
Malam itu langit tampak tak bersahabat tak ada satupun bintang maupun bulan yang muncul, terlihat mendung semendung hati Nisa.
Mobil sedan hitam itu melaju dengan kencang, membawa Nisa ke sebuah tempat yang sudah membuatnya gundah seharian.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dengan drama macetnya, akhirnya Sedan itu berhenti tepat disebuah bangunan yang tidak asing baginya.
" Bukankah tempat ini..." Nisa memperhatikan sekeliling tempat itu.
" Tidak perduli dengan tempatnya. Untuk menghadapi pelakor aku harus bermain cantik, aku akan menjadi wanita anggun, kuat dan tak bisa ditindas. Oke, let's go perang dimulai." gumam Nisa kemudian ia turun dari mobilnya.
Dengan langkah empat lima ia melangkahkan kakinya menuju sebuah cafe yang ia tahu sebelumnya.
" Kenapa cafe ini sekarang berubah, beberapa hari yang lalu perasaan tidak seperti ini." gumam Nisa.
" What, De'Rose Cafe." gumam Nisa lagi, ia tampak terkejut melihat tulisan di papan nama yang menjulang segede gaban.
Nisa melihat Austin sudah menunggunya didepan Cafe tersebut, ia ditemani oleh seorang wanita disampingnya dan wanita itu sama dengan yang ia kuntit beberapa hari yang lalu bersama suaminya itu.
Austin tampak terpesona melihat istrinya malam ini, pandangannya sedikitpun tak berpaling. Ketika Nisa sudah berada didekatnya ia langsung mencium pipinya beberapa kali.
cup
Kecupan terakhir berhasil mendarat di bibir mungilnya.
" Sebentar sebentar sepertinya ini ada yang salah, kenapa Austin menciumku dengan mesra didepan wanita ini." gumam Nisa.
" Kamu cantik sekali malam ini sayang." ujar Austin masih memandangi istrinya dengan kagum.
" Sayang. Ini apa, aku tidak mengerti." tanya Nisa matanya tampak melihat papan nama yang berada di depannya itu.
" Cafe ini milikmu sekarang dengan nama yang sama seperti dulu."
" Benarkah ?" Nisa menutup mulutnya tampak tidak percaya.
" Sayang kenalin, ini nona Sofia beliau arsitektur yang mendekorasi ulang tempat ini." Austin mengenalkan seorang wanita di sebelahnya itu.
Nisa menjabat tangan wanita itu, begitu juga sebaliknya dengan wanita itu yang diketahui bernama Sofia.
Kemudian Nisa menatap Austin lagi. " Jadi kamu tidak selingkuh ?" tanya Nisa lirih nyaris tak terdengar.
" Apa ?" tanya Austin sepertinya ia tidak mendengar ucapan istrinya itu.
" Tidak, tidak apa - apa. Terima kasih sayang." ucap Nisa.
Kemudian Austin mengajak istrinya itu masuk kedalam, nampak ruangan itu tertata dengan rapi. Belum ada satupun pengunjung disana, yang terlihat hanya beberapa karyawan dan chef yang berjejer rapi.
" Ayo aku kenalkan dengan para karyawan barumu." Austin mengajak Nisa untuk berkenalan dengan beberapa orang yang akan menjadi karyawannya nanti.
" Oh ya tuan Austin sepertinya tugas saya sudah selesai, saya pamit undur diri dan semoga cafe ini akan sukses ditangan dingin anda nyonya." ujar Sofia lalu berpamitan.
__ADS_1
" Te - terima kasih nona sofia, senang bertemu dengan anda." ujar Nisa ia tampak gugup dan merasa sangat bersalah karena sudah mencurigainya dengan suaminya.
" Oke sayang sekarang waktunya kita makan malam romantis, kita akan mencicipi menu dari cafe barumu ini." Austin mengajaknya duduk disebuah meja yang sudah Di setting sebelumnya.
" Terima kasih." Nisa tampak menjatuhkan beberapa bulir air matanya.
" Sayang kenapa menangis ?"
" Aku bahagia."
" Aku tahu sejak kita menikah kamu terkadang sangat bosan di rumah, makanya aku memberikan tempat ini buat kamu. Tapi ingat tugas kamu cuma mengawasi bukan ikut bekerja."
