Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Felicya


__ADS_3

Sore itu terlihat seorang wanita tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit, nampak jarum infus menancap di punggung tangan kirinya.


" Nona bagaimana keadaan anda, apa sudah merasa lebih baik ?" dokter setengah baya itu sedang membaca catatan riwayat pasien di tangannya.


Felicya mengabaikannya perkataan dokter itu, ia hanya diam terpaku menatap langit - langit kamar entah apa yang sedang ia pikirkan. Ketika seorang perawat memegang lengannya ia baru menyadari ada seorang pria dengan jas putihnya sedang intens menatapnya.


" Dok, apa sudah keluar hasil tes pemeriksaan kesehatan saya ?" Felicya langsung bertanya dengan raut wajah penasaran, ia berharap sakit yang ia rasakan akhir - akhir ini hanyalah sakit biasa.


" Sebentar nona, asisten saya sedang mengambilnya di Lab." kata dokter itu sambil membetulkan laju aliran infus.


Tak berapa lama kemudian seorang perawat mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan dimana Felicya dirawat.


" Ini dok hasil lab dari nona Felicya." perawat itu menyerahkan dua buah amplop yang bersegel dari rumah sakit tersebut.


Dokter itu membuka satu persatu amplop tersebut, ia tampak memicingkan matanya lalu ada semburat kemuraman di wajahnya.


" Nona apapun hasilnya anda harus tetap tegar menghadapinya." dokter itu menatap nanar pada wanita yang ada di hadapannya itu.


" Jangan basa basi dok katakan saja apa hasilnya, apa saya sakit parah ?" Felicya sudah mulai gelisah ingin rasanya ia mengambil hasil test itu dan membacanya sendiri.


" Dari kedua hasil test ini, semua hasilnya sama nona. Anda di diagnosis HIV AIDS." suara tegas dokter itu seakan menghujam langsung ke jantungnya.


" Apa dok, itu tidak mungkin dok. Tidak mungkin, anda pasti salah diagnosakan ?" ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau yang dikatakan dokter itu adalah sebuah kesalahan.


" Kami sudah mengeceknya dua kali nona tapi hasilnya tetap sama." dokter itu menyerahkan lembaran kertas hasil lab.


Tanpa membacanya Felicya langsung merobek kertas itu, ia menangis histeris.


" Nona anda harus tegar, masih ada keluarga yang selalu mendukung nona." dokter itu mencoba menenangkan.


" Saya tidak mau dok, itu tidak mungkin." Felicya mencabut paksa jarum infusnya kemudian dia menghamburkan semua benda yang ada di meja di samping ranjangnya.


" Sus, cepat beri obat penenang." dokter itu berteriak sambil memegang kedua tangan Felicya.


" Baik dok." seorang suster dengan sigap menusukkan jarum suntik yang berisi obat penenang pada Felicya.


Beberapa saat kemudian setelah obat penenang itu bereaksi, Felicya mulai tak sadarkan diri. Lalu beberapa perawat itu membaringkannya di ranjang kembali.


" Sus segera hubungi keluarganya, sepertinya pasien dalam kondisi depresi berat." ucap dokter itu kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


" Baik dokter." tampak beberapa perawat masih sibuk merapikan barang - barang yang berhamburan disana.


☆☆


Ditempat lain, Nisa sekarang berada di Cafenya. Ia sedang menunggu Austin untuk menjemputnya pulang.


" Hai Nis ?"


Nisa mendongakkan kepalanya ketika ada seseorang yang memanggilnya.


" Ron." Nisa sedikit kaget karena sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu dengan pria itu.


" Apa kabar Nis ?" Ronald tersenyum manis, matanya memandang sekilas ke perut buncit Nisa.


" Baik."


" Boleh aku duduk ?" Ronald melihat bangku kosong didepan Nisa.


" Iya silakan, kamu mau makan atau minum ?"


" Terserah kamu saja." ia menarik kursi itu dan mendudukkan badannya disana.


" Kamu masih saja ingat minuman kesukaanku."


" Mungkin karena suamiku juga sangat menyukainya." Nisa mengingat Austin, laki - laki itu setiap hari minta dibuatkan minuman itu.


" Sepertinya kamu sangat bahagia dengan pernikahanmu."


" Tentu saja, tapi kadang masih ada seseorang yang berniat untuk merusak kebahagiaan kami."


" Maafkan adikku." ujar Ronald ia tampak menyesal. " Entah kenapa dari dulu adikku begitu terobsesi dengan suamimu, padahal aku sudah berapa kali memperingatinya."


" Enggak apa Ron, lagipula kami sudah meyelesaikan kesalahpahaman itu. Aku percaya suamiku tidak akan menghianati pernikahan kami."


" Ya aku tahu itu, jika kamu bahagia aku juga pasti akan bahagia." ada semburat kesedihan di hatinya ketika ia mengatakan itu, tetapi pria itu menutupi dengan senyumannya.


" Kamu orang baik Ron, semoga suatu saat nanti kamu menemukan seorang wanita yang baik juga." Nisa menatap manik pria yang dulu pernah menjadi sahabat baiknya itu.


" Aku berharap wanita itu seperti kamu." Ronald menatap Nisa sekilas, kemudian ia beranjak dari duduknya.

__ADS_1


" Baiklah aku harus segera balik ke kantor, terima kasih sudah menemaniku minum teh."


" Sama - sama Ron." Nisa berdiri dari duduknya, ada sebersit rasa kasihan di hatinya. Bagaimanapun juga Ronald dulu adalah sahabat baiknya.


Kemudian Ronald melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Nisa yang masih menatapnya.


Beberapa saat kemudian Austin datang dan langsung duduk disamping istrinya itu. " Sayang tadi ada Ronald kesini ?"


" Kamu melihatnya ?"


" Tadi sempat bertemu diluar, mau apa dia kemari ?"


" Hanya meminta maaf karena perbuatan adiknya waktu itu."


" Baguslah kalau dia tidak mengganggumu."


" Tentu saja tidak, memang ada laki - laki mau mengganggu seorang wanita dengan perut sebesar ini." Nisa mengelus perutnya yang kian membesar.


" Apa dia rewel ?" Austin juga ikut mengelus perut istrinya itu.


" Astaga dia bergerak sayang." Austin tampak antusias merasakan gerakan bayinya.


" Mungkin dia tahu ada papanya sekarang."


" Pasti dia minta ditengok papanya sayang."


" Maksudnya, jangan modus deh." Nisa tahu betul ketika suaminya itu sedang menginginkannya.


" Ayo lah sayang sebentar saja." Austin menatap Nisa dengan tatapan mendamba, kemudian ia beranjak dari duduknya dan menarik tangan istrinya itu ke lantai atas Cafe dimana biasanya mereka beristirahat.


" Sayang ayo kita pulang, kita lakukan di rumah saja." ujar Nisa ketika suaminya itu sudah melucuti pakaiannya.


" Nanggung sayang, lagipula kita belum pernah melakukannya disinikan."


" Baiklah kamu selalu menang." ucap Nisa pasrah, karena suaminya itu selalu punya cara untuk membuatnya agar tidak bisa menolak dan sore itu terjadilah olahraga panas untuk pertama kalinya di tempat itu.


Hai gaeeeessss terima kasih sudah menyempatkan membaca coretan receh ini, mungkin beberapa bab lagi akan ku tamatkan. Karena menurutku sosok Austin tipe cowok setia 😁 jadi tidak tega kalau memberikan banyak konflik.


Tapi aku sudah membuat sekuel dari cerita ini dengan judul Aline sang pewaris tentunya dengan alur cerita yang berbeda. Terima kasih atas dukungannya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2