Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Rumah sakit


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Fajar di rawat di rumah sakit, tapi kondisinya kian hari makin melemah. Nisa sama sekali tidak beranjak dari sisinya, dengan telaten ia merawat dan menjaganya.


Setiap hari Nisa selalu membujuk Fajar agar mau melakukan transplantasi hati bahkan dia rela mendonorkan hatinya jika memang cocok, tapi Fajar selalu menolaknya, dia berkeyakinan kalau sakitnya adalah jalan Tuhan yang harus dia lalui.


"Mas mau Nisa kasih tebakan ?"


"Apa ?" tanya Fajar.


"Kenapa matahari tenggelam ?"


"Karena mau malam." jawab Fajar setelah sedikit berfikir.


"Salah."


"Terus ?"


"Karena tidak bisa berenang." Nisa tertawa yang di ikuti juga oleh Fajar.


Begitulah Nisa selalu mempunyai cara untuk menghibur orang-orang di dekatnya. Termasuk Fajar meski sedang sakit, dia selalu terhibur dengan celetuk-celetukan Nisa yang membuatnya tertawa.


Di tengah-tengah mereka bercanda, terdengar pintu kamarnya di ketuk.


tokkk


tokkk


Tak lama pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki setengah baya dengan setelan jas, beliau berjalan mendekati Fajar dan menyapanya.


"Tuan Fajar bagaimana kabarnya ?" tanya laki-laki tersebut.


"Seperti yang anda lihat Pak, sepertinya waktu saya sudah tidak lama lagi ." celetuk Fajar dengan suara lemah.


"Mas...." ucap Nisa seperti tidak terima Fajar berkata seperti itu.


Fajar menatap Nisa yang kelihatan sedih, bahkan ada air mata yang sudah menggenang di sana.


"Kenalin Nis, ini pak Firman pengacara pribadinya Mas, beliau juga yang selama ini membantu mengurusi bisnisnya Mas."


"Nisa pak." Nisa mengulurkan tangannya, begitu juga dengan pak Firman langsung menjabat tangan Nisa.


"Apakah Nona ini yang sering anda ceritakan itu tuan ?" tanya pak Firman pada Fajar.


Fajar langsung mengangguk dan tersenyum pada pengacaranya itu. "Apa anda sudah membawa dokumen yang saya minta pak ?"


Terlihat pengacara itu mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas kerjanya dan menunjukkan pada Fajar.

__ADS_1


"Nis tolong mendekatlah ?" perintah Fajar.


Setelah Nisa mendekat dan berada di sampingnya, Fajar lalu memberikan dokumen itu pada Nisa.


"Terimalah ini, ini untuk kamu." ujar Fajar.


"A-apa ini Mas ?


"Bukalah !!"


Nisa membuka dokumen itu, terlihat berisi beberapa sertifikat tanah dan bangunan. "Ini apa Mas Nisa tidak mengerti? ?"


"Itu semua buat kamu Nis, itu Cafe dan Bar yang mas miliki di pulau K dan rumah yang waktu itu kita lihat, itu juga sengaja Mas bangun buat kamu serta ada beberapa bidang tanah di sana. Semua aset Mas yang ada di pulau K sekarang punya kamu."


"tapi Mas, Nisa tidak bisa menerimanya." air mata yang dari tadi ia tahan sekarang sudah jatuh membasahi pipinya.


"Kamu tahu Nis, di Pulau tersebut awal mula Mas merintis usaha, Mas juga mau kamu memulai hidup baru di sana dengan melanjutkan usahanya Mas. Karena mungkin Mas tidak akan bisa bersama kamu lagi."


"Mas jangan bicara seperti itu, kita akan selalu bersama." terdengar Nisa semakin terisak.


"Sekarang, cepat kamu tanda tangani ya ?" perintah Fajar dan terlihat pengacara itu menyerahkan bolpoin pada Nisa.


"tapi Mas janji ya, jangan tinggalkan Nisa." tampak Nisa memohon dengan menggenggam erat tangan Fajar.


Fajar mengangguk dan tersenyum padanya lalu Nisa di bimbing oleh pak Firman untuk menandatangani semua dokumen pengalihan aset Fajar kepadanya.


Beberapa saat kemudian Nisa mengantar pak Firman keluar dari ruangan Fajar, karena beliau sudah menyelesaikan urusannya. Setelah berbincang sebentar dengan pengacara itu, ia masuk lagi kedalam ruangan itu tapi terdengar ada seseorang yang memanggilnya.