" Terima kasih." Nisa memeluk erat laki - laki yang duduk disampingnya itu.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nisa menjelajahi seluruh ruangan dua lantai itu. Benar - benar sesuai keinginannya, sepertinya suaminya itu mengerti betul kemauannya.
Tak terasa malam semakin larut, Nisa dan Austin memutuskan untuk pulang karena besok mereka mulai melakukan rutinitas lagi terutama bagi Nisa.
Setelah menempuh kurang dari satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah.
" Apa kamu senang sayang ?" tanya Austin ketika sudah mau beranjak tidur.
" Tentu saja, aku tidak akan merasa bosan lagi."
" Cafe itu dekat dengan kantorku, jadi aku bisa sering makan siang bersamamu nanti."
" Masa cuma terima kasih saja sayang, aku mau hadiah."
" Aku tidak punya uang Austin, bahkan untuk mengurus perusahaanku saja tidak kamu bolehin. Bagaimana bisa aku membelikanmu hadiah." cebik Nisa.
" Astaga sayang, kamu itu istriku. Uangku juga uangmu."
" Nah itu kamu tahu, jadi hadiahnya beli sendiri."
" Aku mau hadiah yang lain."
" Apa ?"
" Hmmm apa ya." tampak Austin berpura pura mikir tapi dengan senyum jahil.
" Oke. Oke aku mengerti." sahut Nisa kemudian ia melepaskan semua yang melekat di badannya.
" Astaga sayang kamu pengertian sekali." ujar Austin dengan senyum sumringah.
Pada akhirnya olahraga panas itu kembali terjadi.
" Sayang." panggil Austin ketika Nisa sudah menutup matanya karena kelelahan setelah suaminya itu mengerjainya habis habisan.
" Tadi waktu di Cafe kamu bilang aku selingkuh." tanya Austin.
__ADS_1
Nisa yang sudah memejamkan matanya mau tidak mau langsung membukanya lagi. " Kamu dengar ?" ucapnya dengan lirih.
" Tentu saja. Bahkan beberapa hari yang lalu, aku juga tahu kamu diam - diam menguntitku."
" Whattt, kamu tahu darimana ?" Nisa tampak malu, ia sembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
" Kamu lupa siapa suamimu ini."
Nisa hanya diam merutuki kebodohannya karena sudah terprovokasi oleh perkataan Felicya.
" Kamu harus percaya, cuma kamu satu satunya wanita di hidupku."
" Benarkah, kamu tidak mempunyai wanita lain di Jerman misalnya." celetuk Nisa.
Austin tampak sedikit terkejut dengan perkataan istrinya itu, ia diam sesaat seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Enggak ada sayang, cuma kamu di hatiku." sahut Austin seraya mengecup puncak kepala istrinya itu.
☆☆
Sudah satu bulan ini Nisa tampak sibuk di Cafenya, semakin hari cafenya semakin ramai. Beruntung suaminya itu mengerjakan banyak karyawan, sehingga ia tidak ikut turun ke dapur.
" Selamat siang nyonya Austin ?" sapa seorang pria ketika Nisa sedang sibuk memainkan ponselnya.
" Ron." Nisa tampak terkejut ketika melihat Ronald sudah duduk di kursi depannya.
" Apa kabar Nis ?"
" Baik." Nisa tampak gugup ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia takut kalau Austin datang dan melihatnya bersama Ronald.
" Kamu tahu darimana aku ada disini ?" tanya Nisa.
" Itu tidak sulit bagiku."
" Kamu mau makan, biar aku panggilkan pelayan kesini." ujar Nisa ia tampak beranjak dari tempat duduknya.
" Nis, apa kamu bahagia ?" tanya Ronald seraya memegang tangan Nisa.
" Aku sudah menikah Ron tolong kondisikan tanganmu." sentak Nisa ia menatap tangannya yang dipegang oleh Ronald.
Ronald segera melepaskan tangannya. " Sampai saat ini aku masih mencintaimu Nis." ujar Ronald.
Nisa yang sudah melangkahkan kakinya untuk pergi, seketika ia berhenti dan berbalik badan menatap Ronald.
" Aku sudah menikah Ron, tolong lupakan aku."
" Apa kamu yakin tuan Austin Gunawan seorang pria yang setia ?"
" Maksudnya ?" Nisa tampak tidak mengerti.
__ADS_1