
" Maaf tuan ada tamu sedang menunggu anda." ujar seorang resepsionis tersebut.
" Siapa ?"
" Beliau menunggu anda disana." resepsionis itu menunjuk kearah Nisa yang sudah terlelap.
" Astaga sayang." teriak Austin ia setengah berlari menuju kearah istrinya.
" Benarkah beliau istrinya tuan Austin." gumam resepsionis tersebut ia benar-benar merasa khawatir.
Nisa langsung membuka matanya ketika merasa ada goncangan di tubuhnya. " Austin kamu sudah datang." Nisa tersenyum manis pada suaminya yang nampak sangat khawatir.
" Kenapa menunggu disini sayang, kenapa tidak langsung keatas."
" Aku harus membuat janji dulu kalau bertemu kamu, makanya aku menunggu disini saja."
" Siapa yang menyuruhmu, aku akan segera memecatnya."
" Bukan mereka yang salah, tapi memang mereka tidak mengenaliku." Nisa mencoba menjelaskan, ia tidak mau gara-gara dia ada karyawan yang dipecat.
" Maafkan aku ya, lain kali mereka tidak akan seperti itu.
" Apa kamu sudah lama disini ?"
" Belum terlalu lama." sahut Nisa ia harus berbohong agar suaminya itu tidak semakin marah pada karyawannya.
Kemudian Austin membawa Nisa keruangannya di lantai paling atas, ia menggandengnya dengan erat hingga membuat banyak karyawan yang melihatnya saling berbisik.
" Dia istriku, jadi lain kali kalau dia kesini lagi langsung suruh keatas." ujar Austin ketika melewati meja resepsionis itu.
" Baik tuan, tapi nona Felicya..."
" Dia satu satunya istriku, mengerti !" sela Austin menatap tajam kearah resepsionis itu.
" Wir, Kamu atasi semuanya."
" Baik tuan." sahut Wira
Austin paling malas menjelaskan urusan pribadinya pada orang lain, tapi kadang ketidak peduliannya itu akan menjadi bomerang untuk dirinya sendiri.
" Sayang kenapa tidak memberitahu kalau mau kesini ?" tanya Austin ketika mereka sudah berada di ruangannya.
" Ponselmu tidak bisa dihubungi."
" Benarkah ?"
" Hmm."
" Sepertinya baterainya habis, Maaf ya sayang sudah membuatmu menunggu." ujar Austin
" Kamu tidak akan memecat wanita itu kan ?"
" Tidak, aku yang salah karena tidak mempublikasikan pernikahan kita. Tapi Wira akan mengatasi semuanya dan kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi." ujar Austin seraya mengecup seluruh wajah istrinya itu.
tokk
__ADS_1
tokk
Terdengar ketukan pintu dari luar dan tak lama kemudian pintu terbuka.
" Ups...maaf tuan." ucap Santi sekretarisnya Austin ketika melihat bossnya itu sedang bermesraan dengan istrinya.
" Ada apa San ?"
" Ada tuan Ronald Hudson ingin bertemu tuan, untuk membahas proyek di pulau Kalimantan."
" Baiklah suruh dia masuk."
" Austin kenapa tidak kamu kunci pintunya tadi." seru Nisa setengah berbisik dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
Austin tampak tertawa gemas melihat wajah istrinya itu dan tak lama kemudian Ronald memasuki ruangan tersebut.
" Selamat siang tuan Austin."
" Selamat siang tuan Ronald, silahkan duduk."
" Nisa, apa kabar ?" Ronald tersenyum manis pada Nisa yang duduk di sofa tepat di depannya.
" Baik ron." sahut Nisa hanya tersenyum kecil karena melihat suaminya itu menatap tajam padanya.
Sepanjang meeting berjalan, Ronald tak henti hentinya menatap Nisa. Austin yang menyadari itu tampak murka, tapi ia harus bersikap profesional karena Ronald adalah investor terbesar pada proyeknya di Kalimantan.
" Sayang, kamu pasti bosan disini. Bagaimana kalau kamu jalan-jalan mengelilingi kantor ini, Wira akan menemanimu."
" Baiklah." sahut Nisa kemudian ia berlalu pergi.
" Tuan Wira apa anda tidak punya pekerjaan lain selain mengikuti saya." ujar Nisa ia berbalik badan dan menatap Wira.
" Maaf nona ini adalah salah satu pekerjaan saya."
