Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Menguntit suami


__ADS_3

Sepanjang hari ini Austin dan Nisa menghabiskan waktu bersama di rumah, bermain dengan king dan memasak bersama.


" Sayang, kamu maukan mengantarku ke Cafe tempatku bekerja dulu ?" rengek Nisa masih dalam pelukan suaminya, setelah melakukan olahraga panas yang kesekian kalinya sepanjang hari ini.


Sepertinya Nisa menyesal sudah menolak ajakan Austin tadi pagi untuk mengajaknya jalan-jalan. Karena sepanjang hari di rumah, laki-laki itu terus terusan mengerjainya tanpa lelah.


" Kenapa kesana sayang ?" tanya Austin.


" Aku merindukan mas Fajar."


Austin tampak tidak senang mendengarnya, terlihat dari raut mukanya terlihat muram.


" Kamu merindukan pria lain didepan suamimu." selain Austin dengan intonasi tinggi tapi tidak terlihat sedang marah.


" Bukan begitu, mas Fajar sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Dia berjasa besar dalam hidupku." Nisa menjelaskan dengan suara mengiba dan itu yang membuat Austin tidak bisa menolaknya.


Setiap kali membicarakan Fajar, pada akhirnya Austin selalu merutuki dirinya sendiri karena perbuatan di masa lalunya. Bagaimanapun juga dia harus berterima kasih pada pria itu, ia bisa membuat istrinya itu bangkit dari keterpurukan dan menjadi wanita yang kuat dan sukses seperti sekarang ini.


" Baiklah nanti kita kesana bersama sama." sahut Austin lirih seraya mencubit gemas hidung istrinya itu.


Beberapa saat kemudian setelah mereka membersihkan diri, kini mereka pergi ke Cafe dimana dulu Nisa bekerja.


Mobil Austin berhenti tepat didepan Cafe tersebut, tempat itu tampak berbeda sudah berganti nama dan warna cat nya juga.


Nisa melangkahkan kakinya masuk kedalam. Matanya menjelajahi seluruh ruangan tersebut, bahkan pengaturan mejapun dirubah pikirnya. Beberapa saat kemudian ia dan Austin sudah mendudukkan dirinya di bangku paling ujung.


Nisa tampak diam dengan raut wajah yang sulit diartikan oleh suaminya itu. " Bagaimana, senang ?" tanya Austin.


" Iya, meski jauh berbeda dari dulu."


" Tentu saja sayang sudah hampir enam tahun berlalu dan entah sudah berapa kali ganti pemilik dan karyawan bahkan teman temanmu dulu sudah tidak ada disini." ujar Austin.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nisa mengajak Austin menyusuri jalanan disana. Melewati beberapa tempat yang memang tampak indah sepanjang mata memandang, sepertinya mereka ingin mengenang masa lalu. Berjalan saling bergurau dengan bergandengan tangan seperti pasangan kekasih, tapi tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya.


Malam semakin larut, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


" Sayang terima kasih." ucap Nisa ketika sudah beranjak mau tidur.


" Untuk ?" tanya Austin tidak mengerti.


" Menemaniku tadi, kamu tahu kita seperti sepasang kekasih yang sedang kencan."

__ADS_1


" Kamu senang ?"


" Hmmm." sahut Nisa singkat.


" Apa tidak ada imbalan buatku ?"


" Astaga kamu ini perhitungan sekali." Nisa membuka matanya kembali menatap suaminya yang sepertinya sudah mendambakan dirinya tetapi ia selalu tidak bisa menolaknya dan malam itu terjadilah olahraga panas sebagai penutup malam.


☆☆


Seperti biasa Nisa mengantar suaminya kedepan sebelum berangkat kerja, tampak Austin mengecup seluruh wajah istrinya lalu pamit untuk berangkat ke kantornya.


Beberapa saat kemudian Nisa juga mengantar anaknya pergi ke sekolah, setelah itu ia berencana pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan dapur.


Ditengah perjalanan menuju supermarket, Nisa seperti melihat mobil suaminya terparkir di salah satu Cafe pinggir jalan.


" Pak, itu mobil suaminya saya bukan ?" tanya Nisa pada pak Ahmad supirnya ketika mobilnya sedang berhenti di lampu merah.


