
Austin mengecup beberapa kali bibir mungil itu, yang membuatnya selalu candu setiap kali melihatnya.
"Aku sedang marah Austin."
"Kamu sedang marah, baiklah aku akan buat kamu tidak marah lagi." Austin langsung membopong tubuh istrinya itu dan membawanya naik ke kamarnya.
"Austin lepaskan, kamu tidak sopan sekali." Nisa berteriak teriak ketika suaminya itu tiba - tiba mengangkat badannya.
"Baiklah sebentar lagi akan kutunjukkan bagaimana tidak sopannya suamimu ini."
Setelah sampai di kamar Austin langsung mendudukkan Nisa di sofa, kemudian ia mengecup beberapa kali punggung tangan istrinya itu sebelum memulai berbicara.
"Sayang, Maaf lagi - lagi membuatmu kecewa. Aku tidak tahu motif wanita itu melakukan ini semua, tapi aku mohon kamu harus selalu percaya padaku dan jangan pernah meninggalkanku."
"Sebenarnya tadi aku mau meninggalkanmu, tapi tiba - tiba aku merasa kasihan padamu." Nisa tampak meledek suaminya yang sedang serius berbicara itu.
"Benarkah, kamu rela meninggalkan suamimu yang tampan ini." Austin menggelitik pinggang dan perut Nisa, hingga ia tertawa sampai kram.
"Austin perutku." Nisa berteriak kesakitan dengan memegang perutnya.
"Sayang mau ku panggilkan dokter, apa anak kita mau lahir ?" Austin mulai panik sendiri.
"Gila kamu, kandunganku baru menginjak tujuh bulan mana mungkin melahirkan sekarang." Nisa beberapa kali menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali hingga rasa kram di perutnya berangsur hilang.
"Apa sudah baikan, maaf aku tidak sengaja melakukannya." Austin tampak menyesal, ia mengelus perut besar istrinya itu.
"Austin, kamu tidak kembali ke kantor ?" Nisa melihat jam diatas Nakas, masih siang pikirnya.
"Enggak sayang aku disini saja temani kamu, apa kamu mau istirahat ?" tanpa mendapat persetujuan dari istrinya ia langsung membopongnya dan membawanya ke ranjang.
"Kamu mau ngapain Austin ?" Nisa mulai panik curiga suaminya mau mengerjainya lagi, padahal semalam ia hampir tidak tidur gara - gara ulah suaminya itu.
"Cuma mau temani kamu tidur siang, kamu semalam kurang tidur kan ?" Austin merebahkan tubuhnya dengan pakaian kerja yang masih melekat di badannya.
Tak berapa lama napas teraturnya mulai terdengar. "Astaga cepat sekali dia tidur." Nisa yang melihat suaminya tidur, ia juga ikut memejamkan matanya yang memang sudah sangat mengantuk.
☆☆☆
__ADS_1
"Mami, tolong mi." King menjerit ketika seorang wanita menarik tangannya dari genggaman ibunya.
"Sayang pegang tangan mami nak." Nisa berusaha dengan kuat menahannya tapi ia merasa sama sekali tak bertenaga hingga tangan anaknya itu terlepas dan wanita itu membawanya pergi.
"Sayang jangan tinggalkan mami nak." Nisa histeris karena anaknya itu tiba - tiba menghilang entah kemana.
Beberapa saat kemudian wanita itu kembali lagi dan menarik tangan Nisa agar mengikutinya, Nisa terus berjalan mengikuti wanita itu yang entah ia sendiri tidak mengetahui siapa. Hingga ia berada di tepi jurang.
"Sayang." Austin berlari mendekatinya.
Tiba - tiba wanita tersebut mendorong Nisa jatuh ke dasar jurang. Wanita itu tertawa sinis, lalu samar - samar tawanya menjadi tangisan. Kemudian ia juga ikut loncat kedalam jurang tersebut.
"Sayang, jangan tinggalkan aku." Austin berteriak sekuat tenaga hingga membangunkan Nisa yang sedang tertidur disampingnya.
"Austin kamu bermimpi ?" Nisa mengguncang tubuh suaminya itu yang sudah penuh dengan peluh keringat di dahinya.
