
Sudah beberapa hari ini Austin masih belum tampak sehat, setiap pagi ia selalu mual - mual dan berlangsung hingga malam hari. Sehingga semua pekerjaan kantornya ia serahkan pada Wira.
Begitu juga dengan Nisa ia tidak bisa datang ke Cafenya, karena harus mengurus suaminya seharian di rumah.
Malam itu setelah menghabiskan makan malamnya, Nisa dan Austin bersiap siap untuk istirahat.
tokk
tokk
Terdengar suara pintu diketuk, Nisa segera membukanya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya malam - malam begini.
" Yes ada senopati datang." gumam Nisa tampak senang ketika melihat Wira.
" Tuan Wira." sapa Nisa dengan girang.
" Selamat malam nona, saya membawa dokter untuk memeriksa tuan Austin." Wira tampak mengernyitkan dahinya ketika melihat istri dari bossnya itu tersenyum sangat manis padanya.
" Baiklah, mari silahkan masuk."
Wira membawa dokter yang bernama Gerry itu masuk untuk melihat keadaan Austin, diikuti juga oleh nyonya Celine dan tuan Michael dibelakangnya.
" Hai bro, bisa sakit juga loe ?" sapa Gerry.
" Loe pikir gue robot." sela Austin.
" Biasanya penyakit lihat loe langsung kabur." Gerry tampak terkekeh.
Kemudian dokter gerry langsung memeriksa keadaan Austin yang tampak sangat pucat dan lemah. " Sepertinya cuma asam lambung loe saja yang naik." ujar Gerry.
" Tapi Austin tidak ada riwayat penyakit asam lambung Ger." Kali ini nyonya Celine yang menimpali, beliau terlihat sangat cemas.
" Baiklah tuan Wira ini saya buatkan resep obatnya." setelah menulis beberapa resep Gerry menyerahkan pada Wira.
" Baiklah dok, segera akan saya tebus resepnya." ujar Wira kemudian berlalu pergi.
" Tuan Wira." teriak Nisa dengan nyaring.
Kemudian semua orang yang ada di kamar itu langsung melihat kearahnya.
" Tuan Wira, saya bisa nitip nasi goreng." ujar Nisa ketika Wira menatapnya.
" Astaga sayang, ini sudah malam lagipula sejak kapan kamu makan makanan seperti itu." protes Austin dari tempat tidurnya, karena baru satu jam yang lalu istrinya itu baru selesai makan malam.
" Aku ingin makan nasi goreng Austin. Kamu ingat kan dulu, sewaktu aku masih ngekost sering sekali memakannya." ujar Nisa dengan mata berkaca kaca.
Dokter Gerry yang melihat perdebatan suami istri itu tampak mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Tuan Wira, sepertinya saya harus menambahkan satu resep lagi." ujar Gerry.
" Apa penyakit Austin berbahaya Ger." Kali ini tuan Michael yang menimpali dengan raut wajah sedikit khawatir.
" Tidak om, ini resep untuk nona Nisa." tampak Gerry menyerahkan satu lembar resep lagi pada Wira.
" Kenapa dengan istriku bro." sela Austin.
" Sebentar nona, saya mau periksa anda sebentar." ujar Gerry.
" Saya baik - baik saja tuan Gerry." ujar Nisa merasa tidak terima dibilang sakit.
" Tolong nona, sebentar saja." pinta Gerry.
Mau tidak mau Nisa berbaring disamping suaminya itu, agar dokter Gerry bisa memeriksanya.
" Dok bukannya ini test pack ?" tanya nyonya Celine ketika melihat lembaran resep yang dipegang oleh Wira.
" Benar nyonya, setelah saya memeriksanya. Sepertinya nona muda sedang hamil, tetapi untuk memastikan sementara waktu bisa menggunakan test pack dulu. Kalau hasilnya positif bisa langsung ke dokter ginekologi untuk pemeriksaan selanjutnya." tampak dokter Gerry menjelaskan dengan detail.
Semua orang yang berada disana tampak terkejut, terutama Nisa. Ia tidak pernah mengalami tanda - tanda kehamilan, seperti kehamilan sebelumnya yang selalu merasa mual - mual bahkan ia sekarang tampak sangat sehat.
" Jadi istriku hamil bro ?" tanya Austin dengan wajah berbinar.
