
"Sayang, aaaaa." Austin meminta Nisa untuk membuka bibirnya.
"Aku bisa makan sendiri Austin."
"tapi anak kita mau papanya yang suapi sayang."
"Haissssh modus."
Pagi ini setelah mereka menyelesaikan perdebatan panjang, Austin memasak bubur buat Nisa. Walau sekalipun ia tidak pernah memasak tapi ia berusaha membuatnya seenak mungkin walau masih dengan bantuan Nisa juga.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Mereka berencana akan menghabiskan waktu seharian berdua. Nisa yang biasanya selalu muntah-muntah, entah mengapa hari ini ia merasa sangat sehat bahkan perasaan mualpun tidak dia rasakan lagi. Mungkin bayi yang ada di dalam perutnya merasakan kehadiran ayahnya.
Siang harinya
Austin mengajak Nisa jalan-jalan ke Mall, ia mau membelikannya banyak dress karena selama ini yang ia tahu Nisa sedikit tomboy jadi selalu memakai celana pendek kalau di rumah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau perutnya sudah membesar nanti tapi masih pakai celana.
"Austin di sini mahal, kita ketempat lain saja ya." bisik Nisa dengan polos ketika dia melihat harga dress tersebut.
Sayang ini butik terbaik di Mall ini."
"tapi Austin..." Nisa belum sempat menyelesaikan perkataannya tapi Austin sudah menyuruh pegawai butik itu untuk membungkus semua dress yang cocok dengannya.
"Ini terlalu berlebihan Austin, apa kamu mau memindahkan butik ini ke rumahku."
"Sayang kamu itu aneh, kalau wanita lain pasti dengan senang hati menerima pemberian ku."
"Jangan samakan aku dengan mereka." cebik Nisa.
Austin yang merasa gemas melihat Nisa ngambek lalu ia mengecup bibirnya sekilas untuk menggodanya.
"Austin......!!" Nisa berteriak karena tidak terima di cium di depan umum.
Austin terkekeh, kemudian ia berlalu ke meja kasir dan mengeluarkan Black card nya untuk membayar belanjaannya.
Setelah itu mereka berkeliling Mall lagi untuk mencari Restoran, karena mereka sudah melewatkan makan siangnya, tapi tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang memperhatikannya diam-diam.
"Sayang kapan kita akan ke dokter ?" tanya Austin dari balik kemudinya.
"Kemarin kan sudah, sama mas Fajar."
"tapi kamu ke dokternya sama pria lain bukan sama Papanya bayi."
"ya sudah kamu bisanya kapan ?"
"Bagaimana kalau besok sore, setelah pulang kantor ?"
__ADS_1
"Baiklah aku akan menunggumu."
Setelah mengantar Nisa, Austin melajukan kendaraannya ke Apartemen. Hari ini ia sangat bahagia, ia bertekad akan segera meminta restu pada orang tuanya.
Di tempat lain, tuan Michael sangat marah. Setelah seorang anak buahnya menyerahkan beberapa lembar foto. Kemudian dia segera menghubungi Wira, entah apa yang mereka bicarakan.
Keesokan harinya
Pagi ini Nisa bangun dengan keadaan yang sangat sehat, sepertinya mood nya mempengaruhi kondisi tubuhnya. Sehingga drama muntah-muntah di pagi hari tidak dia rasakan lagi.
Di ambilnya ponsel di atas nakas, dia mengecek satu persatu pesan masuk. Ada pesan dari Fajar yang menanyakan keadaannya dan juga ada pesan dari Austin, baru dia mau membalas pesannya Austin sudah menghubunginya.
"Pagi sayang." Ujar Austin dari ujung telepon.
"Iya Austin, baru aku mau menghubungimu."
"Udah kangen ya ??
"Dedek bayi yang kangen."
"Dedek bayi apa mamanya ?"
"Haissssssh kamu itu, nanti sore jadi kan ke dokter ?"
"Jadi sayang, tapi aku nggak bisa jemput ya ada meeting. kamu bisa kan berangkat duluan nanti kita ketemu di sana ?" pinta Austin.
☆☆
Siang ini Austin pergi ke kediaman orang tuanya, karena tadi pagi Wira menyampaikan kalau Tuan Michael ingin menemuinya.
