Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Paket misterius


__ADS_3

"Nona, ada paket untuk anda." seorang pelayan membawa sebuah paket berbentuk kotak berukuran kecil terbungkus kertas merah muda.


"Itu apa bik ?" Nisa yang baru turun dari tangga melangkahkan kakinya mendekati pelayan itu.


Ia mengambil paket itu, dilihat dari bentuknya saja sudah sangat cantik terbungkus kertas merah muda dan berpita merah.


"Apa ini dari Austin ?" Nisa mengamati paket itu siapa tahu ada nama pengirimnya, tapi sama sekali tidak ada. Hanya tertulis alamat yang di tuju dan nama penerima paket yang tercantum atas nama dirinya.


"Saya kurang tahu nona, tadi hanya petugas pengiriman paket yang mengantarnya." ujar pelayan itu.


"Apa itu sayang ?" Nyonya Celine yang baru keluar dari kamarnya menghampiri menantunya itu, sepertinya beliau akan pergi keluar karena penampilannya sangat rapi dengan menenteng tas brandednya.


"Tidak tahu ma, tidak ada nama pengirimnya." Nisa masih membolak balikkan paket itu.


"Mungkin dari Austin. Kamu lihat, bungkusnya sangat cantik." nyonya Celine memperhatikan paketan tersebut.


"Bisa jadi ma." Nisa terlihat sangat senang, karena memang suaminya itu sering memberikan kejutan kecil padanya.


"Ya sudah kamu buka diatas sana, mama mau pergi ke salon dulu." nyonya Celine mencium pipi kiri dan kanan menantunya itu, kemudian ia pamit untuk pergi.


"Ma, Papa belum pulang ?" nyonya Celine yang sudah melangkahkan kaki langsung berhenti dan berbalik badan menatap menantunya lagi.


"Biasa Papamu kalau bermain golf suka lupa waktu, ya sudah mama pergi dulu ya."


"Iya ma hati - hati." Kemudian Nisa menaiki tangga dengan membawa paket di tangannya.


Sampai di kamar ia segera membuka paket itu, sepertinya ia sudah tidak sabar ingin melihat kejutan yang diberikan oleh suaminya. Dengan cekatan ia membuka kertas yang membungkus kotak itu, setelah itu ia membuka tutup kotaknya.


"Astaga siapa yang melakukan ini." Nisa menutup mulutnya ia tampak shock melihat isi dari dalam kotak itu.


Ia melihat satu persatu foto yang ada didalam sana, terlihat di foto itu Austin bersama seorang wanita sedang tidur bersama. Ia menebak itu pasti Rosy adik dari Ronald karena wajah mereka begitu mirip.


Austin juga sudah memberitahunya kalau ia pernah di jebak oleh Rosy dua tahun lalu, tapi hatinya masih terasa sakit ketika melihat suaminya tidur dengan wanita lain.


"Baiklah aku akan kirim ini ke Austin, aku mau tahu bagaimana reaksinya." Nisa mengambil gambar itu dengan kamera ponselnya, kemudian mengirimkan kepada suaminya itu melalui pesan.

__ADS_1


"Aku sepertinya pernah melihat wanita ini sebelumnya, tapi dimana ya." Nisa tampak mengingat ingat karena ia merasa tidak asing dengan wanita yang ada di foto itu.


"Astaga bukannya ini cewek bule yang sedang dekat dengan Adi." Nisa merasa geram bagaimana bisa wanita itu sudah mengganggu kedua orang yang ia sayangi.


Kemudian Nisa mengambil ponselnya yang tergeletak diatas kasur di sebelahnya.


"Hallo dek."


"Akhirnya mbakku tersayang masih ingat kalau punya adik." ujar Adi dari ujung telepon.


"Baru dua hari kemarin mbak telepon. jangan mulai deh, mbak mau tahu kamu masih berhubungan dengan cewek bule itu ?"


"Astaga mbak. Kalau telepon adiknya itu yang ditanya sudah makan apa belum, sehat atau tidak. Malahan orang lain yang ditanya." Adi tampak menggerutu.


" Kamu sudah besar kali dek, tidak mbak tanya pun kalau lapar kamu bisa makan sendiri."


"Mbak ku ini benar - benar tidak ada sayang sayangnya, lagipula aku sudah putus dengan wanita itu jadi mbak jangan khawatir."