" Gue rasa seperti itu, tapi lebih baik pengecekan menggunakan test pack dilakukan pagi hari supaya hasilnya lebih akurat." ujar Gerry.
" Tapi aku bolehkan makan nasi goreng ?" Nisa tampak mengiba pada suaminya.
" Baiklah sayang, untuk kali ini saja aku ijinin." ucap Austin.
" Yes." teriak Nisa seperti anak kecil yang mendapatkan makanan kesukaannya.
Nyonya Celine dan tuan Michael tampak menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah menantunya itu.
" Sepertinya yang dialami oleh Austin adalah gejala sindrom kehamilan simpatik." dokter Gerry menjelaskan.
" Maksudnya apa bro, yang hamilkan istri gue kenapa gue yang begini ?"
" Memang ada beberapa kasus seperti itu, ketika seorang wanita hamil bisa jadi suaminya bahkan teman terdekatnya bisa merasakan sindrom kehamilan simpatik. Itu dikarenakan ada hubungan ikatan batin yang kuat dari kedua belah pihak." ujar dokter Gerry.
" Berapa lama biasanya bro ?" Austin tampak penasaran.
" Biasanya sampai trisemester pertama, bisa juga sebelum itu sudah tidak merasakannya lagi."
" Kehamilan saya pertama dulu sampai sembilan bulan dok, selalu mual dan muntah." celetuk Nisa.
" Itu biasanya gejala preeklamsia nona. Karena tekanan darah terlalu tinggi, penyebabnya bisa karena makanan atau depresi berat."
__ADS_1
Austin yang mendengar penjelasan dokter, raut wajahnya tampak muram hatinya terasa sakit. Ia mengingat bagaimana dulu dia sudah menelantarkan istrinya itu ketika sedang hamil.
" Karena anda mempunyai riwayat preeklamsia, anda harus benar - benar menjaga pikiran anda supaya tidak mudah stres karena itu bisa mempengaruhi kondisi janin." lanjut dokter Gerry lagi.
" Baiklah bro thanks penjelasannya." ujar Austin.
" Sama - sama bro semoga lekas sehat."
Kemudian dokter Gerry berpamitan pulang, lalu diantar oleh tuan Michael dan istrinya keluar.
" Sayang maaf ya. Gara - gara aku, kamu bisa mengalami semua ini." ujar Nisa tampak merasa bersalah.
" Enggak apa sayang, mau sampai sembilan bulanpun aku sanggup."
" Aakh, kiyuutttt." goda Nisa seraya memeluk suaminya itu.
Beberapa saat kemudian Wira mengetuk pintu dan langsung masuk. " Nona ini obat untuk tuan dan nasi goreng pesanan anda." ujar Wira sambil meletakkan bungkusan obat, kemudian pamit undur diri karena malam sudah mulai larut.
" Sayang coba kamu test dulu, aku ingin melihatnya." Austin tampak memegang alat tes kehamilan itu.
" Tapi bilang dokter Gerry, harus besok pagi sayang."
" Enggak apa sekarang saja." perintah Austin.
" Baiklah."
Beberapa saat kemudian
" Sayang, sudah belum ?" teriak Austin ia sudah berada didepan pintu toilet.
" Sebentar." teriak Nisa dari dalam toilet.
tik
tik
Bunyi jarum jam seakan melambat menurut Austin, karena istrinya itu hampir tiga puluh menit didalam toilet.
" Sayang, sudah belum ?" tanya Austin lagi sudah tidak sabar.
klek
Bunyi pintu toilet terbuka dan Nisa segera keluar dengan salah satu tangannya ia sembunyikan dibelakang badannya, ia terlihat murung.
Austin yang melihat raut wajah istrinya itu tampak mengerutkan dahinya. " Kenapa sayang, kalau belum positif tidak apa - apa. Kita bisa terus mencobanya lagi." ujar Austin untuk menghibur istrinya itu.
" Taraaaaaa." teriak Nisa dengan gembira, ia memperlihatkan tiga test pack sekaligus pada suaminya yang semuanya bergaris dua.
__ADS_1
Austin tampak bahagia, ia langsung memeluk istrinya itu. Mengangkatnya dan membawanya berputar putar, rasa mual dan lemas yang ia rasakan tadi seakan sudah menghilang karena rasa bahagianya.
" Terima kasih sayang." ucap Austin seraya mengecup seluruh wajah istrinya itu kemudian memeluknya dengan erat.