Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Pulau Kalimantan


__ADS_3

Nisa begitu terpukul ketika mengetahui Austin sudah membohonginya, seandainya dari awal dia tahu kalau Austin orang kaya maka dia akan menghindarinya dan tidak mencintainya seperti sekarang ini.


Bagi Nisa, Austin adalah pacar dan cinta pertamanya. Ia berharap hubungan mereka akan lebih serius dan melangkah ke jenjang pernikahan, karena melihat ketulusan Austin yang mencintainya selama ini, tapi ternyata semua ketulusan itu hanya kebohongan belaka menurut Nisa.


Semakin memikirkannya, semakin dia membencinya. Bagaimana bisa seorang Austin yang kaya raya bisa tulus mencintai wanita miskin seperti dirinya. Pasti ada motif lain, mungkin setelah bosan lalu ia akan di campakkan, pikirnya.


Di saat batinnya sedang berperang, terdengar suara ponsel berdering hingga membuyarkan lamunannya. Dering pertama dia abaikan, dering kedua dia abaikan lagi. Kemudian berdering lagi ketiga kalinya baru dia ambil ponselnya di atas nakas.


"Assalamualaikum Mas ".


"Walaikumsalam, kamu sudah tidur Nis ?" tanya Fajar dari seberang telepon.


"Belum Mas."


"Mas besok ada kerjaan keluar kota beberapa hari, apa Mas bisa minta tolong ?"


"Bisa Mas."


"Kamu mau tidak temani Mas ?"


"Kemana mas ?"


"Pulau K , jadilah asistenku selama di sana ."


"Iya Mas Nisa mau, tapi ada uang lemburnya kan ?"


"Iya ada, kamu itu." terdengar suara Fajar tertawa.


"ya sudah kamu istirahat, besok pagi saya jemput." ujar Fajar kemudian menutup panggilannya.


Pagi harinya Fajar menjemput Nisa untuk berangkat ke bandara bersama-sama, Nisa yang semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan Austin terlihat kusut wajahnya. Sedangkan Fajar hari ini juga terlihat sangat pucat, sepertinya ia sedang sakit.


"Mas Fajar sakit ?" tanya Nisa karena Fajar terlihat pucat.


"Kita ke rumah sakit dulu ya, atau Mas belum sarapan aku akan belikan buat Mas ?"


"Tidak usah Nis, mungkin kurang tidur saja semalam." ujar Fajar seperti ada sesuatu yang di sembunyikannya.


Begitulah sifat Nisa yang selalu Fajar suka, selalu perhatian padanya. Walaupun Nisa hanya menganggapnya tak lebih dari seorang kakak, tapi Fajar tidak keberatan asal Nisa terus di dekatnya dan memberikan perhatian-perhatian kecil padanya, itu saja sudah membuatnya sangat bahagia.


Setelah sampai di Bandara, mereka langsung chek-in setelah itu mereka segera menunggu di ruang tunggu VIP lounge.

__ADS_1


"Mas tahu tidak, ini pertama kalinya aku naik pesawat." ujar Nisa dengan antusias sambil mengecek boarding pass miliknya.


"Apa kamu gugup ?"


"Lumayan."


"Tenang ada Mas disini."


Tak berapa lama suara panggilan petugas maskapai mengumumkan agar para penumpang segera naik pesawat.


Setelah hampir satu jam lebih menempuh perjalanan, sampailah mereka di Pulau K . Mereka di jemput oleh anak buahnya Fajar menuju hotel bintang lima tempat mereka menginap.


"Nis kamu istirahat saja dulu, nanti sore saya ajak ke suatu tempat." kata Fajar sambil menyerahkan kartu akses masuk kamar hotelnya.


"Kamar Mas ada disebelah, kalau ada apa-apa telepon aja."


Setelah itu Nisa masuk ke dalam kamar hotelnya, Nisa yang baru pertama kali masuk hotel sangat senang. Apalagi kamar yang ia tempati tipe Deluxe room yang terlihat mewah.


"Apa seperti ini hidup jadi orang kaya." batin Nisa, ia melihat sekeliling kamar yang di penuhi furniture mewah.


