
Beberapa hari ini Nisa merasa mual-mual apalagi setiap pagi bangun tidur, mungkin ia merasa kecapekan karena kebetulan Cafe lagi rame. Dia tetap semangat kerja meskipun kadang badannya terasa lemas.
"Nis kamu sakit, kok pucat banget."ujar Mita.
"Nggak tahu nih, sepertinya masuk angin."
"ya sudah kamu pulang saja, biar aku nanti kasih tahu pak Fajar."
"Tenang saja, masih kuat kok." sahut Nisa sambil mengelap meja.
Tiba-tiba Nisa merasa pusing, ia seperti berputar putar, tak lama kemudian ia jatuh tak sadarkan diri. Fajar yang baru datang langsung berlari menghampirinya, di bopongnya Nisa menuju mobil dan segera melajukan kendaraannya itu dengan kencang menuju rumah sakit terdekat, dia sangat kawatir selama ini Nisa memang jarang sekali sakit.
"Dok tolong adik saya dok." Fajar menggendong Nisa ke ruang UGD.
"Baik tuan tolong tunggu di luar ya dan mohon mengisi formulir pendaftarannya dulu." pinta dokter.
Tiga puluh menit kemudian dokter keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Fajar.
"Apa anda suaminya nona Anisa ?" tanya dokter.
"Saya kakaknya dok, bagaimana keadaan adik saya ?"
"Selamat ya tuan adik anda positif hamil, usia kandungannya sekarang sudah sekitar enam minggu, tapi tolong usahakan untuk istirahat total karena kandungannya sangat lemah dan ini resep yang harus di tebus." ujar dokter lalu memberikan resep itu pada Fajar.
Seperti tersambar petir, Fajar langsung murka mendengar penjelasan dokter. Bagaimana bisa Nisa hamil, karena setahu dia selama ini Nisa tidak memiliki kekasih.
Fajar membuka gagang pintu itu lalu berjalan ke arah Nisa, di lihatnya Nisa sedang duduk bersandar di ranjang dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan bahkan Fajar datangpun ia masih diam membisu.
"Nis siapa yang melakukannya, siapa laki-laki itu ?" tanya Fajar murka.
__ADS_1
Nisa tetap diam membisu dengan tatapan kosong, ia seperti berada di dunia lain. Bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Fajar di depannya yang sudah memberondong dengan beberapa pertanyaan padanya.
Merasa kasihan, kemudian Fajar duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat. Seketika tangis Nisa langsung pecah. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Fajar, tak beberapa lama kemudian setelah di rasa Nisa mulai tenang. Fajar melepas pelukannya dan menatap Nisa dengan lembut.
"Katakan Nis siapa laki-laki itu ?" tanya Fajar dengan lembut.
Nisa diam sebentar kemudian dengan ragu-ragu dia menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Austin bahkan Nisa juga menceritakan ancaman Ayah Austin kepada nenek dan adiknya di kampung.
Fajar mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali dia menghajar laki-laki brengsek yang sudah menghamili Nisa.
Sore harinya Nisa sudah di perbolehkan untuk pulang, setelah menghabiskan satu botol cairan infus. Sebenarnya Nisa harus istirahat beberapa hari di rumah sakit, tapi ia menolaknya di samping masalah biaya ia juga merasa tidak enak pada Fajar karena sudah banyak merepotkannya.
Saat keluar dari rumah sakit kepala Nisa terasa pusing lagi dan perlahan badannya mulai oleng, beruntung Fajar dengan sigap menangkapnya sehingga ia tidak sampai jatuh.
Tiba-tiba Fajar di tendang oleh seseorang dari belakang hingga tubuhnya terhuyung, beruntung ia masih bisa menjaga keseimbangannya.
"Dasar wanita murahan di saat gue tidak ada, loe asyik-asyikan pelukan sama laki-laki lain. Ternyata loe sama saja dengan wanita jal*ng di luar sana." teriak Austin, iabmenatap tajam ke arah Nisa.
