
"Percuma saya gaji mahal kalian, mencari satu orang saja tidak becus." nampak seorang pria sedang membentak kedua anak buahnya.
Pria itu adalah Austin Gunawan, setelah lima tahun tinggal di Jerman. Dia sekarang kembali ke Indonesia, menggantikan tuan Michael memimpin perusahaannya karena beliau memutuskan untuk pensiun.
Sebenarnya Austin sudah menyelesaikan pascasarjananya sejak tiga tahun yang lalu. Namun ketika mengingat masa lalunya dengan Nisa, dia enggan untuk pulang.
Hatinya terasa sakit setiap mengingat kejadian lima tahun lalu ketika Tommy memberikan rekaman suara Nisa, Kalau dia akan menggugurkan anak dalam kandungannya.
"Maaf tuan, tapi dari informasi yang saya dapat posisi terakhir beliau dan adiknya ada di kampungnya saat prosesi pemakaman mendiang neneknya lima tahun yang lalu. Setelah itu mereka menghilang tanpa jejak, bahkan para tetangganya pun tidak ada yang tahu kepergiannya dan tuan Fajar Syah juga sudah meninggal lima tahun yang lalu lebih tepatnya dua bulan setelah kepergian anda ke luar negeri." ujar salah satu anak buahnya itu.
Setelah mendengar penjelasan anak buahnya, Austin menyuruh mereka meninggalkan ruangannya.
"Nisa kenapa begitu sulit menemukanmu, sudah tiga bulan aku mencarimu. Dimana kamu sekarang."
"Apa perlu saya turun tangan sendiri tuan, untuk mencari Nona Anisa." ujar Wira yang seketika membuyarkan lamunan Austin.
"Kamu cari tahu siapa pemilik De'Rose Cafe sekarang dan cabangnya berada di mana saja." ucap Austin dengan tatapan dinginnya.
"Baik tuan, secepatnya saya kasih kabar."
"Sayang." panggil Felicya setelah membuka pintu ruangan tersebut, kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah Austin.
Wira yang melihat Felicya datang, kemudian pamit untuk keluar. Dia menganggukkan kepalanya sedikit ketika melewati Felicya.
Sedangkan Austin masih sibuk memeriksa beberapa dokumen di meja kerjanya, ia tidak perduli dengan keberadaan istrinya itu di ruangannya.
"Sayang, kenapa tidak menjawabku ?"
"Aku sibuk Fel, kamu nggak lihat ?" sahut Austin yang nampak fokus dengan dokumennya, tanpa sedikit pun melihat kearahnya.
"Aku cuma mau mengajak kamu makan siang, sejak pulang dari jerman tiga bulan yang lalu kamu sedikit pun tidak ada waktu buat aku. Kamu selalu saja pergi pagi pulang larut malam."
"Bukannya di Jerman aku juga seperti itu, terus apa bedanya dengan di sini ?" Austin merasa kesal karena Felicya selalu saja menuntut perhatiannya.
"tapi sayang, aku kan istri kamu ?"
"Fel, kita sudah sering membahas masalah ini, pernikahan kita hanya status. Gue sama sekali nggak cinta sama loe."
"tapi paling tidak kamu perhatiin aku sedikit di depan orang tua kita."
__ADS_1
"Aku sudah penuhi semua kebutuhanmu, apapun yang kamu minta sudah ku kasih kecuali ini." Austin menunjuk dadanya sendiri.
Dia tidak akan pernah bisa mencintai Felicya maupun wanita lain, karena dia sudah menutup rapat-rapat hatinya. Baginya di hatinya cuma ada Nisa seorang, meski rasa cintanya bercampur dengan kebencian.
"Kali ini saja aku mohon, kamu mau kan makan malam di rumah Mama dan Papa. Mereka sangat merindukan mu." Felicya mencoba membujuk Austin.
Karena sejak pulang dari Jerman, Austin jarang sekali bertemu orang tuanya. Felicya berharap Austin akan sedikit perhatian kalau didepan orang tuanya.
"Aku tidak janji, sekarang kamu pulang sebentar lagi aku ada meeting !!" kemudian Austin beranjak dari duduknya, lalu berjalan keluar meninggalkan Felicya dalam ruangan itu sendirian.