"Papa mana Ma ?" tanya Austin pada Ibunya yang lagi sibuk mempersiapkan makan siang di dapur.
"Papa kamu ada di ruang kerjanya, ayo buruan kamu sudah di tunggu. Sepertinya ada pekerjaan penting yang mau di bicarakan." ujar Mamanya.
tokk
tokk
Austin mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Sepertinya tuan Michael tampak dalam keadaan yang kurang baik, atau mungkin sedang menahan marah.
"Papa memanggilku ?" tanya Austin yang masih berdiri di depan meja kerja Ayahnya.
Terlihat Ayahnya mengambil sesuatu dari dalam laci, lalu melemparnya kearah Austin.
"Dasar anak kurang ajar." bentak Ayahnya.
__ADS_1
Seketika Austin memunguti beberapa lempar foto yang di dalamnya ada dirinya dan Nisa waktu di Mall kemarin.
"Tinggalkan perempuan itu !!" perintah Ayahnya dengan tegas.
"tapi Austin mencintainya Pa."
"Papa menyuruhmu mencari wanita yang sederajat dengan kita, bukan wanita rendahan seperti itu."
"Papa, Austin mohon tolong restui kami ?" tampak Austin mengiba pada Ayahnya.
"Lebih baik Papa mati daripada melihat kamu menikahinya."
"tapi dia sedang hamil Pa." ujar Austin lirih.
"Siapa yang hamil nak ?" tanya ibunya yang baru masuk dan tampak shock sama seperti ayahnya.
Buru-buru tuan Michael memasukkan foto-foto Austin dan Nisa ke dalam laci kembali sebelum di lihat oleh istrinya.
Plakkk
Plakkk
Tuan Michael menampar pipi Austin, belum puas dengan menamparnya. Beliau mau melayangkan pukulannya lagi tapi Nyonya Celine buru-buru menahannya dan memeluk anaknya. Sedangkan Austin hanya diam membisu, selama hidupnya baru kali ini ia melihat ayahnya semarah itu.
"Papa sudah membesarkanmu selama ini jadi saatnya tunjukkan baktimu pada Papa, tinggalkan perempuan itu dan segera menikah dengan Felicya."
"Austin tidak mencintai Feli Pa."
"Papa tidak perduli, dan Papa tidak akan mengijinkan wanita rendahan itu melahirkan keturunan Gunawan."
Austin tampak shock, dia takut kalau ayahnya akan menyakiti gadisnya itu. Austin tahu betul bagaimana karakter Ayahnya, sangat kejam dan tidak mentolerir sebuah kesalahan.
Seandainya dia bisa mengatur perasaannya pada siapa dia akan jatuh cinta, maka masalahnya tak akan serumit ini. Pasti dia akan mencari wanita yang sepadan dengan dirinya, tapi pada kenyataannya ia tidak akan pernah tahu hatinya akan berlabuh pada siapa.
"Austin akan lakukan apa saja asal papa tidak menyakiti Nisa."
"Menikahlah dengan Felicya dan ambil pendidikan pascasarjana di luar negeri selama tiga tahun. setelah kamu lulus, Papa akan menyerahkan perusahaan padamu dan tidak akan ikut campur urusan pribadi kamu lagi ?" perintah Ayahnya.
"Berjanjilah mulai hari ini jangan pernah berhubungan lagi dengannya, Papa akan melepaskan wanita itu dan keluarganya. Ingat jangan macam-macam Papa bisa melakukan segalanya." lanjut tuan Michael lagi kali ini dengan menekankan kata-katanya.
"Baiklah Pa, Aku akan hidup sesuai dengan keinginan Papa. meski aku harus terpaksa meninggalkan anak kandungku sendiri." ujar Austin sambil mengepalkan erat tangannya. Kemudian dia berlalu pergi meninggalkan orang tuanya.
"Pa, Apa Papa akan melenyapkan cucu kita ?" ujar nyonya Celine, bibirnya terasa keluh saat mengatakannya.
"Papa harus melakukannya Ma demi reputasi perusahaan dan nama baik keluarga kita."
__ADS_1
"tapi Pa..... "
"Tenang saja Ma, Papa tidak akan mengotori tangan Papa sendiri, tapi Papa akan membuat wanita itu sendiri yang akan melenyapkannya." ujar Tuan Michael dengan senyum liciknya.