapan kamu makan makanan seperti itu."
" Kemarin karyawanku di Cafe bawa itu dan rasanya enak sekali." Nisa menceritakannya dengan mata berbinar binar.
" Baiklah, tapi jangan banyak - banyak."
" Yes." teriak Nisa girang seperti anak kecil yang mendapatkan makanan kesukaan.
" Pergilah Wir, setelah itu aku tunggu di ruang kerjaku." perintah Austin.
" Sayang kamu kan lagi sakit kenapa kerja."
" Aku sudah minum obat, lagipula cuma sebentar mau bahas proyek dengan Wira."
" Baiklah."
Beberapa saat kemudian Wira membawa sekantung kerupuk makaroni rasa balado pesanan Nisa, lalu Nisa bergegas turun dan menghampiri nyonya Celine yang sedang menonton televisi.
" Mama mau ?" tanya Nisa ia menyerahkan sebungkus kerupuk makaroni yang sudah ia buka.
" Sayang itu makanan tidak sehat, kenapa kamu memakannya ?"
" Nisa kepingin ma."
" Baiklah tapi jangan banyak - banyak."
Nisa memakannya sambil menonton televisi, tak terasa sebungkus besar makaroni itu sudah ia habiskan.
Nyonya Celine yang melihatnya tampak memicingkan matanya, "Sayang, kamu kapan terakhir haid ?"
Nisa tampak kaget dengan pertanyaan mertuanya itu, " Haid Nisa sering tidak teratur ma."
" Mama lihatin kamu agak gemukan, jangan - jangan kamu hamil."
" Enggak mungkin ma, dulu waktu hamil King. Nisa merasa mual - mual terus."
Ketika mendengar Nisa bercerita, Nyonya Celine tampak iba. Ia membayangkan bagaimana dulu menantunya itu melalui masa kehamilannya tanpa ada suami disisihnya.
" Mungkin akhir - akhir ini Nisa lagi senang saja ma, Austin selalu manjain Nisa." ucap Nisa tampak bahagia.
Nyonya Celine tersenyum manis pada menantunya itu, "Kamu yang sabar ya nak, menghadapi sikap Austin. Kadang dia suka posesif dengan apa yang dia suka."
" Benarkah ma ?"
" Iya, dia lakukan itu karena ia tidak suka kalau miliknya diambil sama orang lain."
Nisa tampak mengingat kejadian di cafe kemarin. Austin membentaknya hanya karena Ronald menemuinya, ia juga berpikir dulu Austin pernah memperkosanya dua kali. Apa itu juga dari sikap posesifnya, memikirkan itu ia merasa sedikit takut.
__ADS_1