
"Kamu kenapa sih bro dari tadi batuk-batuk mulu ?" tanya Aldo ketika melihat Tommy yang entah kenapa dari tadi terbatuk terus.
"Nggak apa-apa sepertinya ada debu yang nyangkut." sahut Tommy beralasan.
"Memang kamu tahu dari mana kalau yang punya tempat ini seorang wanita ?" tanya Tommy.
"Tuh." Aldo menunjuk seorang bartender yang sedang meracik minuman.
"Palingan juga wanita jal*ng." celetuk Austin.
"Jangan asal nuduh." Teriak Tommy dengan kesal.
"Memang ada wanita baik-baik mempunyai bar." sahut Austin sedikit emosi.
"Kalian berdua kenapa jadi ngegas gitu sih ?" bentak Aldo.
"Habisnya dia nuduh orang sembarangan." ujar Tommy sebari menatap Austin.
"Aku nggak menuduh tapi fakta, kalau wanita baik-baik kerjanya di kantoran bukan di bar. Bagaimana bisa seseorang yang tidak punya pengalaman di bar tapi bisa punya ar. Mikir, palingan juga bekas wanita jal*ng."
Sejenak Tommy diam untuk mencerna kata-kata Austin barusan "Benar juga apa yang dikatakan Austin, selama ini Nisa selalu mengalihkan pembicaraan jika aku bertanya tentang bar ini atau tentang keberadaannya di pulau K ini." batin Tommy.
"tapi memang tempat ini beda bro dengan tempat lain, entah kenapa sejak Tommy membawaku pertama kali ke sini. Aku lebih merasa tenang dan betah." Ujar Aldo, ia memandang keluar ke arah lautan yang gelap, terlihat kerlap kerlip lampu dari kapal yang lewat.
Keesokan harinya
Pagi ini Nisa dan anaknya sudah berada di Airport, mereka akan berangkat ke Malaysia untuk menghadiri acara anniversary pernikahan Fachri dan istrinya, setelah menempuh kurang lebih satu jam penerbangan mereka tiba di ibukota negara tersebut.
"Terima kasih ya Nis, sudah mau datang ke rumah kakak." ujar Fajirah istrinya Fachri, ketika mereka sedang berbincang-bincang di ruang keluarga.
"Sama-sama kak, aku juga senang bisa bantu-bantu kakak menyiapkan acaranya." sahut Nisa.
"Nanti ada beberapa tamunya kakak juga dari Indonesia, beberapa ibu-ibu sosialita pelanggan di butik, besok kakak kenalin oke." ujar Fajirah.
__ADS_1
Sedangkan King nampak duduk di pangkuan Fachri, mereka terlihat seperti ayah dan anak. Fachri sangat menyayangi King, bahkan ia dan istrinya sering ke pulau K hanya untuk bertemu dengan King. Karena sampai sekarang belum dikaruniai seorang anak, jadi mereka menganggap King seperti anak sendiri.
Sore harinya
Nisa dan Fajirah pergi ke pusat perbelanjaan di salah satu Mall di kota itu, mereka berencana membeli sesuatu untuk acara besok. Sedangkan King sejak tadi pagi, Fachri sudah mendominasinya. Ia sangat menyayangi King, begitu juga dengan King. Anak kecil itu menemukan sosok seorang ayah dalam diri Fachri.
"Kak, sepertinya ponsel Nisa ketinggalan di mobil." ujar Nisa ketika mereka baru memasuki Mall tersebut.
"Nisa ambil dulu ya, kakak duluan saja nanti Nisa menyusul." lanjut Nisa lagi.
Kemudian Nisa berjalan keluar ke arah parkiran mobilnya, ia menyusuri deretan mobil yang berjejer rapi di sana. Ketika mau membuka pintu mobilnya dia mendengar suara seseorang yang meminta tolong. Nisa segera mencari asal suara itu, terlihat ada seorang wanita setengah baya sedang berebut tas dengan dua orang pria.
"Sepertinya perampok, apa di sini tidak ada cctv. Bisa-bisanya mereka beraksi di sini." batin Nisa tampak pandangannya mencari letak cctv di gedung parkir tersebut
Dengan cepat Nisa menendang kaki salah satu pencuri yang akan kabur dengan membawa tas wanita tersebut, hingga tas itu terlempar.