"Baguslah kalau begitu, awas saja kalau kamu masih ketahuan berhubungan dengan wanita itu."


"Apaaaaa, hei bocah siapa yang suruh kamu melamar dia." Nisa sangat geram adik yang selalu dia anggap masih kecil itu sudah berani melamar perempuan tanpa sepengetahuannya.


"Aku bukan bocah mbak, memang ada bocah bisa membuat bocah." lagi - lagi Adi menggerutu, kakaknya itu selalu saja menganggapnya seperti anak kecil, padahal umurnya udah mau menginjak dua puluh dua tahun dan dia baru saja menamatkan kuliahnya. Bahkan sekarang ia sudah memimpin perusahaan kakaknya itu meski masih di bantu oleh Nindy.


"Wanita itu bukan wanita baik, bahkan dia sudah mengganggu suaminya mbak."


"Benarkah ?" sepertinya Adi sangat terkejut.


"Ya sudah mbak senang kalau kamu sudah tidak berhubungan lagi dengannya." Kemudian Nisa menutup panggilannya itu.


Adi yang sedang duduk di kursi kerjanya ia tampak shock, "Bakal ada perang badar nih, aku harus segera jagain mbak Nisa, awas saja kalau kak Austin berani macam - macam akan ku remukkan tulangnya." Adi tampak sangat geram ia terlihat mengepalkan tangannya.


☆☆☆


Siang itu Austin sedang meeting di kantornya. Ketika sedang presentasi untuk pembangunan hotel barunya, ia tampak shock ketika Wira menunjukkan pesan yang baru dikirim Nisa ke ponselnya.

__ADS_1


"Wir, loe lanjutkan meetingnya. Aku harus segera pulang." Dengan langkah panjangnya Austin segera meninggalkan ruangan meeting tersebut.


"Selalu saja kalau menyangkut Nona Nisa, pasti tuan akan mengabaikan pekerjaannya." sepertinya Wira sedikit menyesal sudah memberitahu pesan itu disaat meeting sedang berlangsung dan lagi - lagi dia yang terkena imbasnya karena harus menggantikannya untuk memimpin meeting.


Beruntung jalanan siang ini tidak macet seperti biasanya, jadi hanya memerlukan waktu tidak sampai tiga puluh menit Austin sudah sampai di rumahnya.


Sampai rumah ia segera berlari mencari istrinya di kamar. "Sayang." Austin mencari Nisa ke seluruh ruangan di kamarnya, tapi ia tidak menemukannya, ia membuka lemari tapi pakaian istrinya itu masih tersusun rapi disana.


"Sayang." Austin masih berteriak teriak didalam rumah itu, ia mencari ke seluruh penjuru rumah tersebut untuk mencari keberadaan istrinya.


"Bik, dimana istriku ?" Austin bertanya pada para pelayan yang sedang sibuk di dapur.


"Di taman belakang tuan." pelayan itu menunjuk keberadaan nona mudanya yang tampak sedang memetik beberapa tangkai bunga.


Austin bergegas menemui istrinya yang berada di taman itu. "Sayang." Ia langsung memeluk erat istrinya itu dari belakang, seakan ia tidak mau kehilangan.


"Sayang kenapa sudah pulang ini masih siang." Nisa berbalik badan dan menatap suaminya itu."


"Kamu tidak marah ?" kedua tangannya masih memegang pinggang Nisa, ia mau memastikan kalau istrinya itu tidak marah karena foto itu.


"Tentu saja aku marah, melihat suamiku tidur dengan wanita lain." Nisa mencebikkan bibirnya ia pura - pura marah, tapi itu terlihat menggemaskan buat Austin.


CUP


CUP


Austin mengecup beberapa kali bibir mungil itu, yang membuatnya candu setiap kali melihatnya.


"Aku sedang marah Austin."


"Kamu sedang marah, baiklah aku akan buat kamu tidak marah lagi." Austin langsung membopong tubuh istrinya itu dan membawanya naik ke kamarnya.


"Austin lepaskan, kamu tidak sopan sekali." Nisa berteriak teriak ketika suaminya itu tiba - tiba mengangkat badannya.


"Baiklah sebentar lagi akan kutunjukkan bagaimana tidak sopannya suamimu ini."

__ADS_1


__ADS_2