Sesaat dia teringat Austin, mengingatnya membuat dia kembali bersedih. "Untuk apa juga aku terus mengingatnya, mungkin sekarang dia sudah bersenang-senang dengan Felicya, mereka lebih cocok sama-sama orang kaya." batin Nisa.


Sore harinya Austin mengajak Nisa makan siang yang sudah terlewatkan, karena dari tadi mereka sama-sama tertidur dan melewatkan jam makan siangnya.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, mobil Fajar melaju kencang dan berhenti di sebuah bangunan besar berlantai tiga. Lantai pertama di fungsikan sebagai kantor, lantai kedua untuk restoran dan yang paling atas yaitu sebuah Bar.


"Selamat sore tuan, bagaimana kabarnya ?" sapa seorang laki-laki setengah baya dengan berpakaian jas lengkap dengan dasinya.


"Alhamdulillah baik Pak, bagaimana apa semua aman ?" tanya Fajar balik setelah mereka masuk ke dalam kantor tersebut.


"Semua beres pak."


Kemudian laki-laki itu mengantar Fajar dan Nisa masuk kedalam sebuah ruangan, seperti ruang kerja dan meninggalkan mereka di sana.


"Kamu tahu Nis, ini adalah tempat pertama kali saya merintis usaha di Indonesia."


"Jadi tempat ini punya mas Fajar ?"


"Setelah saya menikah, saya mengikuti istri ke kotanya dan membuat cabang restoran ini di sana. Jadi tempat ini saya serahkan pada orang kepercayaan saya." tutur Fajar.


Beberapa saat kemudian setelah mengecek beberapa kerjaan di kantornya, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.

__ADS_1


☆☆


Tak terasa sudah empat hari mereka berada di Pulau K , Nisa setiap hari membantu pekerjaan Fajar di kantornya. Setiap selesai dengan pekerjaannya mereka akan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan.


Keesokan harinya


Fajar mengajak Nisa membeli oleh-oleh, karena nanti sore mereka akan kembali ke kota S. Setelah berkeliling membeli buah tangan, Fajar melajukan mobilnya menuju salah satu perumahan elit di pulau K.


Mobil Fajar tampak berhenti di sebuah bangunan minimalis berlantai dua yang tampak luas dan mewah, tetapi bangunan itu belum semuanya selesai masih terlihat beberapa tangga dan tukang bangunan yang masih sibuk bekerja.


"Ini rumah siapa Mas ?" tanya Nisa.


"Salah satu investasinya Mas."


"Assalamualaikum tuan Fajar." sapa seorang mandor bangunan.


"Walaikumsalam, bagaimana Pak kurang berapa persen lagi ?" tanya Fajar.


"Sekitar dua puluh persen lagi tuan tinggal finishing, ngomong-ngomong ini catnya jadi warna apa tuan ?"


"Kamu suka warna apa Nis ?" tanya Fajar melihat Nisa.


"Aku mas ?"


"ya kamu sukanya warna apa ?"


"Aku suka warna putih tulang dan orange soft Mas."


"Oke Pak catnya warna putih tulang dan orange soft ya." ujar Fajar pada Pak Mandor.


Setelah selesai dengan urusannya di perumahan itu, mereka segera kembali ke hotel dan bersiap-siap berangkat ke bandara.


Sedangkan di tempat lain, Austin terlihat sangat berantakan. Sudah lima hari ini dia mencari keberadaan Nisa, Ia juga menyuruh orangnya untuk mencari wanitanya itu di kampung tapi tetap tidak menemukannya.


Setiap malam dia habiskan untuk minum-minum di Bar dan pulang hampir pagi, kerjaan di kantor menjadi berantakan karena dia jarang masuk.


Sampai ayahnya tuan Michael marah besar dan menyuruh orang untuk menyelidikinya. Menurutnya baru kali ini anaknya sefrustrasi itu.


Nisa yang sudah kembali dari pulau K, terlihat sedikit ceria di bandingkan dengan sewaktu dia berangkat beberapa hari yang lalu dengan muka kusutnya.


Sepertinya perjalanan lima hari bersama Fajar sudah membuatnya sedikit melupakan kegalauan hatinya, meskipun sampai sekarang dia masih belum bisa melupakannya. Bahkan saat ini dia masih sangat mencintainya dan mulai merindukannya, tapi ia harus tetap menjaga hatinya.

__ADS_1


__ADS_2