Austin membuka matanya kemudian langsung memeluk wanita yang ada disampingnya itu dengan erat. "Sayang kamu tidak apa - apa ?"
"Astaga Austin, kamu mimpi apa ?" Nisa tampak heran karena tidak biasanya ia melihat suaminya itu bermimpi buruk apa lagi disiang hari seperti ini.
"Tidak, tidak apa - apa cuma mimpi." Austin tidak mau menambah beban pikiran istrinya jadi ia tidak berniat untuk cerita, mungkin mimpi itu hanya kembang tidur pikirnya.
"Iya sayang maaf, aku tadi ngantuk banget."
"Makanya kalau malam jangan keseringan ngerjain istrinya." Nisa mengingat hampir tiap malam suaminya itu meminta jatahnya.
"Habis itu menyenangkan sayang." Austin mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Ck. Kalau kamu tidak mau mandi, aku yang mandi duluan." Nisa berdecak kesal, kemudian ia beranjak dari ranjang dan melangkahkan kaki menuju kamar mandinya.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama." Austin berteriak dari kasur nya, sepertinya ia masih mengantuk.
"Enggak mau, yang ada nanti kamu ngerjain aku lagi."
"Tunggu sayang." Austin beranjak dari tidurnya kemudian ia berlari menahan pintu kamar mandi yang hampir tertutup.
"Janji ya cuma mandi saja." Nisa membuka pintunya kembali.
__ADS_1
"Tidak janji sayang." Austin tertawa senang karena sudah berhasil membujuk istrinya itu untuk mandi bersamanya.
Dan ritual mandi yang biasanya selesai dalam tiga puluh menit, kini menjadi dua jam lamanya.
☆☆
"Sayang jangan lupa besok jadwal cek ke dokter kandungan, apa perlu mama temani." nyonya Celine memulai pembicaraan ketika mereka sedang makan malam.
"Aku yang akan menemaninya ma." kali ini Austin yang menjawabnya, karena memang setiap bulan ia tidak pernah absen untuk menemani Nisa memeriksa kehamilannya.
"Mi, apa malam ini King boleh tidur sama mami ?" King yang baru selesai makan itu tampak mengiba pada ibunya.
"Tentu saja boleh sayang." Nisa mengacak acak rambut anaknya dengan gemas.
"Sudah besar kok tidurnya sama mami sih ?"
"King ingin peluk adik bayi oma."
"Boleh sayang, yuk papa temani ke kamar duluan." Austin segera beranjak dari tempat duduknya lalu mengajak anaknya itu naik keatas.
Ditempat lain Felicya benar - benar sangat depresi, badannya terlihat kurus dan wajahnya sangat pucat. Tidak ada Aura seorang model seperti dulu, sekarang yang terlihat hanya wajah keputusasaan.
"Wanita kampung, ini semua gara - gara kamu. Kalau saja kamu tidak muncul pasti Austin akan membalas cintaku." ia berteriak meluapkan kebencian dan penyesalannya.
Ia berpikir penyebab sakitnya adalah Nisa, ia merasa sangat membencinya. Seandainya Austin membalas cintanya ia tidak akan terjebak dalam pergaulan bebas yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.
Selama lima tahun menikah dengan Austin, laki - laki itu sama sekali tidak memberinya nafkah batin. Hingga ia melampiaskan dengan beberapa teman prianya, ia tidak pernah menyangka perbuatannya itu akan menghancurkan hidupnya.
"Sayang, sampai kapan kamu akan begini terus." Ibunya Felicya mencoba untuk menenangkan anak perempuan satu satunya itu.
"Feli mau mati saja mi."
"Sayang, masih banyak diluar sana yang seperti kamu tapi mereka tetap survive. Apa kamu ingin kita pindah ke luar negeri, kita bisa mulai hidup baru disana." Ibunya selalu berusaha untuk menyemangati hidupnya agar anaknya itu merasa masih ada orang yang selalu mendukungnya.
"Mami serius ?"
"Tentu saja, mami akan mengurus semuanya. Setelah itu kita akan berangkat."
__ADS_1
"Terima kasih mi." Felicya memeluk erat ibunya. Sejak ia di vonis positif HIV, ia tidak berani keluar rumah bahkan ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar.