
Siang itu di sebuah Pulau yang terkenal dengan hasil minyak buminya, nampak seorang wanita cantik dengan rambut cokelat panjangnya tergerai indah sedang mengemudikan mobilnya membelah jalanan.
Di sebelahnya ada seorang anak balita berusia empat tahun, mereka nampak bercengkerama dengan asyik. Sesekali anak balita itu tertawa nyaring ketika ibunya menceritakan sesuatu yang lucu.
Dia adalah Anisa Rahman biasa di panggil Nisa, setelah lima tahun berlalu sekarang dia bukanlah Nisa yang dulu lagi, Nisa yang polos dan sedikit gesrek, tapi sekarang ia menjelma menjadi wanita dewasa, anggun dan kuat sesuai permintaan mendiang Fajar sebelum meninggal.
Nisa juga sudah menyelesaikan kuliahnya, ia mengambil jurusan ekonomi bisnis di salah satu Universitas di pulau K. Menurutnya mengurus bisnis tidak hanya modal keberanian tapi juga membutuhkan ilmu. Dia ingin menjadi wanita sukses sehingga tidak akan ada lagi yang menghinanya kelak.
"Mami kapan kita ke rumah Om Fachri ?" tanya seorang anak yang sedang duduk di sebelahnya. Dia adalah King Fajarsyah. Anak yang selama ini dia sembunyikan keberadaannya.
"Nanti ya sayang, Mami masih sibuk di kantor. Nanti liburan sekolah Mami janji, kita ke Malaysia ke rumahnya Om Fachri."
Beberapa saat kemudian mobilnya berhenti di sebuah ruko dua lantai dan terdapat gudang yang lumayan luas di area belakang.
Tampak papan nama yang melekat di dinding lantai paling atas, "PT. Kingfood" Itu adalah nama perusahaan yang sudah satu tahun ini Nisa dirikan. Usaha yang melayani jasa catering dan supplier makanan untuk perusahaan baik itu untuk lokasi pertambangan maupun migas di pulau tersebut.
"Selamat siang bu." sapa Nindy, asistennya Nisa.
"Hallo ganteng." ucapnya lagi dengan mengelus gemas pipi gembulnya King.
"Jangan pegang-pegang, King tidak suka." King selalu marah jika ada yang menyebutnya.
Sepertinya sifat arogannya menurun dari ayahnya, Nindy bukannya marah tapi makin gemas. Karena waktu King masih bayi ia juga sering mengasuhnya ketika Nisa membawanya ke kantor De'Rose Cafe dan Bar, tetapi sejak kepemilikan berpindah ke Nisa, ia merubah namanya menjadi "King Resto & Bar".
"Sayang jangan begitu ya itu tidak sopan." Nisa menegur anaknya.
"Nggak apa-apa bu, dia sangat menggemaskan." ujar Nindy.
"Oh ya bu, ada perusahaan baru yang membutuhkan jasa catering untuk area pertambangan. Apa perlu kita mengajukan proposal ?"
"Boleh, kamu coba saja, nanti kabari saya bagaimana perkembangannya." sahut Nisa sambil memeriksa beberapa file di meja kerjanya.
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, Nisa baru keluar dari kantornya. Karena perusahaannya terbilang masih baru, maka dia harus bekerja keras untuk mendapatkan beberapa tender dari perusahaan lain yang membutuhkan jasa perusahaannya.
Nisa melajukan kendaraannya dengan kencang menuju King Resto & Bar miliknya, sedangkan Anaknya sudah pulang dari tadi sore di jemput oleh Adi.
Sesampainya di sana Nisa menuju Bar di lantai tiga, dia sudah ada janji dengan kliennya untuk bertemu di sana. Sejak Bar itu menjadi miliknya dia merubah total bar tersebut.
Dia menginginkan tempat itu lebih ramah, tidak senegatif seperti bayangan orang di luar sana. Tidak ada karyawan wanita yang seksi, semua karyawan harus berjenis laki-laki bahkan dia membatasi minuman beralkohol.
Nisa menginginkan orang-orang yang datang ke Barnya benar-benar hanya untuk bersantai menikmati minuman dan live musik tanpa mabuk-mabukan bahkan dia memperkerjakan beberapa orang pengaman di sana.
