
"Ceritakan bagaimana keadaan dia Wir !!" ucap Austin ingin tahu.
"Selain memimpin perusahaan beliau juga mempunyai Resto dan bar di tepi pantai yang sering anda kunjungi bersama tuan Aldo dan tuan Tommy." ujar Wira menjelaskan.
"Apa ? " Austin nampak kaget, ia teringat perdebatannya dengan Tommy beberapa waktu lalu.
"Benarkah Nisa pemilik bar itu ?" batin Austin bertanya-tanya.
"Seperti apa kehidupan gadisku itu Wir ?" tanya Austin penasaran.
"Nona Anisa yang sekarang sudah sukses tuan, bahkan penampilannya sudah beda jauh dengan yang dulu. "
"Apa dia sesukses itu ?" Austin nampak tak percaya.
"Benar tuan."
"Aku harus segera menemuinya, Wir."
"Sepertinya akan sulit tuan. "
"Apa maksudmu ?" tanya Austin, ia nampak tidak mengerti.
"Apa nona Anisa akan mau menemui anda, setelah anda meninggalkannya lima tahun yang lalu ?"
"Terus aku harus bagaimana, Wir ?" tanya Austin, ia nampak frustrasi, sepertinya dia mendadak bodoh kalau menyangkut soal Nisa.
"Anda harus membuat rencana tuan." ucap Wira memberi saran.
"Rencana ?" Austin masih belum mengerti dengan ucapan Wira.
"Tentu saja tuan, proposal beliau sudah ada di tangan anda." ujar Wira menunjuk map merah yang ada di meja kerjanya Austin.
Austin melihat map tersebut, lalu ada senyum licik di bibirnya. Sepertinya dia menemukan sebuah rencana dalam pikirannya.
"Wir, perintah kan pemilik tiga perusahaan catering itu untuk meeting di sini besok pagi dan beritahukan juga pada mereka kalau meeting tidak bisa diwakilkan." Perintah Austin dengan tegas.
"Apa secepat itu tuan ?"
"Tentu saja Wir, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya." ucap Austin.
"Kalau begitu baiklah tuan, secepatnya saya hubungi mereka." ujar Wira, kemudian ia berlalu dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Austin masih duduk di kursinya, dipandangi map itu dengan seksama. Ternyata Tuhan masih memberinya kesempatan untuknya dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki semua kesalahannya yang dulu pernah ia lakukan pada gadisnya itu.
Dia tidak akan menjadi pengecut lagi meski harus melawan orang tuanya sendiri. Rasa cintanya pada Nisa masih tetap sama seperti dulu bahkan mungkin sekarang makin besar karena ada kerinduan yang dia tahan bertahun-tahun lamanya.
Di tempat lain Nisa terlihat sedang termenung di kursi kerjanya, dia sedang memikirkan Tommy yang beberapa waktu lalu mengutarakan perasaannya. Bagaimana mungkin dia akan menjalani hubungan yang rumit antara Austin dan Tommy.
Nisa mempunyai perasaan yang lembut, dia tidak menyukai permusuhan apa lagi menyakiti orang lain. Bahkan dulu dia selalu menasehati Austin agar jangan pernah melawan orang tuanya.
Ditengah lamunannya terdengar pintu ruangannya diketuk tapi ia tidak menghiraukan. Dia sibuk sendiri dengan pikirannya. Terlihat Adi sedang duduk di sofa depan meja kerja kakaknya itu, karena kakaknya tidak memperdulikannya, Adi bersiul-siul membentuk sebuah irama.
"Astaga Dek, kamu kerja di sini sudah berapa lama, bisa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk, tidak punya sopan santun banget." Nisa memarahi adiknya yang sudah duduk di hadapannya.
"Sudah ketuk pintu, Mbak saja yang tidak dengar. Badannya Mbak di sini tapi pikirannya Mbak itu yang entah nyangkut di mana." gerutu Adi.
"Mau apa kamu ke sini ?" tanya Nisa.
"Minta uang."
"Astaga Dek, kamu belum gajian ? kamu kerja di pake apa uangnya. Awas saja kalau Mbak lihat kamu masih jalan sama cewek bule itu." ujar Nisa dengan nada ancaman.
