
"Sayang maaf ya, pagi ini aku ada meeting mendadak. Kamu ke dokter diantar sama pak Ahmad saja ya." Austin tampak buru - buru turun dari tangga.
"Kamu tidak sarapan dulu ?" Nisa yang sedang menyuapi King makan ia segera berdiri mendekati suaminya.
"Nanti di kantor saja sayang." Austin mengecup dahi istrinya itu lalu bergantian mencium King yang masih asyik mengunyah makanannya.
"Baiklah." Nisa tampak sedih tapi ia harus mengerti keadaan suaminya itu.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya Kemudian Austin bergegas pergi ke kantornya.
"Mami, King pergi sekolahnya diantar sama Mami ya ?" King menghampiri Ibunya dengan tas yang sudah berada di punggungnya.
"Mami kan harus ke dokter Nak, kamu diantar Opa saja ya ?" tuan Michael mencoba membujuk cucunya itu, karena memang sejak Nisa hamil beliau yang selalu mengantar jemput King.
"Tapi King maunya sama Mami." King tampak merengek pada Ibunya dengan menarik narik tangannya.
"Baiklah sayang Mami yang akan antar." Nisa menenangkan anaknya itu yang entah kenapa dari kemarin selalu manja dengannya.
"Horeeee." King tampak senang ketika ibunya menuruti kemauannya, ia loncat - loncat kegirangan.
"Tapi sayang, arah rumah sakit dan sekolahnya King kan beda arah." nyonya Celine yang sedang merapikan meja makan itu juga ikut menimpali, ia takut menantunya itu terlambat pergi untuk memeriksa kandungannya.
"Enggak apa - apa ma, nanti Nisa bisa telepon dokternya dulu." lalu Nisa mendekati ibu mertuanya untuk berpamitan.
"Baiklah kalau begitu." nyonya Celine mencium pipi kanan dan kiri menantunya itu kemudian ia juga mencium cucunya.
"Opa kok enggak dicium juga sayang." Tuan Michael tampak iri ketika King, cucunya itu mencium istrinya.
"King juga sayang sama Opa." King mencium seluruh wajah kakeknya itu dan memeluknya erat.
"Baiklah Ma, Pa. Kami pergi dulu." Nisa berpamitan kemudian ia berlalu pergi keluar dengan menggandeng tangan anaknya.
"Pak Ahmad ke sekolahnya anak saya dulu ya !" ujar Nisa ketika sudah berada didalam mobilnya.
"Baik Non." Pak Ahmad mulai melajukan mobilnya keluar dari kompleks perumahan elit itu.
__ADS_1
King tampak bernyanyi nyanyi riang didalam mobil, hari ini ia terlihat sangat gembira. Mungkin karena ibunya yang mengantarkannya pergi sekolah.
Sejak Nisa hamil, ia jarang sekali mengantar King sekolah karena selain suaminya yang kelewat protektif ia juga merasa sejak hamil sering sekali capek.
"Mami, nanti kalau King tidak ada Mami tidak boleh sedih ya."
"Memang King mau kemana ?"
"King mau sekolah diluar negeri mi."
"King kan masih kecil sayang, nanti kalau sudah besar baru sekolah keluar negeri."
"Oh gitu ya mi."
"Iya sayang." Nisa menciumi bocah gembul itu dan merengkuhnya kedalam pelukannya.
Ketika mobilnya sedang melaju, tiba - tiba ada sebuah mobil dari belakang yang melaju sangat kencang dan langsung menabrak mobilnya. Seketika mobil yang Nisa tumpangi terpental hingga beberapa meter dari tempat kejadian.
Mobil yang menabraknya juga mengalami kerusakan sangat parah dengan separuh dari badan mobil rusak total.
Beberapa saat kemudian beberapa mobil polisi dan ambulance sudah berada di tempat kejadian.