Nisa menuju meja bartender dan duduk di sana sambil menunggu kliennya datang.
"Malam Jo." sapa Nisa pada Joshua bartender di sana.
"Apa kabar bu, lama tidak ke sini ?" tanya Joshua, dia menyerahkan segelas mocktail kesukaan Nisa.
Mocktail adalah sejenis minuman dari sari buah atau jus yang di gabungkan, ada yang dicampur soda dan sesuai selera yang jelas tanpa ada kandungan alkohol.
"Lagi sibuk di kantor Jo." Nisa mengambil minumannya.
"Nisa ?"
Nisa menengok, di lihatnya seseorang yang duduk di kursi sebelahnya, yang berada di depan meja bartender. Nisa terkejut, ia melihat seseorang dari masa lalunya yang tidak ingin ia temui.
"Tommy.?"
"Kamu benar Nisa kan ?" Tommy memastikan kalau yang di lihatnya itu benar Nisa.
Ia terkejut karena Nisa yang dia temui sekarang terlihat lebih cantik dan anggun. Tidak seperti Nisa yang dulu selalu berpenampilan tomboy.
"i-iya, kamu apa kabar ?" awalnya Nisa terkejut tapi kemudian dia tersenyum ramah, karena bagaimanapun juga Tommy adalah pelanggan di Bar miliknya.
__ADS_1
"Aku baik, tidak nyangka ya setelah sekian lama kita ketemu lagi ?"
"Dunia ini memang sempit ya." sahut Nisa.
"Kamu sendirian di sini ?"
"Nggak, aku lagi menunggu orang."
"Menunggu orang, apa dia bekerja di sini atau dia menjajahkan diri di sini, tapi tidak mungkin, penampilan dia tidak seperti wanita jal*ng." batin Tommy yang masih memperhatikan Nisa.
"Oh ya Tom aku tinggal dulu ya aku masih ada urusan lain." ucap Nisa lagi, kemudian berlalu meninggalkan Tommy yang terlihat masih menginginkan ngobrol dengannya.
"Apa wanita tadi sering ke sini ?" tanya Tommy pada Joshua sang bartender di Bar tersebut sesaat setelah Nisa pergi, tampak dia sangat penasaran.
Bagaimana bisa Nisa yang dia kenal dulu sangat polos sekarang mainnya di Bar, meski Bar tersebut tidak ekstrim seperti bar lain, tapi paling tidak tempat ini juga masih menjual minuman beralkohol meskipun dibatasi.
"Apa bu Anisa yang anda maksud ?"
Tommy mengangguk, kemudian ia mengambil gelas whiskey yang ada di depannya lalu menyesapnya.
"Beliau pemilik tempat ini."
Tommy tiba-tiba tersedak, sepertinya whiskey yang ia minum seketika berhenti di kerongkongannya.
"Apa, sejak kapan dia memiliki tempat ini ?"
"Saya kurang tahu tuan, tapi sejak saya bekerja disini tiga tahun yang lalu beliau adalah pemiliknya."
Tommy nampak bingung, dia masih tidak menyangka kalau pemilik tempat ini adalah Nisa. Padahal sudah satu tahun lebih dia tinggal di pulau K, dan tempat ini adalah salah satu favoritnya untuk bersantai.
Setelah keluar dari Bar miliknya, Nisa mengendarai mobilnya untuk pulang. Sebenarnya tadi dia ingin menemui kliennya di Bar tersebut, tapi setelah bertemu dengan Tommy, ia membatalkan meetingnya dan segera pulang. Dia sengaja menghindari Tommy dan berharap tidak akan bertemu dengannya lagi.
__ADS_1
Nisa sangat membenci orang-orang dimasa lalunya, terutama yang berhubungan dengan Austin. Bahkan setelah lima tahun berlalu, dia masih belum bisa memaafkan Austin.
Nisa selalu dibayangi ketakutan, jika mereka tahu kalau anaknya masih hidup, dia takut kalau suatu saat nanti mereka akan mengambil anaknya atau bahkan melenyapkannya.