Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Tidak macam - macam ??


__ADS_3

"Austin, apa aku boleh memindahkan Nindy ke perusahaanmu yang ada disini ?" ujar Nisa seraya memasangkan dasi suaminya.


"Terus perusahaanmu yang disana bagaimana ?"


"Kan ada Adi yang mengurusnya, lagi pula aku butuh teman untuk mengobrol."


"Memangnya aku tidak cukup baik untuk menjadi teman ngobrol kamu." Austin menatap manik istrinya itu.


"Bukan begitu, aku butuh teman wanita. Kamu tahu sendiri selama ini kamu selalu membatasi pergaulanku." Nisa tampak mengiba pada suaminya.


"Itu semua demi kebaikanmu sayang, aku tidak mau ada orang yang berniat jahat padamu."


"Jadi bolehkan kalau Nindy pindah kesini ?" Nisa melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya itu, ia berpikir akan merayunya agar keinginannya dikabulkan.


"Kamu jangan menggodaku sayang, apa kamu akan membatalkan meeting pagi ku. Hmmm." Austin mulai mengecup dan ******* bibir istrinya itu, tapi tak berapa lama Nisa langsung melepaskan panggutannya karena ia tidak mau suaminya keterusan dan berganti mengerjainya.


"Jadi bolehkan ?" Nisa menatap suaminya sambil merapatkan badannya itu hingga tidak ada cela sedikitpun dengan suaminya.


"Baiklah, terserah kamu saja." ucap Austin ia mencubit gemas hidung istrinya itu.


Merasa mendapat persetujuan dari suaminya Nisa langsung melepas pelukannya dan menarik tangan suaminya untuk segera berlalu dari kamarnya.


"Austin kamu tidak sarapan dulu ?" Nisa melihat suaminya yang melewati meja makan.


"Aku ada meeting pagi sayang."


"Kalau begitu bawalah ini, kamu tidak boleh melewatkan sarapanmu nanti sakit." Nisa menyerahkan kotak bekal berisi dua potong sandwich.


"Kamu memang istri terbaikku." ujar Austin seraya mengusap lembut puncak kepala Nisa.


"Aline kemana sayang ?" Mata Austin menjelajahi seluruh ruangan mencari keberadaan anaknya itu.


"Sama papa di luar." teriak nyonya Celine yang sedang berada di dapur.


"Baiklah kalau begitu aku langsung berangkat saja, kamu hati - hati di rumah ya." Austin mengecup seluruh wajah istrinya lalu berpamitan pada ibunya.


"Tidak usah mengantarku, kamu langsung sarapan saja." ujar Austin ketika Nisa akan mengikuti langkahnya.


"Astaga papa, kenapa anakku jadi seperti ini." Austin melihat pipi gembul anaknya berwarna kemerahan.


"Sinar matahari pagi bagus buat anak - anak." ujar Tuan Michael ia tampak bersantai di kursi malas sambil berjemur dan bocah kecil itu berada di pangkuannya.


"Tapi jangan kelamaan Pa, nanti jadi ikan asin anakku. Ayo sayang ikut Papa kita ke tempat Mami." Austin mengulurkan kedua tangannya agar anaknya itu meraihnya.


Tapi justru bocah kecil itu mengeratkan pelukannya pada kakeknya. "Sayang ini Papa ?" Austin mencoba untuk membujuknya.


Bocah itu tampak tertawa melihat ayahnya tapi ia sama sekali tidak mau di ajak. " Ini pasti karena Papa mendominasinya setiap hari jadi dia tidak mau bersamaku." Austin mendengus kesal.

__ADS_1


"Sudah berangkat kerja sana." tuan Michael tampak tersenyum penuh kemenangan karena cucunya itu lebih memilihnya dari pada Ayahnya sendiri.


"Baiklah." Austin menciumi gemas pipi anaknya kemudian ia berlalu pergi.


Wira tampak membukakan pintu mobil, ketika Austin berjalan ke arah arahnya.


"Wir, bisa kamu carikan posisi yang tepat untuk Nindy di kantor ?" ujar Austin ketika mobil sudah mulai melaju.


"Maksudnya tuan ?" sepertinya Wira kurang mengerti ucapan bossnya itu.


"Istriku ingin Nindy pindah ke perusahaan kita."


"Baik tuan." sahut Wira dari balik kemudi, tampak ada smirk kecil di wajahnya.


Ditempat lain tampak Nisa sedang bersantai di sofa kamarnya setelah ia menyelesaikan sarapan paginya.


Drtt


Drtt


Tampak ponsel Nisa berdering, seketika ia langsung menjawabnya setelah tahu siapa yang menelepon. "Hallo Nin, baru saja aku mau menghubungimu."


"Ada file penting yang sudah saya kirim ke email ibu."


"Baiklah nanti aku akan memeriksanya, Nin kamu bisa tidak besok kesini ?"


