
Sudah beberapa hari ini Austin selalu pulang terlambat, tapi Nisa masih mencoba untuk berpikir positif. Tidak mungkin suaminya itu selingkuh bahkan setiap hari laki - laki itu selalu membuatnya kelelahan di ranjang.
Nisa tidak menguntit suaminya lagi, ia berusaha membuang jauh - jauh pikiran buruknya. Ia tidak mau terprovokasi oleh ucapan Felicya tempo hari.
Tapi pagi ini pendirian Nisa tergoyahkan, ia mencium bau alkhohol di kemeja kerja suaminya yang diletakkan di ranjang cucian. Pikiran buruk mulai menguasai pikirannya, apa suaminya itu sudah minum minuman bersama seorang wanita pikirnya.
Ditengah lamunannya terdengar dering di ponselnya, dengan malas ia menggeser tombol hijau di layar ponsel itu.
" Iya hallo." sapa Nisa.
" Sayang lagi ngapain ?" tanya Austin dari ujung telepon.
" Lagi bengong." sahut Nisa lirih nyaris tak terdengar.
" Apa ?" tanya Austin lagi.
" Lagi santai sayang." jawab Nisa
" Nanti malam dandan yang cantik ya, kita akan makan malam bersama." ujar Austin.
" What makan malam bersama, tidak biasanya dia ngajak makan malam bukan dihari weekend. Apa dia akan mengenalkan ku dengan wanita itu calon maduku." gumam Nisa dengan segala persepsi buruknya.
" i - iya." sahut Nisa.
" Nanti supir kantor yang akan menjemput."
" Iya baiklah." jawab Nisa langsung menutup teleponnya.
Nisa langsung melempar ponselnya ke ranjang, ia tampak berjalan mondar mandir di kamarnya sambil berpikir.
" Yes aku tahu harus apa." gumamnya ia tampak menjentikkan kedua jarinya setelah menemukan ide.
" Malam ini aku harus dandan sangat cantik, kalau sampai Austin ketahuan selingkuh. Aku akan mencari pengunjung laki-laki paling tampan disana dan akan aku ajak jalan, biar tahu rasa laki-laki playboy itu." gumamnya lagi.
" Oke, sekarang kita mulai dari membersihkan diri. Ya aku akan pergi ke salonnya mama sekarang." gumam Nisa lalu ia mengambil tasnya di atas nakas kemudian berlalu pergi.
Beberapa saat kemudian Nisa sudah sampai di klinik dan salon kecantikan milik ibu mertuanya.
" Hallo cantik, akhirnya princess kita mau juga mampir kesini." sapa Yolan, laki-laki gemulai yang meriasnya waktu di pernikahan dulu.
" Mama ada ?"
" Biasa nyonya besar sedang pergi arisan dengan teman sosialitanya." ujar Yolan.
" Sekarang si cantik mau melakukan perawatan apa ini ?" tanya Yolan lagi.
" Aku ingin kelihatan cantik dan sempurna, apa kamu bisa melakukannya ?"
" Tentu saja sayang, apa akan ada acara malam ini ?"
" Iya suamiku mau mengajak makan malam."
__ADS_1
" Wow romantisnya tuan muda Austin, dia itu laki-laki idaman para wanita." ujar Yolan tampak kagum.
" Romantis pala loe peyang, loe tidak tahu saja nasibku malam ini." gumam Nisa.
" Oke cantik kita mulai dari luluran dan sauna dulu ya." ujar Yolan kemudian menyuruh Nisa masuk kedalam sebuah ruangan perawatan.
Hingga sore hari Nisa melakukan berbagai perawatan tubuh, hingga ia sekarang merasa fresh dan tampak cantik dengan keahlian Yolan meriasnya.
Nisa memakai gaun hitam selutut dengan rambut panjang bergelombang ia biarkan terurai. Sehingga membuatnya tampil cantik sore itu.
Sambil menunggu matahari tenggelam, Nisa mengajak Yolan berbincang bincang di balkon. " Yolan apa kamu sudah lama mengenal suamiku ?"
" Tentu saja nona, sejak beliau masih remaja sekitar dua puluh tahun yang lalu."
" Lama juga ya kamu kerja disini." tanya Nisa ia memperhatikan pria gemulai itu dengan seksama meski sudah berumur tapi pria itu masih kelihatan muda karena mungkin ia rajin perawatan.
" Nyonya Celine sangat baik, beliau sering memberi kita bonus jika salon sedang ramai." sahut Yolan.