" Astaga tuan Wira, jangan bersikap formal begitu." Nisa menghampiri Wira dan posisi mereka sekarang sejajar.
" Bagaimana kalau kita berteman, kamu tahu saya juga punya banyak karyawan di kantor dan kita semua akrab seperti teman."
" Maaf nona anda adalah bos saya, jadi saya harus menghormati anda." sahut Wira ia memundurkan badannya untuk memberi jarak.
" Astaga kaku sekali kamu."
" Baiklah terserah kamu, oh ya sudah berapa lama kamu bekerja di kantor ini ?"
" Sudah sepuluh tahun nona."
" Sepertinya kamu seumuran suamiku, apa kamu sudah punya pacar atau sudah menikah ?"
" Maaf nona saya tidak bisa menjawab kalau menyangkut urusan pribadi."
" Astaga sia-sia bicara sama kamu." sahut Nisa kemudian ia berlalu pergi dan Wira masih setia mengekor dibelakang.
" Aku lapar, dimana kantin ?" Nisa tiba-tiba berhenti dan Wira nyaris menabraknya.
" Ada di lantai lima nona."
__ADS_1
Karena sudah melewatkan jam makan siang, Nisa merasakan perutnya keroncongan. Kemudian ia menuju ke kantin di kantor itu.
" Tuan Wira, apa kamu tidak berniat menemani aku makan." ujar Nisa ia melihat Wira yang masih berdiri agak jauh darinya.
" Silakan menikmati makanannya nona, saya akan menjaga anda disini."
" Astaga seperti patung hidup saja dia." gerutu Nisa tapi masih bisa didengar oleh Wira.
Beberapa saat kemudian Nisa sudah menyelesaikan makan siangnya, kini ia sekarang berada di lobby kantor dengan Wira tentunya yang masih setia mengekor dibelakangnya.
" Nisa." teriak Ronald ketika baru keluar dari lift dan dengan langkah panjangnya ia menghampiri Nisa.
" Ron, sudah selesai meetingnya ?"
" Apa kita bisa bicara sebentar ?" tanya Ronald tapi matanya menatap Wira.
" Nona sepertinya anda harus segera naik keatas sebelum tuan Austin mencari anda." ujar Wira.
" Sebentar saja tuan Wira. Nisa adalah teman saya sekolah, dulu kita sangat akrab. Benarkan Nis ?"
" Maaf Ron, sebaiknya kamu cepat pergi sebelum suamiku melihat."
" Baiklah ini kartu namaku, kalau kamu ada waktu hubungani aku." ujar Ronald kemudian ia pergi meninggalkan kantor tersebut.
" Maaf nona sebaiknya anda membuang kartu itu." ucap Wira dengan tegas tapi masih dengan tatapan datar.
" Tapi kenapa ?"
" Atau saya yang akan membuangnya." sahut Wira penuh ancaman tapi lagi-lagi ia memasang muka datar.
" Baiklah." Nisa memasukkannya kedalam tempat sampah.
" Astaga galak sekali kamu, suamiku saja tidak segalak itu." cebik Nisa kemudian ia berjalan menuju lift.
Tak lama kemudian ia masuk kembali keruangan Austin dengan muka ditekuk.
" Sayang kamu kenapa ?" tanya Austin ia menepuk pahanya agar istrinya itu duduk disana.
" Austin kenapa asistenmu itu galak sekali." ujar Nisa dengan manja ia tampak memainkan kancing kemeja suaminya.
" Ada masalah apa Wir ?" Austin menatap Wira meminta penjelasan.
" Sesuai perintah anda tuan."
" Baiklah kamu bisa pergi."
Wira tampak ada kelegaan di wajahnya, ia sepertinya tidak tahan harus berlama lama melihat kemesraan kedua bossnya itu.
" Sayang kamu mau menggodaku ya." ucap Austin ketika Nisa sudah melepaskan satu kancing kemejanya dan memainkan bulu-bulu halus di dada bidangnya.
" Mana ada." Nisa langsung beranjak dari duduknya, tapi Austin sudah terlanjur menahan badannya.
" Austin ini di kantor, bagaimana kalau ada yang melihatnya."
" Sudah nanggung sayang." Tampak Austin sudah melahap bibir istrinya itu.
__ADS_1
Dan sepertinya percintaan panas mereka baru akan dimulai di kantor tersebut.