☆☆☆
Pagi ini Austin berangkat lebih awal ke kantor. Karena tadi pagi Wira mendadak menghubunginya, kalau salah satu investornya merubah jam meetingnya menjadi pagi hari. Sehingga ia terpaksa tidak bisa menemani istrinya pergi ke dokter, bahkan ia melewatkan sarapan paginya.
Ketika meeting sedang berlangsung ia mendapat telepon dari Ayahnya kalau anak dan istrinya mengalami kecelakaan. Dengan panik ia segera meninggalkan meetingnya tersebut dan bergegas ke rumah sakit dimana istrinya itu sedang ditangani.
Dengan langkah panjangnya Austin menyusuri lorong rumah sakit yang diikuti oleh Wira di belakangnya, sepanjang jalan ia terus terusan berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya itu.
"Ma, Pa dimana anak dan istriku. Bagaimana keadaannya, mereka baik - baik saja kan ?" Austin tampak khawatir ia memberondong beberapa pertanyaan pada kedua orangtuanya yang sejak dari tadi sudah berada disana.
"Tenang nak, mereka masih di tangani oleh dokter didalam." Tuan Michael mencoba menenangkan anak laki - kakinya itu. Sedangkan nyonya Celine yang sedang duduk di kursi tampak sangat sedih.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan tersebut. Austin yang sedari tadi berjalan mondar mandir segera menghampirinya begitu juga dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan istri dan anak saya ?"
"Tolong tenang tuan, kami terpaksa mengoperasi bayi yang ada dalam kandungan istri anda. Karena rahim beliau mengalami kerusakan yang sangat parah."
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dok ?"
"Karena ada benturan yang sangat keras di kepalanya maka untuk saat ini istri anda dalam keadaan koma." dokter itu menjelaskan dengan raut kesedihan di wajahnya.
"Tapi dok, kehamilan menantu saya baru tujuh bulan." kali ini nyonya Celine yang bertanya karena mengingat kandungan menantunya belum cukup bulan untuk melahirkan.
"Kami terpaksa melakukannya nyonya demi menyelamatkan nyawa keduanya."
Mendengarkan perkataan dokter itu, wajah Austin sudah tampak pucat pasi ia tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan istrinya itu.
"Lalu bagaimana dengan cucu laki - laki saya dok ?" kali ini tuan Michael yang bertanya.
"Maaf tuan cucu anda dan seorang laki - laki yang mengendarai mobil tersebut meninggal di tempat kejadian." ada raut penyesalan ketika dokter itu mengatakannya.
"Apa dok, itu tidak mungkin. Anak saya tidak mungkin meninggal." Austin menarik kerah baju dokter tersebut seakan apa yang dikatakan oleh dokter itu hanya bualan semata.
Wira yang sedari tadi berada disana langsung menenangkan bossnya itu.
"Itu tidak mungkin Wir, tadi pagi dia masih baik - baik saja kamu melihatnya juga kan." kali ini Austin cari pembenaran pada asistennya itu.
"Anda pasti bohongkan dok, cepat katakan anda bohong." Austin berteriak lantang pada dokter tersebut.
"Maafkan kami tuan, tapi ketika korban dibawa kesini sudah tiada. Perkiraan kami mereka sudah meninggal di tempat kejadian karena kehilangan banyak darah."
"Pa, cucu kita Pa." tampak nyonya Celine menangis dipelukan tuan Michael, begitu juga dengan laki - laki tua itu air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya.
Austin tampak begitu frustrasi, baru satu jam ia meninggalkan istri dan anaknya tapi kejadian na'as itu terjadi. Seandainya waktu bisa diputar ia lebih baik meninggalkan meeting paginya dan memilih mengantar istri dan anaknya.
"Wir katakan, katakan siapa yang berani menabrak mobil istriku ?"
"Dari keterangan pihak polisi dan para saksi yang melihat sepertinya mobil nona muda sengaja di tabrak tuan, tapi mereka masih terus menyelidikinya." ujar Wira ia sudah mengerahkan anak buahnya ke tempat kejadian kecelakaan untuk mencari informasi.
__ADS_1