"Loe laki-laki baj*ngan setelah memperkosanya, loe campakkan dia begitu saja. Sekarang dia hamil apa loe mau tanggung jawab ?" bentak Fajar sambil menarik kerah baju Austin dan ingin melayangkan satu pukulannya lagi, tapi Nisa dengan cepat menahan tangannya.
Austin diam terpaku, dia nampak shock. Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang menyakitkan pada seorang wanita yang sedang mengandung anaknya. Austin sangat menyesal dan jatuh terduduk.
"Ayo Nis, tidak ada gunanya meladeni laki-laki baj"ngan seperti dia ?" kemudian Fajar menuntun Nisa masuk ke dalam mobilnya.
Ketika Austin mau mengejar Nisa, Wira menghampirinya. Mengatakan kalau tuan Michael sudah menunggunya.
Tadi sebenarnya Austin sedang mengantar ayahnya untuk check up di rumah sakit yang sama di mana Nisa di rawat. Ketika sampai di lobby rumah sakit, ia melihat seorang gadis yang mirip dengan Nisa berada di parkiran mobil bersama seorang pria.
Karena ingin memastikannya, ia menyuruh Wira mengantar ayahnya masuk duluan. Ketika sudah mendekati parkiran, ia melihat Nisa sedang di peluk oleh Fajar. Seketika darahnya serasa mendidih, ia sangat murka dan cemburu lalu ia menendang Fajar dari belakang.
__ADS_1
"Nis untuk sementara kamu jangan ke Cafe dulu ya, kamu harus istirahat demi bayi yang sedang kamu kandung." ujar Fajar dari balik kemudinya.
"ya Nas terimakasih." sahut Nisa datar.
Sesampainya di rumah Nisa langsung merebahkan diri, ia tampak meratapi nasibnya. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya, hamil tanpa suami pasti akan terasa berat. Bagaimana akan nasib adik dan neneknya di kampung yang harus ia tanggung juga. Dia terisak menyesali kebodohannya hingga akhirnya tertidur.
Keesokan harinya
Pagi sekali Nisa sudah terbangun, Entah mengapa semalaman dia merasa nyenyak dan hangat. perutnya tidak terasa mual lagi, biasanya dia cepat-cepat bangun dari tidurnya karena ingin muntah.
Ketika dia membuka matanya ada seseorang yang sedang memeluknya dengan erat, dia mengenal aroma itu. Aroma laki-laki yang sangat ia cintai sekaligus ia benci.
"Austin, kamu sedang apa disini ?" tanya Nisa kaget tiba-tiba Austin tidur di sampingnya.
"Sebentar sayang aku masih ingin seperti ini." Sahut Austin masih memeluk Nisa dengan erat.
"Bagaimana kamu bisa masuk ?"
"Aku selalu punya cara sayang." ujar Austin dengan senyum jahilnya.
"tapi kamu tidak punya cara bagaimana mempertanggung jawabkan perbuatan mu, kamu selalu lari dari masalah. Kemana kamu selama ini, setelah merenggut kesucianku kamu hilang tanpa jejak. Meski aku larang untuk mencariku tapi kalau kamu benar mencintaiku setidaknya kamu berusaha mendatangiku." ujar Nisa dengan isak tangisnya.
"Maafkan aku sayang, kita akan berjuang bersama ya untuk meminta restu orang tuaku."
"tapi orang tua mu membenciku, bahkan mereka mengancam keselamatan nenek dan adikku di kampung."
"Aku akan melindungimu dan anak kita sayang ." ujar Austin.
"Apa kamu juga akan melindungi keluargaku di kampung ?"
__ADS_1
" Tentu saja mereka juga keluargaku sayang, berjanjilah apapun yang akan terjadi jangan pernah tinggalkan aku ya ?" pinta Austin.
Nisa mengangguk, dan memeluk pria yang di cintainya itu. Ia merasa saat ini bebannya sedikit berkurang.