"Nisa !!" panggil Tommy.


Nisa berbalik dan mencari tahu siapa yang memanggilnya. "Tom." tampak Nisa terkejut.


"Kamu sakit ?" tanya Tommy lagi.


"Nggak, ada temanku yang sakit dan di rawat di sini." ujar Nisa.


"Syukurlah, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


"Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan Tom, aku sudah melupakan semuanya dan aku juga sudah tidak perduli lagi dengannya. Jadi aku mohon jangan temui aku lagi, anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya."


"Bukan itu Nis, ini soal keselamatan kamu."


"Maksudnya ?" tanya Nisa tidak mengerti.


"Sepertinya Om Michael, maksudku Papanya Austin beliau sepertinya mengincar kamu. Lebih tepatnya bayi yang ada di dalam kandunganmu."

__ADS_1


Nisa tampak shock, tapi ia dengan cepat menguasai dirinya dan bersikap tenang kembali.


"Terima kasih atas peringatannya Tom, tapi lebih baik kamu jangan ikut campur lagi kehidupanku." ucap Nisa dengan tegas.


"tapi Nis kamu tidak..." Tommy pandangannya mengarah ke perut Nisa, tapi Nisa langsung menyela perkataan Tommy.


"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku permisi Tom." Kemudian Nisa berlalu pergi meninggalkan Tommy yang masih diam terpaku.


"Semoga kamu tidak melakukannya Nis." batin Tommy.


Sementara itu Nisa berjalan ke arah kamarnya Fajar, pikirannya masih terngiang-ngiang dengan perkataan Tommy. Bahkan sampai di kamarpun ia masih terlihat melamun.


"Nis...? panggil Fajar.


"ya Mas." jawab Nisa sambil tersenyum.


"Kamu kenapa, dari tadi Mas perhatikan tampak melamun ?"


"Nggak Mas, aku cuma lagi mikirin Mas." ujar Nisa beralasan.


"Mas, boleh Nisa tanya ?"


"Kenapa ?" ujar Fajar kemudian ia terlihat duduk dan bersandar di headboard ranjang.


"Kenapa Mas memberikan semua aset mas di pulau K, padahal Nisa bukan siapa-siapa bagi Mas. Nisa cuma orang lain, Nisa merasa tidak pantas menerimanya."


Fajar tersenyum melihat kepolosan Nisa, mungkin orang lain akan dengan senang hati menerima pemberiannya, tapi Nisa terlihat sangat terbebani, lalu Fajar menyuruh Nisa mendekat padanya dan menyuruhnya duduk di kursi di samping ranjangnya.


"Ada yang mau mas ceritakan sama kamu Nis." ujar Fajar.


" Apa Mas ? tampak Nisa penasaran.


"Kamu ingat pertama kali Yayuk membawamu ke Cafe dan mengenalkan mu padaku, waktu itu aku sangat terkejut melihatmu. Kamu terlihat mirip sekali dengan almarhum istriku waktu muda, sampai aku menyuruh orang untuk mencari tahu asal-usul kamu."


"Aku pikir kalian ada hubungan saudara tapi ternyata tidak dan aku percaya kata orang, kalau wajah kita sebenarnya mempunyai kembaran dengan beberapa orang di dunia ini. salah satunya kamu dan istriku."


"tapi sifat kalian beda, kalau istriku sedikit pendiam." kata Fajar.


"Kalau Nisa Mas ?" tanya Nisa penasaran.


"Kamu sedikit gesrek." ujar Fajar tertawa.


Nisa juga ikutan tertawa, ia senang melihat Fajar terlihat bahagia.


"tapi jujur sejak ada kamu di Cafe semangat hidupku kembali lagi, padahal beberapa tahun terakhir sejak istriku meninggal aku sangat terpuruk. Setiap hari aku mabuk-mabukan, tapi sejak ada kamu aku mulai mengurangi kebiasaan buruk itu dan mulai menata hidupku lagi, tapi sepertinya semua terlambat karena gaya hidupku dulu yang buruk hingga liverku rusak."

__ADS_1


"Maaf Mas kalau Nisa boleh tahu, sejak kapan Mas mulai sakit ?" tanya Nisa.


"Sebulan sebelum kita ke pulau K waktu itu."


__ADS_2