Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Sangat posesif


__ADS_3

Setelah mengetahui kehamilan istrinya itu, Austin benar - benar sangat posesif dan itu membuat Nisa sangat tidak nyaman. Sekecil apapun itu kalau berhubungan dengan istrinya, ia selalu ikut campur.


" Sayang. Jangan pakai celana itu, terlalu ketat. Kasihan anak kita." ucap Austin ketika melihat istrinya memakai celana hotpant yang biasa dia pakai sehari hari.


" Tapi aku nyaman pakai ini. Lagipula kehamilanku baru delapan minggu, perutku saja masih rata." Nisa menyingkap bajunya keatas agar suaminya itu melihat perut ratanya.


" Enggak, kamu pakai ini saja !" Austin mengambil dress dari dalam lemari, lalu ia menyerahkan pada Nisa yang masih berdiri mematung di hadapannya.


" Kenapa suamiku sekarang cerewetnya melebihi emak - emak komplek sih." gumam Nisa.


" Baiklah." sahut Nisa, ia mengambil dress itu dan berlalu ke toilet.


Beberapa saat kemudian


Dengan langkah cepat Nisa menuruni anak tangga, karena ia merasa sangat lapar padahal belum waktunya makan siang. Tetapi baru beberapa langkah ia mendengar suara bariton Austin yang meneriakinya dari belakang.


" Sayang kamu mau membunuh anak kita, jalan itu seperti ini pelan - pelan." Austin menggandeng tangannya itu lalu menuntunnya menuruni anak tangga.


" Salah lagi." gumam Nisa.


Sampai di meja makan, Nisa langsung mengambil semua menu disana termasuk sambal kesukaannya. Ketika ia sedang menikmati makanannya, Austin tampak bergegas mendekatinya.


" Sayang, kamu jangan makan sambal." Austin mengambil makanan yang sedang Nisa makan dan menggantinya dengan yang baru.


" Kamu harus banyak makan sayur." ujar Austin lagi.


" Astaga, sejak aku hamil. Aku seperti anak TK yang selalu kena omel." gumam Nisa.


" Sayang, kamu tidak ke kantor ?" tanya Nisa, ia berharap suaminya itu cepat ke kantor jadi dia bisa bebas makan apapun.


" Enggak."


" Memang kamu tidak ada kerjaan di kantor ?"


" Itu perusahaan ku, jadi sesuka ku mau datang atau tidak."


" Oke, kamu bossnya dan aku pabrik pencetak anaknya." gumam Nisa tampak frustrasi.


" Sayang, apa aku boleh minta..." Nisa belum menyelesaikan perkataannya tapi Austin sudah menyelanya.


" Enggak, kamu harus makan makanan sehat. Jangan minta yang aneh - aneh." sela Austin.


" Tapi kalau anakmu nanti ngeces terus bagaimana ?"


" Itu hanya mitos sayang." ucap Austin seraya mengusap puncak kepala istrinya itu.


" Baiklah." sahut Nisa kemudian melanjutkan makannya lagi.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Austin pergi ke ruang kerjanya bersama Wira. Karena sejak istrinya hamil ia lebih sering bekerja dari rumah.


Sedangkan Nisa saat ini berada di kamarnya, sambil duduk selonjoran ia tampak melamun. Ia sedang berpikir keras bagaimana caranya agar suaminya itu tidak terlalu posesif terhadapnya.

__ADS_1


tokk


tokk


Terdengar suara pintu di ketuk, Nisa segera beranjak dari tempat duduknya.


" Maaf non, ada tamu di bawah ?" ujar salah satu ART di rumah itu.


" Siapa bik ?"


" Katanya asistennya non dari Kalimantan."


" Baiklah bik saya segera turun."


Beberapa saat kemudian Nisa menuruni anak tangga satu persatu dengan perlahan sesuai kemauan suaminya itu, saat ini ia merasa seperti seorang putri Solo.


Dilihatnya Nindy sedang menunggunya di ruang tamu. " Nin..." teriak Nisa ia segera memeluk asisten yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.


" Bagaimana kabar kamu Nin, masih jomblo ?" canda Nisa.


" Baik bu, belum dapat yang cocok." sahut Nindy.


" Ini bu, beberapa dokumen yang harus ibu tanda tangani." Nindy menyerahkan tumpukan dokumen itu.