☆☆☆
Sore hari ini Nisa mengajak King untuk berjalan-jalan di taman, King hobby sekali bersepeda, setiap weekend Nisa selalu menyempatkan untuk menemaninya.
"Mami duduk di sana ya, king mau berputar-putar dulu." King menunjuk salah satu kursi di taman agar ibunya duduk di sana.
"Baiklah sayang, jangan jauh-jauh ya Mami awasi dari sini." Nisa duduk disebuah kursi panjang, matanya tak lepas dari King. Dia selalu mengawasi kemanapun anaknya itu mengayuh sepedanya.
"Nisa ?"
Nisa menengok ke arah suara yang memanggilnya. "Tommy ?" Nisa terkejut.
"Kamu ngapain di sini ?" tanya Nisa.
"Cuma jalan-jalan saja melepas penat, kebetulan rumahku di komplek sini. Apa kamu juga tinggal di sini ?" Tommy memandang Nisa yang terlihat sangat cantik sore itu.
"ya aku tinggal di sini."
"Berarti kita tetangga dong, blok berapa rumahmu ?"
Nisa belum sempat menjawab, tapi King sudah menghampirinya. "Mami siapa Om itu ?" King mengawasi Tommy dari atas sepedanya.
"Om temannya Mami sayang, nama Om, Tommy." Tommy mengulurkan tangannya, tapi King tidak menghiraukannya, kemudian ia pergi mengayuh sepedanya kembali.
"Dia anak kamu ?" tanya Tommy.
Meskipun Nisa tidak memberitahunya, Tommy yakin kalau anak itu adalah anak Nisa dan Austin. Karena wajahnya mirip sekali dengan Austin ketika masih kecil, dan sifat arogannya anak itu sama persis dengan ayahnya.
Nisa mengangguk ragu, kali ini dia benar-benar merasa gelisah. Bagaimana kalau Tommy memberitahu keluarga Gunawan, nyawa anaknya pasti akan terancam.
__ADS_1
"Nis, kamu percaya sama aku. Bagaimana pun juga dia juga keponakan ku, kalau kamu tidak mau Austin tahu. Aku juga tidak akan memberi tahunya." ujar Tommy yang menyadari kegelisahan di wajah Nisa.
"Kenapa, bukannya kalian bersaudara ?"
"Aku bisa merasakan pengorbanan mu selama ini, bagaimana membesarkan anakmu sendiri, belum lagi di bayang-bayangi ancamannya Om Michael."
"Terima kasih Tom." ucap Nisa lalu ia tersenyum.
"Kamu cantik sekali Nis, apa lagi kalau tersenyum begitu. Pantas saja Austin selama ini tergila-gila sama kamu ." batin Tommy.
Dia memandang Nisa dengan kagum, seketika ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dan terasa getaran di hatinya. Kemudian ia langsung berpaling ke sembarangan arah dan tanpa sadar tangannya memegang dadanya.
"Kamu kenapa Tom ?" Nisa memperhatikan Tommy yang memegang dadanya.
"Nggak apa-apa, Siapa namanya ?" Tommy menunjuk ke arah King, dia merasa salah tingkah di depan Nisa.
"King, King Fajarsyah." sahut Nisa.
"Boleh tanya sesuatu nggak Nis ?"
"Apa ?"
"Bar itu punyamu ya ?"
"Kok kamu tahu ?"
"ya tahu saja."
"Jadi kamu cari tahu tentangku ?"
"Nggak, buat apa ?"
"Siapa tahu buat laporan ke saudara kamu itu."
Tommy merasa gemas sekali ketika melihat Nisa begitu kesal. "Astaga segitunya kamu nggak percaya sama aku, kalau aku niat jahat sama kamu sudah dari dulu aku lakukan."
Nisa diam sejenak, dia mencerna kata-kata Tommy. Mungkin benar yang dia katakan. Bahkan dulu dia juga pernah memperingatkan dirinya dari ayahnya Austin, tapi Nisa belum begitu percaya sepenuhnya dengannya, biarlah waktu yang akan membuktikannya.
Dari dulu Nisa selalu belajar untuk siap menghadapi Austin dan keluarganya, tapi dia juga berharap agar tidak akan bertemu mereka selamanya.
__ADS_1