" Iya benar non."


" Tadi Austin bilang ada meeting pagi di kantornya, tapi kenapa sekarang dia ada disini." gumam Nisa.


" Bisa non."


Setelah traffic light berubah warna hijau, tampak pak Ahmad memutar arah mobilnya lagi dan masuk menuju parkiran cafe dipinggir jalan itu. Nisa tidak turun dari mobilnya, ia hanya mengawasi dari dalam mobilnya keseluruhan cafe itu yang memang dikhususkan untuk area smoking jadi tempatnya terbuka.


" Kenapa aku seperti penguntit begini." gumam Nisa.


Disaat ia mengawasi pengunjung satu persatu, ia melihat suaminya sedang duduk di bangku paling ujung dengan seorang wanita.


" Austin." gumam Nisa lagi ia tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Nisa sedang melihat suaminya itu sedang tertawa bersama dengan seorang wanita, mereka terlihat sangat akrab.


" Bahkan wanita itu merokok dan itu apa seperti alkohol, mereka minum alkhohol sepagi ini ?" gumam Nisa lagi.


" Tidak tidak aku tidak boleh berfikir negatif pada Austin bisa jadi itu kliennya, bukannya aku dulu juga sering menjamu klienku dengan minuman itu." gumam Nisa lagi dengan menguatkan hatinya.


" Pak, kira-kira suami saya melihat kita tidak ?"


" Sepertinya tidak non, lagipula tuan parkir mobilnya diujung sana."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian terlihat Austin beranjak dari tempat duduknya, ia terlihat masih ngobrol akrab dengan wanita itu sambil berjalan menuju mobilnya dan wanita itu juga sepertinya membawa mobil sendiri.


" Pak ikuti mobil mereka ya, tapi jangan terlalu dekat ya pak !" perintah Nisa ketika mobil suaminya itu melaju beriringan dengan mobil wanita itu.


Sepintas Nisa teringat dengan ucapan Felicya tempo hari di Mall. "Apa benar itu wanitanya Austin sewaktu di Jerman, awas saja kalau benar akan ku bejek-bejek dia." gumam Nisa geram.


" Duh setan jahat dipikiranku. Austin tidak mungkin selingkuh bahkan kemarin seharian dia tidak membiarkan ku sedikitpun beranjak dari ranjang, dia mengerjaiku habis habisan." gumam Nisa dengan mengetok ngetok kepalanya.


Pak Ahmad yang melihatnya tingkah bossnya itu dari kaca spion tampak geleng - geleng kepala. " Nona baik - baik saja ?" tanya pak Ahmad.


" Tidak apa - apa pak, terus ikutin mereka ya pak ?"


" Baik non."


Ketika di sepertiga jalan tampak mobil wanita itu belok kiri dan mobil Austin belok kanan. " Non, kita ikutin mobil siapa, mobil tuan atau mobil satunya ?" tanya pak Ahmad.


" Mobil tuan saja pak, tapi tetap jaga jarak ya ?"


Setelah mengikuti mobil Austin hampir satu jam, terlihat mobil suaminya itu masuk ke area kantornya. " Gimana non apa kita juga masuk kedalam kantor tuan ?" tanya pak Ahmad.


" Tidak pak, kita langsung ke Supermarket biasanya saja." sahut Nisa.


Tak lama kemudian terdengar dering di ponselnya. " What Austin, apa dia tahu aku sudah menguntitnya." gumam Nisa.


" Iya hallo." sapa Nisa sedikit gugup.


" Sayang lagi ngapain ?" tanya Austin dari ujung telepon.


" Lagi on the way ke Supermarket."


" Dari tadi belum sampai sayang ?"


"Duh." gumam Nisa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Tadi mampir ke sekolahnya King dulu ada urusan sedikit." jawab Nisa tampak berbohong.


" Ya sudah hati - hati di Jalan ya, nanti aku pulang agak lambat jadi tidak bisa makan malam di rumah."


" Iya baiklah." ujar Nisa lalu menutup teleponnya.


" Apa pulang terlambat lagi, dasar suami enggak ada akhlak awas saja kalau ketahuan selingkuh." gumam Nisa sepertinya pikiran jahatnya lebih mendominasi otaknya sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2