"Kamu pindah kerja ke perusahaan Austin saja, biar aku ada temannya disini. Masalah tempat tinggal kamu jangan khawatir, kamu bisa menempati salah satu Apartemen Austin yang kosong." Nisa tampak memohon pada asistennya itu.


"Apa tidak apa - apa buk ?"


"Kamu mau kan ?" kali ini Nisa terdengar mengiba agar Nindy tidak menolaknya.


"Baiklah bu saya akan menyelesaikan masalah disini dulu."


"Terima kasih Nin." ujar Nisa kemudian ia menutup teleponnya.


Malam harinya


Sudah hampir tengah malam, Austin belum juga pulang. Nisa tampak mondar mandir didalam kamar menunggunya, setiap saat ia mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi selalu saja diluar jangkauan.


Tak berapa lama kemudian Austin membuka pintu kamarnya, ia melihat istrinya itu tertidur di sofa. "Sayang kenapa tidur disini ?" Austin berjongkok di lantai untuk membangunkan istrinya itu.


"Austin kamu baru pulang ?"ucap Nisa ia seketika bangun dari tidurnya.


"Maaf ya tadi ada klien dari Singapore minta di temani minum, tidak enak kalau menolaknya." Austin masih dengan posisi jongkok ia memegang kedua tangan istrinya yang sedang duduk di sofa, sepertinya ia tampak menyesal membiarkan istrinya menunggunya hingga tengah malam.


"Kenapa tidak kasih kabar aku sangat khawatir ?" Nisa tampak merengut.

__ADS_1


"Ponselku baterai habis sayang."


Kemudian Nisa mengendus - endus kemeja Austin dari depan hingga belakang.


"Sayang kamu mau ngapain ?" Austin merasa aneh dengan tingkah istrinya.


"Aku cuma mau mencium bajumu, siapa tahu bau parfum wanita."


"Sayang, kamu terlalu berlebihan mana mungkin aku seperti itu."


"Aku juga punya Bar Austin. Dulu sebelum ku rombak habis, Bar itu juga menyediakan wanita penghibur untuk menemani para pelanggan."


"Astaga sayang di rumah sudah ada yang lebih cantik, kenapa aku cari penyakit di luar."


"Beneran kamu tidak macam - macam ?" Nisa memicingkan matanya menatap suaminya.


"Maunya sih macam - macamnya sama kamu sayang." Austin tergelak. Ia sudah mau melahap bibir mungilnya, tapi seketika Nisa mendorong tubuhnya untuk menjauh.


"Kamu mandi dulu gih, kamu bau sekali." Nisa mencium aroma alkhohol yang menyengat.


"Baiklah, tunggu ya jangan tidur dulu." Austin langsung bergegas ke kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi, tapi istrinya itu sudah tertidur pulas di ranjang.


"Astaga sayang cepat banget tidur." Austin melihat Nisa sudah tidur pulas, terdengar napas teraturnya. Kemudian setelah berganti pakaian, lalu ia merebahkan badannya disamping istrinya.


Waktu baru menunjukkan pukul empat pagi, tapi Nisa sudah terbangun. Ia melihat ke sampingnya dimana biasanya Austin tidur, tapi laki - laki itu tidak ada.


"Austin, sayang." Nisa berteriak memanggil suaminya tapi sama sekali tidak ada sahutan.


Kemudian ia beranjak dari tidurnya, ia mencari ke kamar mandi tapi suaminya tidak ada disana. lalu ia melihat pintu balkon terbuka sedikit, ia berjalan pelan untuk melihatnya.


Dilihatnya suaminya itu sedang duduk di balkon dengan sebatang rokok di tangannya. "Austin kenapa kamu disini ?" Nisa berjalan mendekati suaminya.


Melihat istrinya datang, ia menghisap rokok di tangannya itu sebentar lalu langsung mematikannya. "Kenapa sudah bangun sayang ?" tanyanya.


"Aku mencarimu, kenapa kamu tidak tidur ?"


"Bagaimana aku bisa tidur, kamu tidak menungguku."


"Astaga, aku ketiduran." Nisa mencubit pinggang suaminya itu. Kemudian ia mengajak suaminya untuk masuk kedalam. "Ayo, aku tahu kamu tidak bisa tidur karena apa." Nisa menarik tangan suaminya agar mengikutinya.


"Nah itu kamu tahu." Austin mengikuti istrinya dengan senyum menyeringai.


"Tapi bau rokokmu itu menyengat Austin."


"Kalau tidak merokok bukan laki banget sayang." Dan mungkin obrolan mereka akan berlanjut sampai pagi..........

__ADS_1


Duh receh banget ceritanya benar - benar tidak ada ide sama sekali, sepertinya bentar lagi end ya gaeeeessss.. jangan lupa mampir ke karya ku yang lain Aline sang pewaris.


__ADS_2