Setelah memeriksa semua dokumen itu, ia menyerahkan kembali pada Nindy. " Nin, kamu bisa ambil cutikan. Temani aku disini untuk sementara waktu." Nisa terlihat mengiba pada asistennya itu.


" Ibu baik - baik saja kan ?" Nindy tampak khawatir.


" Maksudnya bu ?"


" Kamu tahu dia mengurungku seharian didalam rumah, bahkan aku dilarang makan makanan kesukaanku."


" Memang ibu mau makan apa ?"


" Makanan yang biasa kita makan dipinggir jalan." bisik Nisa lagi.


" Astaga ibu, itu memang makanan tidak sehat untuk ibu hamil, lagipula itu tandanya tuan Austin sangat sayang sama ibu." ujar Nindy.


" Makanya kamu temani aku disini ya, kamu bisa diam - diam membelikan untukku."


" Tapi kalau tuan tahu bagaimana bu saya takut ?"


" Kita bermain cantik. oke."


Ehmm...


Terdengar suara bariton yang tidak asing di telinga Nisa.


" Sayang." Nisa segera beranjak dari duduknya ketika Austin dan Wira berjalan mendekatinya.


" Sejak kapan kamu datang Nin ?" tanya Austin.

__ADS_1


" Baru saja tuan."


" Sayang, Nindy akan ambil cuti beberapa hari untuk menemaniku. Bolehkan ?" rengek Nisa.


" Terus perusahaan kamu bagaimana ?"


" Adi sebentar lagi wisuda sayang, jadi dia bisa fokus mengurus perusahaan."


" Baiklah, tapi ingat semua peraturan yang sudah ku buat untuk kamu. Wira akan menjelaskan padanya." ujar Austin seraya menatap Wira, seakan Wira sudah tahu apa kemauannya. Lalu ia mengajak istrinya untuk berlalu pergi dari sana.


Kini diruang tamu itu tinggal Nindy dan Wira. Nindy tampak tersenyum manis pada Wira tapi tidak dengan laki - laki itu, ia menatap tajam pada wanita yang ada di depannya itu.


" Nona Nindy, selama disini. Kamu akan menjadi asisten sekaligus pengawas dari nona muda." ujar Wira.


" Baik tuan."


" Untuk segala peraturannya nanti saya kirim lewat email kamu."


" Ingat jika nona muda melanggarnya, maka kamu yang menerima hukumannya." ujar Wira menatap tajam pada Nindy, kemudian ia berlalu pergi.


Nindy merasa sangat kesal dengan laki - laki itu, ia mengarahkan tinjuannya ke udara sambil mengumpat dalam hati.


" Bekerjalah dengan baik nona tanpa harus mengumpat." ujar Wira ia berbalik badan dan menatap Nindy.


" Baik tuan, anda juga harus sering - sering tersenyum." ujar Nindy sambil tersenyum nyengir.


Tanpa mempedulikan perkataan Nindy, Wira berlalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Gunawan. Tetapi nampak ada smirk kecil di bibirnya.


☆☆


Beberapa hari sejak ada Nindy, Nisa merasa senang. Karena Austin lebih sering berada di kantornya dan tidak mengawasinya seperti biasanya.


Nisa juga sesekali bisa makan makanan kesukaannya tanpa ketahuan suaminya.


" Nin, bisa tolong belikan cimol." Nisa mengirim pesan melalui ponselnya pada Nindy.


Padahal sekarang ini mereka sedang duduk bersama diruang keluarga. Nisa sering melakukan itu agar tidak diketahui oleh suaminya, karena Austin memasang seluruh ruangan dengan cctv kecuali kamarnya.


" Siap bu." balas Nindy.


Tak lama kemudian Nisa masuk ke kamarnya dan Nindy pergi keluar menggunakan taksi online yang sudah dia pesan.


Beberapa saat kemudian Nindy sudah berada di pinggir jalan tempat penjual cimol menjual dagangannya, tampak ia sedang menunggu pesanannya.


" Terima kasih pak." ucap Nindy ketika menerima beberapa bungkus cimol.


Ketika ia beranjak pergi, ada seseorang yang memanggilnya.


" Nona Nindy." panggil Wira ia berjalan kearah Nindy.


" Tuan Wira." Nindy tampak kaget dan menyembunyikan bungkusan yang ia pegang ke belakang badannya.

__ADS_1


__ADS_2