
"Tuan, mobil yang anda pesan sudah siap." ucap Wira, kemudian ia menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Austin.
Hari ini Austin memerintahkan Wira membelikan mobil untuknya, bukan merk mobil mewah yang biasa menjadi favoritnya, tapi mobil biasa, mobil sejuta umat yang biasa dipakai oleh kalangan menengah ke bawah.
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Nisa, Austin yakin kalau dia benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita itu. Dia ingin mendekatinya sebagai orang biasa, bukan sebagai laki-laki kaya.
Karena selama ini setiap wanita yang mendekati Austin bukan benar-benar mencintainya, tapi karena status sosial yang ia miliki, laki-laki tampan, kaya dan calon pewaris tunggal dari kekayaan keluarganya.
Ayah Austin, Michael Gunawan adalah pengusaha yang merajai sebagian besar perhotelan dan real estate di Indonesia, bahkan sekarang sudah merambah keluar negeri.
☆☆
Sore itu seperti biasa Nisa pulang kerja dengan berjalan kaki, ketika akan memasuki gang arah rumahnya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang, seketika Nisa berbalik badan mencari tahu siapa yang sudah lancang mengganggunya.
"Mau ngapain lagi ?" tanya Nisa jengkel ketika melihat pria menyebalkan itu.
"Jangan jutek gitu donk, nanti cepat keriput." ledek Austin.
"Kalau aku keriput, kamu mau apa masalah gitu ?" jawab Nisa menantang.
"Udah dong jangan marah-marah terus, aku kan sudah minta maaf." pinta Austin dengan mimik menyesal, sepertinya itu modus ya gaess biar bisa dekat dengan Nisa 🤭.
"Aku kesini cuma mau traktir kamu makan dan bagaimana kalau kita sekarang menjadi teman, ayo kita kenalan dari awal lagi ?" ucapnya lagi.
Mendengar akan di traktir, seketika Nisa langsung berubah girang. Sepertinya ia akan mempertimbangkannya, karena hitung-hitung bisa menghemat uang makan malam, pikirnya.
"Kita belum sempat kenalan, aku juga belum tahu siapa nama kamu, kalau namaku Austin." Austin segera mengulurkan tangannya.
"Nisa." Nisa mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu.
Sebenarnya Austin sudah tahu kalau gadis pujaannya itu bernama Nisa, karena waktu ketemu di cafe waktu itu, ia sempat melihat name tag di seragamnya.
"Ayo, aku akan mentraktirmu." tanpa persetujuan Nisa, Austin langsung menarik tangan Nisa dan membawanya masuk ke dalam mobil yang di parkir tidak jauh dari gang tersebut.
"Kamu itu pemaksa banget ya, aku saja belum mengatakan mau atau tidak." protes Nisa sambil memasang sefty belt nya.
Nisa sengaja cepat-cepat memasang sefty belt nya, karena tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi.
"Nungguin kamu mikir kelamaan, cacing di perutku sudah berdemo." jawab Austin ngasal.
"Astaga ini masih sore, belum waktunya makan malam kali." ucap Nisa dengan mengerucutkan bibirnya.
Bibir merah muda itu nampak menggemaskan bagi Austin. "Bisa diam tidak sih." ucap Austin.
__ADS_1
"Jangan memerintah ku, kalau tidak suka aku turun nih." ancam Nisa.
Karena merasa wanita disampingnya itu sangat cerewet, tiba-tiba Austin langsung mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibirnya.
"Seperti dugaan ku sangat manis, duh jantung ku kenapa berdebar begini." gumam Austin.
Mendapat serangan tiba-tiba, tubuh Nisa langsung membeku, jantungnya berdetak dengan cepat seakan ingin keluar. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, ada gelanyar aneh di tubuhnya.
Beberapa detik kemudian Nisa tersadar dan langsung mendorong Austin dengan kuat.
"Maaf, aku....." ucap Austin, ia merasa gugup, salah tingkah dan jantungnya masih terasa berdebar-debar.
"Diam." potong Nisa, ia merasa sangat malu, wajahnya bersemu merah.
Bagaimana pun juga itu ciuman pertamanya, tapi jujur ia juga menikmatinya meski hanya saling menempelkan bibir tidak lebih dari itu, kini ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri.
Disepanjang perjalanan mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing, tak lama kemudian mobil itu berhenti disebuah restoran Padang.
Austin sengaja memilih restoran Padang, karena di sana pasti Nisa bisa makan sekenyangnya. Pikir Austin.
Entah kenapa melihat badan Nisa yang terlihat kurus, Austin jadi merasa kasihan dan itu membuatnya ingin melindungi dan membahagiakan gadis itu.
"Kamu bisa makan sepuasnya disini, badanmu kurus banget kayak cacingan." ujar Austin dengan menunjukkan beraneka macam masakan Padang.