" Seperti apa Austin dulu ?" Nisa tampak penasaran.
" Dari dulu beliau sudah cool dan arogan tentunya."
" Benarkah ?"
" Iya bahkan sejak sekolah menengah atas beliau sudah disuruh bekerja di kantornya tuan besar."
" Sepertinya iya, kecuali bersama sahabatnya tuan Aldo, tuan Tommy dan nona Felicya."
" Apa mereka seakrab itu ?"
" Tentu saja bahkan mereka kuliah bersama di Jerman."
" Dengan nona Felicya juga ?"
" Iya mereka berempat, negara Jerman sudah seperti rumah kedua bagi tuan Austin."
" Benarkah ?"
" Iya sebelum bertemu dengan anda sepertinya ia lebih banyak menghabiskan waktunya disana."
DEG
Jantung Nisa langsung berdebar kencang, ia langsung memikirkan perkataan Felicya di Mall tempo hari.
" Apa Austin tipe laki - laki setia ?"
" Saya kurang tahu nona, sepertinya selama ini beliau tidak pernah punya kekasih sebelum menikah dengan nona Felicya."
" Mungkin kekasihnya berada di Jerman." gumam Nisa, lagi - lagi dia menyimpulkan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Setelah banyak berbincang dengan Yolan, Nisa memutuskan pulang menuju rumahnya dan diantar oleh pak Ahmad supirnya. Ia akan menunggu jemputan di rumah saja pikirnya.
Tak terasa jarum jam menujukkan pukul tujuh malam, Nisa sudah bersiap siap menuju ke tempat dimana suaminya itu mengajaknya makan malam.
Tampak seorang supir sudah bersiap menunggu di samping mobilnya, penampilannya bukan seperti supir menurut Nisa. Tapi seperti seorang bodyguard dengan postur tubuhnya yang tinggi besar dan berotot.
" Silahkan nona." tampak sopir itu membukakan pintu mobil untuk Nisa.
Nisa segera masuk dengan perasaan was was, apa benar laki - laki itu suruhan suaminya. Setelah mobil berjalan Nisa mulai memberanikan diri untuk bertanya.
" Apa anda salah satu Karyawan suami saya, sepertinya saya tidak pernah melihat anda ?" tanya Nisa penuh selidik
" Iya benar nona, saya salah satu anak buahnya tuan Austin."
" Sekarang kita akan pergi kemana ?"
" Tuan Austin melarang saya untuk mengatakannya nona." ujar sopir itu.
" Beliau cuma mengatakan kalau anda disuruh duduk santai saja." lanjutnya lagi.
" Santai pala loe, bagaimana bisa santai kalau akan bertemu dengan calon madu."
" Apakah tuan Austin sudah berada disana ?"
" Iya nona beberapa hari ini beliau tampak sibuk disana."
" What, apa itu rumah calon maduku. Pantas saja dia pulang terlambat terus akhir - akhir ini."
" Apa ada seorang wanita disana ?" tanya Nisa curiga.
Tampak sopir itu diam sejenak, sepertinya ia sedang berpikir atau lebih tepatnya mengingat ngingat.
" Iya beliau bersama seorang wanita."
" Apaaaaa." teriak Nisa nyaring, yang membuat sopir itu sedikit bergidik.
" Anda baik - baik saja nona ?" tanya sopir itu ketika melihat Nisa dari kaca spion.
" i - iya." sahut Nisa.
Nisa tampak shock, pikirannya sudah bercabang kemana mana. Sepertinya saat ini setan jahat sudah menguasai pikirannya, lalu dimana setan baik yang selalu membuatnya berpikir positif. Entahlah mungkin sudah tenggelam di empang wkwkwk ðŸ¤
Saat ini ia sedang merasa gelisah didalam mobil, sepertinya ia sedang berfikir menyusun rencana untuk menghadapi seorang pelakor.
Tampak Nisa mengepalkan tinjuannya ke udara beberapa kali, sehingga membuat sopirnya itu mengernyitkan dahinya ketika melihatnya dari kaca spion.
" Apakah nona baik - baik saja ?" tanya sopirnya itu.
" Iya, saya lagi mengetes tinjuanku apa masih sekeras dulu. Apa kamu mau mencobanya ?"
" Tidak nona terima kasih ." sopirnya itu sedikit bergidik.
__ADS_1
" Baiklah aku sudah siap menghadapi pelakor itu, akan ku buat dia seperti bandeng presto." gumam Nisa dengan semangat.