
Siang itu Tommy melajukan mobilnya ke sekolahnya King, setelah tadi Nisa meminta tolong padanya untuk menjemput anaknya itu, karena Adi sedang ada ujian di kampusnya.
Mobil Tommy berhenti didepan sebuah bangunan tiga lantai dengan pagar besi tinggi dan dengan penjagaan yang lumayan ketat. Terlihat ada beberapa security di sana, kemudian Tommy masuk ke dalam gedung tersebut yang merupakan tempat King bersekolah di taman kanak-kanak.
"Mami mana Om ?" tanya King ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mami masih kerja sayang, kan kalian besok mau berangkat ke Malaysia. Jadi mami hari ini kerjanya agak sibuk." ujar Tommy menjelaskan.
"tapi yang menjemput biasanya kan Om Didi, kenapa sekarang Om Tommy ?" King sedikit merajuk, karena ia tidak suka selama ini Tommy mendekati Ibunya.
"Om Didinya lagi ada ujian di kampus sayang." Tommy menjelaskan dari balik kemudinya.
"Hallo jagoan, siapa namanya ?" Tanya Aldo dengan wajah yang di imut-imutkan.
King menatap Aldo tajam, dia tidak suka dengan orang yang belum dia kenal. Apalagi ibunya selalu melarangnya untuk tidak berbicara dengan orang asing.
"King." Jawab King ragu-ragu.
"Nama yang bagus, apa kamu akan menjadi raja kalau sudah besar ?" ujar Aldo menggodanya.
"Tentu saja King akan menjadi raja yang tampan dan kaya." ucap King dengan sombong dan terlihat menggemaskan dengan kedua pipinya yang gembul.
"Dasar bocah, masih kecil saja sudah sombong." Austin menimpali dengan mimik meledek, ia melihat ke arah King.
Tetapi ketika menatap anak itu Austin merasa ada yang aneh dengan dirinya, entahlah Austin juga bingung apa yang sedang dia rasakan, tapi dia seperti melihat dirinya sendiri dalam diri King. Karena king mempunyai wajah yang sangat mirip dengannya.
"Astaga dia sombong juga nurun dari kamu kali, anak sama bapak sifatnya tidak jauh beda." batin Tommy.
"Om kenapa lihatnya seperti itu, King ganteng ya ?" tanya King, ia masih menyombongkan dirinya ketika menatap Austin.
"Om juga ganteng tapi King tidak suka sama Om, Kata Mami Papanya King lebih ganteng." lanjutnya.
"Kalau bukan bocah sudah ku jitak kepalamu." batin Austin sedikit emosi.
"Memang Papanya King ada di mana ?" tanya Aldo.
__ADS_1
King belum sempat menjawabnya, tapi Tommy sudah menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Nisa. Rumah dua lantai yang terlihat sangat mewah dan ada pos penjagaannya itu.
"Sudah sampai sayang, ayo Om antar ke dalam." Tommy membuka pintu samping mobilnya menyuruh King turun.
Terlihat ada seorang bodyguard dan seorang pengasuh menghampiri King dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Setelah Tommy masuk ke dalam mobil dan melajukannya kembali, ia dicerca beberapa pertanyaan oleh sahabatnya itu.
"Itu bocah siapa Tom, seperti anak orang penting, anak pejabat ?" tanya Aldo penasaran.
"Bukan, anak sepupu jauhku ?"
"Sepupu kamu yang mana, Dela, Cia atau Meta bukannya mereka masih sekolah ?" Austin menyebut nama-nama sepupu Tommy yang dia kenal, karena ibunya Austin dan Tommy kakak beradik. Jadi dia tahu betul saudara sepupu Tommy dari pihak Ayahnya.
"ya, ya saudara jauhku, kamu tidak kenal pokoknya." sahut Tommy, ia tampak gugup.
"Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari kita Tom ?" Aldo melihat kegugupan di wajah Tommy.
"Ma-mana ada, ngawur kalian."
"Palingan tuh anak dari cewek dia kali." ujar Austin ngasal.
"Beneran Tom, tidak apa-apa kok kalau kamu pacaran sama cewek yang sudah beranak. Kita mah sebagai sahabat tetap mendukung, dari pada kamu jadi bujang lapuk, ya nggak bro ?" Aldo melihat ke arah Austin.
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi, mending kalian temani aku ke kantor untuk melihat persiapan acara peresmian besok." sergah Austin yang merasa kasihan sama Tommy karena diledek terus.
☆☆
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, Nisa baru keluar dari kantornya. Hari ini dia sedikit sibuk di kantornya karena harus meeting beberapa kali dengan kliennya, sebelum ia tinggal ke Malaysia untuk menghadiri pesta anniversary pernikahan Fachri dan istrinya.
Nisa segera melajukan kendaraannya menuju rumahnya, ditengah perjalanan dia mampir ke minimarket untuk membeli minuman karena merasa tenggorokannya sangat kering.
Setelah membeli beberapa botol minuman Nisa kembali ke mobilnya, tetapi dia merasa ada seseorang yang memanggil namanya, tapi dia tidak melihat siapa- siapa di sana, karena hari sudah gelap dia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang.
"Shitttt, itu pasti Nisa aku tidak mungkin salah lihat." ujar Aldo sambil memukul badan mobilnya karena jengkel.
__ADS_1
Tadi Aldo sedang berada di pinggir jalan untuk menerima panggilan di ponselnya. Karena ia tidak membawa headset mau tidak mau dia harus menepikan mobilnya.
Ketika selesai menelepon dia tak sengaja melihat seorang wanita yang mirip dengan Nisa, di seberang jalan tepatnya didepan mini market. Dia berteriak memanggil Nisa, karena letaknya di seberang jalan maka Nisa tidak mendengarnya. Ketika dia mau menyeberang untuk menghampirinya, Nisa sudah keburu masuk kedalam kendaraannya.
Kemudian Aldo melajukan mobilnya lagi menuju Bar yang ada di tepi pantai itu, sedangkan Austin dan Tommy sudah menunggunya di sana.
"Darimana saja bro lama banget ?" tanya Austin.
"Kamu tidak nyasarkan ?" Tommy menimpali.
Aldo masih bimbang mau cerita atau tidak, dia diam sejenak. "Kau berdua tahu tidak, aku habis melihat siapa ?"
"Siapa ?" tampak Austin memicingkan matanya.
"Seorang wanita, aku mau mengejarnya tapi dia keburu pergi dengan mobilnya." Aldo bercerita dengan antusias.
"Wanita siapa ?" Austin terlihat mulai jengkel.
"Nisa." ujar Aldo.
Tommy yang sedang meneguk minumannya seketika langsung terbatuk- batuk.
"Kamu tidak sedang becandakan ?" tanya Austin.
"Aku belum yakin bro, itu benar Nisa atau bukan, tapi wajahnya itu mirip banget, meski lebih cantikan dan elegan wanita tadi. Dia seperti wanita berkelas dan kamu tahu dia bawa kendaraan apa, mercedez benz bro."
"Itu tidak mungkin Al, aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencarinya tapi sampai sekarang belum ada hasil juga." ujar Austin.
Austin merasa frustasi kemudian dia meneguk minumannya lagi sampai habis, lalu dia mau menuang lagi tapi Aldo buru-buru menghentikannya.
"Stop bro di tempat ini kita tidak diperbolehkan minum sampai mabuk, kalau tidak kita siap-siap dilempar keluar oleh penjaga di sini." ucap Aldo sembari melihat ke arah beberapa laki-laki tinggi besar yang berdiri di pintu masuk bar.
"Bukannya bar fungsinya untuk minum sampai mabuk." protes Austin.
"tapi tempat ini beda bro dengan bar lain, dan kamu tahu siapa pemilik bar ini, seorang wanita bro." ujar Aldo antusias.
__ADS_1
Seketika Tommy langsung terbatuk- batuk lagi.