"Nyonya cepat ambil tas itu dan segera lari." teriak Nisa.
Kemudian Wanita itu segera mengambil tasnya dan bersembunyi di belakang salah satu kendaraan di sana.
Nisa mau mengarah kan tendangannya lagi tapi terlambat, pencuri satunya lagi sudah mengeluarkan pisau dan menyerangnya. Beruntung dia bisa menghindar meski terkena sedikit goresan di lengannya. Tak berapa lama setelah Nisa menghajar kedua pencuri tersebut, ada beberapa security yang datang membantunya.
Setelah kedua pencuri itu dibawa oleh petugas keamanan, Nisa segera mengambil ponselnya di dalam mobil dan segera membersihkan luka di lengan tangannya lalu membalutnya dengan kain kasa steril.
"Terima kasih ya Nak." Ucap nyonya Celine.
Wanita setengah baya yang Nisa tolong tadi adalah nyonya Celine ibunya Austin, beliau tadi baru keluar dari Mall tersebut, ketika berada di parkiran ada dua orang yang menghampirinya dan berusaha merebut tasnya.
"Anda nggak apa-apa nyonya ?"
"Saya nggak apa-apa, tapi sepertinya kamu yang terluka Nak." Nyonya Celine memperhatikan lengan tangan Nisa yang dibalut kain kasa.
"Nggak apa-apa hanya luka kecil, kalau begitu saya permisi dulu nyonya, kakak saya sudah menunggu di dalam."
__ADS_1
"Siapa nama kamu nak, dan di mana rumahmu. Saya akan mengirim hadiah sebagai tanda ucapan terima kasih."
"Nggak perlu nyonya, saya ikhlas membantu." Nisa tersenyum manis, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan nyonya Celine.
"Gadis yang baik, sepertinya dia juga berasal dari Indonesia." batin nyonya Celine.
Kemudian Nisa masuk ke dalam Mall itu lagi, dia terlihat naik eskalator menuju sebuah toko di lantai atas di mana Fajirah sudah menunggunya.
"Maaf ya kak agak lama menunggu." ujar Nisa, ia melihat Fajirah sudah membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Kamu dari mana saja Nis, itu lengan kamu kenapa ?" Fajirah melihat ke arah lengan tangan Nisa yang dibalut kain kasa.
"Nggak apa-apa kak cuma luka sedikit." Nisa tersenyum manis.
"Berkelahi lagi ?"
Nisa terlihat nyengir, kakaknya itu selalu saja memarahinya jika tahu Nisa melakukan hal yang membahayakan dirinya.
"Kamu bisa tidak Nis bersikap seperti perempuan normal ?" ujar Fajirah.
"Nisa kan normal kak."
"Kalau perempuan normal, ketika ada bahaya dia akan berteriak meminta tolong. Bukan seperti kamu menghadapinya sendiri."
"tapi Nisa nggak bisa tinggal diam kak, lihat orang lain disakiti."
"Susah bicara sama anak keras kepala sepertimu, setelah ini kita mampir ke dokter dulu periksain lukamu."
"Cuma luka kecil kak, nanti juga sembuh sendiri."
"tapi kalau tidak ditangani dengan benar, lukanya bisa menimbulkan bekas." ujar Fajirah, ia terlihat kawatir.
"Terima kasih kak." Nisa memeluk Fajirah.
__ADS_1
Nisa begitu terharu, dia bersyukur dalam hidupnya dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mendiang Fajar dan keluarganya. Hingga membuat perubahan besar dalam kehidupannya sampai saat ini.
Mungkin ini adalah buah dari kebaikan orang tuanya dimasa lalu, dimana mendiang orang tuanya dulu sangat dermawan. Walaupun hidup di kampung mereka selalu perduli dengan orang sekitar yang lebih susah, tapi kehidupan Nisa berubah drastis sejak orang tuanya meninggal, kehidupan yang serba kekurangan belum lagi hinaan dari orang-orang karena status sosialnya.