"Tenang saja, aku kan kaya." jawab Austin dengan menyombongkan dirinya.
"Kaya apa, dosa ?" tanya Nisa sambil tertawa.
Melihat Nisa tertawa girang, Austin merasa sangat bahagia. Dia bersyukur, gadis yang dalam berapa bulan terakhir ini sudah memenuhi isi kepala dan hatinya itu, kini bisa bersamanya meski hanya sebagai teman.
"Pelan-pelan saja makannya, tidak akan ada yang merebutnya." ujar Austin ketika melihat Nisa makan dengan lahap.
"Mumpung banyak makanan, sayangkan kalau tidak dihabiskan." sahut Nisa tanpa rasa malu.
Begitulah Nisa, gadis desa dengan kepolosan dan ceplas-ceplosnya tanpa ada sikap kepura - puraan. Selain karena wajah polosnya yang cantik natural, sikapnya itu yang membuat nilai plus bagi Austin.
"Jadi sekarang kita temankan ?" tanya Austin disela-sela mereka makan.
"Mana ada teman ciuman." sahut Nisa sambil mengunyah.
"Kamu sudah merampas ciuman pertamaku." lanjutnya lagi, ia merasa tak terima.
__ADS_1
"Jadi maunya apa, pacaran atau langsung nikah. Bukannya sekarang lagi viral tuh, tanpa pacaran tapi langsung nikah. Apa sih namanya ta'aruf ya ? ujar Austin sambil senyum senyum.
Nisa langsung tersedak dan buru-buru mengambil minuman di depan mejanya.
"Siapa juga yang mau nikah sama orang songong dan menyebalkan seperti kamu, yang ada aku bisa mati berdiri tahu." cibir Nisa.
"Baiklah kita temenan saja dulu, setelah itu kita pacaran dan menikah." pinta Austin.
"Ogah." jawab Nisa.
"Astaga ini bocah, susah banget meluluhkan hatinya, jangankan menjadi kekasihnya jadi temannya saja susah. Sepertinya gue harus berusaha lebih keras lagi. " guman Austin dalam hati.
"Beri aku alasan, kenapa kamu tidak mau kita berteman ?" tanya Austin meminta penjelasan.
"Nggak ada alasan, lagian aku orang desa gayaku saja kampungan mana ada orang mau berteman denganku kalau ga ada maksud lain." ujar Nisa dengan mimik polosnya.
"Apalagi orang seperti kamu songong, menyebalkan, playboy, mesum pasti pacarnya dimana-mana." lanjut Nisa lagi.
"Auuggggghhhh." Teriak Nisa kesakitan, karena tiba-tiba Austin menyentil dahinya.
"Puas kamu ya ngata-ngatain aku, aku tidak sebejat itu kali." Austin mendengus kesal.
"ya meskipun aku pernah sesekali tidur dengan jal*ng, itu pun karena gue laki-laki normal butuh penyaluran." ucapnya lagi.
"Jujur banget sih, kamu sudah merusak otak suciku tahu dengan omongan mesum mu itu." protes Nisa.
"Karena aku mau menjadi teman kamu, makanya aku jujur."
"ya sudah kita temenan, tapi sebatas teman oke. Jangan berani-berani kurang ajar padaku seperti tadi." jawab Nisa dengan menekankan kata katanya.
"Baiklah kita temenan." sahut Austin dengan senyum penuh maksud.
"dan sebentar lagi kamu akan menjadi kekasih ku." batin Austin dalam hati.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Austin segera mengantarkan Nisa pulang, karena hari sudah mulai malam.
Sepanjang perjalanan menuju Apartemennya, Austin merasa sangat senang karena hubungannya dengan Nisa sudah mulai ada perkembangan. Paling tidak wanita itu sudah mau menjadi temannya dan tidak memusuhinya lagi.
Diam-diam dia memegang bibirnya lalu tersenyum, jantungnya lagi-lagi berdetak dengan cepat ketika mengingat bagaimana lancangnya dia mencuri ciuman pertamanya Nisa.
Austin yang selama hidupnya tidak pernah merasakan jatuh cinta, sekarang hatinya sudah terpaut pada seorang wanita yang bernama Nisa.
Dapatkah Austin dengan cepat meluluhkan hati Nisa, sepertinya tidak semudah itu fergusso 🤭
__ADS_1
Nisa yang polos tapi hatinya sekeras batu, hidupnya susah sejak ditinggalkan kedua orang tuanya dari kecil. Membuat dia harus bekerja keras dan menjadi dewasa sebelum waktunya.
Hinaan dan cacian dari orang sekitarnya membuat benteng kehidupannya menjadi kuat, hingga ia selalu waspada dan tidak mudah percaya pada orang lain.