"Mbakku sayang, ini sudah waktunya bayar uang semester kuliahku."
"Nih udah Mbak transfer." ucapnya
"Ini sudah jadinya, kalau jadi kakak kaya tapi pelit sama adiknya sendiri, jadi kena penyakit pikun." ledek Adi.
"Mana ada seperti itu."
"Ada, itu seperti di film-film azab."
"Kamu nyumpahin Mbak mu ini ya." ujar Nisa dengan kesal.
"Habisnya Mbak punya adik satu-satunya masih kuliah tapi disuruh kerja juga, harusnya seumuran ku ini menghabiskan masa remaja dengan main bersama teman." protes Adi.
Nisa bangun dari kursinya lalu menghampiri adiknya yang sedang duduk di sofa, kemudian ia langsung menjewer adik kesayangannya itu.
"Sepertinya Mbak sudah salah ya memanjakan kamu selama lima tahun ini, kamu itu bukan remaja lagi tapi sudah dua puluh tahun."
"Aduh sakit Mbak, benar-benar Mbak ini seperti ibu tiri saja." Adi mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
"Makanya jangan bersikap seperti anak kecil."
__ADS_1
"Mbak ini galak banget, pria mana coba yang mau nikah sama Mbak." gerutu Adi.
Mendengar ucapan adiknya, Nisa langsung menoyor kepalanya. "Tentu saja ada, tidak lihat apa Mbak mu ini cantik." ucap Nisa.
"Ck, cantik. Buat apa kalau cantik tapi kayak singa." cibir Adi dengan lirih.
"Kamu bilang apa ?"
"Nggak ada." sahut Adi, ia tersenyum nyengir.
"Mbak, bagaimana hubungan mbak dengan kak Tommy ?" tanya Adi, kali ini ia berkata dengan nada serius.
"Hubungan apa, kita cuma teman."
"tapi sepertinya kak Tommy menyukai Mbak."
"Mbak tidak mau pacaran atau menikah Dek, Mbak sudah bahagia hidup seperti ini dengan kamu dan King yang selalu mensupport Mbak."
"Kak Tommy sepertinya orang yang baik Mbak, dia juga kelihatan sayang banget sama King, kenapa tidak Mbak coba membuka hati untuk dia ?"
"Seandainya kamu tahu kalau Tommy dan Austin bersaudara Dek, mungkin kamu tidak akan bicara seperti itu." batin Nisa.
"Mbak malah melamun sih, Mbak masih memikirkan Si brengsek itu ?" tanya Adi lagi.
"Mana ada, Mbak sudah melupakannya." sahut Nisa.
Kemudian ia berpaling melihat ke segala arah, agar adiknya itu tidak melihat kebohongan dimatanya.
"Awas saja kalau Si brengsek itu nongol lagi, akan ku hajar habis-habisan. Jangan panggil aku Adi Si pemegang sabuk hitam karate dan taekwondo kalau tidak bisa hancurin dia." ucap Adi dengan tegas.
Adi meski masih berumur dua puluh tahun, tapi badannya tinggi besar seperti mendiang ayahnya. Badannya yang atletis dengan ototnya yang besar itu, membuatnya terlihat lebih dewasa.
Di mata orang lain dia terlihat seperti seorang kakak bagi Nisa, karena kalau diluar ia selalu bersikap dewasa dan sosok pelindung bagi kakaknya, tapi siapa sangka kalau dengan Nisa dia selalu bersikap seperti anak kecil dan suka bermanja.
Di tengah perdebatan antara kakak dan adik yang terlihat lucu itu, terdengar ketukan pintu dari luar, tak berapa lama kemudian Nindy masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf bu mengganggu." ujar Nindy, ia merasa tidak enak.
"Ada apa Nin ?" tanya Nisa.
"Sepertinya proposal kita masuk dalam tiga besar di perusahaan AG Mining bu, dan besok pagi mereka akan mengadakan meeting bersama untuk ketiga perusahaan yang terpilih dan tidak boleh diwakilkan." ujar Nindy menjelaskan.
__ADS_1